Murid KU KEKASIHKU

Murid KU KEKASIHKU
duapuluhempat


__ADS_3

Aku memilih diam karena kesal dengan pertanyaan Pak Alfin yang membuatku terkesan bodoh dan payah. Belum sepenuhnya paham materi sebab ayah dan bunda begitu mengawasi proses belajar di ruang tamu. Pak Alfin merupakan guru les matematika yang kesekian kalinya setelah beberapa guru lain lebih memilih mundur dan enggan mengajariku lagi. Alasannya mungkin karena mereka tidak sabar.


Aku sengaja mengalihkan pandangan dari hadapan lelaki berkulit bersih itu. Kemudian menatap beberapa soal dalam buku paket sambil berusaha memahami beragam rumus yang nampak rumit. Terdengar dia berdehem tapi aku masih malas menoleh.


"Sudah selesai?" Dia bertanya.


Aku menggelengkan kepala perlahan tanpa ingin mengajak bicara.


"Dipahami pelan-pelan. Di situ sudah ada keterangan rumusnya," tuturnya memberitahu.


Aku menanggapi dengan anggukan kecil. Lalu kembali menatap buku paket berusaha mengarahkan seluruh perhatian pada soal-soal. Entah kenapa otakku hanya mampu mencerna rumus di permukaan. Belum ada satu soal pun yang mampu terjawab sama sekali. Pensil dalam genggaman pun seakan


turut bingung harus menulis apa.


Kulirik Pak Alfin sekilas. Dia tampak asyik memainkan ponsel sambil senyum-senyum sendiri. Jiwa penasaranku semakin terusik. Ingin mengetahui apa yang membuat dia tersenyum aneh begitu.


"Kenapa sih, Pak, asyik begitu. Sedang chattingan dengan siapa?" tanyaku penuh penasaran. Mendadak merasa cemburu tanpa alasan.


"Bukan chattingan. Ini ada cerbung lebay yang kebetulan lewat di beranda," jawabku santai.


Aku menatap tak mengerti. Seketika teringat dengan cerita yang kutulis di facebook beberapa hari yang lalu. Di sana, aku banyak menyindir sikap Pak Alfin yang terkadang memang begitu menyebalkan.

__ADS_1


"Cerbung apa, sih, Pak?" tanyaku lagi.


"Judulnya Dosen Pembimbing Ngeselin," jawabnya memberitahu.


"Jadi Pak Alfin mengikuti cerita itu? pantesan jadi ikutan ngeselin," gerutuku.


"Ngeselin gimana? Tingkah kamu itu yang selalu bikin kesel. Setiap kali dijelaskan materi ada saja alasan-alasan supaya aku yang mengerjakan tugasmu. Iya, kan?" tebaknya.


Aku terdiam sambil menahan tawa. Semua gara-gara tingkah Mbak Aira yang membuatku merasa iri karena ingin memiliki tipe kekasih seperti Pak Denis. Sang dosen pembimbing yang mengaku bersedia menanggung tugas akhir kuliah hingga selesai. Sayangnya Pak Alfin tidak seperti itu. Sikapnya bahkan terlalu profesional dan kurang perhatian.


"Pak Alfin juga lebih ngeselin. Masa gara-gara


"Itu hukuman bagi murid yang ngeselin di kelas," tandasnya.


"Kalau begitu aku juga ada hukuman bagi guru les matematika yang ngeselin," balasku dengan kesal.


"Apa, coba?" sahutnya nantangin.


Gombalan itu berhasil membuat Pak Alfin menahan tawa dengan menoleh ke arah samping. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat ekspresi wajah yang tak datar lagi. Sedari tadi sikapnya terlalu serius dalam menyampaikan pelajaran. Sebagai kekasih, aku ingin mendapatkan sebuah pengakuan. Sikap profesionalnya sebagai guru membuatku bertanya-tanya, apa dia mencintaiku? apa dia serius menjalani hubungan ini? entahlah.


Aku ingin menanyakan tentang perasaannya. Tentang kesungguhan niatnya dalam menjalani hubungan ini. Namun masih belum siap apabila terlibat pembicaraan lebih jauh.

__ADS_1


"Hei, kamu masih sekolah. Mengerjakan PR saja males-malesan begini. Apalagi kalau nanti jadi istri?" tanya dia dengan mengakhiri tawanya.


"Memangnya kalau jadi istrimu harus pinter matematika dulu, apa?" sahutku dengan berani.


Pak Alfin tertawa lagi. Sementara aku merasa sedikit kesal.


"Fani, Fani, belajar dulu yang rajin ya," pesannya kembali menasihati. Ternyata dia selalu mengalihkan pembicaraan ketika aku sengaja menyinggung masa depan.


Rasa kecewa hanya bisa kutahan begitu mendengar respon Pak Alfin yang selalu sama seperti sebelumnya. Pikiran seketika berimajinasi, sanggupkah jika nanti memiliki suami yang tidak romantis seperti ini? Bahkan nampak begitu gengsi jika membicarakan tentang cinta.


Aku memilih diam sembari pura-pura mengerjakan soal. Otak sibuk memikirkan cara agar bisa membuat Pak Alfin cemburu. Dengan begitu, aku bisa mengetahui seberapa sayangnya dia padaku. Ponselku tiba-tiba berdering. Tertera nama Viki yang menelpon. Bocah tengil itu pasti ingin menagih tugas Bu Fatmala yang belum aku kumpulkan. Mendadak muncul ide untuk mengusili sang kekasih.


"Nelponnya nanti malam saja ya, Kak," ucapku singkat lalu segera mematikan sambungan telepon.


Baru kali ini aku terpaksa memanggil sang ketua kelas dengan sebutan Kak. Besok dia pasti menggodaku habis-habisan. Kulirik wajah Pak Alfin yang kini menatap dalam mataku. Aku membalas menatapnya dengan menampilkan wajah tak berdosa. Satu detik, dua detik, tiga detik, dia tak kunjung mengatakan sesuatu. Sesaat kemudian, Pak Alfin malah menjauhkan posisi duduknya dengan menyandarkan punggung pada pembatas kayu. Lalu kembali sibuk dengan ponselnya.


"Pak Alfin...," Aku memanggil. Dia tidak menoleh atau pun menjawab.


Aku berhasil membuatnya cemburu, tapi mendadak galau menyadari sikapnya berubah dingin. Aduh Fani, kenapa malah cari-cari masalah? Pikirku sibuk menyalahkan diri.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2