Murid KU KEKASIHKU

Murid KU KEKASIHKU
delapan


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€


Tidak mudah berhadapan dengan kekasih yang kini berprofesi sebagai guru. Sebisa mungkin menghargai sikap profesionalnya meski seringkali terasa menyebalkan. Aku memilih diam. Sejenak teringat keinginan bisa saling bekerja sama saat ulangan atau setidaknya posisiku bisa terbilang aman di kelas. Namun kenyataannya, tidak ada perlakuan istimewa seperti yang pernah kubayangkan sebelumnya.


Pak Alfin begitu kaku di kelas. Lirikan tajamnya selalu membuat hatiku berdebar-debar.


"Duduk," pintanya seraya menggeser posisi duduknya sedikit menjauh.


Duduk bersebelahan dengan menaruh tas ransel di pangkuan, perasaan kembali tidak nyaman. Terlebih saat teringat tujuan Pak Alfin yang ingin menginterogasi. Kudengar dia menghela napas panjang sambil memijat keningnya perlahan.


"Deliana belum sadar. Orang tuanya sudah ada di ruangan pasien. Mereka meminta kami membawamu datang ke sini," ucapnya pelan dengan wajah yang tampak begitu cemas.


Mataku membulat karena terkejut. Merasa takut apabila orang tua Deliana ingin memarahiku. Terlebih, semua orang seharian ini hanya menyalahkanku habis-habisan.


"Pak Alfin, aku tadi benar-benar tidak sengaja. Percayalah, Pak. Mana mungkin aku tega mencelakai teman sendiri," ucapku mencoba menjelaskan.


Pak Alfin hanya menganggukkan kepala seraya menatapku penuh iba. Tiba-tiba lupa seharusnya berbicara formal di depan lelaki yang menjalankan perannya sebagai guru.


"Kenapa lempar bolanya bisa sampai salah sasaran? Kamu belum sarapan? Semalam begadang?" tanyanya menginterogasi.


Aku menunduk lesu. Semalam begadang karena hobi menulis yang memang terasa mengasyikkan.


"Setiap hari sabtu saya jarang sarapan," ungkapku jujur.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Takut ketinggalan angkot," jawabku sambil menahan tawa.


Kedua alisnya terangkat seakan heran mendengar jawabanku. Kuharap alasanku membuat Pak Alfin berkenan memakluminya.


"Bangun lebih pagi kan bisa," balasnya.


Aku terdiam. Malas berdebat jika ujungnya hanya membahas kebiasaan burukku. Pak Alfin tidak tau, jika dia berhalangan menjemput, aku selalu terlambat masuk ke sekolah.


"Seharian ini, semua orang menyalahkan saya. Hanya Pak Alfin satu-satunya orang yang saya harapkan bisa mengerti saya," curhatku pelan penuh perasaan.


Kulihat wajah teduh itu turut iba. Sejenak kemudian bibirnya menyunggingkan senyum yang menyejukkan hatiku.


"Iya, saya mengerti. Kamu tidak mungkin sengaja. Jangan lupa minta maaf dengan Deliana, dengan orang tuanya juga, semoga kondisinya bisa segera pulih," tuturnya mencoba menenangkan.


Aku mengangguk seraya mengamini. Situasi hening sejenak, Pak Alfin menatap layar ponsel sementara aku mengedarkan pandang ke arah luar. Melihat satu persatu pengunjung yang mulai berdatangan.


Tak berselang lama, lelaki yang memakai kemeja coklat susu dipadu dengan celana kain warna hitam tersebut kembali menghampiri dengan membawa bungkusan plastik warna putih di tangan kanannya.


"Kamu makan, ya," pintanya sambil memberikan plastik itu kepadaku.


"Ini apa?" tanyaku dengan perasaan senang.


Kembali duduk di tempat semula, Pak Alfin membetulkan kacamata lalu menatapku dengan sedikit senyum.


"Pengganjal perut," jawabnya singkat.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak Alfin sayang," ucapku lirih sedikit merayu.


"Ssstt!" sergahnya sambil menatap sekeliling. Rupanya dia begitu khawatir jika ucapanku terdengar orang-orang.


Aku sengaja mengucap itu karena terharu dengan sikap sang guru yang diam-diam menaruh perhatian. Membuka isinya, ada beberapa roti dan air mineral yang dia beli dari kantin rumah sakit. Tanpa ragu, aku segera memakan roti pemberiannya untuk mengisi perutku yang sedari tadi menahan lapar.


"Pak Alfin, boleh saya membicarakan tentang kita?" tanyaku lirih sambil mengunyah roti rasa coklat.


"Tidak boleh," tolaknya sambil melirik sekilas.


"Ini kan di luar lingkungan sekolah," ujarku pelan sambil menatap sekeliling untuk memastikan keadaan aman.


"Tapi ini masih jam pelajaran. Seharusnya kamu prihatin, ketinggalan pelajaran hari ini," tuturnya menasihati dengan wajah yang tampak serius.


"Seharusnya Pak Alfin juga prihatin sama saya, kemarin tega menyindir sampai saya dibully teman-teman sekelas," gerutuku.


Aku memalingkan wajah darinya. Merasa kesal jika teringat kemarin. Duduk sedikit menjauh, tiba-tiba aku ingin pulang.


"Jangan marah ya, tiga jam lagi saya bahas tentang hubungan kita," ucap Pak Alfin yang membuatku menoleh seketika.


Wajah yang semula tampak serius kini mulai menghangat. Rupanya aku harus menunggu pulang untuk bisa berhadapan dengan sang kekasih. Sepenuhnya menyadari lelaki di sebelah masih bertugas sebagai guru.


Bersambung.


Like - komennya ya...

__ADS_1


Kasih krisan juga boleh...


__ADS_2