
#Muridku_Kekasihku
πππ
Keraguan membawaku dalam perasaan gelisah tak menentu. Pertanyaan itu membuat tatapan Pak Alfin seketika berubah tajam. Sepertinya kali ini aku salah bicara.
"Mau apa lagi?" tanya dia dengan wajah datar.
Mobil melaju sedikit lebih pelan dari sebelumnya. Aku berharap perjalanan kami kali ini tidak segera sampai tujuan.
"Kalau kita sampai di jam istirahat, ketahuan dong sama murid-murid," jawabku penuh debar khawatir.
Lelaki di sebelah tampak mengerutkan alisnya. Sesaat kemudian, dia tertawa pelan sambil sesekali menoleh ke arahku.
"Justru kalau kita tidak segera sampai di sekolah, guru-guru bisa curiga. Memangnya kamu malu kalau saya antar sampai parkiran sekolah?" tanyanya dengan senyum yang menenangkan hatiku.
Aku merasa sedikit canggung ketika cara bicara Pak Alfin kembali formal seperti biasa.
"Bukannya malu. Sebelumnya kita 'kan tidak pernah jalan bareng di kawasan sekolah. Bakalan heboh kalau mereka lihat aku turun dari mobil ini." Aku kembali dilanda rasa was-was.
__ADS_1
"Akan heboh lagi kalau seandainya saya turunkan kamu di halte depan. Pak Suryo, Bu Ismawati bahkan guru lain jelas akan curiga. Mereka sudah memintaku mengantarmu kembali ke sekolah. Seharusnya kamu bersyukur dan tidak perlu khawatir," balasnya santai.
"Iya, Pak. Saya bersyukur banget sudah diantar balik ke sekolah oleh Pak Guru ganteng idola murid yang dulu sempat menghebohkan warga sekolah," ujarku dengan gaya lebay, sementara lelaki di sebelah tampak menggelengkan kepala seraya menahan senyum.
"Terima kasih juga atas tumpangannya kali ini," lanjutku dengan memberikan senyum semanis mungkin.
Sejenak kami saling berbalas senyum. Dari tatapan mata yang teduh itu, seolah mentransfer rasa cinta dan semangat yang perlahan menyejukkan hati.
"Sama-sama. Yang terpenting sekarang, kamu harus tetap rajin belajar. Dari kemarin saya perhatikan kamu sering melamun di kelas. Mikirin saya apa siapa nih?" tanya Pak Alfin penuh percaya diri.
Aku tertawa hingga tak sadar Pak Alfin sampai menutup telinga. Merasa bertingkah kurang sopan, aku segera membekap mulut dengan kedua tangan.
"Jujur saja, Pak. Saya selalu terbayang masa depan yang cerah jika melihat Pak Alfin dengan pandainya menjelaskan pelajaran matematika di kelas," ungkapku sambil membayangkan.
Seketika aku terdiam sambil menggigit bawah bibir. Menyesal telah mengutarakan kejujuran ini kepadanya. Aku tidak menyangka responnya akan seserius ini.
"Saya dengarkan kok, Pak. saya simak juga. Cuma, untuk tingkat pemahaman mohon sedikit dimaklumi," ucapku pelan sambil menahan malu.
"Kalau begitu, saya akan coba mengusulkan kepada wali kelas agar kamu dipindahkan ke kelasnya Pak Hendi setiap pelajaran matematika. Jadi, tidak ada ceritanya kamu gagal fokus dan gagal paham lagi," tandasnya memutuskan.
__ADS_1
"Eh, Pak, jangan. Please jangan lakukan itu. Saya tidak mau diajar Pak Hendi," tolakku.
Bagaimana mungkin Pak Alfin memiliki rencana yang merugikanku sebagai murid dan kekasihnya. Jika hal itu terjadi, sama saja aku memberikan peluang pada Deliana atau bahkan murid lain untuk mendekatinya tanpa pantuanku di kelas.
"Sanggup mengikuti pelajaran saya tanpa terbawa perasaan?" tantangnya tiba-tiba.
"Insya Allah sanggup," jawabku sambil menunduk ragu.
"Kesanggupan kamu masih diragukan," desisnya ketika menyadari ada keraguan di wajahku.
Aku menoleh sekilas. Sedikit kesal dengan ucapannya itu. Tiba-tiba muncul pertanyaan untuk sedikit menggoda sang guru.
"Apa Pak Alfin juga sanggup menikahi saya suatu hari nanti?" tantangku sambil menatap lekat ke arahnya.
Lalu bagaimana ekspresi Pak Alfin kali ini?????
Tunggu saja.....
πππ
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca cerita ini.... π
Maaf singkat karena disibukkan dengan