
Pertemuan kami kali ini terasa singkat dan mengesankan. Ucapan manisnya benar-benar mengharukan. Aku merasa menjadi satu-satunya murid paling beruntung yang mendapat tempat istimewa di hati Pak Alfin - seorang guru matematika idola para murid yang memiliki paras rupawan.
Sepanjang jalan, aku tersenyum riang. Pak Alfin telah membuat hatiku melayang tinggi di atas awan. Terlebih, dia sanggup menunggu gadisnya yang masih sekolah. Perhatian sedalam ini membuatku semakin jatuh cinta.
Udara sore terasa segar dan menyejukkan. Jalanan sekitar kompleks tampak sepi. Entah kemana perginya anak-anak kecil yang biasa main layangan di lapangan samping rumah. Suara keceriaan mereka mampu meramaikan suasana.
Tak berselang lama, sampailah di rumah yang bercat dinding warna biru kombinasi putih pada jendela. Bangunan kokoh dengan dua pilar sebagai penyangga teras depan. Bunga beragam warna terlihat sejuk dipandang mata. Bunda begitu telaten merawat dan menyiramnya pagi dan sore. Pintu utama tampak terbuka lebar. Mobil milik ayah sudah terparkir rapi di garasi. Perlahan, aku mengucap salam berharap tak banyak diinterogasi.
"Dari mana? Kenapa baru pulang? Katanya belum ada jadwal les tambahan?" Rentetan pertanyaan bunda membuatku terkejut.
Duduk di sofa ruang tamu, bunda menatapku dengan melipat kedua tangan di dada. Sosok yang lebih menakutkan dibanding ayah ketika sedang marah. Aku sadar, kali ini pulang telat tanpa memberi kabar.
"Maaf ya Bun, tadi ada guru yang minta Fani bantu mengoreksi lembar jawaban milik kelas lain. Jumlah soalnya lumayan banyak. Pulangnya dikasih ini deh." Aku memperlihatkan nama kafe yang tertera seraya tersenyum bangga.
Mendengar itu, ketegangan di wajah perempuan yang memakai jilbab ungu motif bunga tersebut tampak mulai mereda. Sebelum ditanya-tanya lebih lanjut, aku segera berlalu menuju dapur. Menaruh makanan pemberian Pak Alfin di piring. Beberapa potong ayam bakar beserta lalapan dan sambel kini sudah tersaji di ruang makan. Lengkap dengan jus alpukat dan jus mangga serta bakso goreng yang menggugah selera.
"Pacaran terus," ucap Reza ketika datang menghampiri. Dia buru-buru duduk ketika melihat beberapa makanan tersaji di atas meja.
Mataku membulat merasa was-was jika ucapan bocah tengil ini terdengar di telinga bunda. Karena kesal, aku menjauhkan piring berisi ayam bakar dari hadapannya. Reza harus tau, dia tidak boleh bicara sembarangan ketika ayah dan bunda sedang berada di rumah.
"Siapa bilang? Ini namanya rezeki anak sholehah," balasku membela diri.
"Mana ada anak sholehah yang pelit begini?" sahutnya tak mau kalah.
Aku menahan tawa saat mendengar Reza mengatakan itu. Meski seringkali tingkahnya menjengkelkan, tapi aku tidak tega melihat wajahnya memeles menahan lapar.
"Ingat Re, kalau sampai ayah bunda tau hubunganku sama Pak Alfin, jangan harap miniatur motor harley jadi dikirim di sini. Mending aku kasih saja sama tetangga sebelah," ancamku setengah berbisik.
__ADS_1
"Heiii... Mahal itu. Jangan dikasih tetangga. Nggak ikhlas aku," tolak Reza merasa khawatir.
Kalau sudah begini, aku merasa menang. Reza suka sekali mengoleksi miniatur benda-benda antik dari kayu jati. Mulai dari miniatur sepeda kayu, becak kayu, helikopter kayu, dan lain-lain. Dia mengidamkan miniatur motor harley yang harganya membuatku harus rela menyisihkan uang jajan setiap harinya.
πππ
Usai membersihkan diri, aku istirahat sejenak di dalam kamar. Membuka ponsel yang ramai notifikasi yang masuk saat data mulai dihidupkan. Perhatianku tertuju pada aplikasi facebook di mana beberapa cerbung menggantung di sana. Kubalas beberapa komentar pembaca yang masuk. Mereka mengaku tidak sabar menunggu kelanjutan cerita. Sementara tugas sekolah masih menumpuk di meja belajar.
[Belajar, belajar. Hapenya di simpan dulu]
Masuk pesan WA dari Pak Alfin. Dia selalu begitu, tau segala aktivitasku di dunia maya. Meski jarang menulis status di dinding facebooknya, tapi dia lumayan aktif membuka aplikasi itu.
[Hehe, baru dipegang. Nanggung kalau udahan]
[Tapi tetap ingat, kapan harus belajar]
[Mas Alfin juga harus ingat, kapan harus makan]
[Sudah makan. Besok ketemu pelajaran saya, jangan mengira posisimu sudah aman]
Perasaan mendadak tidak nyaman ketika membaca pesan balasan itu. Entah kenapa Pak Alfin suka sekali memintaku mengerjakan soal di depan. Tidak taukah dia, bahwa aku ingin sekali mendapat perlakuan istimewa di kelas.
[Kalau gak bisa ngerjain soal, mau dong dihukum. Dikurung di hatimu selamanya, misalnya πππ€£]
Entah kenapa jariku begitu lincah mengetik kalimat itu. Sesaat kemudian, Pak Alfin yang masih online tampak mengetik balasan.
[Aduh, Dek π€¦ββ]
__ADS_1
Aku kembali tertawa karena sudah berhasil menggombalinya. Hanya saja, aku hanya berani lewat pesan. Tidak seperti dia yang berani bicara secara langsung.
[Jangan galak sama muridmu yang manis ini, Pak. Kalau pun aku gagal fokus, itu karena gombalanmu yang kelewat romantis]
Centang dua seketika berubah biru. Hanya saja sang guru tiba-tiba mengakhiri obrolan kami tanpa membalas pesan itu. Aku rasa, dia sedang sibuk.
πππ
Aku kembali turun ke bawah untuk makan malam bersama. Ayah, bunda dan Reza sudah berkumpul lebih dulu. Di atas meja, tersedia telur balado dan nugget kesukaan. Sampai semua berkumpul, kami baru makan. Ketika akan duduk, aku merasa tatapan ayah kali ini tidak biasa.
"Jelaskan, kenapa orangtua temanmu yang bernama Deliana tiba-tiba menghubungi ayah dan meminta pertanggung jawaban atas kelakuan kamu di sekolah," tanya ayah dengan tegas.
Tak ada angin tak ada hujan, pertanyaan itu bagai petir yang menyambar hati. Aku terdiam menahan kesal kepada orang tua gadis itu yang sudah mengadu permasalahan ini kepada ayah. Suasana di ruang makan mendadak tegang. Bunda dan Reza tak ada yang berani bicara. Aku bagai terdakwa yang siap disidang. Makanan yang ada di hadapan bahkan belum tersentuh sama sekali. Selera makan mendadak hilang. Aku menghela napas pelan. Memandang wajah mereka secara bergantian.
"Tadi pagi jam olahraga. Ada penilaian untuk bola volly. Pas lempar bola, tidak sengaja kena kepala Deliana," ucapku lirih merasa sedih.
"Ceroboh kamu, ya," bentak ayah dengan menatap tajam.
Aku menunduk lagi. Kalau sudah begini, rasanya ingin menangis sendirian di dalam kamar.
"Aku nggak sengaja," tukasku dengan mata berkaca-kaca.
"Ayah sudah telepon kepala sekolah dan transfer biaya rumah sakit. Untung saja kondisi teman kamu itu tidak parah. Bagaimana kalau kenapa-napa atau bahkan sampai meninggal?" tanya ayah dengan menaikkan nada suara.
Aku pun mengkhawatirkan hal itu. Dalam diam aku berharap masalah ini segera selesai dengan damai. Hanya saja kalau ayah sudah marah, dia bahkan tega mendiamkanku seharian.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih sudah menunggu cerita ini. Kritik sarannya dong. π
Makasih bang PK sudah approve π