
Aku terbangun mendengar nada dering ponselku. Mataku terbuka dan aku mencoba mengingat di mana aku -Taman.
Aku mengambil ponselku di sakuku, aku berkedip dan mengecek ID pemanggil.
'Eomma~'
Mataku membulat. Dengan cepat aku memutuskan panggilan. Aku memeriksa jamku dan sudah lewat lima belas menit pukul dua belas tengah malam. Kepala Taehyung masih bersandar di atas kepalaku, dan ia tertidur lelap.
Haruskah aku membangunkannya? Aku bukan pacarnya lagi, ini sudah sehari.
"Taehyung?" Aku memanggil namanya sembari mengguncangnya. la perlahan bergerak. "Bangun, 'hukuman'ku sudah selesai," kataku la perlahan membuka matanya dan duduk dengan tegak, menghela napas.
Aku memerbaiki rambutku dan jaketku, aku ingin berdiri ketika ia menghentikanku dan aku kembali duduk.
la berbaring di kursi dan bersandar di pangkuanku. "Lima menit lagi," katanya dengan sleepy voicenya dan menutup matanya.
"lya..." kataku dan menatapnya, terbata. "Aku sudah telat, orangtuaku akan membunuhku."
la tidak menjawab. Baiklah lima menit.
la mengerutkan wajahnya dan tersenyum. la terlihat seperti anak kecil saat tertidur. Aku mulai bermain dengan rambutnya, memainkan pipiya namun ia tidak pernah bergerak. Dengan itu, lima menit berlalu dengan cepat.
Aku mengguncangnya dan ia terbangun, "Lima menit lewat," kataku. Ia akhirnya bangun dan mengusap matanya, menguap.
"Ayo," kataku dan berdiri dengannya.
Kami berjalan bersama, merasa mengantuk. Tiba-tiba, tanganku dipegang. Aku menatap turun ke tanganku kemudian naik menatap Taehyung.
"K-kenapa kau...?" Aku gugup.
"Aku tahu ini lewat tengah malam. Cuma jadi pacarku sampai kita tiba di pintu rumahmu," katanya dan memberiku senyum kotaknya, menggenggam tanganku erat.
Aku memerah dan berpaling. Tidak terlihat seperti hukuman, bukan? Tunggu, aku tidak seharusnya... ah bukan masalah.
Kamu akhirnya sampai di pintu dan aku berbalik menatapnya.
"Terima kasih sudah mengantarku. Menyenangkan jadi pacar seharimu, tapi itu adalah hukuman bodoh," kataku padanya.
la tertawa dan perlahan melepas tanganku. "Yah sekarang kau tertarik padaku 'kan?" katanya dan menyentil dahiku.
"Ow!" Aku mendelik padanya. "Tidak! Menghilang sana," kataku dan memutar bola mataku.
la perlahan tertawa dan berlalu. Ketika aku membuka pagar, ia kembali berlari padaku.
"Satu hal lagi sebelum aku pergi," katanya. Aku menatapnya, bingung.
la melingkarkan tangannya pada diriku dan memberiku pelukan erat. Aku hanya memasang ekspresi kosong dan berharap aku tidak merasakan jantungku berdetak kencang di dadaku. Ada apa dengan anak ini? Aku balas memeluknya dan beberapa detik kemudian ia menarik diri.
"Terima kasih untuk hari ini, selamat malam," katanya cepat dan berlari pergi.
Aku memerhatikan punggungnya saat ia pergi, dan tersadar aku tidak dapat menghapus senyumku.
'Bukankah ia yang sebenarnya tertarik padaku?Aku berpikir sendiri dan tertawa saat masuk ke dalam rumah.
...***...
Aku menggigit roti lapisku sembari membaca bukuku. Orangtuaku duduk di hadapanku dan memakan sarapannya, aku menatap mereka, dan dengan canggung kembali menatap bukuku.
"Di mana kau semalam?" Ayahku bertanya padaku dengan nada sengit.
"Aku bertemu dengan seorang teman," kataku padanya, masih menatap bukuku.
__ADS_1
"Lain kali jangan keluar terlalu malam. Aku khawatir melihatmu tidak ada di kamarmu semalam," kata ibuku sementara menuangkan teh ke dalam gelas ayah.
Aku mengangguk. "Aku harus pergi, annyeong," kataku, mencoba untuk kabur dan meraih tasku, hampir melangkah keluar rumah.
"Yah! Lee Hyejin. Kembali dan duduk." Ayah memanggilku sembari menatapku dengan mata mengancam.
Aku bergetar ketakutan, ayahku akan memarahiku. la benci aku pergi malam dan lama.
Aku kembali dan duduk di depannya, menunduk.
"Kenapa itu sangat penting hingga kau harus pergi keluar tengah malam?" Ayah berteriak padaku.
"Biarkan dia. Dia akan terlambat jika kau tetap menegurnya." Ibuku membelaku.
Malahan, ayahku tetap mengomeliku. Ibuku menyerah membujuknya dan pergi untuk mencuci piring.
Aku sudah terlambat tiga puluh menit, dan ayahku masih memberiku ceramah tentang bahaya di luar larut malam. Aku hampir mengantuk mendengarkannya.
"LEE HYEJIN!" Ayahku berteriak dan mataku terbuka lebar dan aku menatapnya.
"Ini untuk mengingatkanmu agar tidak keluar terlalu malam lagi," katanya sementara ia melepas ikat pinggang kulitnya. Sial. "Berikan aku tanganmu."
Dengan malas aki mengulurkan tanganku ke depan. Beberapa detik kemudian, tanganku memiliki bekas merah setelah ayahku memukulku dengan ikat pinggang. Sangat menyakitkan.
"Pergilah sekarang," katanya dan aku bangkit dengan cepat, menahan air mataku dan bergegas ke sekolah.
Aku tiba di sekolah dan sudah empat puluh menit aku terlambat. Aku berjalan melewati hallway ketika tiba-tiba ketua kediplinan berdiri di hadapanku dan aku lagi-lagi mendapat ceramah karena terlambat.
Aku menghela napas, air mataku akan tumpah mendengar semua orang dewasa menyalahkanku, ketika jelas saat mereka muda mereka pernah memberontak.
"...Lee Hyejin, detensi sepulang sekolah," kata Mr. Kim. Aku mengangguk dan bergegas ke kelas.
"Hey, kenapa kau sangat telat?" Seojun bertanya padaku.
"Ayahku mengomeliku karena pergi ke luar malam hari." Aku memberitahunya dan perlahan mengerutkan dahi.
"Jadi, ke mana kau pergi larut malam?" Seojun bertanya dan menatapku.
Aku menatapnya balik dan meneguk. "Uh. Aku pergi ke tempat Mina."
la perlahan tertawa. "Mina ada di pesta ulangtahun sepupunya semalam. Kau tidak melihat SNS nya?"
Aku tersenyum malu dan mencoba untuk menyembunyikan rasa maluku. Aku benar-benar sulit berbohong.
"Yah aku hanya keluar mencari udara segar dan tertidur di taman." Aku mencoba berbohong lagi, aku pikir ia tahu aku mencoba berbohong, namun ia memilih untuk mengabaikannya.
...***...
Istirahat tiba dan aku duduk sendiri saat Mina tiba-tiba duduk di sebelahku. "Hey Jinnie" la menyapaku dan meletakkan nampannya.
"Oh, hey. Kenapa kau di sini?" tanyaku.
"Untuk makan denganmu?" katanya dan tersenyum. "Tapi Taehyung, Jimin dan Jungkook juga akan bergabung."
Aku mengerutkan bibirku dan mengangguk. Tidak ada yang baru.
Tiba-tiba Seojun datang mendekatiku. "Hey kau tidak masalah kalau aku duduk di sini?" tanyanya.
Aku mengangguk dan ia duduk di sebelahku. Aku merasa canggung pada keadaan yang tidak biasa di mana semua orang duduk di sekitarku selama istirahat. Aku biasanya duduk sendiri.
"Hey guys!" Jimin berhenti saat ia melihat Seojun. Jungkook dan Jimin bertukar pandang dengan Taehyung sebelum akhirnya duduk di depan kami.
__ADS_1
Meja ini memliki suasana canggung, tidak ada yang bicara dan kami semua hanya makan dalam hening.
"Kita harus membuat regu baru." Mina tiba-tiba berbicara dan mata kamu semua menatapnya.
"Kau gila?" Jungkook berbisik ke padanya. Semua orang terus makan dan mengabaikannya.
"Aisshh. Itu hanya saran," katanya. "Oh? Hyejin. Ada apa dengan tanganmu?"
Aku menatapnya lalu melihat tangan kiriku yang masih memiliki bekas merah karena cambukan ayahku.
"Huh? Uh.... ini..." Aku memikirkan alasan yang harus kukatakan selain dicambuk karena ini memalukan namun tiba-tiba, Taehyung memegang tanganku dan membawanya lebih dekat untuk ia lihat.
la mengamati tanganku. "Ikat pinggang kulit?" katanya. Aku menarik tanganku dan meletakkan tanganku di bawah meja.
"Kau dicambuk?" Seojun bertanya dan meraih tanganku. Ia mengusapnya dengan lembut dan aku la melihat ke arah lain dengan canggung. Yang lain menatapnya.
"Hey, kalau dia tidak mau menunjukkan tangannya, seharusnya kau membiarkannya," kata Taehyung.
Seojun mengungkapkan Taehyung sebelum melepaskan tanganku.
Merasa sangat canggung, aku berdiri dan membawa nampanku. "Aku selesai, terima kasih sudah makan denganku hari ini, guys," kataku dan pergi.
...***...
Istirahat berakhir dan aku sedang di lokerku saat tiba-tiba Mina datang.
"Hyejin," panggilnya.
"Hm?"
"Um.... Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu," katanya.
"Apa itu?"
"Apa kau pikir Taehyung cemburu padamu dan Seojun? Kau, menurutmu Taehyung menyukaimu?"
Aku menatapnya, bingung, tidak yakin bagaimana harus menjaab pertanyaannya. "Aku tidak berpikir Taehyung punya perasaan terhadapku." balasku.
"Lalu apa kau menyukai Taehyung?" tanyanya, menatap dalam di mataku, terlihat serius.
Aku tidak tahu kenapa, jantungku berdetak cepat, dan kau tidak bisa menjawabnya cepat. Aku gugup.
"T-tidak! Tentu saja tidak! Kenapa aku menyukai monyet seperti dia?" kataku dan tertawa gugup.
la juga ikut tertawa. "Itu melegakan. Kau tahukan aku menyukai dia? Dia sangat sulit didekati, tapi aku akan mencoba yang terbaik," katanya dan tersenyum padaku.
Dengan lemah aku tersenyum padanya. "Ah... Kudoakan yang terbaik bagimu. Aku tahu sahabatku bisa mendapatkan semua laki-laki hanya dengan menjetikkan jarinya." Aku menggodanya.
la tertawa genit. "Araseo, aku akan ke kelas duluan oke!" katanya dan pergi.
Aku berbalik ke lokerku, dan menghela napas.
Aku benar-benar tidak menyukai Taehyung, bukan?
...***...
*karena minggu depan aku mau uts, jadi aku up setiap hari. supaya cerita ini cepat selesai.
aku juga gk nyangka kalau dunia perkuliahan bakal sebegitu menyibukkan•́ ‿ ,•̀*
oh ya, cerita yang pernah aku bahas waktu itu, udah aku publish disini ya. chek aja di profil:-)
__ADS_1