
#Muridku_Kekasihku
Tidak pernah terbayangkan jika lelaki itu ternyata adalah Pak Alfin. Datang tiba-tiba dengan gaya busana yang tampak terlalu santai. Perlahan dia melangkah masuk menuju ruang tamu. Segera kuambil buku yang tadi jatuh dan menaruhnya di atas meja ruang tengah. Dengan hati berdebar, aku beranjak kembali ke kamar untuk menukar kaos pendek dengan hem kotak-kotak warna merah lengan panjang. Tak lupa menyisir dan menguncir rambut ke belakang.
Kulihat pantulan wajah di cermin kamar. Bersyukur memiliki kulit putih bersih dan tampak masih glowing. Bentuk hidung mancung turunan dari ayah membuatku tampil percaya diri. Kuoles lipgloss pada bibir yang mulai kering.
Perasaan kembali dilanda gelisah. Bagaimana mungkin Pak Alfin datang pada saat gombalanku di kelas menjadi penyebab kemarahan ayah. Pikiran terasa sedikit kacau. Beberapa menit lalu, dia mengatakan masih berada di kafe. Namun kenyataannya, Pak Alfin malah berkunjung ke rumah ini untuk pertama kali. Mungkinkah diam-diam telah melaporkan gombalanku langsung kepada ayah? Oh My God. Kenapa bisa begini? Jantungku terus berpacu tak terkendali. Jadi, Pak Alfin yang terlalu profesional itu sedang berpihak kepada siapa? Tanyaku dalam hati. Seketika bingung.
Terdengar bunda memanggil memintaku segera turun. Entah kenapa kaki terasa berat untuk melangkah menemui mereka. Rasanya belum siap berhadapan secara langsung. Bagaimana jika ketahuan pacaran dan disidang? Lalu jika yang melaporkan gombalanku adalah Pak Alfin, maksud dan tujuannya apa? Bukankah sebelumnya kami berkomitmen untuk menjalani hubungan secara diam-diam? Beragam tanda tanya besar muncul begitu memusingkan kepala.
__ADS_1
"Tifani, jangan tidur," teriak bunda dari bawah.
"Iya bunda. Aku turun."
Segera kuberanjak menuruni anak tangga. Sampai di ruang tengah, aku mengambil buku beserta alat tulis lalu membawanya ke ruang tamu. Semua mata tertuju padaku saat duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Pak Alfin. Suara deheman ayah membuat hatiku kembali berdebar. Entah apa yang telah mereka bicarakan sebelumnya.
"Kami berdua akan tetap duduk di sini memantau langsung cara kamu belajar," tandas ayah dengan tatapan tajamnya.
"Langsung saya jelaskan kembali materi tadi pagi, ya," Pak Alfin mengambil buku paket dari dalam tas ransel birunya.
__ADS_1
Aku mengangguk sembari membuka buku PR dengan hati yang berdebar-debar tanpa henti. Mendapat pengawasan ekstra dari mereka, aku tidak bisa fokus mendengarkan penjelasan soal maupun rumus-rumus. Ketika susah menjalankan kode rahasia, seketika ingin pingsan.
Ayah terus saja memandang memastikan aku belajar dengan sungguh-sungguh. Sementara Pak Alfin kembali menjelaskan materi yang sama seperti pelajaran di kelas. Mataku mengarah pada lembar kertas dan berusaha menyimak beragam soal. Sesekali tatapan kami beradu pandang beberapa detik. Heran karena lelaki ini pandai menguasai keadaan.
"Sampai di sini ada pertanyaan?" Dia bertanya setelah menjelaskan materi secara panjang lebar.
Aku terdiam. Banyak yang ingin aku pertanyakan. Banyak sekali hal yang membuatku dilanda penasaran. Bukan tentang matematika dan segala kerumitannya, melainkan tentang kedatangan sang kekasih di saat yang tidak tepat. Ingin sekali mengatakan bahwa kali ini dia berhutang banyak penjelasan.
Bersambung....
__ADS_1
maksih sudah membaca jangan lupa like vote dan komen Nya ya