
#Muridku_Kekasihku
"Begini ya Fani, kebetulan tadi beberapa kelas ada ulangan harian. Bisa 'kan bantu mengoreksi soal-soal? Setelah itu...," ucapan Pak Alfin terhenti sejenak karena terdengar bunyi klakson dari belakang. Kemudian kembali melajukan mobilnya membelah jalan raya.
"Setelah itu?" ulangku sambil menatap dengan tak sabar, menduga dia akan mengajak jalan-jalan setelah mengoreksi soal ulangan.
"Kita lanjutkan PR yang kemarin." Dia menjawab dengan wajah datar.
Aku terdiam sejenak. Karena terlalu berharap lebih, ujung-ujungnya malah kecewa. Pak Alfin menoleh sebentar, aku terpaksa menganggukkan kepala perlahan sembari tersenyum.
"Tidak ngajakin pergi kemana gitu?" Aku bertanya penuh hati-hati.
"Memangnya mau pergi kemana? Mau pulang ke rumah jam berapa?" Dia membalas dengan kalimat tanya.
"Ya kemana gitu," jawabku menyarankan.
"Bu Vina hanya mengizinkanmu untuk belajar bukan pacaran," tegasnya.
Tak disangka, ternyata diam-diam Pak Alfin telah meminta izin kepada bunda untuk membawaku berkunjung ke kafenya. Padahal aku sendiri sudah menyiapkan berbagai alasan apabila ayah dan bunda kembali menginterogasi seperti kemarin.
"Cie, ada yang mulai akrab dengan calon ibu mertua, cie," godaku.
"Apaan sih," sergahnya dengan melirik sekilas.
Aku tertawa kecil menyadari lelaki ini ternyata begitu gengsi. Hati terasa lega karena ayah bunda sudah lebih dulu mengenal Pak Alfin sebagai sosok guru yang baik dan bertanggung jawab. Kualihkan pandangan ke arah samping membiarkannya fokus menyetir.
__ADS_1
****
Tiba di kafe, beberapa karyawan menyambut sang atasan dengan sapa dan senyum yang begitu ramah. Aku dipersilahkan duduk di salah satu sofa yang terletak di sudut ruangan. Vas bunga berhias rapi di dinding ruangan. Pak Alfin tampak sibuk memantau kinerja para karyawan. Tak lama kemudian, lelaki yang tampak berwibawa itu menghampiri meja tempatku duduk. Dia datang bersama salah satu karyawan bernama Doni.
"Bagaimana hari ini?" tanya Pak Alfin sembari duduk tepat di depanku. Dia menaruh tas hitamnya di atas meja kayu berbentuk bulat.
"Alhamdulillah lancar. Stok daging dan sayuran aman. Beberapa buah-buahan saja sih yang tadi di pasar sempat kehabisan." Lelaki bertubuh subur itu menjelaskan dengan gaya sedikit lebay. Pak Alfin menanggapi dengan sebuah anggukan.
"Laporan keuangan hari ini nanti malam aku cek ya," ucap Pak Alfin.
"Siap. Mau pesan apa Nona?" Lelaki itu menawarkan pesanan kepadaku.
"Kamu harus makan makanan yang bernutrisi. Biar gagal fokusnya hilang," sahut Pak Alfin mencibir.
"Ya sudah kalau begitu aku minta segera dilamar."
"Waduh, kayaknya keberadaan saya di sini cuma jadi obat nyamuk. Mau lanjut bekerja ke dapur aja. Silahkan Pak Alfin dan Dedek Fani dilanjutkan ngobrol seriusnya," goda Doni sambil beranjak pergi dari hadapan kami.
Aku kembali menahan tawa mendengar Doni berbicara seperti itu. Sesaat kemudian, Pak Alfin menatap dalam mataku tanpa bicara sepatah kata pun. Aku membalasnya dengan tersenyum manis.
"Coba sekarang aku tanya, sudah siap jadi seorang istri?" tanya Pak Alfin sambil memperbaiki posisi kaca mata yang membingkai wajahnya.
Candaan berupa permintaan dilamar ternyata mendapat tanggapan serius darinya. Pertanyaan tersebut terdengar cukup berat akibat ulah mulutku yang susah terkontrol.
"Bercanda kok Pak, beneran," ujarku sambil berusaha menahan malu.
__ADS_1
"Tapi pertanyaanku itu serius," tandasnya.
Aku benar-benar kikuk. Mendadak salah tingkah sendiri. Hatiku berdebar-debar karena telah memancing obrolan terlalu jauh dengan lelaki dewasa seperti Pak Alfin.
"Kalau ditanya siap apa belum, ya jawabannya pasti belum siap. Lagi pula menikah itu kan butuh banyak persiapan," ungkapku berkomentar.
"Siapa yang ngajakin nikah?" balasnya kemudian.
Mataku terbelalak. Malu dengan ucapanku barusan sekaligus kesal dengan tanggapannya.
"Aku cuma tanya, memangnya sudah siap jadi istri?" lanjutnya sambil terkekeh sendiri.
Aku terdiam, memikirkan salahku di mana? Selama berpandangan,wajahnya tampak lebih menghangat dari pada saat mengajar. Suara perutku yang kelaparan terdengar nyaring di tengah keheningan yang kami buat. Aku mengalihkan pandangan, malu karena ketahuan lapar.
"Silahkan pesan makanan apapun yang kamu mau. Kebanyakan bercanda jadi kelaparan 'kan?" godanya.
Sesaat kemudian, Pak Alfin mengambil buku menu dan menyerahkan kepadaku. Dengan penuh semangat, aku memilih santapan untuk menu makan siang. Pilihan tertuju pada steak daging yang menjadi menu favorit di kafe ini. Pak Alfin lantas memanggil salah satu karyawannya untuk segera membuatkan pesanan.
Membuka tas ransel hitamnya, dia mengeluarkan beberapa lembar kertas jawaban soal yang siap untuk dikoreksi. Tak hanya satu kelas, kurang lebih ada tiga kelas yang siap menanti penilaian.
"Apa kamu keberatan dengan gaya pacaran seperti ini?"
Mataku membulat.
BERSAMBUNG
__ADS_1
kritik saran sangat diperlu