
Hari yang melelahkan dan aktivitas berakhir pukul 7.30 malam. Kami makan malam di kantin sekolah dan setelah itu kami mandi pukul 8.30 malam. Karena kamar mandi dibereskan, aku baru mandi pukul 9.45.
Setelah selesai, aku segera mengeringkan rambutku dengan handuk. Aku mengenakan baju putih polos dengan celana pendek warna biru yang biasa aku pakai untuk tidur.
Aku menuju ke lapangan dan ke tendaku. Aku berbagi tenda dengan dua orang lainnya -Mina dan Shinhye. Saat aku masuk ke tenda, kedua gadis itu sudah tertidur berhubung mereka mandi lebih dulu dariku.
Aku berbaring di antara mereka dan menutup mataku sebelum tertidur lelap.
...***...
Pukul dua pagi saat aku tiba-tiba terbangun, ingin buang air kecil. Karena sekolah gelap, aku tidak berani pergi sendirian. Seba itu, aku mencoba membangunkan Shinhye namun ia tidak meresponku.
Aku berbalik ke kiri membangunkan Mina.
"Choi Mina, hey, aku benar-benar ingin ke toilet. Temani aku, aku akan cepat." Aku merecokinya.
Bukannya bangun, ia justru menyuruhku diam dan kembali tertidur.
Aku menghela napas. Semakin darurat. Mengumpulkan keberanianku, aku mengambil senter dan memutuskan untuk mencari jalan dari lapangan yang gelap ke toilet.
Keadaan sekolah lebih menyeramkan dari yang kubayangkan. Tidak semua lampu menyala, gelap dan hening. Tidak ada siapa pun di sekitar sini, bahkan guru yang bertugas -mereka sudah tidur.
Dengan cepat aku meuju ke toilet, menyalakan lampu dan melakukannya dengan cepat.
Setelah selesai, aku mencuci tangan dan mengikat rambutku yang berantakan.
Aku baru akan keluar dari toilet ketika aku mendengar suara langkah kaki di luar. Aku pikir itu hanya imajinasiku, namun suara itu semakin keras dan jelas. Aku enggan untuk kembali ke tendaku. Aku agak takutan. Kakiku bergetar ketakutan.
Aku menarik napas berat dan akhirnya melangkah ke luar toilet, berjingkak keluar. Aku belum jauh ketika tiba-tiba aku melihat sebuah bayangan di depanku.
"AAARGGHH!!!" Aku berteriak, menutup mataku dengan dua tangan, berteriak ketakutan karena aku berpikir hantu berdiri di depanku.
"Kau gila?" katanya.
Jantungku berdegup cepat. Aku mengusap mataku dan melihat lagi. Ck, bajingan ini.
"Kau mengagetkanku!" Aku berteriak pada Taehyung dan menghela napas lega. "Kenapa kau memakai hoodie? Kupikir kau hantu!"
__ADS_1
la perlahan tertawa. "Aku tidak mau menarik perhatian."
Aku mengelengkan lalu aku sadar ia memegang sesuatu -sebuah bungkus rokok. Tersadar, ia tersembunyi di belakang.
"Taehyung? Kau merokok lagi?" tanyaku.
la meihat ke arah lain.
"Kau janji padaku untuk tidak pernah merokok lagi," kataku dan melipat lenganku.
"Shh, seseorang mungkin mendengarmu," bisiknya, melihat ke sekitar, "Dan kenapa kau peduli jika aku merokok atau tidak. Aku punya urusan sendiri."
"Karena kau temanku," kataku, "Dan kau janji. Janji tidak bisa diingkari."
"Hah, kau salah. Janji ada untuk diingkari." katanya dan berjalan meninggalkanku, berjalan ke tangga.
Aku mengikutinya. "Apa maksudmu?"
"Ingat ibumu meminjam membawamu menemui nenekmu? Kau berharap namun ia mengingkari janjinya," katanya dan pematiknya untuk melihat ke mana ia pergi.
"Kenapa kau mengikutiku?" la bertanya dan kami sampai di lantai tiga.
la pergi ke tempat persembunyiannya -gudang. Kami masuk dan menyalakan lampu.
Aku duduk di atas tumpukan kardus, dan ia duduk di depanku, juga di atas tumpukan kardus.
Aku menghela napas dan mendongak saat aku menyadari, Taehyung menatap kakiku, dan ia meneguk.
"Hey! Apa yang kau lihat?" Aku berteriak.
"Uhm, bukan apa-apa. Siapa yang menyuruhmu untuk memakai celana pendek malam hari," katanya dan melihat ke arah lain.
Aku memutar bola mataku dan mencoba untuk mencari sesutatu untuk menutup kakiku yang terbuka, ketika tiba-tiba Taehyung melepas jaketnya. "Yah, ambil ini dan tutup," katanya.
Aku merampas jaket abu-abu darinya dan kembali duduk, menutup kakiku.
"Bagaimana tanganmu?" tanyanya
__ADS_1
"Baik-baik saja, terima kasih," jawabku dan perlahan tersenyum.
"Pabo Jinnie, bagaimana kau melukai dirimu sendiri?" tanyanya.
Aku menggigit bibirku, "Eum, yah, aku hanya memastikan jika apinya masih menyala namun secara tidak sengaja aku menumpahkan panci dan air panas menyiram tanganku, jadi yah begitu."
"Kau sangat bodoh," katanya, dan aku memutar bola mataku.
"Jadi kau tidak akan merokok lagi kan?" tanyaku.
"Terserah, karena kau di sini aku tidak akan merokok. Kenapa kau tidak urus saja si pretty boy Seojun," kata Taehyung dan bersandar di rak-rak.
"Oh diamlah," jawabku, "Kenapa kau selalu membahasnya? Kenapa kau selalu berkelahi dengannya? Bisakah kau berhenti menyakiti Seojun?" Aku membentaknya, tapi aku masih mengontrol diriku.
"Oh wow," katanya, "Lihat siapa yang membela pacarnya. Sangat manis. Bagaimana kau tahu aku yang pertama memulainya?"
Aku menatapnya marah. "Bisa kau berhenti?!"
"Apa? Kau tidak senang kalau aku mendukung kalian berdua?" ujar Taehyung tajam.
Aku berdiri dan mengerutkan kening, tidak ada yang ingin kukatakan, aku sangat marah, akhirnya aku menghentak keluar dari gudang dan kembali ke tendaku.
Aku berbaring di tenda, sadar bahwa aku masih memegang jaket Taehyung.
Jaket ini beraroma seperti dirinya.
Aku menghela napas dan memeluk jaketnya untuk tidur.
...***...
*siapa yang kemaren minggu nonton konser BTS?
author korban mereka•́ ‿ ,•̀
konser di LA juga bakal ada live streaming kan? tapi yang haru terakhir.
author pengen nobar, tapi kapan-kapan saja lah ya.
__ADS_1
sehat-sehat selalu kalian💜*