Murid KU KEKASIHKU

Murid KU KEKASIHKU
duapuluhtiga


__ADS_3

#Muridku_Kekasihku


"Bisa diulang, Pak, rumus yang ini." Aku menunjuk asal contoh soal nomor lima.


"Belum paham bagian yang mana?" tanya Pak Alfin dengan melirik sekilas.


Aku terdiam sejenak. Sebenarnya seluruh soal yang telah dijelaskan, aku tidak paham sama sekali. Penyakit gagal fokus saat berhadapan langsung sepertinya sudah sangat parah dan sulit disembuhkan. Ragu menjawab, aku memilih tersenyum berharap dia paham sendiri.


"Belajar matematika harus langsung terjun di soal-soal. Saya buatkan satu soal yang sama persis dengan soal yang ini," ucapnya sembari mengambil kertas kosong untuk menulis soal.


Aku membulatkan mata. Menatap Pak Alfin dengan sedikit kesal. Bukannya menjelaskan ulang, dia justru memberikan soal yang terasa lebih memberatkan. Bagaimana bisa mengerjakan, pikirku. Dengan cepat, dia memberikan kertas tersebut padaku. Tanpa berbicara, tatapan mata itu menyiratkan agar aku segera mengerjakan.


Aku tidak bisa santai karena ayah dan bunda tak kunjung pergi meninggalkan ruangan. Aku tak bisa fokus karena Pak Alfin terlalu bersikap profesional meski sudah berada di luar sekolah. Aku tidak paham karena pelajaran ini bagiku sangat rumit dan membingungkan. Kuarahkan seluruh perhatian pada selembar kertas yang telah membuat kepalaku sedikit pusing. Entah apa yang merasuki Pak Alfin tiba-tiba tega menulis dua soal yang belum tentu bisa terjawab dengan benar.


Kulirik wajah ayah, dia masih menatapku. Begitu juga dengan bunda. Pak Alfin tampak sibuk dengan hapenya. Dua menit berlalu, aku hanya mampu menyalin kedua soal dalam buku tugas. Hanya sebatas itu.


"Sudah selesai?" Pak Alfin bertanya dengan wajah penasaran. Aku sengaja menutup dengan tangan saat dia sedikit mengintip.


"Sebentar lagi," jawabku dengan tersenyum malu.


Terdengar ponsel berbunyi. Ayah beranjak berdiri dan menerima telepon di teras rumah. Perasaan sedikit lega ketika sang pengawas ruangan tinggal satu orang.


"Ayah harus ke kantor. Ada keperluan mendadak," ujar ayah kepada kami.


Aku bersorak riang di dalam hati. Perasaan sangat tenang dan damai begitu ayah tak duduk lagi di sofa itu. Aku butuh situasi yang nyaman dalam belajar. Diawasi seperti itu bagiku bukan cara yang efektif. Ayah beranjak mengambil kunci mobil lalu pamit pergi menuju ke kantor. Kini tinggal bunda yang mengawasi di ruangan ini.


"Bun, aku mau ke dapur sebentar. Pak Alfin kayaknya kehausan ini," ucapku sambil beranjak berdiri.

__ADS_1


"Kamu belajar di sini saja, biar bunda yang mengambilkan minum," sergah bunda dengan penuh perhatian.


Bunda segera beranjak ke dapur. Aku menyandarkan punggung di sofa sambil menatap Pak Alfin dengan menahan tawa. Lelaki yang duduk di hadapan tiba-tiba mengambil paksa buku tugas di atas meja. Sejenak kemudian, dia menggelengkan kepala perlahan begitu menyadari belum ada satu soal pun yang bisa kujawab.


"Dua menit yang lalu hanya menulis ulang soal?" tanya dia dengan wajah penuh keheranan.


"Aku tadi kan tanya rumus karena belum paham, kenapa malah dikasih soal, sih?" gerutuku.


Lelaki berwajah putih bersih itu tampak menghela napas lelah. Dia mengusap keringat di kening yang mulai basah. Menyandarkan punggungnya di sofa, Pak Alfin membuka ponsel seperti sedang membalas pesan. Mendengar langkah kaki bunda mulai mendekat, aku buru-buru kembali duduk manis dan memasang wajah penuh konsentrasi.


Bunda datang dengan membawa dua gelas minuman dingin beserta cemilan dan buah-buahan segar kini berada di atas meja.


"Silahkan, Pak," ucap bunda dengan ramah.


"Iya, Tante, terima kasih."


"Bun. Tadi Pak Alfin bilang kalau diawasi seperti itu rasanya sungkan dan nggak nyaman. Aku belajar kok. Beneran. Izin belajar di gazebo luar ya," ucapku terpaksa mencari alasan.


Aku memasang wajah penuh permohonan. Sementara Pak Alfin menatapku dengan tajam. Aku menahan tawa berharap bunda kali ini berkenan memaklumi.


"Ya sudah, belajar yang sungguh-sungguh. Pak Alfin, tolong pastikan anak saya ini mau belajar. Entah kenapa sejak dulu dia selalu bermasalah dengan pelajaran matematika," curhat bunda dengan menatapku antara kesal dan iba.


"Iya, Tante," jawab Pak Alfin dengan tersenyum.


Sesaat kemudian, bunda berlalu pergi dari hadapan kami. Aku mengucap alhamdulillah dengan pelan di hadapan Pak Alfin. Lelaki itu tampak menahan kesal. Aku merapikan buku-buku dengan penuh semangat. Kemudian membawanya ke taman samping rumah. Tak lupa membawa serta makanan dan meletakkan di gazebo kayu. Udara sore yang sejuk membuat perasaan menjadi nyaman.


"Sejak kapan kamu berani bohong dengan ibumu?" tanya Pak Alfin saat berjalan menghampiri. Suaranya terdengar penuh penekanan.

__ADS_1


Dia masih berdiri di depan gazebo, sementara aku duduk di tepi sambil menata buku dan makanan sebagai suguhan.


"Susah konsen nih, Pak, kalau diawasi begitu.


Lagipula tadi pas aku telepon, kenapa Pak Alfin bilangnya masih di kafe? Sama-sama bohong dong," balasku sembari menahan senyum.


"Kenapa bilang ke ibumu kalau aku yang nggak nyaman? Awas kamu ya," ancamnya sambil mendengkus sebal.


Aku tertawa lagi.


"Kalau aku sendiri yang bilang nggak nyaman, bunda pasti nggak bakalan percaya. Tapi kalau alasannya itu Pak Alfin, bunda pasti memaklumi," terangku.


"Ya sudahlah. Kerjakan kembali tugasmu," perintahnya sambil beranjak duduk di sebelah dengan bersila.


"Pak, boleh jujur?" tanyaku.


Pak Alfin membalas menatap dengan penasaran.


"Kenapa?"


"Aku belum paham," ungkapku penuh kejujuran.


"Tadi pagi sudah aku jelaskan di kelas, beberapa menit yang lalu juga aku jelaskan berulang-ulang, kenapa masih belum paham?" tanya dia dengan menaikkan kedua alisnya.


Kini giliran aku yang kesal. Aku baru sadar, kekasihku ini benar-benar tidak peka.


Bersambung.

__ADS_1


Butuh kritik dan saran untuk perbaikan.


__ADS_2