
Keesokan paginya, semua orang bangun pukul enam dan kami membersihkan diri sebelum bersiap-siap untuk hari ini.
Aku selesai dan kembali ke tendaku, tersadar aku melupakan sesuatu. Aku harus mengembalikan jaket Taehyung, tapi aku tidak tahu harus bagaimana.
Setelah berpikir keras, aku melipat jaket Taehyung dengan rapi kemudian pergi mencari Jimin. Aku menemukan Jimin di sudut lapangan.
"Hey Jimin, bisa bantu aku mengembalikan ini ke Taehyung?" tanyaku.
Jimin mengambil jaket di tanganku dan mengerutkan alisnya, "Bagaimana kau bisa memiliki jaket ini?"
Aku tetap diam. "Kembalikan saja padanya, oke," kataku dan berjalan pergi.
...***...
Setelah sarapan kami semua memiliki waktu istirahat singkat dan menuju parade square di lapangan, dan menemui Pelatih Soohyun.
"Pagi semua. Hari ini, kalian akan bermain game of tag, kalian akan bermain di seluruh area sekolah, artinya kalian bisa lari ke mana pun sampai kalian tertangkap, dan kalian harus pergi ke 'penjara' yang ada di sana, parade square!" kata Pelatih Soohyun, terdengar menyenangkan dan semua orang bersemangat.
"Enam dari kalian akan menjadi penangkap. Kalian akan diberi kaleng cat, dan untuk menangkap seseorang kalian harus meninggalkan cat pada baju orang tersebut. Sedangkan 34 orang yang tersisa, kalian harus berlari ke sekeliling sekolah dan menghindar. Tidak boleh bersembunyi di kamar mandi atau mengurung diri kalian dalam ruangan. Orang terakhir yang berdiri tanpa cat apapun dalam sejam permainan akan mendapatkan makanan lezat untuk makan siang, dengan enam orang penangkap."
Semua orang mengangkat tangan mereka untuk secara sukarela menjadi pengkap karena makan siang lezat menjadi bayarannya. Yang terpilih adalah Namjoon, Jimin, Hoseok, Jungkook, Jin dan Yoongi.
Kami yang tersisa diberitahu untuk pergi ke bangunan sekolah sebelum penangkap. Lima menit kemudian, permainan dimulai. Semua orang berhambur mencari tempat persembunyian yang bagus.
Aku bersama Seojun selama lima belas menit, namun aku sadar ia adalah pelari yang cepat. Aku memutuskan untuk berpisah dengannya karena aku tidak bisa mengimbanginya.
Aku terus berlari ke lantai dua, dan aku mendengar seseorang berteriak dan terdengar langkah kaki di sana, aku memutuskan untuk bermaim dan pergi ke lantai tiga.
Aku yakin, ada satu atau dua orang bersembunyi di ruang seni, dan aku melihat seseorang bersembunyi di bawah piano. Dengan cepat aku berlari menjauh dari sana, dan pergi ke gudang alias tempat persembunyian Taehyung.
Aku baru akan masuk, namun aku ragu-ragu. Taehyung berbagi tempat ini dengan Jimin dan Jungkook juga, bagaimana jika penangkap masuk dan melihatku di sini?
Tiba-tiba, aku mendengar seseorang berteriak, dan aku percaya itu berasal dari lantai yang sama. Tidak ragu-ragu lagi, dengan cepat aku membuka pintu dan masuk ke gudang, bernapas berat.
"Siapa kau?" Sebuah suara bertanya, mengagetkanku.
Aku tidak yakin dari mana suara itu berasal namun suara itu terdengar familiar.
Ruangan ini sangat gelap, dan aku tidak yakin apakah aku harus tetap di dalam atau keluar dan berkorban demi makanan yang lezat.
"A-aku H-Hyejin." Aku memerkenalkan diriku pada suara yang tidak aku tahu siapa. "Dan aku di sini karena, tu-tunggu. Kau Taehyung 'kan?"
Aku mendengarnya menghela napas lega. "Itu kau. Jangan nyalakan lampu, kita mungkin tertangkap. Kenapa kau di sini juga?"
"Karena aku tidak punya tempat lain untuk bersembunyi, kupikir Jimin di luar," kataku, mencari Taehyung dalam gelap.
__ADS_1
"Hah?! Jimin?! Dia mungkin menemukan kita! Cepat bersembunyi di suatu tempat bodoh!" teriak Taehyung, berbisik.
"Aku tidak menemukan tempat lain! Tempat ini sangat kecil dan kau menyuruhku untuk tidak menyalakan lampu, sangat gelap di sini," kataku. tidak bisa melihat apapun.
"Aku di sini, di belakang beberapa kotak, cepatlah ke mari," katanya.
Aku mengikuti suaranya sementara menjulurkan tanganku untuk meraba apapun di sekitarku. Aku berjalan dan kakiku menendang sesuatu seperti kotak.
Masih meraba ke sekitarku, jantungku berhenti sejenak saat aku merasakan sebuah tangan, menggenggam tanganku. "Ke sini cepat."
Apa yang kulakukan hanya demi makanan lezat. Aku benci makanan yang mereka sajikan pada kami, ini adalah saatnya mendapatkan sesuatu yang lezat untuk disantap karena aku hampir mati hanya sehari di perkemahan.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Prediksi Taehyung benar, Jimin masuk ke dalam tempat persembunyian. Terengah-engah namun aku bisa mengontrol diriku, selama aku berkeringat dingin.
"Taehyung?" Panggil Jimin dan akhirnya lampu menyala, dan akhirnya aku bisa melihat wajah Taehyung. la melihatku dan meletakkan jarinya di bibirnya, menyuruhku untuk diam. Aku mengangguk
Tidak mendengar suara atau melihat siapapun, Jimin mematikan lampu dan pergi.
Kamu berdua menghembuskan napas berat.
"Phew," kataku dan menyeka keringat di dahiku, lalu aku menatap Taehyung, meskipun aku tidak bisa melihat apapun.
"Apa kau sudah pergi?" bisiknya, suaranya dalam.
"Uhh.. Entahlah. Tempat ini seperti oven, aku sangat berkeringat." kataku.
"Omong-omong, maaf sudah berteriak padamu semalam." Aku meminta maaf, berhubung di sini gelap dan ia tidak bisa melihat wajahku yang malu sekarang.
la tertawa. "Berapa kali kau akan minta maaf padaku? Aku tidak akan mengatakan maaf padamu, bodoh," katanya dan aku diam-diam memutar bola mataku.
"Ayo pergi ke tempat lain," katanya, memegang tanganku. Kami berjalan ke pintu, dan sebelum kami keluar, Taehyung mengintip ke luar.
"Semuanya aman," bisiknya dan kami dengan cepat pergi mencari tempat lain yang bagus untuk bersembunyi.
...***...
Tersisa lima belas menit sebelum permainan berakhir. Taehyung dan aku bersembunyi di ruang seni, di sudut di belakang rak artefak tetap siaga jika ada seseorang yang datang.
Lalu aku menyadari sesuatu.
"-Hey.. K-kau bisa melepas tanganku sekarang," kaataku. la sudah menggenggam tanganku sekitar dua puluh menit atau lebih.
Bukannya melepas, ia malah menggenggam tanganku lebih erat. "Kau tolol. Jika aku melepasmu kau akan membuat kesalahan dan tertangkap," katanya, sembari menatapku.
Aku berpaling. Kami menunggu sampai akhirnya selesai. la melepas tanganku dan kami pergi menuju ke parade square.
__ADS_1
...***...
Semua orang bertepuk tangan saat aku memasuki parade quare. Semua orang tertangkap, bekas cat terlihat jelas di baju mereka.
Lalu mata mereka tertuju ke belakangku dan melihat Taehyung.
"Oh? Ada dua yang selamat," kata Namjoon.
Aku menggigit bibirku. "Uhm, tak apa aku han-"
"Jadi kalian berdua akan mendapatkan makan siang yang lezat, jangan khawatir," kata Pelatih Soohyun dan aku lega.
Setelah istirahat dan saatnya untuk kami berganti pakaian.
Aku meminum air milikku di sudut lapangan saat Seojun mendekatiku.
"Selamat, apa kau bersembunyi dengan Taehyung?" kata Seojun dan mengangkat alisnya.
Dengan canggung aku menatapnya dan perlahan mengangguk.
la menghela napas. "Ada yang tidak kau katakan padaku? Jimin memberitahuku kau memintanya untuk mengembalikan jaket Taehyung. Bagaimana kau bisa memiliki jaketnya?"
Aku menunduk melihat kakiku dan bersandar di pagar. "Maaf," kataku, "Aku pasti kehilangan akal sehatku."
"Dengarkan aku, sayang. Kau harus menjauh dari Taehyung, ingat?"
"Kau siapa menyuruhnya menjauh?"
Seojun dan aku berbalik melihat Taehyung, berjalan menuju kami. Seojun menatapnya. "Jangan campuri urusan orang," kata Seojun, "Kalau kau tidak tahu, aku pacarnya."
Taehyung menatapku, wajahku datar. Jika aku bisa berlari cepat aku akan menghilang dari situasi ini.
"Kau bukan pacarnya, kau hanya dimanfaatkan. Dia tidak mencintaimu. Dia menggunakanmu untuk mengabaikan...ku? Menyedihkan," kata Taehyung dan menyeringai.
Seojun sangat marah. Tidak bisa mengontrol amarahnya, ia hampir melemparkan tinjunya ke wajah Taehyung namun aku menghentikannya.
"Ayo pergi," kataku pada Seojun dan menariknya pergi.
...***...
*hai, aku mau nanya nih.
menurut pendapat kalian, cerita ini kalau aku buat versi e-book gimana?
komen dong
__ADS_1
terima kasih*