Murid KU KEKASIHKU

Murid KU KEKASIHKU
dua puluh sembilan


__ADS_3

#Muridku_Kekasihku


#sequel


Versi terbaru (Part suka-suka)


Kutemukan salah satu foto Pak Alfin tiga tahun lalu di akun facebooknya. Saat masih menjadi mahasiswa di Jakarta. Tak disangka, ternyata dia juga pernah alay pada masanya. Gaya rambut sedikit acak-acakan dengan senyum yang begitu menggetarkan.


Masih memakai seragam putih abu-abu, aku segera selfi dengan gaya rambut yang sama. Penasaran bagaimana reaksi Pak Alfin jika melihat fotoku sengaja meniru penampilannya.


Setelah mendapat satu foto yang pas, segera kuedit dengan menambahkan kalimat yang membuatku tertawa sendiri. Kulihat Pak Alfin masih tampak online. Entah kenapa jarang sekali dia update story di whatsapp maupun facebooknya. Namun tidak pernah ketinggalan untuk melihat story tidak penting yang kuposting setiap harinya.


Foto tersebut aku kirim segera. Tak butuh waktu lama, centang dua seketika berubah biru. Pak Alfin terlihat mengetik balasan.


[Ya Allah dari mana ngambil foto itu? πŸ€¦β€β™‚] tulisnya disertai emoticon tepuk jidat.


Tak henti-hentinya aku tertawa setelah berhasil membuat Pak Alfin terkejut seperti itu. Puas sekali rasanya.


[Dari akun facebookmu. Ternyata banyak foto-foto alay yang tersembunyi 🀣🀣]


Meski centang dua berubah biru, Pak Alfin tiba-tiba menghilang sebelum membalas pesan. Dasar kebiasaan. Rutukku dalam hati. Aplikasi facebook menemani kegalauan siang ini. Membaca cerita bersambung yang selalu kutunggu episode selanjutnya. Jari kembali menekan salah satu nama di pencarian. Akun facebook milik Pak Alfin tiba-tiba saja menghilang begitu saja. Tanda tanya besar menyeruak, mungkinkah dia tega memblokirku dari daftar pertemanan? Tak lama kemudian, satu notifikasi muncul dalam layar. Aku begitu antusias saat membaca pesan yang baru masuk darinya


'Awas ya jangan sampai diposting.'

__ADS_1


'Kenapa? Tingkat kegantenganmu tidak akan berkurang kok, Pak.'


'Pokoknya jangan.'


'Sekali-kali bolehlah ya...' godaku.


Tak lama kemudian, dia langsung menelpon. Aku tertawa puas telah membuat Pak Alfin mendadak panik. Dia begitu sensitif jika privasinya terusik. Kulihat dalam layar tertera gambar buku matematika sebagai foto profilnya. Semenjak mengajar, tidak pernah mencantumkan foto asli sekali pun. Begitulah Pak Alfin. Lelaki yang selalu jaim karena profesinya sebagai guru.


"Siang, Pak Alfin," sapaku dengan suara semanis mungkin.


"Apa fotonya sudah kamu posting di WA? share juga di grup teman-temanmu?" tuduhnya tanpa basa-basi.


"Pengennya sih begitu," jawabku dengan santainya.


"Hahaha.. Enggaklah Pak. Mana berani aku. Satu sekolah bakalan heboh nanti," jawabku sambil tertawa kecil. Mendadak khawatir jika dia marah.


Kudengar dia menghela napas lega.


"Foto mana saja yang kamu ambil?" tanya dia menginterogasi.


"Banyak. Kapan nih bisa foto bareng?" suaraku melembut manja.


"Kalau mau foto bareng, tunggu kalau sudah nikah. Silahkan foto dan posting sepuasnya."

__ADS_1


Tumben sekali Pak Alfin menyinggung seputar pernikahan. Hatiku berdebar ketika membayangkan kehidupan indah di masa depan.


"Masih lama dong. Pengen bisa foto bareng di sekolah. Biar anak kita nanti tau kalau ayah bundanya dulu diam-diam pacaran di sekolah." Aku kembali tertawa sambil membayangkan ekspresi wajahnya saat ini. Entah kenapa tiba-tiba bisa mengatakan kalimat itu dengan mudahnya.


"Sudah ya, jangan berkhayal terlalu jauh. Kamu masih sekolah, belajar sana!" ujarnya menasihati.


"Pak Alfin duluan 'kan yang tiba-tiba bahas nikah. Ya otomatis aku langsung berkhayal," jawabku sambil terkekeh sendiri.


Dia terdiam. Mungkin tak bisa berkata-kata lagi.


"Pak Alfin, apa kamu siap berkomitmen untuk sabar menungguku sampai lulus kuliah?" tanyaku dengan serius.


Tiba-tiba muncul pertanyaan dari hati yang paling dalam. Dia tetap terdiam tanpa terdengar jawaban apapun. Hening. Namun telepon masih tersambung.


"Pak Alfin," panggilku curiga ditinggal tidur.


"Pak Alfin," ulangku kembali memanggil.


"Pertanyaan kamu itu harus dijawab langsung. Tapi jangan sampai nagih jawaban di sekolah. Apalagi berani datang di kantor guru. Awas ya," jawabnya sedikit mengancam.


Aku menahan tawa. Tak sabar menunggu hari esok.


******

__ADS_1


Foto yang dimaksud dalam part ini ada di wall pribadi. (visualisasi tokoh) Terima kasih


__ADS_2