Murid KU KEKASIHKU

Murid KU KEKASIHKU
satu


__ADS_3

#Muridku_Kekasihku


Versi terbaru (1)


Meski berpacaran dengan seorang guru, belum tentu posisiku terbilang aman. Pak Alfin bisa tanpa melirikku selama pelajaran berlangsung. Dia terlalu fokus saat menyampaikan materi. Sementara cara dia mengajar yang pelan tapi serius sering membuat pikiranku berkhayal terlalu jauh. Tentang masa depan kita.


Harusnya bisa konsentrasi. Batinku menyugesti diri. Tapi selalu gagal saat tubuh tingginya mendekat. Aku dan teman-teman yang lain sama di matanya. Aku bukan murid spesial di kelas. Tapi murid spesial di hatinya.


"Ehem," suara deheman itu mengarah kepadaku.


Aku mengakhiri lamunan dengan melihat sekeliling. Semua orang memandangiku dengan tatapan yang aneh. Begitu juga dengan Sarah - teman sebangkuku.


"Ada apa Sar?" tanyaku setengah berbisik.


Sarah tak menjawab. Dia mengerjapkan mata memintaku melihat ke depan di mana kekasihku berdiri. Benar saja, Pak Alfin menatap tajam ke arahku. Sejenak dia berjalan mendekat, membuat jantungku kian berdegup kencang.


"Fani, sudah paham dengan penjelasan soal nomor satu?" Dia bertanya sambil berdiri dengan melipat tangan di dada.


Aku memberanikan diri menatap matanya sekilas. Tatapan yang dingin seperti ingin meluapkan kekesalan hatinya. Aku menggeleng kepala perlahan sambil tersenyum lalu memilih menunduk.

__ADS_1


"Mengikuti pelajaran saya harus fokus. Saya ingin bertanya, kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya dia dengan suara yang cukup lantang dan terdengar tegas.


Aku menahan senyum sambil menundukkan wajah. Tidak mungkin aku mengingatkan kelucuan dia tadi pagi saat rambutnya tampak berantakan ketika datang menjemput. Dia terlalu tergesa hingga lupa menyisir rambut terlebih dahulu. Kelucuan ini hanya aku yang tau.


Sejenak kemudian, wajahnya tiba-tiba terlihat sedikit kikuk. Lalu segera berjalan pelan menuju meja guru. Sarah menatapku heran, begitu juga dengan teman-temanku yang lain. Karena baru kali ini, ada murid yang terbebas dari introgasinya.


Pak Alfin masih memiliki jam pelajaran kelima setelah istirahat pertama. Jujur saja, aku tidak menyukai pelajarannya. Matematika bagiku hanya menguras otak untuk berpikir keras, sementara jarang ada soal yang mampu terselesaikan dengan baik. Meski sang guru telah menjelaskan rumus secara detail dan berulang-ulang, tetap saja aku gagal paham saat tatapan kami saling bertautan.


Tatapan mata elangnya menyiratkan perintah agar aku mendengarkan pelajaran. Isyarat mata pula, kami harus saling memahami satu sama lain melalui kode rahasia. Saat Pak Alfin keluar kelas hendak mengambil buku paket di kantor, suasana kelas mendadak ribut.


"Aku jatuh cinta sama Pak Alfin," ungkap Deliana setengah berteriak.


"Jadian sono," sahut Viki yang duduk di bangku belakangnya.


"Kalau Pak Alfin sudah punya pacar gimana?" Deliana kembali bersuara dengan wajah khawatir.


"Makan tuh, patah hati," ucap teman-teman dengan kompak diakhiri gelak tawa yang menyakitkan.


Aku pun ikut tertawa mendengar candaan mereka yang menyudutkan gadis itu. Biar bagaimanapun, seseorang yang istimewa di hati Pak Alfin sekarang hanya aku - kekasih satu-satunya.

__ADS_1


Derap langkah seseorang mulai terdengar. Mereka yang berkeliaran segera duduk di bangku masing-masing. Pak Alfin memasuki ruang kelas dengan membawa beberapa buku dalam genggaman tangan.


Memakai kemeja polos warna abu-abu serta celana panjang warna hitam, dia tampak lebih cool dan berwibawa. Apalagi saat bibir itu tersenyum, siapapun pasti merasa bahagia. Tapi tidak dengan sekarang, Pak Alfin selalu menunjukkan wajah serius ketika sedang mengajar. Bisa dihitung dengan jari berapa kali dia mau tersenyum di kelas. Parahnya, dia tipe guru galak untuk murid yang memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata sepertiku.


"Hasil tugas kalian sebagian sudah saya masukkan di buku nilai. Untuk murid yang memiliki masalah dengan nilainya, istirahat nanti bisa menemui saya di kantor," tuturnya.


Pak Alfin melirik sekilas, semakin menguatkan dugaan yang mulai meresahkan hatiku. Sementara buku tugas milik murid masih berada di atas meja guru dan siap dibagikan ketua kelas.


Bel istirahat berbunyi nyaring. Ada suatu kebahagiaan saat memikirkan kantin Mbok Nah yang menyiapkan berbagai jajanan favorit untuk mengisi perut yang mulai lapar. Pak Alfin beranjak berdiri.


"Persiapan ulangan harian setelah jam istirahat. Silahkan buku tugasnya dibagi, saya tunggu di kantor untuk yang nilainya bermasalah," tegasnya sambil menatap sekeliling lalu berlalu keluar kelas.


Aku menatap punggungnya hingga hilang dari penglihatan. Masih teringat dengan jelas saat dia tersenyum malu menyadari penampilan rambutnya tadi pagi. Tanpa ragu meminjam sisir saat sisir miliknya ketinggalan. Pak Alfin memang pandai mengendalikan ekspresi.


"Alhamdulillah dapat 72," ucap Sarah dengan wajah bangga.


Aku beranjak menghampiri Viki yang sedang sibuk membagi buku tugas milik kami. Mencari buku bersampul warna pink dengan motif berbentuk hati. Merupakan hal biasa ketika melihat tanda silang tertera di seluruh jawaban. Untung saja dia tidak memberiku nilai nol besar.


Aku melihat seluruh ekspresi teman-teman. Mereka tidak ada yang tampak sedih. Parahnya, hanya aku satu-satunya murid yang harus menemui Pak Alfin di kantor. Apa dia sengaja?

__ADS_1


__ADS_2