
Untung saja bu Farida tidak menanyakan alasan mengapa aku terlambat memasuki ruang kelas. Pelajaran sejarah kembali dilanjutkan setelah semua murid kompak terdiam. Kuambil buku catatan beserta buku paket panduan belajar. Bu Farida menjelaskan materi mengulas pembahasan mengenai perkembangan politik masa demokrasi liberal.
Aku berusaha menyimak seluruh materi dengan baik. Sesekali mencatat ulasan mengenai sistem kepartaian, tanggal tanggal penting serta nama-nama kabinet pada masa itu.
"Dari mana aja sih kamu?" terdengar Sarah berbisik. Kulirik dia tetap fokus menghadap ke depan.
"Habis ngumpulin PR Matematika," jawabku lirih tanpa menoleh.
"Se-lama itu?"
Aku membalas dengan menggeleng kepala perlahan. Mana mungkin berani berlama-lama di kantor guru. Aku harus pandai menempatkan diri sebagai murid saat berhadapan dengan sang kekasih di lingkungan sekolah. Seketika terbayang wajah tampan Pak Alfin setelah membaca pesan yang tertulis di buku. Mendapat senyum darinya membuatku jadi lebih bersemangat.
"Seluruh buku catatan ditutup!" seru bu Farida yang mengagetkan kami sekelas.
Ekspresi yang sama terpancar dari beberapa murid yang begitu terkejut setelah mendapati adanya ulangan dadakan. Tanpa persiapan belajar, berharap nilaiku tidak seburuk pelajaran matematika.
"Seluruh buku catatan maupun buku paket harus disimpan di dalam laci dengan posisi tertutup. Duduk berjarak dari teman sebangku. Mengerjakan dengan diam tanpa ada yang boleh menoleh atau pun berbicara," serunya dengan meninggikan suara.
"Siapapun yang mencontek atau sedang berusaha mencontek, silahkan menanggung sendiri akibatnya," imbuhnya.
Sama halnya dengan Pak Alfin, Bu Farida begitu killer ketika mengadakan ulangan dadakan. Suatu ketika, aku pernah dikeluarkan dari kelas hanya gara-gara dua detik menoleh ke belakang. Belum berhasil mendapatkan hasil contekan, Bu Farida tiba-tiba datang menghampiri dan menyobek kertas jawaban serta mengancamku mendapat nilai nol. Setelah itu, aku benar-benar takut apabila kembali melakukan kesalahan yang sama.
"Segera tulis soal yang akan ibu sampaikan. Jangan ada yang ketinggalan. Siap?" tanya Bu Farida sambil menatap sekeliling.
"Siap, Bu," jawab kami serentak.
Otak berusaha mengingat-ingat penjelasan seminggu yang lalu. Hati khusyuk berdoa semoga mendapat nilai yang lebih bagus dari pada Deliana.
"Viki, tolong bagikan kertas ini," perintahnya kepada sang ketua kelas.
Lelaki berambut keribo itu beranjak berdiri dan melirikku sekilas. Ungkapan cintanya semalam membuatku harus menjaga jarak. Playboy cap kadal yang berwajah biasa saja ini memang memiliki tingkat kepercayaan diri yang begitu tinggi.
Berdiri tepat di samping bangku, Viki membagi lembar kertas dan memintaku menggilir ke belakang. Aroma parfum begitu menyengat ketika dia mendekat. Kalau tidak ada guru, sudah kuusir lelaki sok tampan ini. Gaya tebar pesona yang membuatku hanya merasa ilfeel.
Usai membagi kertas, Viki kembali duduk di bangkunya. Bu Farida yang selesai mengisi buku jurnal beranjak berdiri di tengah-tengah.
"Soal nomor satu. Tahun berapa diadakannya pemilu pertama di Indonesia? Serta mengapa disebut pemilu paling demokratis?
Segera kutulis soal pertama sambil terus mengingat-ingat jawaban yang telah disampaikan Bu Farida ketika menjelaskan pelajaran pada minggu lalu.
__ADS_1
"Soal nomor dua. Bagaimana kondisi politik pada masa demokrasi liberal?"
Seluruh murid harus ekstra cepat dalam menulis soal yang telah disebutkan. Tidak ada pengulangan soal. Tidak ada murid yang berani bicara atau pun menoleh. Semua menghadapi kertas masing-masing.
"Soal ketiga. Jelaskan mengapa sistem kepartaian yang dianut pada tahun 1950an disebut multi partai?"
"Soal keempat. Jelaskan tujuan diberlakukannya kebijakan ekonomi benteng. Jelaskan pula mengapa kebijakan ini mengalami kegagalan?"
Usai menyebutkan soal-soal ulangan, Bu Farida berjalan pelan mengelilingi murid sembari memastikan kami menulis seluruh soal dengan baik dan lengkap.
"Jadi ada empat jenis soal yang harus segera kalian kerjakan. Jika ada yang sudah selesai, taruh kertas jawaban di meja guru dan boleh meninggalkan ruang kelas," tuturnya.
"Baik, Bu," ujar kami serentak.
Kulihat Bu Farida kembali duduk di kursinya. Kemudian mengamati seluruh murid dari depan. Aku bernapas lega karena masih teringat jawaban dari beberapa soal yang ada.
Setengah jam kemudian, seluruh soal mampu terselesaikan dengan baik. Satu halaman penuh berisi jawaban dari keempat jenis soal. Setelah merasa yakin, aku beranjak maju dan menaruh lembar jawaban di meja guru dengan penuh percaya diri. Semua murid tampak terheran-heran melihatku selesai menjawab pertama kali.
Bu Farida mempersilahkan untuk keluar kelas terlebih dahulu. Kesempatan emas bagiku untuk mencuri pandang ke kelas Pak Alfin. Sengaja kuperhatikan sang guru dari jendela luar, dia sedang duduk sambil mengabsen nilai ulangan. Lelaki berkacamata itu tiba-tiba mengetahui keberadaanku. Dia menatap heran membuatku tersenyum malu.
Tak disangka, Pak Alfin keluar ruangan dan menghampiri. Aku buru-buru menghadap ke arah lapangan membelakangi kelas.
"Ada perlu apa, ya?" Dia bertanya dengan wajah penasaran. Rupanya sang guru tidak menyadari bahwa aku hanya ingin mencuri pandang secara diam-diam. Aku tercenung sambil memikirkan alasan.
Matanya sedikit terkejut saat aku selesai bicara. Entah kenapa ucapan itu bisa meluncur begitu saja.
"Murid lain tidak ada yang berani menggombali saya ketika jam pelajaran, kecuali kamu," jelasnya dengan menatap lekat mataku.
Aku berusaha sebisa mungkin untuk menahan senyum saat murid-murid di kelas itu menatap penasaran ke arah jendela luar.
"Pak Alfin mohon maaf, PR saya kemarin belum selesai semuanya. Tolong beri waktu paling tidak satu minggu lagi ya, Pak," Aku sengaja mengatakan itu karena satu persatu teman-temanku keluar dari ruang kelas. Aku tidak ingin mereka curiga karena melihatku berhadapan dengan Pak Alfin di jam pelajaran.
Pak Alfin yang paham kebiasaanku hanya mengangguk tanpa banyak bicara. Sesaat setelah itu, dia kembali memasuki ruang kelas. Cara berjalan tampak sangat berwibawa. Aku menyukainya.
πππ
Jam 12.30, bel tanda pulang berbunyi. Sarah keluar gerbang terlebih dahulu setelah saudara perempuannya datang menjemput. Kulihat Pak Alfin masih ada di ruang kantor sambil berbincang hangat dengan guru yang lain. Gelak tawa terdengar jelas dari luar. Aku hanya terdiam menahan rasa penasaran. Duduk santai di teras kantor, aku mengamati satu persatu murid yang memenuhi lapangan. Adanya peraturan baru dari sekolah bahwa mereka yang membawa kendaraan harus mendorong motornya saat memasuki area sekolah sebagai wujud kesopanan.
Keramaian sudah semakin berkurang. Harusnya aku menunggu Pak Alfin di tempat biasa. Butuh berjalan seratus meter di depan ruko yang belum selesai dibangun. Kali ini aku ingin melihat ekspresi wajah sang kekasih saat melihatku menunggu di jarak yang paling dekat.
__ADS_1
Kulirik sekilas ke arahnya. Pak Alfin tampak bersiap-siap untuk keluar ruangan. Aku masih duduk sambil pura-pura tidak menunggu siapapun.
"Ehm," terdengar deheman keras darinya. Aku menoleh, lalu tersenyum.
Dia melirik tanpa bicara. Kemudian berjalan ke arah parkiran dengan menggendong tas ransel hitamnya. Aku berjalan mengikuti dari belakang. Dia mempercepat langkah lalu memasuki mobil dan melesat pergi tanpa menungguku. Suasana sepi di area parkiran tetap tak membuat Pak Alfin berubah pikiran. Mobil miliknya tampak berhenti di tempat biasa.
"Dasar terlalu profesional," gerutuku sepanjang jalan.
Sampai di dekat mobilnya, aku berhenti sejenak sembari memastikan keadaan luar benar-benar aman. Kaca mobil perlahan terbuka. Sosok lelaki yang duduk di jok pengemudi tampak tersenyum sendiri.
"Tidak ada kesepakatan nebeng mulai parkiran 'kan?" ucapnya dengan terkekeh sendiri.
Aku hanya bisa menahan kesal dengan memiringkan sebelah bibir. Lalu beranjak masuk sebelum ada warga sekolah yang melihat. Pak Alfin menyodorkan air mineral setelah melihatku kecapekan. Setelah membasahi tenggorokan, aku merasa kembali bersemangat.
"Mau langsung pulang atau ke kafe dulu?" tanya dia sambil menjalankan mobilnya.
"Ke kafe ya," jawabku menyarankan.
Dia mengangguk sambil fokus menghadap ke depan.
"Kamu itu ya, berani sekali datang ke kantor guru cuma ingin tanya bisa pulang bareng apa nggak. PR yang kemarin wajib dikerjakan. Tambahan waktu hanya tiga hari, tidak boleh sampai seminggu. Enak saja," keluhnya.
Entah kenapa jiwa ngeselinnya kembali kumat meski sudah tidak berada di lingkungan sekolah. Aku hanya bisa mendesah lelah.
"Iya iya Pak Alfin. Tadinya aku ke kafe juga ingin pacaran. Tapi..."
Ucapanku seketika terhenti saat mobil berhenti mendadak. Bahkan hampir saja aku terantuk dasbor.
"Maaf ya, kaget tadi," ucapnya dengan menahan tawa sambil menatapku.
"Kaget kenapa?" tanyaku terheran-heran.
"Tadi kamu bilang, ke kafe ingin pacaran. Memangnya pacaran itu ngapain?" tanyanya yang membuat mataku terbelalak. Mendadak menjadi salah tingkah.
Aku terdiam sambil menoleh ke samping. Tiba-tiba malu jika menjelaskan bahwa aku hanya malas untuk belajar matematika dengan dalih pacaran.
"Begini ya Fani, kebetulan tadi beberapa kelas ada ulangan harian. Bisa 'kan bantu mengoreksi soal-soal? Setelah itu kita lanjutkan PR kamu yang kemarin," tuturnya memutuskan.
Aku menoleh ke arahnya sambil menampilkan ekspresi wajah sebiasa mungkin. Dalam diam aku mencoba mengerti suka dukanya pacaran dengan guru matematika. Mau tidak mau harus siap membantu mengoreksi soal kelas lain. Aku tersenyum manis dan mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Jangan lupa like komennya... Terima kasih sudah membaca π