Murid KU KEKASIHKU

Murid KU KEKASIHKU
dua belas


__ADS_3

#Muridku_Kekasihku


πŸ€πŸ€πŸ€


Pov Pak Alfin --


"Apa Pak Alfin juga sanggup menikahi saya suatu hari nanti?" tantang Fani dengan tatapan yang membuatku sedikit tersentak.


Pertanyaan itu telah menggelitik naluri lelakiku. Sedari tadi, aku berusaha berbicara formal karena kami akan segera sampai di gedung sekolah. Konsentrasi sedikit terganggu ketika menatap mata yang seakan penuh harap itu.


Sejenak aku terdiam. Membiarkan dia menunggu jawaban. Ah, lucu sekali jika menyadari aku jatuh hati dengan gadis yang terkadang menyebalkan ini. Ingin sekali menjawab,


"Sekarang pun aku siap membawamu ke penghulu," batinku dalam hati.


Tentu tidak mungkin aku mengatakan itu di samping seorang murid paling spesial yang telah mencuri hatiku akhir-akhir ini. Dia masih terlalu dini untuk kuajak berumah tangga. Dari awal mengenal, komitmen untuk menjalin hubungan serius harus dilandasi dengan kesabaran.


"Kenapa jadi membahas tentang nikah? Selesaikan dulu sekolahmu, selesaikan kuliahmu, kejar cita-citamu." Kulirik kembali gadis itu, wajahnya tampak ditekuk seperti kurang puas dengan jawaban yang ia dengar.


"Sebenarnya Pak Alfin sedang cari istri atau hanya pacar-pacaran sih?" tanya dia


dengan mengalihkan pandangan ke arah samping.

__ADS_1


Aku kembali tersentak hingga tak sadar terkikik sendiri. Hanya gadis ini satu-satunya murid yang tahu betul bagaimana karakter asliku saat murid lain menilai sikapku telalu dingin bahkan jarang tersenyum. Hanya dengan gadis ini pula, aku merasa nyaman berekspresi tanpa harus bersikap jaim sebagaimana di sekolah.


Lagi-lagi Fani melontarkan pertanyaan seputar perasaan yang membuatku ingin sekali mencubit pipinya. Dia mungkin sudah kenyang mendengar nasihat tentang hal yang sama berulang kali. Menoleh sekilas ke arahnya, Fani tersenyum hingga menampakkan gigi gingsulnya yang manis.


"Berhubung kita sudah hampir sampai di parkiran, kita bahas lain kali saja," jawabku menyarankan.


Dia mengangguk. Anggukan yang cantik meski dengan senyum yang tampak dipaksakan. Mobil memasuki kawasan sekolah dengan gedung bertingkat. Perpaduan warna biru dan putih menjadi ciri khas sekolah ini. Usai menepikan mobil, kami beranjak turun bersamaan. Ekspresi canggung tampak jelas saat dia mengucapkan kata terima kasih sembari menarik sudut bibir untuk tersenyum. Dalam hati ingin tertawa saat teringat aku hampir mati gaya dengan pertanyaan gadis ini. Namun sebisa mungkin menampilkan sikap penuh wibawa ketika harus berhadapan. Aku berjalan lebih dulu, membalas senyum murid-murid yang sedang duduk santai di teras kelas.


Mereka memandangku penuh tanda tanya. Sebagian bergegas menuju parkiran. Bisa dipastikan Fani akan ditodong sejumlah pertanyaan yang telah membuat mereka terlanjur penasaran.


Di kantor utama, guru-guru tampak asyik makan siang dengan nasi kotak kiriman warga sekitar. Dengan ramah, Pak Wildan memintaku gabung bersama yang lain. Mengambil nasi kotak di atas meja, kami duduk di atas kursi dan saling berhadapan satu sama lain. Kudengar Bu Lina dan Pak Hendi saling menceritakan salah satu kelas yang menuntut kesabaran lebih dalam menghadapinya.


πŸ€πŸ€πŸ€


Ketika memasuki ruang kelas dan menyapa dengan salam, sebagian murid terlihat sibuk menghadapi buku masing-masing. Puas mengetahui jika mereka fokus belajar, aku mulai membagi sejumlah soal dengan menjelaskan tata tertib selama ulangan berlangsung.


"Pastikan hanya selembar kertas soal dan lembar jawaban serta pensil dan penghapus yang tersedia di atas meja. Laci meja kalian harus kosong dari buku atau benda apapun. Untuk tas kalian, bisa langsung taruh di bangku paling belakang," tuturku menjelaskan.


"Baik, Pak," jawab mereka serentak.


Dengan penuh semangat, mereka beranjak menaruh buku ke dalam tas masing-masing. Lalu menaruh seluruh tas di bangku paling belakang. Setelah semua siap, aku meminta mereka segera mengerjakan.

__ADS_1


"Kerjakan sendiri-sendiri. Apabila ada murid yang ketahuan menyontek, dua-duanya tidak akan mendapat nilai," ucapku dengan menampilkan wajah serius.


Situasi hening cukup lama, mereka fokus mengerjakan soal masing-masing. Aku berkeliling untuk memastikan seluruh soal dikerjakan dengan baik. Setengah jam berlalu, satu persatu lembar jawaban mulai di kumpulkan di meja guru. Mereka yang selesai mengerjakan tampak lega seakan beban berkurang seluruhnya. Tiba saatnya jam pulang sekolah, mereka keluar kelas dengan tertib. Hanya saja, ada dua murid yang tak kunjung selesai mengerjakan. Aku menunggu hingga lembar jawaban lengkap untuk selanjutnya dikoreksi di rumah.


Dari jendela kelas, aku mengamati satu persatu murid yang berjalan keluar gerbang dengan wajah berbinar. Sejauh mata memandang, Fani belum terlihat pulang.


"Pak, sudah. Mohon maaf, kami sudah membuat bapak menunggu lama," ujar salah satu murid dengan tersenyum malu.


"Iya, tidak apa-apa."


Keduanya berjalan beriringan meninggalkan ruangan setelah mengucap salam. Aku segera membereskan beberapa lembar jawaban yang berserakan di meja guru, kemudian mengambil buku paket untuk kembali menaruh di atas meja kantor. Ketika menutup pintu kelas, kulihat Fani terduduk lesu di teras kelasnya. Ingin sekali bertanya kenapa, tapi masih banyak siswa siswi yang berlalu lalang di halaman sekolah.


Ketika kami saling bertatapan sekilas, dia buru-buru menunduk lagi. Sempat terpikir olehku, apa karena telah menggantung jawaban kekasihku menjadi segalau ini? Ketahuilah Fani, ketika mendengar pertanyaan kamu di mobil, aku sedang memikirkan bagaimana cara menemui orang tuamu suatu hari nanti.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Bersambung.....


Terima kasih sudah membaca...


Mohon kritik saran.

__ADS_1


__ADS_2