Murid KU KEKASIHKU

Murid KU KEKASIHKU
tigabelas


__ADS_3

#Muridku_Kekasihku


πŸ€πŸ€πŸ€


- Pov Fani -


Dia benar, aku ragu saat ditanya kesanggupan mengikuti pelajaran tanpa terbawa perasaan. Perempuan mana pun mungkin akan bersikap sama bila guru yang mengajar di kelas adalah kekasihnya sendiri.


Selama ini aku tidak menemukan cara agar bisa menganggap Pak Alfin seperti guru yang lain. Lirikan mata di sela pelajaran berhasil membuat hati berdebar-debar. Aku merasa selalu dipantau diam-diam. Wajah yang teduh, gaya yang santai, cara mengajar yang asyik, senyum yang menawan membuat pikiran hanyut dalam bayangan tentang masa depan.


Mungkin karena itu aku banyak tidak paham dengan penjelasan yang disampaikan. Aku sadar, mungkin ini resiko berpacaran dengan guru. Namun sekalipun tak ingin pindah di kelas Pak Hendi - si Guru killer itu.


Dalam mobil, aku mendadak diam karena malu telah melontarkan pertanyaan seputar masa depan. Padahal tak terbersit dalam benak untuk menikah muda. Aku hanya ingin tau seberapa serius Pak Alfin dalam menjalani hubungan ini. Terlebih aku takut kecewa apabila menaruh harapan lebih jika pada akhirnya hanya sekedar pacaran.


"Berhubung kita sudah hampir sampai di parkiran, kita bahas lain kali saja," sarannya.


Aku mengangguk dan menahan dalam-dalam rasa penasaran. Lelaki berusia 25 tahun ini kembali memakai kacamata dan sedikit merapikan rambutnya sebelum turun dari mobil.


"Terima kasih Pak Alfin," ucapku ketika mendapati beberapa pasang mata menatap penasaran ke arah kami.


"Sama-sama," jawabnya datar tanpa senyum.


Sang kekasih yang pandai menjaga peran tersebut berjalan lebih dulu menuju kantor guru. Beberapa murid kelas sepuluh tiba-tiba datang menghampiri. Malas sekali jika harus menjelaskan sesuatu yang tampaknya telah menghebohkan mereka.


"Kak Fani kok bisa semobil sama Pak Alfin? Dari mana?" tanya adik kelas bernama Vivi.


Kami saling mengenal akrab, tapi dia tidak tau jika Pak Alfin adalah kekasihku. Teman-teman yang berdiri di sampingnya menatapku penuh tanda tanya. Sejenak aku terdiam, memikirkan jawaban yang tepat agar bisa terbebas dari pertanyaan selanjutnya.


"Ada keperluan mendadak dari sekolah. Terus pulangnya diantar Pak Alfin. Aku duluan ya, ada tugas di kelas," ucapku dengan mempercepat langkah menuju kelas. Mengabaikan mereka yang terus memanggil namaku.


Tiba di kelas, semua murid memandang lekat ke arahku. Tanpa berpikir pusing, aku beranjak duduk di bangku sembari mempersiapkan buku pelajaran selanjutnya. Tak terlihat Sarah di dalam kelas, gadis itu mungkin sedang berada di kantin. Masih teringat dengan jelas tadi pagi semua teman-teman menyalahkanku habis-habisan. Mengajak bicara pun terasa canggung. Maka, aku memilih diam. Sejenak kemudian, Rio tiba-tiba datang menghampiri.


"Kondisi Deliana bagaimana?" Dia bertanya sambil berdiri tepat di depan bangku.


"Sudah sehat," jawabku singkat.


"Lain kali, kalau mau lempar bola jangan ke kepala orang. Jangan bawa-bawa masalah pribadi di lapangan. Kalau sudah begini banyak orang yang sudah kamu rugikan. Deliana, keluarganya, bikin repot para guru, lalu imbasnya ke kita semua. Pelajaran jadi terganggu, nama baik kelas kita ikut tercemar. Sadar nggak sih, kamu ini?" geram Rio dengan menaikkan nada suara.


Aku tersentak kaget mendengar ucapan itu. Kekecewaan yang mendalam tergambar jelas di raut wajahnya. Sorot mata yang tajam membuatku terdiam seketika.

__ADS_1


"Kalau ada orang yang ngomong serius, didengerin, direnungin biar sadar diri," ujarnya sok menasihati.


Lelaki di hadapan adalah salah satu anggota pramuka saka bhayangkara yang aktif mengikuti pelatihan dan pembinaan di kapolsek setempat. Dari segi fisik, dia memiliki postur tubuh yang cukup tinggi. Rio menyukai Deliana sejak awal. Hanya saja, gadis itu tidak memberi kepastian untuk lelaki ini. Tiba saat gadis kesayangannya terluka, aku dimarahi habis-habisan.


"Aku sudah minta maaf sama Deliana, sama orang tuanya juga. Kejadian tadi pagi memang benar-benar tidak sengaja. Kalau kamu berpikir di antara kami ada masalah pribadi, itu salah. Hubunganku dengan Deliana baik-baik saja. Kalau kalian semua merasa turut dirugikan, aku juga minta maaf." Aku menatap sekeliling lantaran semua orang menjadikanku pusat perhatian.


"Bukan hanya sekali dua kali kamu membuat masalah di kelas ini. Ulangan matematika dari zaman pelajaran Pak Indra sampai sekarang diajar Pak Alfin selalu kamu yang sering mendapat nilai paling memalukan," cibirnya seraya tersenyum licik.


Aku terhenyak kaget dan tak habis pikir. Baru sembuh lukaku atas ucapan Pak Alfin kemarin kini harus kembali dilukai temanku sendiri. Baru kali ini Rio semarah ini. Aku tau, dia tergolong murid pandai dan terpandang di sekolah. Hanya saja, dia lebih cepat menghakimi tanpa tau permasalahan sesungguhnya. Yang lebih menyakitkan, cibiran itu dilayangkan padaku di muka umum.


Rio berlalu pergi setelah membubarkan barisan murid lain yang menghadang jalannya. Beberapa teman tampak saling berbisik satu sama lain. Sebagian turut iba melihat nasibku semalang ini.


"Aku harap kalian semua mengerti. Aku dan Deliana tidak ada masalah pribadi. Tadi pagi benar-benar tidak sengaja." Aku kembali menjelaskan dengan menahan rasa sakit hati.


"Aku tau, Fan. Dia mungkin lagi sedih aja melihat si Deli jatuh sakit. Tapi kondisinya sudah baik, 'kan?" Mela kembali memastikan.


"Iya. Minta doanya aja, semoga Deliana segera pulih dan bisa kembali sekolah," ujarku mendoakan.


Bel tanda pelajaran terakhir berbunyi nyaring. Sarah dan teman lain berbondong-bondong memasuki ruang kelas. Viki memberitahu bahwa Pak Rudi sudah keluar dari kantor dan berjalan menuju kelas kami.


Sarah tampak senang melihatku sudah berada di kelas. Aku menceritakan kembali sesuatu yang terjadi hari ini. Hal yang membuat perasaan tidak nyaman adalah karena bangku Rio berada tepat di belakangku.


Tak terasa, empat puluh lima menit berlalu, Pak Rudi menjelaskan materi dengan bahasa yang memahamkan, tak lupa aku menulis poin penting pada buku catatan. Tiba saatnya pulang, aku dan Sarah membiarkan teman-teman keluar kelas lebih dulu.


"Rio juga tiba-tiba ngeselin banget. Sekarang kalau ngelirik kayak lihat musuh," curhatku kepada Sarah.


"Tadi sebelum kamu balik, dia ngomel-ngomel sama kita semua. Kalau terlalu cinta sama Delintut ya gitu," balasnya ikut kesal.


Aku menahan tawa mendengar itu. Ruang kelas sekarang sudah sepi. Kami berjalan keluar kelas berdampingan.


"Aku balik dulu ya, kita lanjut gosip di WA saja. Kamu hati-hati pulangnya," ujar Sarah sambil bersalaman khas seorang sahabat baik.


Aku menatap gadis itu hingga keluar gerbang. Mengetahui Pak Alfin masih berada di dalam kelas, aku memilih duduk sembari menunggu di teras. Tak lama kemudian, dua orang murid keluar ruangan dengan senyum yang mengembang. Aku segera melirik ke arah jendela. Pak Alfin mengumpulkan lembar jawaban di atas meja guru.


"Assalamu'alaikum, Pak," sapaku melembut.


Pak Alfin sedikit kaget melihatku tiba-tiba datang menghampiri.


"Ada apa?" Dia menatapku penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Kita bisa pulang bareng apa nggak?" tanyaku lirih sambil menatap ke arah luar.


Pak Alfin membalas dengan tersenyum. Baru kali ini aku sengaja datang langsung ke kelasnya hanya sekadar ingin memastikan. Pernah suatu hari aku dibuat kecewa karena telah menunggu lama di tempat biasa. Sementara dia seringkali mendadak rapat tanpa memberi kabar.


"Iya, tunggu di tempat biasa," jawabnya sambil melirik sekilas.


Mengetahui ada murid kelas lain yang melihat kami dari arah jendela luar, aku buru-buru menyambar satu kertas yang tergeletak di atas meja. Lalu menunjukkan di hadapan Pak Alfin untuk memainkan sandiwara.


"Maaf, Pak Alfin. Saya ingin protes. Ada kesalahan dalam mengoreksi ulangan saya kemarin. Seharusnya jawaban yang benar ada 8 soal, tapi di sini tertulis hanya mendapat nilai 65," protesku terpaksa mengarang cerita.


Pak Alfin hanya terdiam sambil mengamati kertas yang kutunjukkan di hadapannya. Tiba-tiba saja dia menahan tawa begitu mengetahui kertas yang kuambil adalah surat izin murid yang tidak berangkat di kelas ini.


Menoleh ke arah jendela, dua murid tersebut sudah tidak ada di sana. Kulihat Pak Alfin hanya menggelengkan kepala melihat tingkahku yang seperti ini.


"Ada-ada saja kamu ini," gumamnya seraya berlalu pergi dengan terkekeh pelan.


Aku terpaksa melakukan itu untuk membuang kecurigaan murid lain. Beginilah kalau backstreet dengan guru, pembicaraan pribadi harus dikomunikasikan secara diam-diam. Aku segera keluar gerbang lalu menunggu Pak Alfin di tempat biasa. Berjalan kaki sejauh seratus meter untuk sampai di depan salah satu ruko yang memiliki pepohonan yang rindang.


Mobil silver tampak berjalan dari kejauhan. Ketika sampai, aku beranjak naik setelah memastikan tidak ada murid atau pun guru lain yang melihat. Menutupi pakaian batik dengan jaket yang trendy, Pak Alfin tampil muda sesuai umurnya.


"Boleh minta tolong?" Dia bertanya seraya melajukan mobil dengan kecepatan stabil.


"Boleh, Pak," jawabku dengan senang hati.


"Tolong jangan panggil 'Pak' selain hanya di lingkungan sekolah," tegasnya sambil melirik.


Ucapan itu membuatku tertawa renyah dan merasa berhadapan dengan dia yang kukenal dulu.


"Oke. Tapi ada syaratnya, Mas. Kamu nggak boleh galak-galak seperti di kelas," pintaku membalas menatapnya.


Kini giliran dia yang tertawa lepas. Aku tersenyum lega karena lelaki di sebelah mulai menunjukkan gaya aslinya yang lembut dan penyayang.


"Hari ini aku butuh bantuanmu untuk mengoreksi lembar jawaban kelas lain. Kamu mau?" tanya dia seakan penuh harap.


Aku terdiam seketika. Kukira Mas Alfin yang sudah tampil keren ini akan mengajakku jalan-jalan dan makan-makan atau bahkan nonton film di bioskop langganan. Kukira dia memiliki inisiatif untuk menghibur siangku dengan sejuta pesonanya. Ternyata dia belum sepenuhnya terlepas dari profesi seorang guru.


Aku yang terlalu kegeeran atau dia yang memang kurang peka? Kzl.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like - komennya. Kasih krisan juga boleh.... 😘


__ADS_2