Murid KU KEKASIHKU

Murid KU KEKASIHKU
bduasatu


__ADS_3

#Muridku_Kekasihku


Tak disangka, Pak Alfin memutus sambungan telepon sebelum menjawab pertanyaan itu. Entah apa yang dia pikirkan saat aku sedikit menyinggung sikap profesionalnya sebagai guru. Begitu menyebalkan sebab dia tega membebankan puluhan soal matematika hanya gara-gara sebuah gombalan biasa. Sementara dia malah enggan memberi les privat untuk kekasihnya sendiri.


Tanda online masih tertera di sana. Sepertinya Pak Alfin sedang sibuk mengurus kafe. Tak puas menelpon, aku mulai mengetik pesan.


'Jangan sampai sikap acuhmu membuatku seperti jomblo yang kesepian.'


Jari lincah ini tiba-tiba mengetik kalimat yang terkesan berlebihan itu. Centang dua seketika berubah biru. Tampak di layar Pak Alfin mulai mengetik balasan.


'Sudahlah Fani, jangan mendramatisir keadaan,' balasnya.


'Bukan drama ini. Aku baru sadar kalau ternyata guru matematika nggak bisa dibercandain apalagi digombalin.'


'Sekarang, pilih dibercandain atau diseriusin?'


Maksud hati ingin mengeluhkan sikapnya, justru kali ini dibuat baper sendiri. Entah kenapa dibalik sikap dinginnya di sekolah, selalu ada hal tak terduga yang membuat hatiku berbunga-bunga.


'Udah ya, Pak, saya mendadak baper kalau ditanya yang berat-berat itu.'


Segera kuletakkan ponsel di atas nakas. Lalu beranjak mengganti pakaian. Usai melaksanakan salat zuhur di kamar, aku kembali menuruni anak tangga untuk makan siang. Di ruang keluarga, ada bunda yang sedang duduk santai sembari menonton acara televisi.


"Kenapa senyum-senyum begitu?" tanya bunda menatapku penuh keheranan.


Aku masih berdiri di tempat yang sama. Ditanya seperti itu, aku jadi menahan tawa. Bunda tidak boleh tau kalau putri cantiknya sedang jatuh cinta dengan guru matematika di sekolah. Bunda tidak boleh tau kalau kami berdua diam-diam berpacaran tanpa sepengetahuan siapa pun.


"Ada apa, sih?" ulang bunda kembali bertanya.


"Wajah bunda itu tetap awet muda. Auranya semakin cantik. Pantas saja Ayah semakin hari semakin cinta," ucapku jujur berusaha menyenangkan hatinya.


Bunda terhenyak sambil menatap heran ke arahku.


"Uang jajan dari Ayah sudah habis?" tanya bunda menelisik.


Aku kembali menahan tawa begitu mendengar pertanyaan itu.


"Kalau mau ditambahin boleh lah," jawabku sambil tertawa kecil.

__ADS_1


Terdengar seseorang berjalan dari ruang tamu. Menaruh beberapa buku di dalam lemari kaca, ayah beranjak duduk di sofa sembari menatap tajam ke arahku. Aku tidak menyangka ayah pulang secepat ini dari kantor. Perasaan mulai tidak tenang takut terjadi interogasi dadakan season kedua.


"Tidak ada tambahan uang jajan untuk murid yang sudah berani gombalin gurunya," tegasnya.


Aku terkejut mendapati aura garang terlihat di wajah ayah. Hatiku berdebar menahan takut dan kesal bersamaan. Entah siapa yang sudah mengadukan hal itu kepada ayah.


"Duduk. Kami perlu mendengar penjelasanmu," perintah ayah kembali menginterogasi.


Langkah kaki terasa berat untuk berjalan. Hati dipenuhi rasa was-was apabila terbongkar kisah rahasiaku bersama Pak Alfin. Aku menyadari telah melanggar perintah mereka untuk pacaran. Dalam debar khawatir, aku masih berharap cintaku padanya tidak salah


Jantungku terus berdegup kencang ketika ayah tak henti menatap dengan tajam. Di tengah situasi hati yang tidak karuan, aku berharap mereka berdua tidak tau perihal hubungan spesialku dengan Pak Alfin.


"Ayo jelaskan kenapa bisa berani menggombali gurumu di kelas? Ingin ikut-ikutan ngetrend seperti murid lain di luar sana?" tanya ayah dengan geram.


Aku terdiam sambil menunduk. Mulai berpikir, sepertinya ayah hanya mempermasalahkan seputar gombalan itu. Perasaan sedikit lega begitu menduga mereka tidak tau akan kisah cinta yang selama ini aku sembunyikan.


"Fani, ditanya ayah jangan hanya diam. Ingat dong kalau minta uang manjanya kayak apa." Bunda menimpali.


Mendengar itu, aku jadi menahan tawa. Suasana yang awalnya begitu tegang kini sedikit mereda. Perempuan berhijab ungu tersebut beralih duduk di sebelah ayah lalu mengusap kening sang suami yang tampak basah berkeringat.


"Tadi di kelas guru matematikanya terlalu serius. Niatnya cuma sekedar bercanda, biar ngantuknya hilang," jawabku mencari alasan.


"Yang namanya guru mengajar itu memang serius. Kamu sebagai murid juga harus serius mengikuti pelajaran," tegas ayah menasihati.


Nasihat yang sama persis seperti yang selalu ditekankan Pak Alfin selama ini. Aku mengangguk mantap berusaha menjadi lebih baik. Dalam hati masih tidak menyangka jika gombalan itu bisa sampai di telinga ayah. Aku begitu mencurigai Deliana.


"Sekarang ayah tanya, kenapa nilai matematikamu tidak ada kemajuan?"


Hatiku berdebar lagi dan lagi. Tidak mungkin aku bercerita jika berhadapan dengan Pak Alfin di dalam kelas, otak begitu susah mencerna pelajaran. Lirikan matanya membuatku gagal konsentrasi. Wajah tampannya membuat pikiran melayang jauh membayangkan masa depan.


"Fani..." panggil ayah membuyarkan lamunan.


"Fani sudah berusaha belajar semaksimal mungkin. Please, ayah jangan marah ya," ucapku dengan memasang wajah sesedih mungkin.


Maafkan anakmu ini, Yah. Semenjak kehadiran Pak Alfin menjadi orang spesial, entah mengapa nilai matematikaku sama sekali tidak ada kemajuan. Padahal, aku banyak berharap Pak Alfin mampu merubahku menjadi lebih baik. Gumamku dalam hati.


Kulihat ayah tampak berpikir. Berkali- kali memijat keningnya sambil melirik sekilas ke arahku. Tak lama kemudian, meraih ponsel yang berada di atas meja. Saat hendak menelpon, ayah beranjak berdiri menghadap jendela ruang tengah.

__ADS_1


"Bund, aku ada PR Matematika. Ajarin ya, bun," ucapku pelan agar ayah tidak mendengar.


"Bunda ini udah pusing mikir kerjaan. Kamu harusnya belajar kelompok sama teman-teman yang lebih pandai," sarannya.


Aku menghela napas kesal. Harusnya Pak Alfin mau mengajariku dengan segenap cinta seperti pasangan kekasih di luar sana. Namun pada kenyataannya, Pak Alfin tega membebankan puluhan soal yang begitu sulit untuk dipecahkan. Teganya lagi, dia memintaku mengumpulkan tugas itu besok.


"Bersiaplah. Guru lesmu akan segera datang," tandas ayah sambil memasukkan ponsel di saku celana.


"Siapa, Yah?" tanyaku terkejut sekaligus penasaran.


Tak merespon, ayah pergi begitu saja menuju kamar. Disusul bunda dari belakang. Aku hanya ingin memastikan guru les yang dihubungi ayah bukan Pak Alfin.


Pikiran seketika kalut. Jika memang Pak Alfin datang, aku takut ketahuan pacaran. Jika guru yang ayah hubungi adalah orang lain, aku harap bukan Pak Hendi. Guru Matematika kelas IPS yang terkenal killer dan tidak asyik saat menjelaskan materi.


Segera kuberanjak menaiki tangga menuju kamar. Melupakan rencana awal untuk makan siang. Mengambil ponsel yang tergeletak di atas ranjang, aku segera menelepon Pak Alfin.


"Pak Alfin mau ke sini ya?" tanyaku saat telepon mulai tersambung. Seseorang di sana belum berbicara sepatah kata pun. Karena panik, aku bahkan lupa mengucap salam.


"Maksudnya bagaimana, ya?" Pak Alfin malah balik bertanya.


"Apa Pak Alfin tadi dihubungi ayah untuk jadi guru lesku?" tanyaku langsung tanpa ingin basa-basi.


"Dihubungi ayahmu?" Dia membalikkan pertanyaan.


Aku mendengkus.


"Aku masih di kafe ini," ucapnya memberitahu.


"Ya udah, Pak Alfin. Bye." Aku segera memutus sambungan telepon dengan perasaan sedikit lega.


Duduk di tepi ranjang, perasaan kembali tak tenang. Kalau bukan Pak Alfin, lantas siapa lagi? Aku bertanya-tanya dalam hati. Mendadak tidak siap jika Pak Hendi yang datang. Mendadak ragu jika ada guru baru yang telah ayah persiapkan untukku.


Suara mesin motor terdengar memasuki halaman rumah. Dengan cepat, aku segera mengambil buku matematika dan dosgrip pink berisi alat tulis lengkap. Kemudian bergegas turun untuk melihat secara langsung siapa guru les yang telah membuatku dilanda penasaran.


Aku mengamati orang itu dari balik jendela ruang tengah. Turun dari motor gedenya, lelaki berperawakan muda tersebut tak kunjung melepas helm. Aku bernapas lega begitu menyadari bukan Pak Hendi orangnya. Lelaki itu tampak memakai kaos pendek warna merah dipadukan dengan celana jeans hitam. Dia berdiri menghadap ke samping. Wajahnya tertutup masker kain berwarna hitam.


Kulihat dia sibuk mencari sesuatu di dalam tas ransel birunya. Saat helm mulai terbuka, apa yang ada dalam genggaman tangan seketika terjatuh di lantai. Aku menatap lelaki itu dengan hati berdebar.

__ADS_1


Bersambung.......


Terima kasih sudah menunggu dengan sabar


__ADS_2