Murid KU KEKASIHKU

Murid KU KEKASIHKU
empat belas


__ADS_3

#Muridku_Kekasihku


Versi terbaru (14)


Mobil terus melaju membelah jalan raya. Lagu barat bergenre romantis terdengar syahdu di telinga. Diam-diam kupandangi wajahnya penuh kekaguman. Pak Alfin memiliki dahi lebar, alis tipis, rambut ikal pendek yang tertata rapi, garis rahang yang tegas dipadukan dengan hidung mancung.


Aku menyukai tatapan matanya yang lembut dan tajam. Sejenak khayalku melambung tinggi membayangkan apabila kami sudah berumah tangga nanti. Ingin sekali menenggelamkan diri di dada bidangnya yang seakan terasa nyaman untuk bersandar. Saling berbagi kisah dengan penuh kemesraan, kelembutan dan kehangatan.


"Mau membantu mengoreksi atau langsung pulang?" tanya dia membuyarkan lamunan indahku.


Aku kembali berpikir sejenak. Pak Alfin sedang butuh bantuan. Kebersamaan ini memang saat yang tepat untuk lebih mengenal satu sama lain. Apalagi aku belum pernah berkunjung ke kafe yang baru ia rintis beberapa bulan ini.


"Oke, aku siap bantu," jawabku penuh semangat.


Lelaki di sebelah memerhatikan wajahku seraya mengernyitkan dahi. Menatap lekat mataku seperti hendak membaca pikiran. Lalu kembali menghadap ke depan dengan menahan senyum.


"Kalau sudah begitu memang susah fokus ya kalau pelajaran," ucapnya dengan nada menyindir.


Ucapan itu menyimpan tanda tanda tanya besar. Aku kembali menatap - tak mengerti.


"Maksudnya apa, Mas?" tanyaku heran.


"Maksudnya belajar yang rajin, sekolah dulu yang bener, lanjut kuliah sampai selesai. Kalau sudah waktunya pasti juga bakalan nikah," tuturnya.


Aku terhenyak mendengar nasihat itu. Mobil berhenti sejenak ketika lampu merah. Menoleh ke samping, Pak Alfin menaikkan alisnya dan menatapku seraya tertawa pelan. Gawat sekali jika dia bisa tau apa yang sudah kukhayalkan beberapa menit yang lalu. Jangan sampai tau, batinku.


Aku hanya tersenyum menyembunyikan malu sekaligus ragu untuk bertanya kenapa. Seandainya Pak Alfin bisa tau pun, aku tidak akan mengakui atau mengiyakan dugaan itu. Kebiasaan halu tak lain untuk memikirkan ide-ide segar sebelum menulis cerita. Dialah alasan dibalik rasa semangat dalam menggoreskan pena dan meraih mimpi.


Tak lama kemudian, mobil berbelok melewati gedung balai desa setempat. Lapangan sepak bola terbentang luas di kanan jalan. Deretan pertokoan baju berada tepat di kiri jalan. Meski masih berada satu kota yang sama, tempat ini lumayan jauh dari rumahku.

__ADS_1


Mobil akhirnya memasuki halaman kafe yang memiliki tempat parkir luas. Turun bersamaan, aku terkesima dengan bangunan kafe bernama 'Kafe Teman Duduk' yang mengusung tema greenary. Paparan tanaman hijau memberi kesan asri dan alami. Kafe bertingkat dua dengan dinding kaca yang lebar memperlihatkan isi kafe dari luar. Ramainya pengunjung membuat Pak Alfin tampak bernapas lega.


"Selamat datang tuan putri," ucapnya hendak mempersilakan.


"Keren, kamu Mas," pujiku penuh rasa bangga.


Dia mengajakku memasuki kafenya. Memperkenalkan dengan ramah satu persatu karyawan yang bekerja. Kafe ini tidak begitu luas, tapi penempatan yang apik terasa nyaman dipandang mata. Desain yang unik dan menarik dijadikan tempat berswafoto.


Pada area duduk, tampak gaya klasik dan antik pada furnitur kayu yang digunakan sebagai interior kafe. Seluruh ruangan dominan nuansa putih dan bagian dinding dihiasi tanaman hijau. Kumpulan vas mungil tak luput dari penglihatan. Semuanya terpajang rapi menghias panel pada dinding kafe. Konsep sedetail ini ternyata berasal dari idenya sendiri.


Dia mengajak menaiki tangga dan memperlihatkan kafe yang berada di lantai dua. Ruangan terbuka membuatku leluasa menikmati pemandangan alam sekitar. Bagian lantai dua kali ini tidak terlalu ramai. Duduk di sofa yang nyaman, Pak Alfin memberiku buku daftar menu untuk memesan makanan.


"Silahkan makan sesukamu," perintahnya.


Aku tersenyum merasa senang. Melihat jenis makanan yang ditawarkan, pilihanku tertuju pada ayam saos lada hitam dan minuman green tea. Tanpa lama, Pak Alfin memanggil salah seorang karyawan untuk segera membuatkan pesanan kami.


"Ini kan termasuk les tambahan," jawabku mencari alasan.


Dia kembali tersenyum hingga menampilkan deretan giginya yang rapi.


"Apa mereka masih tidak tau kalau kamu pacaran?" tanya dia lagi.


Aku mengangguk mengiyakan. Selama ini aku cukup tertutup tentang kisah cintaku kepada ayah dan bunda. Mereka sangat ketat mengawasi pergaulanku.


"Mungkin mereka akan bangga kalau tau putrinya berhasil menaklukkan hati guru matematikanya," ucapku dengan gaya sedikit lebay.


Pak Alfin terhenyak lalu kembali tersenyum santai. Aku tidak tau berapa kali guruku ini tersenyum dan sesekali tertawa ketika bersamaku. Kebahagiaan di wajahnya sejenak membuatku melupakan seluruh permasalahan yang ada.


Pak Alfin membuka tas ransel hitam yang sedari tadi ia pakai. Kemudian mengeluarkan beberapa kertas dan menaruhnya di atas meja.

__ADS_1


"Aku memegang tujuh kelas dalam seminggu. Setiap satu atau dua minggu sekali selalu mengadakan ulangan. Jadi ini ada beberapa kertas yang sudah selesai dikoreksi tolong bantu mencatat hasilnya di buku nilai," paparnya menjelaskan.


"Oke siap," jawabku bersemangat.


"Nanti saja. Makan dulu," perintahnya penuh perhatian.


Salah satu pelayan datang menghampiri meja kami dengan membawa makanan yang tampak menggugah selera. Pak Alfin terlibat obrolan santai dengan para pelayan dan terdengar membicarakan pekerjaan. Selain pandai mengajar, Pak Alfin ternyata memiliki jiwa kepemimpinan yang baik. Tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, aku memilih makan karena sedari tadi perut belum sempat terisi nasi. Masakan rumahan yang disajikan sangat lezat di lidah. Bumbu yang meresap sempurna pada daging ayam yang empuk membuat makan siangku terasa lebih nikmat. Sesaat setelah itu, beberapa pelayan kembali bekerja.


"Aku mau sholat dulu, silahkan dimakan. Tenang, untukmu gratis," ujarnya seraya membungkukkan setengah badan.


"Wah, terima kasih Pak Alfin...." jawabku semanis mungkin.


"Kamu nggak ikut makan?" imbuhku bertanya.


"Lihat senyummu rasanya sudah kenyang," gombalnya seraya tersenyum.


Ucapan itu mampu membuat hatiku mendadak berbunga-bunga. Pak Alfin yang biasa bersikap dingin di kelas ternyata pandai menerbangkanku di atas awan. Lelaki yang beberapa jam lalu menjalankan profesi sebagai guru kini tampil dengan gaya memikatnya. Dia segera meninggalkan ruangan dan beranjak menuju tempat sholat.


Beberapa menit kemudian, dia kembali dengan memakai kaos oblong berwarna biru dipadukan dengan celana jeans hitam. Di atas meja kami, Pak Alfin menyediakan minuman dan cemilan sebagai pelengkap. Situasi mendadak hening karena kami fokus pada pekerjaan masing-masing. Pak Alfin bertugas mengoreksi soal sementara aku yang mengisi daftar nilai siswa. Hingga tujuh kelas yang dikoreksi, akhirnya mampu terselesaikan dengan baik.


Senyum lega tergambar di wajah sang guru ketika melihat usahaku benar-benar tulus untuk membantunya. Lagi pula aku merasa senang telah merasa diistimewakan di kafe ini.


"Oh ya, aku akan jawab pertanyaan kamu yang tadi di mobil. Aku ngerti, perempuan memang butuh kejelasan. Kalau kamu tanya keseriusanku, aku pasti jawab serius. Sekarang aku balik tanya, kamu mau nggak aku seriusin?" tanya Pak Alfin tiba-tiba.


Mataku membulat.


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca... Jangan lupa Like - Komennya ya 😍... Krisan juga boleh 😊

__ADS_1


__ADS_2