Murid KU KEKASIHKU

Murid KU KEKASIHKU
dua


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€


Aku terduduk lesu di kelas seorang diri. Menolak ajakan Sarah untuk makan di kantin seperti biasa. Menahan lapar karena hati mendadak resah karena dua hal. Pertama, aku harus segera datang menemui Pak Alfin di kantor. Kedua, aku sama sekali belum belajar untuk persiapan ulangan harian.


Membuka buku catatan, rasa kantuk menyerang saat melihat deretan angka beserta rumus-rumus yang memenuhi halaman. Entah kenapa pelajaran matematika selalu membuat otakku nge-blank akhir-akhir ini. Padahal, sebagai murid kelas tiga SMA, aku harus siap menghadapi ujian nasional beberapa bulan mendatang.


"Aku nggak yakin kamu dapat nilai bagus," cibir Viki meledek.


Aku tidak tau sejak kapan lelaki menyebalkan ini tiba-tiba muncul di depan bangku. Aku sama sekali tak berminat menanggapi. Aroma parfum miliknya menusuk indra penciuman. Sepertinya, dia baru saja mandi minyak wangi. Tak di sangka, Viki tiba-tiba mengambil paksa buku tugas yang tergeletak di laci meja. Perlahan membuka dengan wajah penuh penasaran.


"Aduh Fani sayang, ulangan kemarin siang kenapa nggak mau lirik wajahku yang manis ini sih? Kamu kedip mata sebelah, aku jamin dapat nilai seratus," ucap Viki dengan gaya lebaynya.


Tubuhku sedikit bergetar merasa geli saat mendengar ucapan itu terlontar dari mulutnya.


"Lebih baik dapat nilai nol daripada harus ngelirik wajahmu yang sok kegantengan itu," balasku sewot.


Viki masih berdiri dengan menampilkan senyum terbaiknya. Aku semakin ilfeel saat teringat kalimat cinta penuh rayuan yang pernah ia persembahkan beberapa hari lalu. Jelas, aku langsung menolaknya.


"Sana ke ruangan Pak Alfin. Jangan bandel, ya...," ucapnya sok menasehati.


Aku beranjak berdiri dan meninggalkan ruang kelas daripada terlibat obrolan panjang dengan lelaki ini. Saat langkah kaki hendak belok menuju kantin Mbok Nah, Pak Alfin ternyata sedang berbincang hangat dengan Pak Wildan di luar kantor. Aku menghentikan langkah tiba-tiba, ragu jika tidak mengindahkan perintahnya.


Tak lama kemudian, Pak Wildan sudah tidak ada di tempat. Tapi Pak Alfin masih berdiri sambil menatap layar ponsel dalam genggaman. Satu-satunya jalan menuju kantin memang harus lewat depan ruangannya.


Aku berharap Pak Alfin kembali masuk ruangan sehingga aku bisa berjalan cepat menghindar darinya. Beberapa detik menunggu, dia justru pindah posisi dengan duduk di kursi tunggu depan ruang kantor. Tak kuduga, dia memandang lekat ke arahku. Aku tersenyum membalas tatapannya.


Kulihat sang guru kembali berdiri.


"Aku tunggu di dalam," ucapnya singkat lalu beranjak masuk ruangan.


Gagal sudah upayaku untuk menghindar. Gagal sudah rencana makan di kantin Mbok Nah. Otak kembali dipenuhi tanda tanya, apakah Pak Alfin nanti akan menganggapku sebagai pacar? Ataukah sebagai murid yang siap dimarahi? Entahlah.


Tak terasa langkah kaki telah memasuki ruang pribadi miliknya. Bagian dinding atas terpasang AC yang menyejukkan ruangan. Sang kekasih yang membuat hatiku berdebar tampak duduk menunggu.


"Silakan duduk," ucapnya mempersilahkan.


Melihat cara dia bicara serta tatapan matanya, sosok guru benar-benar melekat untuk detik ini. Aku memilih diam, menunggu dia bertanya.


"Kira-kira untuk apa saya memanggilmu datang ke sini?" Dia melempar pertanyaan pertama tanpa senyum.


"Kangen kali," jawabku keceplosan.


Aku segera membekap mulut saat ucapan itu tiba-tiba meluncur begitu saja.


Pak Alfin membelalakkan mata, menunjukkan ketidaksukaan atas ucapanku.


"Bisa lebih sopan?" tanya dia dengan wajah serius.


"Maaf, Pak," jawabku pelan sambil tersenyum malu.


"Kenapa nilai matematikamu selalu buruk?"


Aku terhenyak mendengar pertanyaan menyakitkan itu. Di hadapan Pak Alfin yang sekarang, tidak mungkin aku bersikap seperti saat kami di luar sekolah.


"Jawab!" tegasnya dengan menaikkan nada suara.


"Saya kurang menguasai pelajaran matematika," ungkapku jujur.

__ADS_1


"Kenapa kurang menguasai?" tanyanya lagi.


Seketika aku terdiam. Bingung harus menjawab apa. Dia bahkan sudah tau jika aku memang tidak menyukai pelajaran itu sejak SD. Kenapa harus ditanyakan lagi, aku menahan kesal dalam hati.


"Karena guru matematika saya orangnya galak." Aku sengaja menyindir sembari memberanikan diri membalas tatapannya.


"Alesan," balasnya.


"Jangan marah lah, Pak. Saya sebenarnya laper banget. Sebentar lagi katanya ulangan harian, mana bisa konsen kalau dimarahin begini. Pak Alfin juga sudah merampas jam istirahat saya untuk makan di kantin," gerutuku dengan kesal.


"Jangan manja. Kamu harus ingat, di sekolah kita hanya sebatas guru dan murid," tegasnya lagi.


"Iya, saya paham." Aku mengangguk pelan.


"Yang saya heran, kenapa selalu kamu yang mendapat nilai nol? Murid lain nilainya bagus bagus, hampir tidak ada yang di bawah rata-rata. Apa cara mengajar saya menurutmu terlalu cepat?" Dia kembali bertanya membuat tegang suasana.


Aku merenung. Tidak ingin memberitahu jika sebagian dari murid perempuan meminta bantuan si keriting untuk bekerja sama. Mungkin hanya aku satu-satunya yang gengsi dan enggan melirik lelaki menyebalkan itu. Suara deheman Pak Alfin membuatku menoleh seketika.


"Cara mengajar Pak Alfin tidak ada yang salah, cuma saya-nya aja yang nggak paham-paham," ucapku jujur.


"Makanya belajar," tuturnya menasihati.


Berulang kali kata-kata itu dia ucapkan sepanjang malam. Aku merasa semakin minder menyadari keterbatasanku jika bersanding dengannya. Aku takut jika Pak Alfin akan berpaling hanya karena kekasihnya tidak bisa matematika.


Aku tetap bergeming, merasai kegalauanku sendiri. Aku akan keluar ruangan setelah dia meminta. Sesaat kemudian, Pak Alfin membuka tas ransel berwarna hitam lalu mengeluarkan kotak makan kecil berwarna putih transparan. Dua potong sandwich terlihat menggugah selera.


"Silahkan dimakan di kelas, maaf sudah membuatmu lapar." Pak Alfin memberikan kotak makan miliknya di hadapanku.


"Tidak usah, Pak. Saya tadi bercanda kok," jawabku pura-pura menolak.


"Makan aja, tapi jangan di sini, tadi katanya lapar?" ujarnya penuh perhatian. Ketegangan di wajahnya kini mulai mereda.


"Sekarang boleh keluar. Jangan lupa belajar bab yang hari ini sudah saya jelaskan."


"Ini boleh saya bawa?" Aku kembali bertanya untuk sekadar memastikan.


Pak Alfin hanya mengangguk sambil menahan senyum. Coba dia mau tersenyum padaku di kelas. Merupakan hal langka dan luar biasa.


#Muridku_Kekasihku


Versi terbaru (4)


Part sebelumnya


https://m.facebook.com/groups/488655531196343?view\=permalink&id\=2563595583702317


πŸ€πŸ€πŸ€


Saat hendak keluar ruangan, aku mengamati keadaan luar dari balik jendela kantor. Sebagian murid kelas dua ada yang duduk berkumpul di teras kelas. Aku kembali menoleh ke arah Pak Alfin, sepertinya dia memahami keresahan hatiku.


"Bawa saja buku paket ini di kelas. Kotak makannya tidak akan terlihat," ucapnya menyarankan.


Aku menahan tawa. Benar juga dia, buku ini sekaligus bisa dijadikan alasan mengapa aku berada di ruangan ini. Aku kembali berjalan menghampirinya. Lalu mengambil buku paket matematika di atas meja.


"Oh ya, Pak. Nanti soalnya jangan banyak-banyak, ya, jangan yang susah. Aku belum makan, belum sempat belajar," bisikku memohon berharap dia mampu mengerti.


Seketika, tatapan mata Pak Alfin berubah tajam.

__ADS_1


"Kamu saja yang mengajar, biar saya yang jadi muridnya," balasnya ketus.


β€ŒAku terhenyak sambil mengerucutkan bibir menahan kesal. Pak Alfin sama sekali tidak bisa diajak kerja sama. Sepertinya aku harus menghargai sikap profesional dia sebagai guru walau tanggapannya kali ini terasa sangat menyebalkan.


"Mau lebih lama di sini?" tanya Pak Alfin dengan mengangkat kedua alis.


Aku menggelengkan kepala. Lalu beranjak keluar ruangan setelah mengucap salam. Sampai di depan pintu, aku memeluk erat buku paket untuk menutupi kotak makan dari hadapan Bu Ismawati yang mendadak masuk ruangan. Sambil meyunggingkan senyum, aku mempercepat langkah menuju ke kelas.


Tiba di kelas, aku segera menaruh buku milik Pak Alfin di meja guru. Lalu duduk di bangku sendiri. Situasi kelas hening karena beberapa murid sedang belajar sebelum ulangan, sebagian lainnya masih berada di kantin.


Saat membuka kotak makan, Sarah tiba-tiba datang dan duduk di sebelah.


"Kamu nggak bawa uang jajan?" tanya Sarah dengan wajah iba.


Sambil mengunyah sandwich pemberian Pak Alfin, aku menahan tawa. Sarah mengira aku menolak ke kantin karena tidak membawa uang jajan, padahal waktu istirahat pertama hampir habis gara-gara harus menemui Pak Alfin di kantor.


"Traktir dong, sekali-kali," sahutku.


"Biasanya juga aku yang traktir kamu," balas Sarah seraya mengambil buku catatan dari dalam laci.


Aku bersyukur Sarah tidak menaruh curiga atas pertemuanku dengan Pak Alfin beberapa menit lalu. Aku belum siap menceritakan hubungan kami karena di antara aku dan Pak Alfin memutuskan backstreet ketika di sekolah.


Melihat catatan yang tertera di papan tulis, aku mencoba memahami setiap alur rumus yang telah tertulis rapi. Entah kenapa otakku seakan tak mampu bekerja dengan baik saat melihat beragam soal di buku paket. Perbedaan jenis soal yang ada membuatku bingung cara mengerjakannya. Terlebih, Pak Alfin meminta kami menghafalkan setiap rumus yang telah dijelaskan secara berulang-ulang.


Dua potong sandwich telah mengisi perutku yang lapar. Satu persatu murid beranjak duduk di bangku masing-masing dan kompak belajar sebelum ulangan dimulai.


Tak lama kemudian, Pak Alfin datang memasuki ruang kelas dengan pembawaan diri yang penuh wibawa. Di tangannya, dia membawa beberapa lembar soal matematika.


"Asalamualaikum," salamnya dengan berdiri di depan kelas.


"Waalaikumsalam," jawab kami serentak.


"Langsung kita mulai saja ulangan hari ini. Simpan seluruh buku kalian dalam tas. Hanya sediakan pensil dan penghapus di atas meja," perintah Pak Alfin sambil menatap sekeliling.


"Tidak menggunakan buku ulangan seperti biasa, ya, Pak?" tanya Deliana dari arah bangku paling depan.


"Mulai hari ini saya akan menyiapkan kertas untuk tempat jawaban kalian," jawab Pak Alfin memberitahu.


"Ulangan harian sama aja dengan ulangan semester, kalau begitu," keluhku pelan kepada Sarah.


Seketika, Pak Alfin menoleh ke arahku. Tak kusangka ternyata dia mendengar keluhanku yang merasa keberatan dengan keputusannya.


"Beda. Ulangan harian hanya seputar pelajaran yang sudah saya jelaskan hari ini. Hanya lima soal untuk menguji tingkat pemahaman kalian. Sedangkan ulangan semester, kumpulan beberapa soal dari masing-masing bab. Saya rasa kalian semua sudah mengerti," balasnya dengan melirik sekilas. Pak Alfin maju beberapa langkah, kemudian menunjukkan beberapa soal di hadapan kami.


"Saya membuat empat jenis soal yang berbeda. Saya pastikan kalian tidak akan bisa bekerja sama. Kerjakan sendiri - sendiri. Biasakan jujur. Untuk apa nilai bagus kalau bukan hasil pemikiran sendiri. Saya lebih suka kalian mendapat nilai sesuai kemampuan," tuturnya menasihati.


Raut wajah Pak Alfin tampak serius hingga membuat seluruh murid diam mendengarkan. Aku menaruh curiga Pak Alfin diam-diam mengetahui kelakuan murid-murid lain saat ulangan berlansung. Beberapa murid perempuan tampak lesu saat menoleh ke arah Viki.


Usai menaruh buku paket matematika dan catatan ke dalam tas, Pak Alfin segera membagi soal. Lalu menghapus catatan dari papan tulis. Selama kami mengerjakan soal, dia berkeliling untuk mengawasi.


Aku mengucap basmalah agar dimudahkan. Saat sang guru melirik lembar jawabanku yang masih bersih, dia tampak menggelengkan kepala. Suasana kelas mendadak hening. Tak ada yang berani menoleh meminta bantuan seperti biasa. Semua menghadapi soal masing-masing. Waktu demi waktu membawaku dalam suasana pikiran yang kacau. Hanya dua dari lima soal yang mampu kujawab, itu pun aku masih tidak yakin bisa menjawab dengan benar.


"Time out," seru Pak Alfin dengan lantang.


Aku tersentak saat melihat jam di dinding. Tak terasa waktu untuk mengerjakan telah habis. Dengan sigap, Pak Alfin mengambil satu persatu soal untuk segera dikumpulkan. Aku pasrah. Benar-benar pasrah.


Jangan lupa Like - Komennya, ya, siapa tau bisa segera posting part berikutnya, πŸ˜‚

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2