
Mengetahui respon Pak Alfin tak sesuai harapan, aku kembali duduk dengan menahan kesal. Salah besar apabila mengira sikapnya akan sama seperti guru-guru ganteng yang viral di sosial media. Padahal, aku ingin melihat dia salah tingkah seperti ekspresi tadi pagi pada saat murid-murid lain berani menggombalinya.
Sebagai guru baru, aku mengerti bahwa sang kekasih harus bersikap profesional ketika berada di sekolah. Namun kenyataannya, Pak Alfin tega menghukum hanya gara-gara aku iseng menggombalinya.
"Sekali lagi mohon diperhatikan. Ketika di kelas, kalian harus fokus menyimak pelajaran. Fokus mencatat rumus dan soal-soal. Kalau belum paham bisa ditanyakan. Jangan membuat kehebohan sendiri. Murid zaman dulu saja tidak ada yang berani menggombali gurunya," sindirnya sambil melirik.
Aku menahan tawa dan kesal secara bersamaan. Sementara barisan murid laki-laki di bagian samping terdengar heboh menertawakan.
"Lagian berani-beraninya motong penjelasan guru dengan gombal murahan. Mana mau Pak Alfin sama kamu," cibir Deliana dengan tatapan tidak suka.
Aku memilih diam tak menanggapi. Ingin sekali suatu saat memamerkan Pak Alfin sebagai kekasih di hadapan gadis sok cantik itu.
"Sudah-sudah. Kita lanjut saja pelajarannya. Sekarang, kita buat peraturan baru. Siapa yang berani menggombali saya ketika pelajaran berlangsung, ada soal tambahan yang harus dikerjakan. Setuju?" tanya Pak Alfin meminta pendapat.
"Kok saya kurang setuju ya, Pak. Nyali saya sebagai jomblo akan semakin ciut nanti," ucap Luna merasa keberatan.
Kulihat Pak Alfin tampak menahan tawa mendengar ucapan itu. Sementara teman-teman yang lain kompak menyetujui pendapat sang guru.
"Mungkin Pak Alfin ingin digombalin langsung di kantor guru," ujarku kembali menggodanya.
"Saya tambah menjadi 25 soal," tegasnya.
Sontak, mataku membulat sempurna. Aku menggelengkan kepala merasa sikapnya padaku sangat menyebalkan.
"Jangan galak-galak dong, Pak. Saya kan cuma bercanda," balasku dengan memasang wajah sedih.
Tak merespon, Pak Alfin kembali melanjutkan pelajaran. Menerangkan pembagian matriks secara jelas dan runtut. Lelaki jangkung itu sesekali melirik memastikan aku fokus mendengarkan. Di akhir pertemuan, tak lupa memberi lima soal sebagai bahan evaluasi. Lengkap sudah penderitaanku saat menyadari tugas yang telah dilimpahkan benar-benar memberatkan.
πππ
Sepulang sekolah, kelas kami ternyata keluar paling akhir. Itu karena Bu Ismawati terlalu asyik menyampaikan materi hingga benar-benar selesai satu bab penuh. Usai melantunkan doa penutup, seluruh murid beranjak keluar kelas.
__ADS_1
Melirik kantor guru, tak terlihat Pak Alfin di sana. Mobilnya turut lenyap dari parkiran. Berjalan pelan keluar gerbang, sang kekasih tampak menunggu di tempat biasa. Kali ini aku memutuskan untuk pulang sendiri tanpa ingin memberi kabar. Kuat dugaan dia pasti akan kembali menyinggung gombalanku di mobil.
Menaiki angkutan umum yang berisi teman-teman SMA, aku harus menunggu lama hingga kendaraan terisi penuh. Entah kenapa tiba-tiba merasa malu jika berhadapan dengan Pak Alfin di luar sekolah. Sikapnya telah mematahkan semangatku sebagai murid sekaligus kekasihnya.
Kulihat mobil fortuner hitam itu masih berada di tempat itu. Sang pemilik duduk menunggu di dalam. Ingin sekali menyampaikan langsung padanya bahwa aku ingin sebuah pengakuan, aku ingin sebuah kepastian. Hanya saja, aku belum siap untuk menikah muda.
Mobil angkutan melaju pelan menyusuri jalanan kota. Sesekali berhenti saat penumpang meminta turun. Tiba di depan kompleks perumahan, aku beranjak turun dan memberikan beberapa lembar uang kepada supir. Kemudian berjalan seratus meter menuju rumah.
Suasana rumah tampak sepi. Aku bergegas ke kamar untuk beristirahat. Ponsel yang tergeletak di atas ranjang terdengar berbunyi. Segera kulihat nama yang tertera dalam layar. Ternyata Pak Alfin yang menelpon. Aku menahan tawa menduga dia pasti sedang mengkhawatirkanku seperti yang sudah sudah.
"Begitu saja marah," ujarnya dari seberang sana.
Aku tertawa kecil mendengarnya.
"Aku ini bukan sebatas murid, tapi juga pacarmu. Kok tega banget sih?"
"Berkali-kali aku tegaskan, ketika di sekolah kita hanya sebatas guru dan murid."
"Masa' hanya gara-gara iseng gombalin dihukum segala? Apa kabarnya murid-murid yang pada gombalin Pak Alfin di kelas lain?" sindirku dengan berani.
"Beda gimana?"
"Bedanya gombalanmu di kelas bisa bikin konsentrasiku buyar."
Aku membekap mulut yang tak tahan ingin tertawa. Sempat tidak percaya dengan sikap profesional yang biasa ditunjukkan di kelas ternyata bisa buyar jika mendengar gombalan dariku.
"Terus kenapa kalau mereka yang gombalin, Pak Alfin langsung tersenyum. Kalau aku yang gombalin, gak ada senyum-senyumnya sama sekali. Yang ada malah dikasih soal. Kebanyakan lagi," protesku dengan kesal.
"Jadi kamu pengen ta'senyumin? Coba gombalanmu di keluarin lagi," pintanya.
"Nggak ah. Males. Sekali-kali gantian aku dong yang digombalin?"
__ADS_1
"Aku nggak suka gombal. Satu yang harus kamu tau, aku sayang kamu."
Hatiku berdebar-debar mendengar kata sayang terdengar mengalun indah di telinga. Tidak biasanya Pak Alfin bicara seromantis ini secara langsung maupun lewat sambungan telepon.
"Kalau Pak Alfin sayang, harus mau bantuin tugasku yang memberatkan itu."
"Hadeh. Itu hukuman kamu lho."
"Apa Pak Alfin tega membuat kepalaku pusing?"
"Alasan klise yang membosankan."
"Ayolah Pak Alfin yang ganteng dan baik hati, bantuin aku sebentar," rayuku dengan suara semanis mungkin.
"Kerjakan sendiri pokoknya!" ucapnya dengan tegas.
"Kalau nggak dibantuin aku nggak mau ah."
"Kalau ada hukuman tambahan tidak boleh protes lagi ya?"
"Ya Allah... Tega sekali ini."
"Haha.... Ayo segera dikerjakan. Besok kumpulkan di meja kantor."
"Bilang saja pengen aku samperin pas istirahat."
Pak Alfin membalas dengan tertawa.
"Lain kali kalau pulang sendiri kabarin dulu ya." Dia mengalihkan pembicaraan.
"Saya tidak tau cara bicara sebagai kekasih ketika di sekolah," sindirku lagi.
__ADS_1
Dia terdiam cukup lama.
Bersambung.