
#Muridku_Kekasihku
Pak Alfin berlalu pergi menuju kantor guru setelah beberapa murid perempuan tak henti-hentinya tertawa riang. Bel tanda masuk mulai terdengar. Guru piket akan keliling memastikan seluruh murid memasuki kelas masing-masing. Dari lantai bawah tampak Pak Wildan berjalan cepat menaiki anak tangga. Beliau bisa menjelma menjadi guru killer saat melihat murid datang terlambat atau masih menyapu ruang kelas. Dengan langkah tergesa, aku beranjak menuju kelas yang berada di lantai dua.
Seluruh murid berhambur duduk untuk persiapan berdoa pagi. Melihat Deliana tampak sehat bugar, aku sedikit bernapas lega. Gadis berwajah bulat itu hanya melirik sekilas saat aku berjalan melewati mejanya. Tak lama kemudian, kami semua larut dalam doa pagi hari sebelum proses belajar berlangsung.
Rasanya sepi ketika teman sebangku yang biasa kuajak ngobrol kini tidak berangkat sekolah. Sarah memberitahu bahwa hari ini dia sekeluarga sedang pergi berlibur. Menunggu kedatangan guru bahasa Indonesia, aku membuka buku pelajaran dari dalam tas.
"Pengumuman, Bu Heni berhalangan hadir. Tadi malam beliau WA dan ngasih tugas untuk meresensi buku ilmiah yang ada di perpus. Tugas harus dikerjakan dua orang secara berkelompok," ucap Viki memberitahu.
Sang ketua kelas berambut keriting tersebut mengambil spidol dan menuliskan nama-nama murid di papan tulis. Melihat namaku satu kelompok dengan Deliana, aku merasa benar-benar tidak terima.
"Vikiiii," pekikku kesal.
"Jangan ada yang protes. Nama-nama ini berdasarkan perintah Bu Heni," tegas lelaki itu tanpa melirik.
Belum sempat menyampaikan rasa keberatan, dia seakan tau arah pembicaraanku. Mendadak tidak semangat begitu melihat teman yang ingin kuhindari kini justru harus dipersatukan dalam satu kelompok yang sama.
"Bu Heni juga menyampaikan setiap anggota harus kerja cepat dan kompak. Tugas harus bisa selesai dan dikumpulkan hari ini. Resensi buku juga harus berdasarkan kaidah seperti yang sudah dijelaskan kemarin," imbuhnya lagi.
Berlagak layaknya seorang guru, kali ini tak terlihat wajah konyol seperti yang biasa dia tampilkan. Aku tak menyangka lelaki lebay ini ternyata bisa bersikap bijak di hadapan teman sekelas.
Semua murid tampak mempersiapkan alat tulis dan menghampiri salah satu teman yang sudah ditentukan. Satu persatu berhambur keluar kelas dan berjalan menuju ruang perpustakaan. Hanya tersisa kami berdua yang saling diam tanpa ada yang ingin mengajak bicara terlebih dahulu. Aku masih duduk diam di bangku, melirik gadis itu dengan tatapan yang malas.
"Aku mau sekelompok dengan kamu itu pun karena terpaksa. Aku butuh nilai," tandasnya seraya beranjak berdiri dari bangkunya.
Mendengar ucapan itu, aku kesal sendiri. Ternyata sikap Deliana masih sama ketusnya seperti kemarin.
"Sana kerjakan tugasmu sendiri. Tanpamu aku juga bisa mendapat nilai," balasku dengan kesal.
Gadis itu berdecak. Kemudian berjalan menghampiriku dengan membawa buku paket di tangan kanannya.
"Kalau bisa dikerjakan sendiri, tidak mungkin aku mengajakmu bicara," ketusnya.
"Kalau memang terpaksa jangan dipaksakan. Lagi pula, siapa juga yang mau sekelompok sama tukang ngadu kayak kamu."
Sejenak kami saling diam. Aku mengalihkan pandangan dari wajahnya. Kesal dengan sikap Deliana yang mendekatiku karena terpaksa demi sebuah nilai yang selalu ia prioritaskan.
__ADS_1
Memainkan pensil pura-pura tidak peduli, gadis itu tiba-tiba duduk di sebelah.
"Harusnya kamu yang minta maaf karena banyak salah. Tapi karena yang waras harus rela mengalah, oke aku minta maaf. Ayo kita kerjakan tugas bersama," ajaknya.
Aku mencerna ucapan itu baik-baik. Tidak ada ketulusan yang terdengar. Tidak ada keikhlasan yang terlihat dari wajahnya. Meski ucapan itu benar-benar merendahkan harga diriku sebagai teman, aku memilih diam. Tidak mau memperpanjang perdebatan, aku segera mempersiapkan alat tulis dan berjalan keluar kelas terlebih dulu. Gadis itu tampak berjalan mengikuti. Aku memilih membiarkan.
Sampai di depan kelas IPS 5, aku melirik seseorang dari jendela kaca. Wajahnya tampak teduh penuh wibawa. Suasana kelas begitu tenang dan hening karena semua murid fokus mendengarkan pelajaran. Pak Alfin melirik sekilas, aku membalas dengan tersenyum manis. Lirikan tajam sang guru seperti hendak memberi kode bahwa aku tidak boleh berlama-lama melihatnya. Aku sadar, dia pasti akan gagal fokus.
Ruang perpustakaan terletak di sebelah kiri kantor guru. Teman sekelas tampak heran melihat aku dan Deliana memasuki ruangan secara bersamaan.
"Cie, sahabat baru cie," goda Viki.
Aku memiringkan sebelah bibir tanpa ingin menanggapi. Sementara Deliana menampakkan ekspresi tidak suka lalu melenggang pergi begitu saja. Kulihat gadis itu sibuk memilih jenis buku nonfiksi yang berada di rak depan. Malas berada di tempat yang sama, aku beranjak mencari buku di rak paling belakang. Melihat buku berjudul Miracle Number, seketika teringat Pak Alfin yang begitu pandai matematika. Segera kuambil buku tersebut lalu mengerjakan tugas sendiri.
"Kenapa kamu kerjakan sendiri?" Chika bertanya penuh keheranan.
"Teman kamu yang ngeselin itu mana mau ngerjain tugas bareng aku," jawabku.
Meski tidak sesuai sebagaimana perintah Bu Heni, bagiku ini jauh lebih baik daripada mengerjakan tugas penuh rasa keterpaksaan dan setengah hati. Dua jam pelajaran kami lewati di perpustakaan. Selesai mengerjakan, tugas dikumpulkan dan seluruh murid kembali ke kelas.
ππππ
Sesaat kemudian, seseorang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Memakai kemeja pendek warna putih dengan motif batik di bagian tengah, Pak Alfin tampil cool penuh wibawa. Jam mahal yang melingkar di tangan kirinya semakin melengkapi penampilan kerennya. Aura yang terpancar dari wajah putih bersih itu seakan mentransfer energi semangat untukku.
"Assalamu'alaikum warohmatulohi wabarokatuh," sapanya dengan salam.
Kami semua menjawab salam dengan kompak. Entah kenapa aku tak ingin berhenti menatap matanya sedari tadi. Dia selalu membuat rasa cintaku semakin bertambah setiap saat.
"Bagaimana PRnya? Ada kesulitan?" tanya Pak Alfin sambil menatap seluruh muridmurid secara bergantian.
"Paling si Fani Pak, yang lupa kalau ada PR," cibir Rio meledek.
"Enak saja. Tugas dari Pak Guru Ganteng sudah selesai dari kemarin," tegasku membela diri.
Alis tebal itu terangkat saat menatap lekat ke arahku. Aku menahan tawa melihat Pak Alfin menampilkan ekspresi wajah seperti itu.
"Ajeng Fitriani, kerjakan soal nomor satu tanpa bawa buku," ujar Pak Alfin sembari melihat nama-nama dalam buku absen.
__ADS_1
Menunggu hingga beberapa menit, namaku tidak ikut disebut untuk mengerjakan salah satu soal di depan. Padahal mati-matian aku menghafal rumus sebagai persiapan apabila dia hendak memanggil.
Ketika Pak Alfin mulai menjelaskan materi kemudian menulis angka-angka pada papan tulis, aku menatap detail wajahnya penuh kekaguman. Dialah satu-satunya guru muda berparas tampan yang belum menikah.
"Pak Alfin," panggilku.
"Iya?" jawabnya ramah.
"Jangan minta mundur dikit lho ya," imbuhnya seakan tau apa yang akan kukatakan.
Sebagian murid tertawa mendengarnya.
"Bukan Pak, aku minta majuan dikit," pintaku seraya menahan tawa.
"Kenapa?"
Tak disangka, Pak Alfin mau bergerak maju dengan menatapku penuh keheranan.
"Biar semakin jelas memandang wajahku dari dekat," gombalku penuh rasa percaya diri.
Tawa teman-teman sekelas akhirnya pecah seketika. Kulihat Pak Alfin tampak membulatkan mata. Aku terdiam sembari menahan tawa. Entah dorongan apa yang membuatku seberani ini menggombalinya di dalam kelas.
"Sini kamu maju ke depan," perintahnya sembari kembali duduk di kursi guru.
Aku beranjak berdiri merasa sangat istimewa. Hanya saja ketika berjalan mendekat, Pak Alfin menatap tajam ke arahku.
"Ada tugas khusus untuk murid yang berani menggombali saya di jam pelajaran. Kerjakan 20 soal halaman 76. Kumpulkan besok di atas meja saya," perintahnya dengan suara penuh penekanan.
Aku terkejut melihat wajah Pak Alfin begitu tegas dan serius. Seluruh murid yang sedang duduk terdengar menertawakan dengan puas. Aku terdiam antara ingin tertawa, merasa malu dan kesal sendiri. Entah kenapa sikap Pak Alfin beda sekali dengan guru-guru di luar sana yang gantengnya kelewatan.
Terkadang ingin sekali mengingatkan padanya bahwa aku bukan hanya sebatas murid, tapi juga kekasih. Rasanya sedih begitu menyadari aku hanyalah kekasih yang masih dia rahasiakan dari siapapun.
Bersambung....
Yukkk like dan juga komen.
Kasih kritik saran juga boleh.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca..π