
Beberapa menit kemudian, Pak Alfin masih saja diam tak menjawab panggilanku. Suasana belajar mendadak hening. Percuma menatap lembaran kertas soal jika hati dan pikiran selalu gagal fokus. Ide usil itu telah membuat Pak Alfin terlihat cemburu.
"Pak Alfin, sini dong duduknya," panggilku.
Dia hanya melirik sekilas lalu kembali menatap layar ponsel tanpa bicara apapun. Mendadak bingung karena baru pertama ini aku melihatnya cemburu. Sikap dinginnya membuatku merasa galau sendiri.
"Jangan dicuekin begini dong, Pak. Tambah nggak konsen ini," curhatku.
"Fani, kamu tau kan? Kedatanganku ke sini untuk apa? Tidak ada kepentingan apapun selain menjadi guru les matematika," tegasnya dengan raut wajah serius.
Aku terdiam sejenak. Merutuki diri sendiri yang menyesal telah membuat suasana menjadi kacau.
"Tadi yang nelpon itu... "
Aku hendak ingin menjelaskan tentang semua hal yang menjadi sebab kesalahpahaman. Ucapanku terhenti ketika mendengar derap langkah kaki seseorang. Menoleh ke samping, bunda datang menghampiri kami. Gagal sudah upayaku untuk membicarakan bahwa sesungguhnya orang yang menelpon hanya Viki. Bukan selingkuhan.
Jantungku terus bergetar saat bunda mengamati buku paket matematika dan lembaran kertas di atas meja persegi berbahan kayu. Aku pura-pura fokus mengerjakan dengan menulis ulang soal di kertas tersebut.
"Bagaimana, Pak, hasil belajarnya?" bunda bertanya sembari duduk di tepi gazebo.
"Ini masih mengerjakan soal, Bun." Kujawab lebih dulu pertanyaan itu sebelum Pak Alfin menceritakan bagaimana kelakuanku.
__ADS_1
"Masih mengerjakan soal, Tante," ujar Pak Alfin membenarkan ucapanku.
Aku melirikkan mata sambil tersenyum lega.
Kemudian makan cemilan untuk istirahat sejenak.
"Ya udah segera diselesaikan. Pak Alfin tadi bisanya kan cuma satu jam. Jadi yang serius belajarnya." Bunda kembali menasihati.
"Siap Bunda, Sayang. Doakan putrimu bisa pandai seperti Pak Alfin ya," ucapku sambil melirik ke arah satu-satunya lelaki di tempat ini.
Mereka berdua kompak tertawa kecil. Perasaanku berangsur lega begitu melihat wajah Pak Alfin begitu manis dengan senyum yang hangat. Tak lama kemudian, bunda beranjak pergi setelah terdengar suara bel dari luar.
Aku kembali menatap lelaki itu. Dia membalas menatapku juga. Aku tersenyum saat kami bertatapan seperti ini.
"Tadi aku cuma mau jelasin kalau...."
Ucapanku terhenti karena Pak Alfin tiba-tiba memotong pembicaraan.
"Kalau kamu tidak mau mengerjakan, kita akhiri saja les hari ini," ancamnya tak main-main.
"Terus gimana dong PRnya?" balasku dengan menampilkan ekspresi sedih.
__ADS_1
"Kamu dari tadi tidak mau serius mengerjakan. Hanya tulis ulang soal. Kapan selesainya?"
Aku menundukkan wajah sembari menggigit bawah bibir. Kadang aku ingin bertanya, kenapa otak ini begitu susah menelan rumus-rumus matematika? Jauh sebelum mengenal Pak Alfin, aku tidak menyukai pelajaran ini sejak lama.
"Jangan bilang gagal fokus lagi. Belajar sama siapapun kalau mau serius dan bisa fokus juga tidak akan kelamaan begini," imbuhnya lagi.
Seketika aku terdiam lagi. Apa mungkin karena Pak Alfin cemburu jadi mendadak sensitif seperti ini? entahlah.
"Ya sudah deh, Pak. Kalau Pak Alfin bisanya cuma satu jam, tidak apa-apa kok. Ini malah sudah satu jam lebih. Aku nggak enak kalau jadi ngrepotin begini. Maaf ya, Pak. Lain kali bisa 'kan, ngajarin aku di sini lagi?" ucapku lirih penuh permohonan.
"Kalau ceritanya seperti ini lagi lebih baik pamit dan kamu bisa cari guru les yang lain," ancamnya kembali.
Apa yang Pak Alfin katakan membuat hatiku mendadak sedih. Aku segera mengusap air mata dengan ujung jari. Lalu menoleh ke samping karena malu jika Pak Alfin melihat aku tiba-tiba ingin menangis.
"Mau nangis dulu apa mengerjakan PR dulu?" godanya sambil mendekatkan posisi duduk.
Mataku masih berkaca-kaca menahan sedih dan kesal sekaligus malu bersamaan. Kulihat lelaki itu malah menahan tawa sambil memperhatikan lembar kertas dan soal dalam buku paket.
"Please, setidaknya ada yang bisa kamu kerjakan di les pertama hari ini," tukasnya.
Ketegangan di wajahnya kini mulai mereda. Aku mengangguk menyanggupi. Kali ini berusaha keras untuk bisa konsentrasi penuh pada soal-soal yang Pak Alfin berikan. Mendengarkan dengan seksama materi yang kembali dia jelaskan. Mengarahkan mata pada lembaran kertas dan buku secara bersamaan. Lagi-lagi, tanda tanya besar menyeruak, aku ingin tau alasan mengapa akhir-akhir ini dia hanya menganggapku sebatas murid. Bahkan tidak memberi kesempatan untuk berbicara sebagai seorang kekasih.
__ADS_1
Saat hendak menanyakan seputar perasaan, aku kembali teringat ancaman darinya. Kali ini aku sedang berada pada kendalinya. Tak bisa berkutik apalagi menggombal seperti biasa.
BERSAMBUNG