Murid KU KEKASIHKU

Murid KU KEKASIHKU
tujuh


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€


Kegiatan olahraga hari ini terpaksa diberhentikan. Beberapa guru termasuk Pak Suryo turut ikut membawa Deliana menuju rumah sakit. Aku memandang mobil Pak Alfin hingga keluar gerbang sekolah. Mataku berkaca-kaca - menyalahkan diri sendiri yang tidak mampu berhati-hati.


"Tifani, apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Pak Farhan sang kepala sekolah. Beliau terkenal tegas dan berwibawa.


"Saya tidak sengaja, Pak," jawabku lirih sambil menunduk.


"Meski tidak sengaja, jika terjadi apa-apa dengan teman kamu, kamu harus siap bertanggung jawab."


Aku mengangguk mengerti. Dalam hati merasa cemas apabila terjadi sesuatu dengan Deliana. Semua orang pasti akan membenciku - termasuk Pak Alfin. Dalam diam aku menahan tangis. Kulihat Pak Farhan kembali masuk ke ruangannya.


"Kamu ada masalah apa sama Deliana? Tega banget lempar bola di kepalanya," tuduh Haifa dengan tatapan tidak suka.


"Aku nggak sengaja," jawabku.


Satu persatu teman-teman berdatangan.


Berdiri melingkar membuatku berada di tengah-tengah. Degup jantung semakin kencang kala menatap wajah sinis mereka.


"Kamu tau, Fani? Gara-gara kamu, Deliana pingsan. Gara-gara kamu juga, olahraga hari ini diberhentikan," sentak Rio dengan geram.


Lagi lagi aku hanya mampu diam. Pembelaan seperti apapun, tetap saja aku yang salah. Aku hanya ingin dimengerti.


"Sudahlah, kalian jangan pada nyalahin Fani gini, dong. Dia nggak mungkin sengaja lempar bola seperti yang kalian semua tuduhkan. Ini murni ketidaksengajaan. Kita doakan saja, semoga Deliana nggak kenapa-napa," ucap Viki menengahi keributan.


"Kalian semua bubar sana," teriak Viki dengan lantang.


Sarah datang menghampiri, memintaku duduk menenangkan diri. Di taman samping kantin sekolah, kami saling diam. Pikiranku melayang membayangkan kondisi Deliana saat ini.


"Aku tau kamu sebenarnya nggak sengaja," ujar Sarah seraya mengusap pelan punggungku.


Aku mengangguk sambil terisak. Teringat tatapan Pak Alfin, nada bicara Pak Farhan dan Pak Suryo yang terdengar seperti marah serta tatapan sinis teman-teman, aku kembali dirundung rasa khawatir yang mendalam. Khawatir jika apa yang mereka khawatirkan benar-benar terjadi.


"Fani, dipanggil guru piket di kantor," ucap Rio yang terdengar mengagetkan.

__ADS_1


Aku kembali menerka. Mungkinkah pihak guru akan mamarahi lagi? Akan menyalahkan lagi? Sarah menepuk punggungku perlahan seolah hendak memercikkan semangat.


'Kamu nggak salah, jangan khawatir ya," ucap Sarah menasihati.


Aku mengangguk lalu beranjak berdiri. Berjalan pelan menuju ruang kantor dengan hati berdebar. Tiba di sana, aku segera menemui Bu Ismawati yang hari ini sedang bertugas sebagai guru piket pada hari Sabtu.


"Assalamu'alaikum, bu...," sapaku dengan ramah.


"Waalaikum salam, silahkan duduk." Bu Ismawati mempersilahkan.


Duduk berhadapan, hatiku kembali berdebar serupa seorang tersangka yang harus siap diinterogasi.


"Pagi ini kami sekantor dikejutkan dengan kehebohan di lapangan. Bisa kamu jelaskan, bagaimana kejadian awalnya?" tanya Bu Ismawati memulai pembicaraan.


Aku menghela napas panjang. Memikirkan kata-kata yang tepat untuk diucapkan.


"Kami olahraga seperti biasa, Bu. Saat saya melempar bola di net lawan, tidak sengaja terkena kepalanya Deliana," jawabku dengan mata berkaca-kaca.


"Kami dengar kamu ada masalah sama Deliana?" tuduh Bu Ismawati dengan tatapan penuh selidik.


"Tidak bu, kami teman baik. Saya benar-benar tidak sengaja, Bu," ucapku mencoba menjelaskan.


"Iya, saya mengerti. Kamu tenangkan diri ya, sekarang saya antar kamu pergi ke rumah sakit, kamu ditunggu di sana."


"Deliana bagaimana kabarnya, Bu?" tanyaku harap-harap cemas.


"Saya belum tau bagaimana pastinya, sekarang ambil tasmu. Kita harus segera menyusul ke sana," titahnya.


"Baik, Bu," aku beranjak pamit dan keluar ruangan kantor.


Mengambil tas yang masih tergeletak di lapangan, aku kembali menunggu Bu Ismawati di depan ruang kantor. Mengabaikan puluhan pasang mata yang menatap dengan sinis. Aku mencoba menenangkan hatiku yang resah, dengan segenap doa.


Bu Ismawati mengenakan jaket warna hijau terang, kemudian memberikan helm untuk kukenakan. Pertama kali berboncengan dengan beliau, menyusuri jalanan kota tanpa bicara sepatah kata pun.


Tiba di parkiran, Bu Ismawati menepikan motor lalu kami berjalan berdampingan memasuki rumah sakit di pusat kota. Situasi rumah sakit lantai satu dipenuhi pasien rawat jalan yang duduk mengantri di masing-masing klinik pengobatan. Aroma obat-obatan menguar di seluruh ruangan. Hatiku semakin berdebar memikirkan bagaimana kondisi Deliana saat ini.

__ADS_1


Menaiki lift, aku diajak menuju lantai tiga. Kemudian berjalan di salah satu ruang paling ujung. Langkah kaki semakin pelan ketika melihat Pak Alfin terduduk lesu di ruang tunggu. Di sebelahnya, ada Pak Suryo yang sibuk menerima panggilan. Ingin sekali bicara sebentar dengan Pak Alfin, tapi aku ingat posisinya masih sebagai guru.


"Permisi, Pak," Bu Ismawati bersuara hingga membuat Pak Alfin menoleh ke arah kami.


Dia menatapku sejenak, aku membalas menatapnya lama. Berharap Pak Alfin bisa membaca kesedihan dari mataku yang sejak tadi berkaca-kaca.


"Bagaimana, Pak, keadaannya?" tanya Bu Ismawati sembari duduk di bangku depan.


"Masih belum sadar, Bu," jawab Pak Alfin dengan raut wajah yang begitu cemas.


Ketiga guru ini kompak menatapku bersamaan. Ada sedikit cemburu ketika Pak Alfin lebih mencemaskan gadis lain daripada memikirkan perasaan hatiku yang dipenuhi rasa bersalah yang mendalam.


"Izin introgasi murid saya dulu. Maaf, saya ajak bicara di belakang, takut mengganggu pasien di sini," ucap Pak Alfin sambil beranjak berdiri.


Pak Suryo hanya mengangguk, begitu pun Bu Ismawati. Aku berjalan mengekor di belakang Pak Alfin. Sampai di teras luar rumah sakit, Pak Alfin duduk. Aku masih berdiri di hadapannya. Keramaian pengunjung yang keluar masuk pintu utama membuat suasana terdengar cukup gaduh.


"Ngajak bicara sebagai pacar apa murid, nih Pak?" tanyaku mencoba menghangatkan suasana.


"Tidak usah bercanda," sahutnya dengan menatap tajam.


Aku terdiam. Dia sedang galak. Meski tidak sedang berada di kelas, tidak ada warga sekolah yang melihat, kami berbincang masih di jam pelajaran berlangsung. Aku menyesal menanyakan hal itu dengan pacar yang terlalu profesional seakan lupa cara menjaga perasaan.


"Maaf, Pak," lirihku berkata sambil menunduk.


Rasanya masih terbawa perasaan ketika teringat semalam aku belum sepenuhnya memaafkan kesalahan kemarin. Dalam hati berharap Pak Alfin mau menyelesaikan masalah pribadi terlebih dahulu sebelum membahas masalah yang lain. Hanya saja, aku tidak berani menuntut karena posisiku sekarang hanya sebatas murid.


Next


https://m.facebook.com/groups/488655531196343?view\=permalink&id\=2596068973788311


πŸ€πŸ€πŸ€


Bersambung....


Jangan lupa Like - Komennya.....

__ADS_1


__ADS_2