Murid KU KEKASIHKU

Murid KU KEKASIHKU
tiga


__ADS_3

#Muridku_Kekasihku


πŸ€πŸ€πŸ€


Sebagian murid tampak belum rela saat Pak Alfin mengambil paksa kertas berisi jawaban soal untuk dikumpulkan menjadi satu. Berjalan menghampiri, hatiku berdebar-debar. Sementara Sarah justru terlihat biasa saja.


"Saya belum selesai," ucapku saat tangannya hendak menarik kertas jawabanku.


"Apa kalau saya tunggu kamu bisa mengerjakan semua soal dengan benar?" tanya Pak Alfin yang kini berdiri tegak di samping bangku.


Aku tersentak kaget mendengar sindiran menyakitkan itu. Pak Alfin menatap tanpa senyum saat hendak mengambil kertas jawaban yang masih berada di atas meja. Aku menunduk pasrah - membiarkan dia mengambil kertas yang baru terisi dua jawaban.


"Si Fani mau minta tambahan waktu pun, mustahil dapat seratus. Kecuali nyontek," ledek Rendy padaku.


Murid murid lain kompak menertawakan kecuali Sarah. Perlahan mataku mulai berkaca-kaca. Merasa sakit hati atas hinaan itu. Kulirik wajah Pak Alfin tampak gusar saat menatapku sekilas.


"Kalian juga belum tentu dapat nilai bagus," balas Sarah membela.


"Sudah-sudah. Kita semua masih proses belajar. Yang terpenting kalian harus belajar yang sungguh-sungguh. Ketika saya menjelaskan materi dan kalian belum paham, jangan ragu untuk bertanya." Pak Alfin mulai menenangkan kondisi kelas yang mulai gaduh.


Saat sang guru memberikan penjelasan di akhir pertemuan hari ini, aku sama sekali enggan menghadap ke depan. Entah kenapa rasanya masih kesal dengan ucapan yang tega menyinggungku beberapa saat lalu.


πŸ€πŸ€πŸ€


Ganti pelajaran.


Jam keenam, Bu Ismawati sudah memasuki ruang kelas XII Bahasa 2. Pembawaan yang lembut, beliau tersenyum ramah sebelum mengucap salam. Memakai seragam guru motif batik serta jilbab warna senada serta dipadukan dengan rok panjang warna hitam.


Perasaanku mulai membaik saat ganti pelajaran. Bu Ismawati mengampu mata pelajaran Sejarah yang membahas tentang Perang Dunia kedua. Cara mengajar yang memahamkan membuat kami larut mendengar cerita seputar genjatan senjata di masa sebelum kemerdekaan.


Kaisar Hirohito mengobarkan semangat 'Shinto Hakko Ichiu' di mana delapan penjuru dunia membentuk satu keluarga demi menciptakan kemakmuran bersama. Entah kenapa dalam pikiran, aku justru membayangkan suatu saat berada satu keluarga bersama Pak Alfin. Hubungan tetap berlanjut hingga kami berada satu universitas yang sama. Siapa tau dia bisa menjadi seorang dosen, dan aku menjadi mahasiswinya.


Aku mengakhiri lamunan singkat ketika teringat sikapnya hari ini. Baru beberapa hari bertugas sebagai guru baru di sekolah, Pak Alfin tega mengucap itu ketika proses belajar mengajar berlangsung.


"Tifani, tanpa melihat catatan, sebutkan pemimpin fasis negara Jerman, Italia dan Jepang?" tanya Bu Ismawati tiba-tiba.


"Fasis Jerman dipimpin oleh Adolf Hitler. Fasis Italia dipimpin oleh Musholini. Sedangkan, fasis Jepang dipimpin Kaisar Hirohito," jawabku meyakinkan.


Bu Ismawati mengangguk melihatku bisa menjawab dengan baik. Gara-gara melamun indah, beliau tiba-tiba melempar pertanyaan yang mengagetkan. Untung saja semalam belajar. Pelajaran dilanjut hingga bel tanda jam istirahat kedua berbunyi.


πŸ€πŸ€πŸ€


Mengambil cermin kecil dari dalam tas, aku melihat pantulan wajah yang kata Pak Alfin, imut imut manis. Terkadang, aku senyum senyum sendiri hingga tersadar, alasan dia mengatakan itu karena lesung pipi yang terlihat jika bibir tersenyum. Selain itu, gigi gingsul yang ibu wariskan juga menambah manis penampilanku. Menguncir rambut asal-asalan, aku melirik ke arah Sarah yang mulai fokus membaca sebuah novel.


"Ke kantin, yuk," ajakku.


"Masih kenyang Fani," jawab Sarah enggan.

__ADS_1


Aku menarik tangan gadis itu. Makan sendirian membuatku tidak percaya diri. Terlebih, hanya dia satu-satunya teman yang mampu memahamiku dengan baik.


"Aku traktir sosis bakar, ayolah," ajakku lagi.


"Katanya tadi kamu minta ditraktir?" dia bertanya dengan wajah heran.


"Bercanda tadi. Ibu selalu selipin uang jajan pas pamit," ucapku memberitahu.


Akhirnya Sarah mau menemani. Kami berjalan berdampingan menuju kantin Mbok Nah. Entah kenapa aku ingin meluapkan kekesalan dengan makan bakso super pedas. Saat melewati depan ruang kantor, tak sengaja berpapasan dengan Pak Alfin.


"Siang, Pak," sapa Sarah dengan senyuman manis.


Aku mengalihkan pandangan saat Pak Alfin melirik sekilas. Bukan tidak ingin menghormati posisi dia sebagai guru, tapi aku tidak bisa menutupi rasa sakit hati dengan pura-pura tersenyum.


"Kami mau ke kantin dulu. Mari, Pak," ucap Sarah dengan ramah.


"Iya, silahkan," balas Pak Alfin.


Sarah berdiri mendekat. Berbisik membicarakan sang guru.


"Pak Alfin kenapa ya, nggak nikah-nikah?" ucapnya setengah berbisik sambil tetap berjalan.


Aku terdiam beberapa saat. Pak Alfin belum menikah karena kekasihnya belum lulus, batinku tertawa dalam hati.


"Entahlah," jawabku menimpali.


"Istirahat tadi tumben nggak ke sini, Nduk?" Mbok Nah bertanya heran.


"Ada keperluan mendadak, Mbok," jawabku sambil menahan senyum.


"Baksonya masih, kan?" tanyaku sambil melihat-lihat aneka makanan yang tersaji di atas mejanya.


"Masih," jawab Mbok Nah sambil meniriskan gorengan pada piring.


"Bakso satu sama sosis bakar lima. Minumnya teh anget aja," ucapku memesan.


"Siap," sahutnya penuh semangat.


Aku dan Sarah buru-buru menghampiri tempat favorit dan ternyaman. Memilih duduk di bawah kipas angin yang menyejukkan, kami kembali bertukar cerita, hanya saja aku enggan membahas seputar kekasih.


Aroma sedap bakso buatan Mbok Nah menguar kala disajikan. Menuang beberapa sendok sambal dan kecap pada mangkok, aku mulai menyantap makanan favorit. Bersama Sarah, aku mulai menikmati bakso kuah yang menyegarkan.


Tak lama kemudian, bel tanda masuk kelas kembali berbunyi. Masih ada satu jam pelajaran sebelum pulang. Pelajaran Bahasa Indonesia kali ini kosong tanpa ada guru yang mengisi. Kami hanya diberi tugas untuk mengerjakan soal dalam buku paket.


Tepat pukul 12.30 WIB, kami bersiap-siap untuk melantunkan doa penutup. Lalu bergegas pulang. Melewati ruang kelas sebelah, aku sengaja melirik Pak Alfin yang masih mengajar. Tatapan kami bertemu sekilas, lalu aku mempercepat langkah menjauhinya.


Siang ini, aku memutuskan untuk pulang sendiri dengan menaiki angkutan umum yang berjejer menunggu penumpang di depan gerbang. Biasanya, aku menunggu Pak Alfin di gang kecil depan ruko, hanya saja hari ini aku sedang malas menemuinya.

__ADS_1


Sang sopir masih setia menunggu angkutan miliknya terisi penumpang hingga benar-benar penuh. Dari dalam angkutan yang baru berisi beberapa orang, aku sengaja melihat keluar menunggu mobil silver milik Pak Alfin keluar dari gerbang. Tak lama kemudian, mobilnya berjalan pelan lalu berhenti di tempat biasa. Kulihat dia tidak keluar dari mobil, dia pasti sedang menungguku di sana.


"Kalau bisa pulang bareng, kamu tunggu di sini," ucapnya beberapa minggu lalu.


Hari ini, aku ingin membiarkan Pak Alfin menunggu tanpa kepastian. Lima menit berlalu, dia masih ada di sana, sementara angkutan yang kunaiki tak kunjung berjalan. Kulihat dia mulai melajukan mobil meninggalkan sekolah.


"Pak Sopir, sudah kelamaan ini," teriak salah satu penumpang dengan raut wajah kesal.


"Bentar, Nduk, teman-temanmu ada yang masih jajan," jawab Pak Sopir kembali menunggu.


Aku terdiam. Andai aku tidak sakit hati atas ucapan Pak Alfin tadi pagi, pasti aku tidak akan merasa gerah dan kepanasan di sini. Andai hubungan kami baik-baik saja, dia pasti mengajakku makan siang gratis di kafenya.


Siang ini lain, aku harus bisa mandiri dan tidak selalu bergantung padanya. Setelah angkutan mulai penuh, akhirnya sang sopir melajukan kendaraan dengan kecepatan stabil. Sampai di gang komplek, aku harus berjalan sejauh seratus meter untuk bisa sampai di rumah.


Suasana rumah siang ini sepi. Ayah masih kerja di kantor, ibu juga sibuk rapat bersama ibu-ibu PKK, dan Reza adikku sedang les pramuka. Aku beranjak menaiki tangga menuju kamar di lantai atas, melepas penat untuk beristirahat sejenak.


Saat menaruh tas di tempat biasa, ponsel tampak bergetar. Terpampang dengan jelas nama seseorang yang membuatku malas mengangkat telepon. Di layar utama, tiga panggilan tidak terjawab. Karena kesal, aku memilih mengatur ponsel menjadi mode pesawat.


Usai berganti baju dan sholat zuhur, aku memutuskan untuk tidur siang. Berharap ketika bangun, aku mampu melupakan seluruh permasalahan yang ada.


πŸ€πŸ€πŸ€


Suara ketukan pintu kamar membuatku terbangun seketika, suara ibu dengan nada khasnya membuatku harus segera membukakan pintu.


"Ada apa, bu?" tanyaku masih mengantuk.


"Hp jangan dimatikan. Ibu tadi ada acara sampai sore khawatir kalau kamu belum pulang," ucap ibu penuh khawatir yang tampak di wajah ayunya.


"Ngantuk bu, jadi langsung tidur," jawabku.


"Jangan kelamaan juga tidurnya," sahut ibu dengan wajah kesal.


Ibu beranjak turun setelah lega melihat putri cantiknya sudah pulang dengan selamat. Melirik jam, aku terperanjat kaget melihat jam menunjukkan pukul 16.30. Tak sadar, aku tertidur cukup lama hingga membuat ibu sebegitu khawatir.


Penasaran, aku kembali mengaktifkan data internet. Sembilan panggilan tidak terjawab dari Pak Alfin membuatku menahan tawa. Rupanya, dia juga sangat


mengkhawatirkanku. Saat membuka pesan whatsapp, aku kembali tersenyum.


[Kamu sudah pulang?]


[Fani, angkat teleponku]


[Aku khawatir]


Pesan terakhir membuat hatiku bergetar menahan haru. Tulisan di bawah kontak yang kunamai Pak Alfin, ternyata sedang online. Kulihat dia mengetik pesan. Hatiku berdebar-debar menanti pesan selanjutnya. Karena lama, kurasa isinya panjang.


☘☘☘☘

__ADS_1


__ADS_2