Murid KU KEKASIHKU

Murid KU KEKASIHKU
duapuluhenam


__ADS_3

Pak Alfin kembali mengulang penjelasan dari awal meski wajahnya tampak begitu lelah. Satu soal mampu terjawab dengan baik. Masih ada 24 soal lain yang dia berikan sebagai hukuman ketika berada di kelas.


"Satu jam lebih baru bisa menjawab satu soal. Berapa jam lagi untuk bisa menyelesaikan 24 soal?" sindirnya.


"Seharian di sini," jawabku sambil menahan tawa.


Raut wajahnya nampak begitu terkejut sembari menghela napas. Asyik sekali jika membayangkan seharian menghabiskan waktu bersama Pak Alfin. Hanya saja aku tidak sanggup jika terlalu lama dihadapkan dengan rumitnya pelajaran matematika.


"Keasyikan kamu nanti," balasnya dengan wajah datar.


"Asyik gimana, orang Pak Alfin aja susah senyum. Saking profesionalnya sebagai guru sampai lupa kalau kita ini 'kan pacaran," tegasku menyindir.


Kulihat dia menahan senyum. Sindiran itu harusnya mampu melunakkan sikap dinginnya ketika sedang mengajariku. Namun lelaki ini justru menanggapinya dengan santai.


"Ssstt jangan keras-keras!" Dia menaruh telunjuk di bibir. Khawatir orang rumah mendengar ucapanku. Menjalani backstreet bersama Pak Alfin seringkali membuatku tak kuasa menahan kesal.


"Sayang nggak sih, Pak sama aku?" tanyaku penuh penasaran.


"Kamu sengaja nanya itu biar lupa 'kan sama PR?" duganya.


Aku terdiam sembari menahan tawa.


"Kasih sedikit waktu dong Pak untuk bicara yang santai-santai. Otak juga butuh direfresh ini," pintaku.


"Alasan," sahutnya sambil menggelengkan kepala.


Raut wajahnya tak berubah. Entah kenapa dia terlalu asyik memainkan peran sebagai guru. Padahal membicarakan tentang hati secara diam-diam pun sepertinya tidak jadi masalah. Hubungan yang langgeng pun harus didasari komunikasi yang baik.


"Saya ini sebenarnya dianggap sebagai pacar nggak sih?" lirihku bertanya tanpa ingin menatap wajahnya.


Aku kembali mengambil pensil dan menatap soal-soal dalam buku paket. Saat kulirik dia tersenyum.


"Fokus belajar dulu ya," sahutnya menasihati.


"Dari tadi juga begitu terus ah ngomongnya," ucapku menggerutu.


"Namanya juga sedang belajar. Ingat ya Fani, aku ke sini dipanggil untuk menjadi guru les matematika," tegasnya dengan wajah serius.

__ADS_1


"Iya. Aku tau. Tapi hargai juga dong perasaanku," ungkapku dari hati yang paling dalam.


Dia menatapku sekilas. Kemudian menundukkan wajahnya sejenak. Saat hendak berbicara lagi, ayah tiba-tiba datang menghampiri tempat kami duduk.


"Bagaimana Pak Alfin? Masih berani gombal?" tanya ayah sambil mengamatiku.


Tatapan tajamnya membuatku segera menundukkan kepala menahan hati yang berdebar. Kali ini berharap Pak Alfin tidak menceritakan obrolan kami sebelumnya.


"Tidak Pak. Mungkin karena sendirian jadi pemalu. Beraninya rombongan," ujarnya sambil terkekeh pelan.


Aku pun menahan tawa sambil melirik sekilas wajah keduanya secara bergantian.


"Tidak usah berlagak seperti murid-murid di luar sana. Memangnya kalau berani gombalin guru di kelas sudah merasa keren begitu?" tanya ayah dengan nada mengejek.


"Memang pada digituin Yah kalau ada guru muda yang ganteng," pujiku sekedar ingin basa-basi.


Entah kekuatan apa yang menjadi mendorongku berani memuji Pak Alfin terang-terangan di depan Ayah. Lelaki di sebelah kembali menahan senyum.


"Jadi murid jangan suka ikut-ikutan. Berapa Pak nilai ulangannya kemarin?" tanya Ayah di luar dugaan.


Perasaanku kembali tidak enak ketika mengingat nilai matematikaku di kelas tidak ada yang bisa dibanggakan. Memalukan.


Jawaban itu sama saja membuat Pak Alfin membenarkan dugaan ayah bahwa nilai matematikaku masih berada di bawah rata-rata. Setelah pertemuan kali ini, nasihat untuk rajin belajar sepertinya akan lebih sering terdengar. Membosankan.


"Pokoknya kalau sampai ayah dengar kamu masih berani dan suka ikut-ikutan gombalin Pak Alfin atau guru-guru yang lain, uang jajan seminggu tidak akan keluar," ancam ayah tak main-main.


Mataku terbelalak kaget. Ancaman itu terdengar menakutkan jika dibayangkan. Bagaimana mungkin berangkat ke sekolah dengan saku kosong. Betapa laparnya perut jika tanpa makan di jam istirahat. Belum lagi menanggung malu jika harus menolak ajakan Sarah untuk pergi ke kantin.


"Iya Ayah. Ayah tenang saja ya. Pokoknya jangan sampai tega nggak ngasih uang jajan. Perut lapar itu justru bikin susah konsentrasi," keluhku merasa keberatan.


"Kalau begitu sikapnya harus dijaga. Nasihat dari ayah bunda maupun bapak ibu guru di sekolah didengarkan baik-baik. Paham?" tanya ayah kembali memastikan.


Aku mengangguk meyakinkan. Tak lama kemudian, ayah beranjak masuk ke dalam rumah memanggil bunda. Sementara Pak Alfin ketahuan melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.


"Berhubung baru bisa menjawab satu setengah soal, jadi mohon pengertiannya untuk tidak meminta mengumpulkan tugas ini besok," paksaku dengan nada bicara sesopan mungkin.


"Begini nih selalu minta enaknya," balas Pak Alfin dengan menatapku lama.

__ADS_1


"Gimana mau kelar kalau Pak Alfin lihatin jam terus dari tadi."


Dia tersenyum. Aku segera membereskan buku-buku. Tak lama kemudian, Pak Alfin pamit pulang kepada ayah bunda. Kuantar sang guru menuju halaman rumah tanpa bisa bicara banyak.


Motor gedenya semakin menjauh. Aku beranjak menuju ruang makan. Sejak pulang sekolah, aku belum sempat makan siang karena kedatangan Pak Alfin yang sempat mengejutkan. Tanpa sadar, gagal fokus kali ini ternyata juga disebabkan karena kondisi perut yang menahan lapar.


*****


Usai makan ayam rica-rica buatan bunda yang lezat tiada tandingan, aku terduduk santai di sofa ruang tengah sambil memainkan ponsel. Tiga pesan dan dua panggilan tak terjawab dari Viki masuk di deretan paling atas.


[Tumben manggil KAK]


[Mau daftar jadi Adek ketemu gede?]


[Dek Fani ngajakin nelpon malam-malam, mau membahas perasaan?]


Perut yang tadinya kenyang kini mendadak mual. Rasanya ilfeel begitu membaca pesan itu. Sang ketua kelas bernama Viki sudah menduga hal yang tidak-tidak. Menyesal telah memanggil lelaki lebay itu dengan sebutan Kak. Demi membuat sang kekasih cemburu.


Kuabaikan saja pesan itu tanpa ingin membalas. Saat melihat story whatsapp teman-teman, terbaca postingan milik Viki yang kembali membuatku ingin muntah. Menjijikkan.


[Jodoh adalah misteri. Rahasia ilahi. Seandainya jodohku itu kamu, bersiaplah ketemu nanti di kelas. VF] Tulisnya disertai emoticon cium.


Inisial itu mengarah langsung kepadaku. Segera kubisukan pembaruan status miliknya dengan penuh rasa kesal. Entah kenapa bisa memiliki teman lelaki yang baperan seperti Viki. Hanya karena memanggil 'Kak' dan pura-pura meminta menelpon nanti malam, dia menduga aku menaruh hati padanya. Jari jemari tiba-tiba ingin mengetik status sindiran yang telah kuprivasi sedemikian rupa. Hanya tertuju pada Viki dan Pak Alfin yang bisa melihatnya.


[Kekasihku, Terima kasih sudah mampir di rumah. Luv yu]


Kubuat pembaruan status selebay mungkin agar Viki berhenti menggoda. Tak lama kemudian, Pak Alfin melihatnya terlebih dahulu.


[LEBAY]


Aku menahan tawa dan bingung harus membalas apa. Baru saja kulihat Viki sudah membaca status itu.


[Baru mau jatuh cinta sudah dibikin patah hati]


Aku tertawa sendiri ketika membaca pesan itu. Berharap besok ketika berada di sekolah lelaki bernama VIKI NANDA SAPUTRO tidak bertingkah menyebalkan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Tinggalkan komentar biar bisa terus mengikuti cerita ini. Terima kasih sudah membaca.


__ADS_2