Murid KU KEKASIHKU

Murid KU KEKASIHKU
dua puluh tujuh


__ADS_3

Usai makan bakso di warung si Mbok, aku sengaja meninggalkan Sarah di kantin sendirian. Sarah tidak boleh tau kalau aku ingin menemui Pak Alfin secara diam-diam. Ada hal penting yang ingin kusampaikan secara langsung.


Tiba di depan ruang kantor guru, aku menghentikan langkah dan melihat siapa saja yang masih di dalam ruangan. Tampak di sana ada Pak Alfin, Pak Wildan dan Bu Ismawati yang sedang duduk santai di bangku masing-masing.


Tanpa ragu, aku mengucap salam sambil berdiri di depan pintu. Mereka bertiga menoleh bersamaan. Pak Alfin tampak sangat berwibawa dengan balutan kemeja batik warna coklat lengan pendek. Lirikan matanya membuat hatiku bergetar indah. Segera kuhampiri meja yang berada di baris kedua. Buku-buku ulangan memenuhi sisi meja sebelah kanan. Sedang sisi lainnya terdapat laptop yang masih menyala.


"Ada perlu apa ya?" tanya Pak Alfin dengan ramah.


"Saya ingin mengumpulkan tugas PR hukuman yang kemarin, Pak," jawabku sambil meletakkan buku ulangan di atas meja.


Kulihat Pak Alfin tampak heran saat menyimak ucapanku. Dia menatap dalam mataku seperti hendak membaca pikiran. Aku membalas dengan tersenyum.


"Sudah selesai?" Dia bertanya dengan raut wajah tidak percaya.


Aku mengangguk ragu, berusaha menahan senyum. Buku ulangan tersebut dia buka perlahan. Matanya fokus mengamati lembar demi lembar dengan seksama. Tiba di halaman soal yang kami kerjakan kemarin, matanya seketika membulat kaget. Di sana ada pesan rahasia yang sengaja kutulis untuknya.


[Selamat Hari Guru, Pak Alfin. Semoga semakin sabar dan ikhlas dalam mengajariku. Semakin sayang dan terima kasih atas seluruh perhatiannya. Satu lagi, nanti pulang sekolah bisa bareng apa nggak? Jawab sekarang Pak. Mumpung masih bisa berhadapan.]


Kutulis pesan itu karena hari ini Pak Alfin tidak ada jam mengajar di kelasku. Itu membuat kami sulit berkomunikasi ketika berada di lingkungan sekolah. Dia menutup buku itu sambil menahan senyum. Seringkali kulakukan ini karena para murid dilarang membawa ponsel.


"Iya, bisa," jawabnya singkat dengan raut wajah biasa saja. Aku tersenyum senang.

__ADS_1


"Terima kasih ya, Pak. Kalau begitu saya pamit ke kelas," ujarku undur diri.


Dia lantas mengangguk tanpa bicara apapun. Guru lain tidak ada yang menaruh curiga ketika melihatku beberapa kali datang menemui Pak Alfin di jam istirahat. Lega ketika nanti dia berkenan mengantarku pulang seperti biasa. Ingin sekali diajak jalan-jalan lalu mencicipi menu baru di kafenya. Kemudian membahas tentang cinta dan melupakan pelajaran matematika sejenak.


"Kok senyum-senyum sendiri di sini? Masuk kelas. Sudah bel dari tadi," ujar seseorang dengan nada tinggi.


Aku segera tersadar dari lamunan indah. Entah sejak kapan Pak Farhan sang kepala sekolah tiba-tiba berdiri di hadapan mata. Aku benar-benar tidak sadar. Ah memalukan sekali.


"I-iya, Pak," jawabku dengan terbata-bata.


Aku menunduk sambil berjalan cepat menuju kelas. Jantungku berdegup semakin kencang begitu menyadari suasana kelas sudah memasuki jam pelajaran kelima. Tidak ada murid yang berlalu lalang di teras maupun halaman sekolah. Kantin sudah kembali sepi. Jam istirahat telah usai. Pintu kelasku tampak tertutup.


Entah kenapa dua telinga ini sama sekali tidak mendengar saat bel masuk kelas berbunyi. Terlalu asyik menemui Pak Alfin hingga berkhayal membuatku bingung bagaimana cara memasuki ruang kelas. Dari luar, terdengar bu Farida menjelaskan pelajaran sejarah. Hatiku berdebar-debar. Pikiran mendadak bingung memikirkan alasan apa yang membuatku terlambat masuk kelas.


"Lho, kenapa ada di luar?"


"Ketinggalan saya, Pak," jawabku lirih.


"Maksudnya? PRnya ketinggalan?"


Aku menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Lha terus?" imbuhnya kembali bertanya.


"Tadi saya kan menemui Pak Alfin di kantor, terus nggak sadar kalau ternyata sudah masuk kelas. Ini mau masuk, saya malu. Kayaknya sudah sudah telat setengah jam," curhatku lirih takut mereka yang di kelas mendengar.


Pak Alfin berdecak lidah. Tak disangka, tiba-tiba saja dia mengetuk pintu kelas. Aku mundur perlahan. Hati kembali berdebar saat mendengar langkah kaki seseorang dari dalam ruangan. Rasanya ingin kabur karena malu sekaligus takut jika Bu Farida marah.


"Ini Bu, ada satu murid yang ketinggalan," ucap Pak Alfin memberitahu.


Bu Farida menoleh ke arahku. Aku langsung menundukkan wajah menyembunyikan malu.


"Lho dari mana? Kenapa baru masuk kelas?" cecar Bu Farida yang membuatku bingung menjawab apa.


Aku terdiam sambil menggigit bawah bibir. Pak Alfin pamit pergi dari hadapan kami.


"Ya sudah masuk," perintah bu Farida mempersilahkan.


Gelak tawa dari teman-teman membuat suasana kelas mendadak gaduh.


"Habis bakso berapa mangkok sampai kelupaan masuk kelas?" ejek Radit yang tadi melihatku makan di kantin.


Aku menahan tawa sekaligus kesal sendiri. Bu Farida kembali menyuruh diam dan fokus mendengarkan pelajaran.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Next


__ADS_2