Murid KU KEKASIHKU

Murid KU KEKASIHKU
lima belas


__ADS_3

#Muridku_Kekasihku


Versi terbaru (15)


Penuturan darinya membuat rasa haru membuncah di hati. Baru kali ini aku dihadapkan dengan lelaki yang tiba-tiba bertanya seserius itu. Aku berpikir sejenak, sementara dia tampak tak sabar menunggu jawaban.


"Apa kamu berkenan menunggu?" Aku balik bertanya.


Aku sadar, dia adalah lelaki dewasa yang siap untuk menikah. Sementara aku hanyalah seorang murid SMA yang belum siap melangkah sejauh itu. Sejenak kami saling berpandangan. Dari manik hitamnya, ada ketulusan yang terlihat jelas di sana.


"Aku rela menunggu untuk seseorang yang memang layak diperjuangkan," ucapnya dengan wajah yang terlihat menyakinkan.


Lagi-lagi, ucapan itu seakan mampu menumbuhkan bunga di dasar hati. Aku kembali menahan haru hingga pipiku bersemu.


"Tapi aku bukan bintang sekolah kebanggaan para guru. Aku juga bukan bintang kelas yang bisa memperoleh rangking satu," ungkapku hampir tak percaya diri. Namun aku berusaha jujur mengatakan sebuah hal yang mungkin dia telah menyadarinya.


"Meskipun bukan bintang sekolah atau pun bintang kelas, tapi kamu adalah bintang di hatiku," gombalnya lagi.


Pak Alfin tersenyum seraya memandangku penuh arti. Aku tidak menyangka akan muncul pembicaraan semanis ini. Yang kutahu, lelaki di hadapan jarang bersikap romantis. Aku membalas senyum yang telah membuat hatiku bergetar hebat.


"Kalau sudah digombalin begini, hatiku meleleh lho, Pak."


Sesaat kemudian, kami saling tertawa pelan. Mengabaikan pengunjung lain yang melirik meja kami dengan tatapan penuh keheranan.


"Aku tidak akan mendesak untuk kita menikah muda. Kamu masih sekolah. Belajarlah yang rajin. Tekuni hobi menulismu dengan baik. Kejar dulu cita-citamu. Aku siap mendukung dan selalu mendoakanmu," tuturnya dengan suara yang lembut.


Mataku berkaca-kaca saat mendengar kalimat itu. Dalam diam aku bersyukur karena Allah telah mengirimkan lelaki seperti Pak Alfin dalam hidupku. Sebelumnya aku belum pernah menemui seseorang setulus ini selain kedua orang tuaku. Semua yang diawali dengan niat yang baik, semoga berakhir dengan kebaikan, bisikku dalam hati.


Lamunan singkatku terhenti saat mendengar suara dehemannya. Pak Alfin kembali merapikan kertas-kertas yang memenuhi meja. Kemudian menaruhnya ke dalam tas. Aku turut berkemas dan bersiap pulang.

__ADS_1


"Aku tidak mau menculik anak orang terlalu lama. Kamu perlu istirahat. Terima kasih sudah mau membantu," ujarnya dengan tersenyum.


"Sama-sama, Pak Alfin. Terima kasih atas tumpangannya seharian ini. Terima kasih makan siangnya. Terima kasih juga atas perhatiannya selama ini," balasku dengan rasa senang di hati.


"Kalau kamu memanggil 'Pak' kesannya aku tua banget ya," keluhnya.


Mendengar itu, aku tertawa pelan dan malu sendiri.


"Berapa umurmu coba?" tanya dia.


"18 tahun," jawabku sembari menahan tawa.


"Cuma selisih 7 tahun saja. Sebenarnya tidak masalah kamu panggil 'Pak' jika memang sedang berada di lingkungan sekolah atau di mana pun ketika aku bertugas sebagai guru."


"Hehe iya, Mas, Maaf, aku lupa."


Mungkin karena wibawa dia sebagai guru masih melekat seakan membuatku terbiasa memanggil 'Pak'. Aku paham, seseorang yang belum menikah tentu keberatan dengan panggilan itu.


Satu persatu pengunjung mulai berdatangan. Mbak mbak karyawan yang memakai jilbab instan warna hitam dan kompak berseragam batik warna merah tampak mondar mandir melayani pembeli. Sementara beberapa karyawan pria berseragam senada juga sibuk membersihkan piring-piring di atas meja.


Tak lama kemudian, Pak Alfin kembali datang dengan membawa bungkusan plastik putih berlogo nama kafenya.


"Untuk Reza di rumah," ucapnya sambil memberikan bungkusan itu kepadaku.


"Nggak usah repot-repot, Mas," ucapku tidak enak hati dan sekadar basa-basi.


"Nggak repot kok. Cuma tinggal ngambil di dapur," jawabnya santai.


Aku menerima pemberiannya sembari berucap kata terima kasih. Rupanya Pak Alfin juga masih memikirkan adikku, menyayangi seperti layaknya adik sendiri. Sebuah anggukan membuatku harus berjalan mengekor di belakangnya.

__ADS_1


Pukul setengah tiga sore, Pak Alfin mengantarku pulang mengendarai mobilnya. Lagu romantis kembali menemani perjalanan kami. Aku memilih diam menikmati lagu yang sedang dia putar.


🎼


Selama nafasku masih berdesah


Dan jantungku terus memanggil indah namamu


Takkan pernah hati ini mendua


Sampai akhir hidup ini


Kasih ku berjanji selalu menemani


Saat kau bersedih saat kau menangis


Aaa.. kan ku jaga


Aaa.. segenap cinta yang ada


Aaa.. percayalah


Aaa.. satu cintaku untukmu


🎼


Adzan ashar mulai terdengar. Pak Alfin mematikan musik dan menjawab panggilan adzan. Keadaan jalanan yang lenggang membuat dia menambah laju kendaraan. Sampai di tempat biasa, aku beranjak turun sembari mengucap terima kasih. Senyum yang manis ia berikan untuk mengakhiri pertemuan kami kali ini. Selama berangkat dan pulang bersama, aku selalu meminta turun di sebuah gang kompleks lalu memilih berjalan kaki menuju rumah. Ayah Bunda sempat mencarikan ojek online langganan untuk menjemput dan mengantarku ke sekolah setiap hari. Namun hanya sesekali aku menghubunginya. Entah sampai kapan aku merahasiakan hubunganku dari mereka. Kalau sampai mereka tau, pasti Reza orangnya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like - Komennya agar selalu mengikuti cerita ini. Kasih kritik saran juga boleh..


Makasih sudah membaca 😍


__ADS_2