
Aku pulang dari sekolah dan aku menghadapi adegan yang sama, lagi. Orang tuaku bertengkar.
"Aku sedang bekerja, membuat bokongku mati rasa dan kau malah main dengan wanita lain?" ibuku berteriak pada ayahku.
"Aku tidak memiliki hubungan apapun, aku sudah bilang padamu! Kenapa kau tidak mau percaya padaku?! Berhenti bertengkar denganku sebelum aku benar-benar pergi mencari wanita lain!" ayahku balas berteriak.
"LALU SIAPA WANITA YANG DENGANMU ITU?!"
"DIA CLIENKU! HARUS BERAPA KALI KU KATAKAN?" ayahku balas berteriak sampai wajahnya memerah dan urat vena di lehernya muncul.
Orang tuaku bahkan tidak menyadari aku masuk kerumah. Aku berlari ke kamarku dan membanting pintu. Aku hanya berharap mereka berhenti bertengkar. Saat aku kecil, kami adalah sebuah keluarga harmonis. Aku tidak tahu apa yang terjadi, jarak merubahnya. Mereka terlalu sering bekerja dan ketika dirumah, mereka mengeluarkan amarah satu terhadap yang lain saat mereka stress, meskipun saat kami sedang makan malam bersama.
Aku mulai merasa sakit dan lelah terhadap semuanya. Aku duduk di tempat tidurku, merasa tidak ada harapan tentang orang tuaku.
"AKU MAU CERAI!" aku mendengar ibuku berteriak dari ruang tamu.
Air mata mulai berkumpul dimataku dan kemudian jatuh kepipiku. Ini adalah situasi yang sama setiap hari, tapi kenapa aku tidak bisa menghadapi ini dan lalu menangis setiap malam.
Aku menutup telingaku dan mencoba mengabadikan dunia yang kejam, namun aku tetap bisa mendengar ibuku berteriak. Air mataku tidak bisa berhenti mengalir. Aku berharap nenekku masih mengurusku. Aku merindukannya.
Aku menghela napas dan membuka laci tempat tidurku. Aku memegang cutter.
Sudah sangat lama. Kebiasaan ini mungkin kembali.
Aku membawa cutter ke pergelangan tanganku dan menekannya kedalam kulitku. Darah mulai keluar dari sayatan yang ku buat.
Satu sayatan.... Dua sayatan.. Tiga...
Air mataku tetap jatuh, rasa sakit menjadi mati rasa dengan setiap sayatan. Segera, ini menjadi zat adiktif.
...***...
Haru berikutnya, aku sendiri, lagi, selama istirahat karena Mina bersama tiga laki-laki itu -Taehyung, Jimin dan Jungkook. Aku menghela napas. Apa ia tidak punya hati atau sedikit rasa kasihan untukku?
Aku menghabiskan makananku lebih cepat dan tidak ada apapun untuk di lakukan. Lalu aku memutuskan untuk berkeliling sekolah.
Aku menuju kelantai tiga, dimana aku merasa kesepian, secara harfiah tidak ada orang disana. Aku berjalan keruang seni dan menghampiri piano.
/Flashback/
"Hyejin, aku akan mengajarimu memainkan bagian favoritku pada piano. Saat aku masih kecil dan jatuh cinta, kakekmu memainkan ini untukku. Lalu setelah itu aku jatuh cinta padanya." *nenek memberi tahuku ceritaku itu saat aku masih seorang anak kecil, sekitar tujuh tahun. Aku terkikik saat ia memberitahu ku cerita itu.
Ia memainkannya dengan cermat dan indah, pertama kalinya aku mendengar itu, aku ingin menangis meskipun aku masih sangat muda. Kakekku membuatnya, untuk nenekku. Cinta disampaikan di melodi lagu. Sangat sempurna*.
/End of flashback/
Sayangnya, kakekku meninggal saat aku lahir. Aku tidak pernah melihatnya, atau merasakan kasih sayangnya. Aku hanya tahu, ia adalah pria yang baik, pria dengan perlakuan baik pada wanita. Tidak seperti Taehyung, atau ayahku.
__ADS_1
Aku meletakkan jariku pada tuts dan mulai memainkannya. Aku menguasai musik ini sejak umur tujuh tahun, namun tidak bisa bermain sebagus nenek.
Sebenernya, ini adalah lagu yang sama dengan yang aku mainkan untuk Taehyung saat kamu bolos pelajaran Biologi. Aku ragu ia menyadari bakatku bermain melodi indah di piano.
Aku menyelesaikannya, dan menghela napas. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?
Aku ingat suatu tempat yang jauh dari ruang seni namun di lantai yang sama, yang merupakan tempat persembunyian Taehyung.
Aku berjalan kearah gudang dan membuka pintu. Disini tidak banyak ventilasi, ruangan ini masih dipenuhi bau rokok.
Aku menyalakan lampu dan menutup pintu. Aku melihat-lihat dan menemukan sebuah kotak berisi kertas-kertas. Aku melihatnya satu persatu.
Sangat luar biasa. Taehyung sebenarnya bisa menggambar! Ia menggambar banyak hal di kertas, ia punya bakat seni. Aku merasa ingin mencuri satu dan menjualnya.
Aku beralih ke kertas berikutnya, aku melihat potrait seorang gadis. Wajahnya familiar, seperti pernah aku jumpai sebelumnya. Dan di bagian bawah potrait itu tertulis 'LHJ'. Kepalaku pusing. Apa arti dari tiga huruf ini?
Kemudian, pintu terbuka. Aku mendadak terkejut.
Tapi itu hanya Taehyung.
"Yah, apa yang kau lakukan disini?" ia bertanya padaku dan memasuki gudang.
"Tidak tahu, aku hanya melihat-lihat ini. Ini milikmu, kan?" tanyaku.
Ia mengangguk dan duduk di sebelahku.
"Benarkah?" ia bertanya dengan senyum lebar.
"Iya! Gambar aku juga!" pintaku.
Ia hanya tertawa. "Aku sudah-" ia berhenti. "Um, aku sudah kehabisan kertas."
"Aku akan membawa kertas lain kali dan kau harus menggambar diriku oke." kataku dan ia mengangguk.
"Omong-omong, gambar ini sangat bagus. Apa itu 'LHJ'?" kataku dan menunjuk bagian bawah gambar itu.
Ia merampas kertas itu dariku. "Um...Love...J..Hope. I-iya aku menyukai J-hope (teman kelas kami, nama panggilannya Hoseok)." katanya dan mengembalikan kertas-kertas kedalam kotak.
Aku terkikik. "Dasar gay." kataku dan tertawa kecil, ia melakukannya juga.
Tawaku luntur ketika aku memikirkan sesuatu.
"Dimana Mina temanmu huh?" tanyaku dan mengangkat alisku.
"Mina? Oh dia dengan Jimin dan Jungkook dan aku datang untuk merokok namun kemudian aku melihatmu disini." jelasnya.
"Ah... jadi aku harus keluar jadi kau bisa merokok lalu kembali ke Mina sahabatmu huh?" tanyaku dan berdiri
__ADS_1
Ia menarikku kembali duduk disebelahnya. "Tidak." katanya dan mengeluarkan bungkus rokok dari balik tumpukan kertas.
"Hey! Aku tidak mau menontonmu dan membuat paru-paruku batuk karena rokok." kataku.
Ia mengabaikanku dan mengeluarkan korek. Kemudian aku merampas rokok dari mulutnya yang baru akan di nyalakan.
"Kenapa kau mau merusakkan paru-parumu dengan ini?" kataku dan melihat batang rokok di tanganku.
"Karena aku stress dan lelah pada beberapa hal. Aku merokok, jadi aku bisa menghilangkan masalahku." katanya dan memegang pergelangan tanganku untuk mengambil rokoknya kembali.
"Aw!" seruku, menjatuhkan rokok dan ia melepaskan pergelangan tanganku.
"Aku tidak menggenggam pergelangan tanganmu terlalu keras kan?" tanyanya.
Aku tetap diam, menggosok pergelangan tanganku namun memastikan lengan bajuku tidak tersingkap.
"Tahan." katanya. "Naikkan lengan bajumu."
Aku berpaling darinya dan menutupi pergelangan tanganku, menurunkan lengan bajuku untuk menutupi bekas luka sayatan di pergelangan tanganku.
Dengan tidak sabar, ia menggenggam tanganku dan menyingkap lengan bajuku, menemuka bekas sayatan luka. Aku menjadi pendiam dan ketakutan, aku sangat berkeringat.
Ia masih menggenggam tanganku, ia menatapku.
"Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri seperti ini?" tanyanya.
"Aku punya alasan dan masalah sendiri." kataku dan perlahan menarik tanganku darinya, menahan air mataku.
Ia menghela napas.
"Kita sama bukan?" katanya, dan aku bingung untuk sesaat.
".... Kita berdua terkadang melukai diri kita sendiri, berpikir bahwa masalah kita akan pergi." katanya.
Aku menyadarinya, ya. Aku melukai diriku dengan pisau cutter, dan ia merusak paru-parunya dengan rokok.
"Itu adalah masalah kalau kita mulai kecanduan." katanya dan menghela napas.
"Kau, berhenti menyayat dirimu oke." katanya dan menyikutku.
"Kau juga, berhenti merokok." kataku dan menyikutnya balik. Kami berdua tersenyum.
"Janji, maksud ku, akan aku coba." katanya dan menjulurkan jari kelingkingnya.
Aku tersenyum. "Janji." jawabku dan mengunci jari kelingkingku dengannya.
Lalu kemudian, bel berbunyi, istirahat berakhir dan kami berdua kembali ke kelas.
__ADS_1