Murid KU KEKASIHKU

Murid KU KEKASIHKU
empat


__ADS_3

#Muridku_Kekasihku


πŸ€πŸ€πŸ€


Aku sengaja menunggu pesan yang masih diketik oleh Pak Alfin. Karena tak kunjung dikirim, mendadak dilanda rasa penasaran hebat. Baru kali ini menunggu pesan hingga rela menunda makan.


Ting. Akhirnya satu notifikasi masuk dirinya.


[Aku mohon maaf, jika ucapanku di kelas membuatmu dibully teman-temanmu. Bukan bermaksud menyinggung atau menyakiti. Maaf ya]


[Iya, Pak, tidak apa-apa. Murid seperti saya memang layak untuk disindir-sindir]


Balasku dengan suasana hati yang masih kesal dengan ucapan Pak Alfin yang merendahkanku di kelas. Meski memang terbilang kurang pandai pelajaran matematika, seharusnya dia tidak mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan.


Aku mematikan data internet dan meletakkan ponsel di atas ranjang. Membiarkan Pak Alfin yang kembali mengetik balasan. Kemudian beranjak mengambil air wudu dan melaksanakan salat asar di kamar.


Usai salat, aku berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan. Membuka tudung saji berharap masakan ibu sore ini sesuai selera. Aku dibuat terkejut ketika di dalamnya tidak ada lauk sedikit pun. Hanya ada selembar kertas bertuliskan :


'Sekali kali anak bunda harus repot masak dulu sebelum makan'


Tak habis pikir ketika bunda dengan teganya memintaku harus masak dulu sebelum makan. Ide macam apa ini. Aku kembali mengingat tanggal dan bulan pada hari ini. Bahkan ulang tahunku pun masih lama. Entah bunda yang malas masak atau sengaja ingin membuatku kerepotan sendiri.


Berjalan menuju dapur, aku melihat beberapa telur dan bumbu-bumbu sudah tersedia di atas meja. Teflon dengan sedikit minyak pun sudah disiapkan di atas kompor penggorengan. Lalu di mana bunda, ayah dan Reza?


"Bun..." Aku memanggil dengan setengah berteriak.


"Bundaaaa..." Panggilku lagi.


Tetap tidak ada jawaban. Entah mengapa rumah mendadak sepi. Menghidupkan lampu dapur, aku mulai membuka lemari penyimpanan mie instan. Hanya ini yang bisa kumasak tanpa memakan waktu lama.


Aku kembali dibuat terkejut ketika membaca selembar kertas yang tergantung di dalamnya.


'Bunda nggak suka kamu makan mie instan terus'


Sepertinya ikatan batin antara aku dan bunda begitu kuat. Rasanya ingin ketawa tapi kesal sendiri. Aku ingat, kemarin lemari ini masih banyak mie instan aneka rasa. Lalu di kemanakan bunda? Aku membuka seluruh rak yang ada di dapur. Tetap hasilnya nihil.


Tiba-tiba jadi ingin menangis. Perut sangat lapar tapi harus dirundung cobaan yang memilukan. Kali ini, aku terpaksa memasak telur untuk pertama kali. Telur mata sapi ala kadarnya, meski tak seenak masakan bunda, yang penting perutku terisi nasi.


Suara salam terdengar saat Reza memasuki rumah. Memiliki tubuh yang lebih tinggi dariku, terkadang aku lebih sering dikira adiknya. Padahal jarak usia kami terpaut tiga tahun. Membawa plastik putih, Reza berjalan menghampiri.


"Apa itu?" Aku bertanya sambil mengunyah makanan.


"Menurutmu apa?" Dia balik bertanya dengan wajah kesal.


Aku mengerucutkan bibir merasa kesal dengan sikap Reza yang mungkin masih marah. Tadi pagi, aku tak sengaja menjatuhkan speaker bluetooth miliknya hingga rusak.


"Sudah aku pesanin, nunggu tiga hari speaker bluetoothnya sampai rumah," ucapku sekedar memberitahu.


"Nggak nanya," sahutnya ketus.

__ADS_1


Aku diam. Beginilah kami kalau sedang tidak akur. Karena statusnya salah, aku tidak bisa bicara banyak. Kalau Reza yang salah, mulutku sudah pasti tak henti mengoceh. Menaruh tas ransel dan plastik putih di atas meja makan, dia beranjak ke dapur lalu kembali dengan membawa beberapa piring dan sendok. Dengan semangat, dia membuka plastik tersebut di hadapanku. Aku terkejut begitu mengetahui isinya ternyata makanan dari kafenya Pak Alfin. Dalam hati menahan kesal karena sudah terlanjur kenyang.


"Kamu habis ke sana?" Aku bertanya penuh penasaran.


Reza diam tak menjawab. Perhatiannya tertuju pada beberapa jenis makanan dan menaruhnya pada piring-piring. Selain itu, dia juga mengeluarkan jus mangga kesukaanku. Kalau bukan karena penasaran yang mendalam, sungguh aku malas bertanya dengan bocah ngeselin ini.


"Pantas Windi suka curhat kalau ketua osisnya cuek kayak bebek," ucapku sengaja memancing perhatiannya.


Reza terbatuk-batuk mendengarnya. Kemudian menatapku dalam, mungkin dia heran ketika aku tiba-tiba menyinggung nama Windi untuk pertama kali.


"Kakak tau Windi?" wajahnya mulai terlihat penasaran.


Aku mengangguk agar tampak meyakinkan. Padahal, aku hanya tau nama Windi saat sengaja melihat ponselnya beberapa hari lalu.


"Kasih tau dulu, kenapa kamu bisa dapat makanan ini?" tanyaku dengan nada sedikit tegas.


"Mas Alfin yang ngasih. Tadi aku disuruh mampir ke kafenya dulu," jawabnya memberitahu.


"Kok tumben? Tadi dia bicara apa aja?" tanyaku semakin dilanda penasaran.


Reza tampak heran dengan pertanyaanku. Raut wajahnya seperti sedang mengingat-ingat.


"Bicara banyak, kenapa memangnya?"


"Dia tanya-tanya aku nggak?" tanyaku sedikit malu.


Reza mengernyitkan dahi heran mendengar pertanyaanku yang mungkin sedikit kepedean.


Reza enggan menjawab pertanyaanku, tapi justru melempar pertanyaan yang membuatku harus mengarang cerita.


"Windi kan adek kelas yang suka sama kamu." Aku tau ini dari percakapan Windi yang memanggil Reza dengan sebutan 'Kak'


"Sotoy," sahutnya.


"Kamu belum jawab pertanyaanku," ulangku lagi.


"Mas Alfin cuma ngasih makanan sambil ngobrol urusan cowok. Males kali ngobrolin Kakak," ujar Reza sambil memiringkan sebelah bibir.


Aku beranjak berdiri. Mendekati Reza sambil berbisik.


"Sekalian titip cuci piring," pintaku sesuka hati.


Aku berlalu pergi menuju ke kamar. Mengabaikan teriakan penolakan Reza yang memekakkan telinga. Saat akan menaiki tangga, ayah dan bunda terlihat berjalan berdampingan berbaju rapi.


"Dari mana Bun? Kenapa tega banget sih sama aku," keluhku kesal.


"Ada apa Bun?" Ayah bertanya dengan wajah penuh keheranan.


"Ngerjain anak cewek, Yah, sekali-kali," jawab Bunda sambil tertawa kecil.

__ADS_1


Kulihat ayah hanya menggelengkan kepala mengetahui keusilan istri kepada anaknya sendiri.


"Masih mending bunda sudah susah payah bantu nyiapin semua bahan di atas meja. Kalau bikin kamu beli beras dulu, beli telur dulu, beli bumbu dapur dulu, itu baru namanya tega," cerewet bunda sambil berlalu pergi menuju dapur.


"Yah, uang jajan seminggu ke depan sudah menipis," curhatku meminta.


Ayah mengeluarkan dompet dari saku celana. Kemudian memberikan beberapa lembar uang tanpa banyak bertanya.


"Belajar yang bener." Ayah menasihati.


"Siap," jawabku penuh semangat.


πŸ€πŸ€πŸ€


Usai melaksanakan sholat isya, aku kembali membuka laptop dan melanjutkan cerbung yang sempat terhenti beberapa hari. Kesibukan di sekolah yang semakin padat membuat para pembaca dari berbagai wilayah kompak menagih lanjutan cerita agar segera di posting.


Mood yang sedikit kacau justru membuatku semangat menulis cerita daripada belajar pelajaran sekolah. Beberapa menit kemudian, part yang ditunggu banyak pembaca akhirnya siap untuk posting di laman facebook.


Aku menutup laptop dan beralih menggunakan ponsel untuk internetan. Ketika membuka aplikasi whatsapp, masuk pesan dari Pak Alfin yang dikirim dua jam yang lalu.


[Bukan begitu Fani. Sekali lagi aku minta maaf]


Enggan membalas, aku melihat story whatsapp teman-teman sekolah. Status lebay dan video lucu cukup menghibur malamku yang kesepian. Kembali membuka akun facebook, aku dibuat ngakak ketika membaca satu persatu komentar yang masuk dari postingan cerbung malam ini. Sementara masih ada tanggungan revisi novel yang ditunggu pihak penerbit sejak sebulan lalu.


Lagi-lagi, aku kepikiran Pak Alfin. Kulihat dia sudah tidak online. Tertera di layar terakhir dilihat pada pukul 18.29 WIB. Sementara sekarang sudah jam 21.56 WIB. Seandainya pesannya kubalas, dia pasti akan membalas besok pagi.


Entah kenapa mendadak hatiku galau tak menentu. Biasanya setiap malam, Pak Alfin bersedia mendengar keluh kesahku, dan aku selalu beruntung mendapat nasihat bijaknya. Malam ini, aku justru tega mendiamkannya, dan rasanya malah galau sendiri.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Keesokan harinya..


Setiap hari Sabtu, Pak Alfin pernah mengatakan tidak bisa berangkat bersama karena harus mengantar ibunya mengikuti pengajian pagi di salah satu Masjid Jami' Kota Kudus. Karena itu pula, aku harus bangun pagi dan menunggu angkutan umum di depan kompleks.


Memakai baju training warna merah muda, pagi ini ada jadwal olahraga di jam pertama dan kedua. Tak lupa membawa seragam hari Sabtu di dalam tas. Usai berpamitan, segera menunggu angkutan umum yang khusus membawa pelajar.


Tiba di gedung sekolah, ternyata teman-teman sekelas tampak berbaris rapi di lapangan. Aku beranjak menyusul sebelum ketahuan terlambat. Untung saja nasib buruk tidak selamanya menimpa. Aku mengatur napas yang tidak beraturan, berusaha setenang mungkin saat Pak Suryo berkeliling merapikan barisan.


Sejenak kemudian, murid laki laki dan perempuan dibedakan untuk melakukan permainan bola volly. Kali ini murid perempuan bermain terlebih dahulu. Pak Suryo memberikan arahan sekaligus penilaian. Saat tiba jatahku melempar bola, tak kusangka lemparan mendarat salah sasaran. Bola tersebut ternyata mengenai kepala Deliana hingga gadis itu jatuh pingsan.


Detak jantungku berdegup kencang ketika melihat semua orang berusaha menyadarkan Deliana, sebagian lagi menyalahkanku habis-habisan. Raut wajah cemas juga terlihat dari wajah Pak Suryo sebagai guru olahraga kami.


"Bagaimana bisa begini, Fani? Kalau sampai Deliana kenapa-kenapa gimana?" tanya Pak Suryo menyalahkan. Baru kali ini sang guru terlihat benar-benar cemas.


Aku menunduk, bingung dan takut, merasa bodoh dan benar-benar payah. Entah kenapa saat aku melempar bola, aku memang tidak fokus saat teringat Pak Alfin. Dalam diam aku menahan air mata agar tidak terjatuh. Deliana tak kunjung sadar, hal itu membuatku semakin disalahkan orang-orang.


Sebagian guru yang ada di kantor tampak keluar dan berlari menuju lapangan. Begitu pun dengan Pak Alfin. Saat Pak Alfin mendengar cerita salah satu temanku, dia tampak terkejut dan menatapku tajam beberapa detik.


"Biar saya antar ke rumah sakit," ujar Pak Alfin sambil berjalan menghampiri Deliana yang masih pingsan.

__ADS_1


Kulihat Pak Alfin membopong tubuh gadis itu dan membawanya ke dalam mobil. Ada yang tertusuk dan terasa perih di sini, tapi semua orang tidak ada yang memerdulikanku. Semua yang ada, hanya menyalahkan kecerobohanku.


__ADS_2