Murid KU KEKASIHKU

Murid KU KEKASIHKU
31


__ADS_3

"Apa kamu keberatan dengan gaya pacaran seperti ini?"


Mataku membulat. Seketika ingin tertawa, tapi kutahan-tahan karena perutku lapar sadari tadi. Setengah berlari menghampiri mobilnya di depan ruko membuat energi terkuras habis. Sementara pelayan kafe belum ada yang datang menyuguhkan minuman.


Aku terdiam beberapa saat. Heran mendengar pertanyaan Pak Alfin yang tiba-tiba membicarakan tentang hubungan kami. Padahal setiap disinggung obrolan tentang cinta, dia selalu mengalihkan pembicaraan dengan perintah belajar. Dan aku cukup terkejut sekaligus antusias dengan pertanyaan semacam ini.


"Nggak sama sekali. Justru nanti bisa sekalian belajar di sini," jawabku penuh semangat.


"Belajar apa?"


"Belajar menjadi calon istri yang baik," jawabku penuh rasa percaya diri.


Lelaki di hadapan mata tampak menarik napas panjang. Mungkin sudah tak heran dengan kebiasaan baruku yang selalu ingin menggodanya setiap saat.


"Kamu kenapa akhir-akhir ini tiap ngobrol hal apa, tiba-tiba minta dilamarlah, minta diseriusinlah, giliran ditanya kesiapan jadi istri cuma senyam senyum nggak jelas." Dia berkomentar dengan nada mencibir.


Tawaku akhirnya pecah seketika. Lelaki yang dikenal sebagai guru kharismatik tapi pelit bicara ini tiba-tiba mengungkapkan keluh kesah seperti itu. Sejujurnya aku malu, tapi pura-pura tampil biasa saja. Aku mengakhiri tawa setelah pengunjung lain menoleh heran ke arah meja kami.


"Aku juga nggak tau nih Pak, kalau lihat wajahmu rasanya itu pengen gombalin terus."

__ADS_1


Aku berusaha menahan tawa karena situasi kafe sekarang sedang dalam keadaan hening. Entah kenapa para karyawan tidak ada yang memutar musik seperti biasa. Hal itu membuatku sungkan jika terdengar berisik.


"Waduh, virus kacau ini," ucapnya sembari menggelengkan kepala.


"Bukan virus kacau. Virus cinta namanya," sahutku kembali menahan tawa.


"Mau virus cinta atau apapun jangan sampai mengacaukan nilai matematikamu," tuturnya sambil menata lembaran soal-soal dan menaruhnya di sebelah tempat duduk.


Obrolan kami terhenti setelah dua orang karyawan datang mengantar pesanan. Aku dibuat terkejut begitu melihat beberapa piring makanan mereka hidangkan di atas meja. Seingatku, aku hanya memesan steak daging dan lemon tea. Sementara di atas meja, turut tersaji pula ayam lada hitam, nugget dan sosis goreng, udang krispi beserta salad buah. Kesukaan semua.


"Pak Alfin serius mau bikin aku gendut?" tanyaku terheran-heran.


Dia menanggapi dengan terkekeh sendiri. Sepertinya dia lebih sering tertawa ketika sedang bersamaku. Lalu kembali harus jaga image saat berperan menjadi seorang guru.


Ya Ampun! Dasar Pak Alfin, jawabannya tidak ada so sweet so sweetnya, gumamku di dalam hati. Tak ingin banyak bicara, aku langsung menyantap steak daging ala restoran yang super lembut dan juicy. Sementara dia fokus menikmati ayam lada hitam yang tak kalah menggoda.


Selama kami makan, dia tampak begitu khusyuk dengan makanan di piringnya. Aku tak berani mengajak bicara, takut membuatnya tersedak seperti yang sudah-sudah. Aku harus pandai membawa diri.


"Oh ya, Pak Alfin, terima kasih banyak ya sudah beberapa kali diajak makan gratis di sini," ucapku setelah kami selesai makan menu utama.

__ADS_1


"Dihabisin dulu baru bilang terima kasih," balasnya sambil makan udang krispi.


"Kalau suatu saat aku gendut, kamu masih tetap cinta 'kan?" tanyaku sekadar ingin basa-basi.


Pak Alfin langsung tersedak, lalu terbatuk-batuk beberapa saat. Entah apa yang dia pikirkan ketika aku sengaja bertanya hal sejauh itu.


"Sudahlah jangan bahas cinta terus. Lanjut mengoreksi ya," perintahnya. Aku mengangguk.


Pak Alfin memanggil salah seorang karyawan yang membersihkan meja sebelah. Kemudian memintanya mengambil piring kotor, sementara cemilan berupa gorengan sengaja ditinggal di atas meja. Aku memakan salad buah yogurt sebagai menu penutup. Aneka buah-buahan segar bercampur irisan keju dan cokelat. Harga yang bersahabat membuat kafe ini selalu ramai di kunjungi kawula muda yang ingin bersantai sore.


Puluhan lembar soal yang harus kukoreksi terdiri dari tiga kelas. Kunci jawaban berserta alat tulis tersedia di atas meja. Pak Alfin menghidupkan layar laptop, lalu menata ulang soal agar tidak tercampur dengan kelas lain.


"Sekarang ini kalau mengisi rapot menggunakan ARD, aplikasi rapot digital. Bukan lagi secara manual seperti dulu. Jadi buku rapot sekarang bisa diakses secara online. Sebagian soal sudah aku koreksi semalam. Ini yang belum dikoreksi masih banyak. Pilihan ganda saja dulu. Soal essay nanti aku jelaskan lagi," tuturnya panjang lebar.


"Kalau aku memasukkan nilai yang sudah dikoreksi semalam lalu mengolah data untuk mendapatkan nilai akhir," sambungnya.


Aku mengangguk mengerti. Lalu mulai mengoreksi soal pilihan ganda dari kelas sepuluh yang berjumlah tiga puluh lima soal. Aku tidak bisa membayangkan nasib soreku ketika harus mengoreksi soal sebanyak ini. Tiga puluh lima soal pilihan ganda dari dua puluh lima murid. Itu baru satu kelas saja. Belum lagi Pak Alfin memintaku membantu mengoreksi tiga kelas. Belum lagi soal essay yang pastinya lebih ribet dan membingungkan. Oh My God! Mau bilang keberatan sudah terlambat.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca..


Ini ceritanya ringan, kalau kurang greget emang ceritanya santai santai aja.. Masih SMA kasihan kalau dikasih masalah yang berat-berat. Eh itu aja udah jadi masalah berat bagi Fani 🤣


__ADS_2