Murid KU KEKASIHKU

Murid KU KEKASIHKU
sepuluh


__ADS_3

#Muridku_Kekasihku


πŸ€πŸ€πŸ€


Semburat merah menghias pipi kala mendengar ucapan sang guru. Aku tidak menyangka Pak Alfin yang semula bersikap dingin tiba-tiba merayu seperti itu. Mungkin dia lupa, beberapa menit lalu, dia telah menegaskan bahwa obrolan kami hanya boleh seputar kepentingan sekolah.


"Kalau saya baper, Pak Alfin harus siap tanggung jawab," ancamku sambil berusaha menahan senyum.


"Lho, belum baper, ya?" godanya dengan tertawa kecil.


Aku tergelak mendengarnya. Tatapan kami bertautan sekilas. Wajahnya menghangat seperti saat menempatkan diri sebagai kekasih. Jawaban itu sesungguhnya sudah membuat hatiku bergetar hebat. Entah menjadi guru atau pun kekasih, aku selalu terbawa perasaan setiap saat.


"Tapi mending dibaperin daripada digalakin." Aku sengaja menyindir sikap profesionalnya yang terkadang begitu menyebalkan.


Pak Alfin mengacak pelan rambutku diiringi gelak tawa renyah yang mampu menghangatkan suasana.


"Kamu itu sudah bikin aku galau semalaman," ungkapnya memberitahu. Gaya bicara aku-kamu sejenak menghilangkan kecanggungan yang ada.


"Oh iya?" tanyaku tidak percaya.


"Soal ucapan kemarin, aku benar-benar minta maaf, sama sekali tidak bermaksud menyinggung atau mengucilkanmu di kelas."


"Tapi aku tersinggung," balasku dengan mengerucutkan sebelah bibir.


"Iya, sebagai guru aku minta maaf. Mungkin lain kali ada pelajaran tambahan khusus untukmu," terangnya dengan tatapan sendu.


"Cie, aku terharu," balasku dengan senang hati.

__ADS_1


Mengetahui Pak Alfin memiliki inisiatif seperti itu, hatiku mendadak berbunga-bunga. Rasanya tidak berani marah di depan seseorang yang keberadaannya tetap harus aku hormati sebagai guru. Meski memang tersinggung, aku cukup sadar diri bahwa yang dikatakan kemarin adalah kebenaran yang cukup menyedihkan.


Situasi hening sejenak. Di antara kami saling diam dengan pikiran masing-masing. Pak Alfin masih fokus mengemudi. Aku termenung sembari menatap kendaraan lain dari jendela kaca. Mendadak teringat ucapan ibunya Deliana yang meminta pihak sekolah memberi hukuman untukku.


"Pak," panggilku sembari menatapnya.


"Iya?"


"Tolong aku."


"Untuk?"


"Untuk bisa terbebas dari hukuman guru. Please," ucapku penuh permohonan.


Pak Alfin tampak menghela napas panjang seolah kembali memikirkan sesuatu.


"Setidaknya belain aku. Aku nggak salah," tegasku lagi.


Lelaki di sebelah hanya merespon dengan anggukan kecil. Masih kesal jika teringat ucapan Ibunya Deliana yang terang-terangan membenciku di depan guru-guru. Begitu juga dengan respon putrinya yang tidak ingin memaafkan.


"Sebisa mungkin akan aku usahakan. Tapi, mengingat status di sekolah masih sebatas guru baru, jadi tidak enak kalau kesannya sok tau atau sok bijak," tuturnya sedikit keberatan.


Aku mengangguk paham dan memaklumi. Pak Alfin memang belum bisa diandalkan untuk membantuku terbebas dari kasus ini. Wajar saja, dia baru mengajar beberapa minggu dan masih tahap penyesuaian diri. Tapi aku bersyukur, dia mampu memahamiku dengan baik.


"Sejak Deliana menjadi ketua osis, aku memang jarang akrab. Kami sering tidak sependapat. Dari pada saling debat, aku memilih diam. Tapi ternyata dia mengartikan diamku karena merasa iri dengan segala kontribusinya di sekolah hingga banyak guru-guru yang kagum dan bangga dengan prestasinya," ceritaku.


"Kalian berdua dulunya sahabatan?" tanya Pak Alfin dengan wajah penasaran.

__ADS_1


Aku mengangguk mengiyakan. Kami bersahabat sebelum gadis itu dikenal banyak murid. Dialah ketua OSIS wanita pertama yang mampu mencetak berbagai prestasi membanggakan di sekolah.


"Yang paling nyebelin, dia mengaku suka sama kamu. Satu yang aku tidak suka, kamu terlalu galak sama murid yang notabennya kurang pandai matematika sepertiku. Sementara dengan murid yang lebih pintar, selalu mereka yang diutamakan," keluhku dengan menahan kesal.


Pak Alfin terdiam sejenak. Sebelumnya, aku tidak berniat menceritakan hal ini lebih dulu. Tapi, aku khawatir jika suatu saat nanti Pak Alfin berpaling dan lebih memilih murid yang lebih pandai dariku.


"Bukan begitu. Kamu dan murid yang lain bagiku sama saja. Tidak ada yang diutamakan. Di sekolah, kamu tetap murid biasa. Jadi harus bisa menganggapku seperti guru-guru yang lain. Kalau menurutmu galak, berarti mulai sekarang harus semangat untuk rajin belajar," ujarnya kembali menasihati.


"Andai saja pacar saya ini bisa diajak kongkalikong. Pasti saya akan menjadi murid paling beruntung di sekolah," sindirku sambil mengkhayal indah.


"Mulai lagi dramanya. Kebanyakan nonton sinetron kamu ini," sahutnya seraya menggelengkan kepala.


Aku tertawa sendiri. Kukira responnya akan terdengar manis dan romantis. Kenyatannya, Pak Alfin masih teguh dengan pendirian tanpa mengutamakan perasaan. Tak lama kemudian, mobil berbelok memasuki gang di kawasan sekolah. Melirik jam yang terpasang di tangan kiri, keraguan mulai datang menyelimuti. Kami akan sampai tepat saat jam istirahat kedua sedang berlangsung.


"Pak, bisakah kita sampai di sekolah nanti saja?" tanyaku dengan ragu.


Pak Alfin menatapku penuh keheranan.


________________________


Bersambung


πŸ€πŸ€πŸ€


Maaf ya agak lama postingnya.


Jangan lupa like komennya..... Kasih kritik saran jugaa boleh 😍

__ADS_1


__ADS_2