Murid KU KEKASIHKU

Murid KU KEKASIHKU
delapan belas


__ADS_3

#Muridku_Kekasihku


Tak perlu menunggu lama, akhirnya Pak Alfin mengirim contoh soal dilengkapi jawaban beserta keterangan rumus yang tertulis begitu detail. Aku berusaha memahami satu persatu soal dengan seksama. Kemudian mulai mengerjakan PR sesuai kertas panduan yang tertera di layar. Ting. Sebuah pesan masuk darinya.


[Nggak sulit kan?]


[Nggak, Pak Say. Yang sulit itu kalau hidup tanpa cintamu]


Entah apa yang merasukiku hingga tiba-tiba mengetik kalimat itu. Aku menahan senyum ketika melihat Pak Alfin mulai mengetik balasan.


[Gak usah lebay!]


Tawaku pecah seketika. Sempat menduga dia akan membalas dengan gombalan manis seperti pasangan kekasih yang lain. Namun ternyata salah, dia tipe guru yang tidak suka basa-basi.


[Haha.. Gombalin balik dong, Pak]


[Kamu kalau digombalin nanti gak selesai selesai PR nya]


[Siapa tau tambah semangat gitu]


[SEMANGAT!!!]


Begitulah Pak Alfin. Terkadang begitu sulit atau bisa jadi gengsi ketika harus mengungkapkan cinta lewat kata-kata. Meskipun begitu, dia tipe pacar penuh perhatian.


Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku kembali mengerjakan soal-soal. Berkat kertas ajaib darinya, tugas kali ini terasa lebih mudah. Lima soal mampu terjawab dengan baik. Sayangnya, aku belum bisa terlepas dari catatan apabila Pak Alfin memberikan ulangan. Setengah jam kemudian, aku menata buku pelajaran besok lalu beranjak tidur.


πŸ€πŸ€πŸ€

__ADS_1


Cuaca pagi terlihat cerah. Udara pun terasa menyejukkan. Aku bersiap berangkat ke sekolah dengan penuh semangat. Mematut diri di depan cermin, aku mengamati pantulan wajah dari sana. Memakai seragam putih abu-abu dengan rok panjang yang sopan. Kemudian mengoles pipi dengan bedak tipis dan lipgloss pada bibir. Membiarkan rambut panjang tergerai indah seperti biasa.


Setelah merasa tampil cantik, aku memberitahu pada Pak Alfin untuk tidak datang menjemput seperti biasa. Situasi tidak aman untuk kami berangkat sekolah bersama. Lebih baik berboncengan dengan Reza karena ayah sudah mulai berada di rumah sejak kemarin. Beberapa minggu lalu, ayah kunjungan kerja di luar kota. Aku dan Pak Alfin harus membatasi pertemuan selain hanya di lingkungan sekolah.


Ayah Ibu dan Reza tampak duduk di ruang makan. Aku bergegas menghampiri untuk ikut sarapan.


"Bun, mereka harus dipantau supaya sarapan dulu sebelum berangkat," perintah ayah dengan tegas.


"Iya yah. Ini si Fani yang biasanya agak ngeyel," tukas bunda mengadu.


"Itu karena kemarin bangun kesiangan. Jadi nggak sempat sarapan," ujarku jujur.


"Makanya bangun pagi, jangan sampai telat," tutur ayah menasihati.


Aku mengangguk mengiyakan. Untung saja pagi ini wajah ayah terlihat lebih semringah. Orek tempe dan telur ceplok pun jadi terasa nikmat di lidah. Sementara bunda tampak sibuk mengoles roti dengan selai coklat. Usai sarapan, aku dan Reza diwajibkan membawa kotak makan berisi roti untuk di makan ketika jam istirahat.


Aku dan Reza bersalaman kepada mereka secara bergantian. Lalu bergegas berangkat sekolah menaiki motornya.


"Nggak sama Mas Alfin ini?" tanya Reza ketika kami sampai di garasi rumah.


"Sementara ini, kamu harus nganterin aku ke sekolah," tegasku sedikit memaksa.


"Yayaya," sahutnya malas.


Motor melaju dengan kecepatan stabil. Melewati jalan raya yang tampak padat dipenuhi kendaraan lain. Sepanjang jalan, aku memilih diam takut menganggu konsentrasinya. Tak butuh waktu lama, sampailah kami di gedung SMA Cendana Kasih yang terletak di pusat kota. Reza kembali melajukan motor menuju SMP Al-Islam yang berjarak cukup jauh dari gedung sekolah ini.


Aku berjalan memasuki gerbang yang terdapat pos satpam di bagian samping.

__ADS_1


"Tumben neng nggak telat," sapa Pak Satpam dengan sedikit keherenan.


Aku tersenyum malu karena sering telat sejak duduk di bangku kelas dua. Berbagai hukuman pernah kujalani sebagai konsekuensi dari pihak sekolah.


"Sengaja, biar pagi ini dapat senyuman bapak. Biasanya 'kan selalu diplototin," balasku sembari menahan tawa.


"Haha... Aslinya nggak galak," ujarnya memberitahu.


Aku beranjak pamit menuju ruang kelas di lantai dua. Saat melewati kantor guru, aku tertegun melihat segerombolan murid perempuan berdiri di depan ruangan. Mataku menangkap sosok Pak Alfin yang menjadi pusat perhatian.


"Pak Alfin nanti pulangnya lewat selatan saja ya," pinta salah satu murid dengan suara yang terdengar cukup keras.


"Lhoh kenapa?" tanya Pak Alfin dengan wajah penuh keheranan.


"Soalnya rasa cintaku kepada Pak Alfin tidak bisa diutarakan," kelakarnya diiringi gelak tawa murid lain.


Kulihat Pak Alfin tampak terkejut mendengar gombalan itu. Sejenak kemudian, dia tersenyum sambil menggelengkan kepala. Aku menahan tawa melihat tingkah murid jaman sekarang. Meski ada rasa sedikit cemburu, tapi aku sadar bahwa Pak Alfin ketika di sekolah adalah guru kita semua.


Melihatku berdiri tak jauh darinya, dia tersenyum sekilas. Muncul ide usil untuk ikut-ikutan menggombalinya saat mengajar di kelas seperti murid lain di luar sana. Aku membayangkan Pak Alfin pasti benar-benar salah tingkah.


Bersambung...


Mohon kritik saran untuk perbaikan.


Maaf, idenya benerΒ² receh banget ya πŸ˜…


Next

__ADS_1


__ADS_2