Mr. Arrogant

Mr. Arrogant
9


__ADS_3

Keesokan paginya aku menuju ketempat Taehyung pukul sembilan. Hal yang bagus untuk memulai hariku di hari sabtu.


Untungnya rumah kami tidak begitu jauh. Namun aku masih tidak bisa percaya ia tinggal di tempat yang indah, ia kaya dan aku tidak pernah tahu itu.


Aku kesulitan menemukan rumahnya karena aku malah tersesat di tengah rumah-rumah besar. Aku berjalan terus sampai aku melihat atap putih yang familiar dan Maserati biru yang sama terparkir di depan rumah.


Aku membunyikan bel dan meneriakkan namanya beberapa kali namun pintu gerbang tidak terbuka. Frustasi, aku melihat kiri dan kanan dan sekitarku. Dengan hati-hati aku memanjat pagar dan sampai ke sisi lainnya, aku hanya berharap tidak ada CCTV menangkapnya.


Berlari ke pintu dan mengetuknya beberapa kali. "KIM TAEHYUNG BUKA PINTUNYA SEBELUM AK-astaga!"


Pintu terbuka dan aku melihat Taehyung setengah telanjang, ia hanya mengenakan celana piyama. Rambutnya berantakan dan matanya hanya terbuka setengah. Sudah jelas, ia baru bangun.


Melihat pemandangan mengerikan, aku menutup mataku dan berputar.


"Pukul berapa sekarang?" tanyanya dengan suara bangun paginya.


"9 pagi." jawabku. "CEPAT PAKAI BAJU."


Aku masih melihat ke arah lain ketika aku di tarik didalam rumah lalu ia membanting pintu tertutup. Aku menahan napas dan menekan punggungku di dinding saat ia mendekat padaku. Aku memegang payung yang ada dekatku dan mencoba melindungi diri.


Ia menghela napas. "Apa yang kau lakukan disini?"


Aku tetap diam karena ia terlalu dekat. Ia menyadari itu dan berdiri pada jarak yang aman.


"Ki-kita harus berdiskusi tentang proyek Pkn." aku tergagap sementara menjawab dan dengan perlahan meletakkan payung.


Ia mengerutkan dahi namun matanya masih mengantuk. "Terserah, ayo ke atas."


"Bisa kit membahasnya diruang tamu sana?" tanyaku.


"Diam, aku lebih menyukai kamarku." katanya dan naik sementara aku dengan malas mengikutinya dari belakang.


Kamarnya sangat kacau. Tempat tidurnya seperti habitat ular dan baju-baju berserakan dilantai.


Tapi sesuatu tertangkap mataku. Ada boneka singa lucu ditempat tidurnya. Mungkin ia memeluknya untuk tidur. Ia mengambil bungkus rokoknya sementara aku sembunyi-sembunyi menuju tempat tidurnya dan mengambil mainan lembut itu.


"HEY JANGAN SENTUH MR. LI-" ia menghentikan ku. Mengerutkan dahi, ia menjatuhkan bungkus rokoknya saat ia melompat kearahku dan mengambil boneka itu. "Mr. Lion? Bad boy seperti Taehyung memeluk boneka untuk tidur." aku tertawa keras dan jatuh ke lantai, tetap tertawa.


"Hey! Apakan itu salah memeluk boneka untuk tidur?" ia menggembar-gemborkan.


Penampilannya sekarang, setengah telanjang dengan celana piyama, rambut berantakan dan suara pagi yang indah. Terlihat keren, namun boneka itu menghancurkan segalanya.


Setelah tertawa enam menit, aku berhenti namun masih berusaha untuk menahannya karena Taehyung sedang duduk di tempat tidurnya memeluk boneka singa miliknya sambil mencibir.


"Baiklah litte boy, pergilah mandi. Kata harus mengerjakan beberapa pekerjaan." kataku.


"Terserah, mom." jawabnya dan pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


Aku turun kedapur dan merasa bosan. aku memutuskan membuat roti panggang dan telur dadar karena aku belum sarapan. Taehyung masih belum selesai mandi.


Aku meletakkan piring berisi telur dadar dan panggangan di meja dan dia akhirnya turun menggunakan kaos kaki putih dan celana piyama baru dengan motif pisang. Ia saat dirumah sangat berbeda dengan dia saat disekolah.


"Bagaimana kau bisa memasak tanpa meminta ijinku. Bagaimana jika dapur terbakar." ia berkata sementara mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Tapi aku membuat sarapan." kataku dan duduk, ia melakukannya juga.


"Apa kau memasukkan racun disini." katanya dan membaui roti.


"Tidak." jawabku. Ia mengambil sumpitnya dan memakan telur dadar. "Tapi aku memasukkan racun di dalam telur dadar." kataku dan tertawa kecil.


Ia menginjak kakiku di bawa meja. "HEI! UNTUK APA ITU?" aku berteriak.


Ia mengabaikanku dan kembali makan.


Ketika kami selesai makan, Taehyung bangkit dan bersendawa keras. "Kau bersihkan semua ini." katanya dan duduk di kursi, menyalakan televisi.


"Hey! Kau! Ck, anak ini." aku menghela napas dan mengambil piring lalu meletakkannya ke tempat cucian. Aku mencuci tanganku dan pergi keruang tamu dimana Taehyung berada.


Aku duduk pada kursi di depannya dengannya.


"Hyejin." panggilnya.


"Hm?"


"Bagaimana kau bisa masuk ke pintu saat pintu gerbang tertutup dan kau tidak tahu password gerbang?" tanyanya.


Ia duduk tegak dan menatapku.


"Jelaskan." katanya.


"Yah aku hanya um.."


"Dengan jujur."


Dengan canggung aku menatap lantai dan kembali melihatnya. "Baik. Aku memanjat gerbang."


Ia tertawa kecil.


"Tapi tidak ada kamera keamanan kan?" tanyaku.


"Tentu saja ada, pabo Hyejin." ejeknya.


"APA?"


"Ada satu diatas pintuku dan itu merekam depan gerbang dan juga memastikan mobil -Maserati aman." katanya. "Aku bisa melihat Hyejin memanjat gerbang dan mengirimnya ke polisi dan menuntut karena masuk tanpa izin."

__ADS_1


Aku gelagapan. "TIDAK TIDAK TOLONG JANGAN."


Ia tertawa. "Baiklah. Bagaimana kalau aku hanya memberitahu orang tuaku tentang ini?"


"TOLONG JANGAN, ASTAGA TOLONG HAPUS REKAMAN ITU DI MANAPUN." aku memohon.


Ia lanjut menertawai ku yang putus asa. "Oh lihat bagaimana putus asanya Lee Hyejin sekarang." godanya.


"Tolong hapus itu entah bagaimana, aku tidak akan melakukan itu lagi.


"Aku akan melakukan apapun yang kau mau aku lakukan." aku menghampiri Taehyung dan kembali memohon. Meskipun aku benci memohon pada seseorang seperti dia, aku tahu dia akan membuat kesempatan untuk merusak hidupku dengan satu cara atau cara lainnya. Mungkin saja ia akan mengirim rekaman itu ke orang-orang di sekolah dan hidupku menjadi buruk.


"Apapun?" ia melayangkan menyeringai dan aku mengangguk.


Ia berpikir sejenak dan menggigit bibirnya. "Kau harus menjadi pelayanku. Jika aku memberitahu mu untuk membersihkan sesuatu, kau harus melakukannya dan secepatnya."


"HEY! BAGAIMANA KAU BISA..."


"Oke, aku akan pergi ke ruang keamanan untuk mengecek rekaman di komputer sekarang." katanya.


"TIDAK TIDAK. Baiklah terserah." aku menyerah dan menyedekapkan tanganku. Ia memberiku senyum dan dengan santai berjalan ke kamarnya.


"Aku mengikutinya. "Bisakah kita memulai pembahasan tugas kita?" kataku.


"Iya setelah kau membersihkan kamarku."


Aku menghela napas.


"Taehyung? Tolong? Selesaikan tugas ini dulu dan aku akan membersihkan kamarmu setelah itu." aku membuat perjanjian. Ia mengangguk dan kami duduk dimeja belajarnya yang berantakan.


Aku melakukan pekerjaan 95%, membuat catatan sementara ia sudah hampir tertidur, menggumamkan ide-ide gilanya.


Satu jam kemudian kami selesai dan sekarang pukul sebelas siang.


"Selsai." kataku dan membunyikan jari-jari tanganku, puas dengan kerjaku.


"Bagus sekarang bersihkan kamarku." katanya dan keluar dari kamarnya.


Merengek, aku berencana pulang lebih cepat untuk menonton drama Korea. Tapi karena aku takut rekeman itu tersebar, aku terpaksa membersihkan kamarnya.


Aku menyeka keringat ku saat aku menyedot debu di kamarnya dan meletakkan beberapa barang di tempat yang seharusnya, ****** ***** kotor dan pakaian di keranjang pakaian dan manga miliknya di rak.


Sekitar 45 menit atau mungkin lebih akhirnya aku selesai. Akhirnya kamarnya bersih dan aku menghilangkan debu dari tanganku.


Lalu kemudian Taehyung datang dan melihat kamarnya. "Wah... kau adalah pelayan yang bagus." katanya dan melihat ke sekitar kamarnya yang sudah bersih.


"Terserah aku mau pulang sekarang." kataku dan mengambil tasku, berlari ke pintu dan keluar dari rumah. Lalu, sebuah pemikiran memukulku. Aku berputar ke pintu dan mencari kamera keamanan.

__ADS_1


Bagaimanapun aku melihat, aku tidak melihat satupun kamera. Taehyung pasti menipuku.


Dasar anak bodoh.


__ADS_2