
πππ
Di hadapkan dengan suasana yang menegangkan membuatku seakan kehabisan kata-kata. Aku beranjak kembali menuju kamar, melupakan rencana awal untuk makan malam bersama keluarga. Semakin lama mendengar ayah marah, airmata yang sedari tadi kutahan, rasanya ingin tumpah. Hanya saja, aku malu jika menangis di depan mereka. Aku bukan lagi anak kecil yang merengek manja seperti dulu.
Di dalam kamar, aku menangisi diri sendiri. Pembelaan seperti apapun di mata ayah aku tetap salah. Entah kenapa Deliana yang kondisinya sudah terlihat pulih kini makin gencar menyalahkanku.
Suara ketukan pintu membuatku berhambur mengambil tisu di atas nakas. Mengusap kasar airmata yang perlahan turun membasahi pipi. Aku beranjak duduk lagi sambil pura-pura membaca novel. Bunda datang dengan membawa sepiring nasi dan air putih.
"Nangis boleh. Tapi jangan sampai nggak makan," tukasnya.
Duduk di tepi ranjang, Bunda memberikan sepiring nasi, lalu menaruh air putih di atas meja.
"Dimakan sampai habis. Bunda tungguin di sini," tuturnya penuh perhatian.
Kami duduk sejajar di sofa kamar.
Meski sedang tak berselera makan, aku terpaksa harus makan. Dalam diam aku berharap semoga tidak ada edisi marah season kedua. Suasana kamar yang didominasi warna merah muda mendadak hening. Wanita yang memakai baju gamis warna ungu tersebut tampak memainkan ponsel. Begitulah, bundaku tipe bunda kekinian. Aku pun terpaksa menyembunyikan status whatsapp darinya.
Ibu Vina Hermawan. Begitulah namanya di kenal. Istri Bapak Fahmi Hermawan yang memiliki nama hampir sama denganku. Kecantikan bunda begitu memancar alami. Memiliki tubuh semampai, kulitnya bersih dan selalu terawat dengan baik. Di usia hampir 40 tahun, bunda masih tampak awet muda.
"Bun... Aku takut kalau ayah marah lagi," curhatku galau.
"Kalau memang ada masalah di sekolah, kenapa nggak langsung cerita sama Bunda?"
Aku terdiam sambil menundukkan wajah. Perut mendadak kenyang sementara makanan di piring masih setengah. Pertemuan dengan Pak Alfin seharian ini sejenak melupakanku dari masalah. Rayuan manis sang kekasih hati membuatku lupa dengan Deliana.
"Maaf, Bun. Seharian ini semua orang nyalahin Fani. Mulai guru-guru sampai teman-teman. Padahal, kejadian tadi pagi benar-benar tidak sengaja," ucapku kembali menjelaskan.
Bunda menarik napas pelan seraya menatapku iba.
"Bunda ngerti kok. Mana mungkin kamu tega mencelakai teman sendiri," ujarnya sambil mengusap pelan pucuk kepala.
"Yah, masuk, Yah," panggil bunda sambil menatap pintu kamar.
__ADS_1
Mataku membulat terkejut mendengar seseorang membuka hendel pintu. Sepertinya ayah sedari tadi berada di luar kamar. Rasanya sedikit takut saat ayah tiba-tiba masuk dan duduk di tepi ranjang menghadapku.
"Yah, senyum itu ibadah," ujar bunda mengingatkan.
So sweet sekali mendengar bunda mengatakan itu. Kulirik sekilas wajah ayah, dia tak henti menatap tajam sedari tadi.
"Ayah tadi tidak marah. Belajarlah bersikap dewasa. Ayah hanya sedikit kesal, ketika ada masalah seperti ini kamu malah nggak pulang-pulang. Tadi ayah sengaja pulang lebih awal untuk mengurus masalah ini," tutur ayah panjang lebar.
"Maaf, Yah, tadi sepulang sekolah diminta guru mengoreksi soal-soal," jawabku memberitahu.
Sambil pacaran. Lanjutku dalam hati.
Tentu ayah tidak boleh tau jika pertemuanku dengan Pak Alfin bukan hanya sekedar mengoreksi lembar soal.
"Kalau memang ada kepentingan dengan guru, oke bunda maklumi. Tapi harus ngasih kabar. Biar bunda juga nggak khawatir. Kamu anak gadis harus bisa jaga diri," pesan bunda dengan bijak.
Aku mengangguk mengiyakan.
"Iya, Yah, paham. Sekali lagi Fani mohon maaf," ucapku.
"Habis makan cuci piring. Jangan langsung tidur. Belajar dan salat dulu." Bunda kembali menasihati.
Tak lama kemudian, mereka berdua keluar kamar bersamaan. Hati berangsur lega ketika ayah tak marah lagi. Aku beranjak menuruni anak tangga menuju dapur.
πππ
Duduk di kursi belajar, aku mulai menyiapkan jadwal buku untuk hari senin besok. Melihat pelajaran matematika tertera di jam ketiga, hati mendadak resah. Pertemuan sebelumnya, Pak Alfin memberi lima soal sebagai PR. Sementara soal itu belum tersentuh sama sekali.
Kuraih ponsel yang tergeletak di ranjang. Membuka aplikasi whatsapp berharap Pak Alfin membalas pesan. Ketika data mulai dihidupkan, notifikasi muncul hingga menumpuk. Mataku tertuju satu pesan yang masuk darinya.
[Haduh haduh... Yaudah belajar. Ada PR jangan dilupakan]
Kubaca ulang pesan sebelumnya.
__ADS_1
[Jangan galak sama muridmu yang manis ini, Pak. Kalau pun aku gagal fokus, itu karena gombalanmu yang kelewat romantis]
Entah kenapa setiap kali berbalas pesan dengan Pak Alfin, rasanya aku bahagia. Pesan biasa yang kubaca berulang-ulang, selalu menciptakan getaran indah di hati. Ucapan manisnya di kafe juga masih terngiang-ngiang di kepala.
Perasaan seketika berubah saat melihat buku PR matematika masih terbuka di atas meja belajar. Membuka buku paket dan catatan harian, otakku terasa sulit memecahkan satu soal pun. Entah kenapa aku iri melihat teman-teman yang otaknya pandai mencerna angka angka yang bagiku membingungkan.
[Pak Alfin, malam ini saya habis dimarahin ayah garaΒ² masalah Deliana. PR-nya masih nganggur nih, Pak. Pusing pala Fani. Dibantu ya... π]
Kukirim pesan itu saat Pak Alfin sedang online. Centang dua seketika berubah biru. Tak lama kemudian, dia menelpon.
"Yang sabar ya, Deliana kelihatannya sudah sehat. InsyaAllah masalah ini segera selesai. Aku kirim rumusnya saja ya, tolong dikerjakan sendiri. Nilaimu masih banyak yang kosong," tegasnya.
Aku terdiam sembari menghela napas.
"Katanya diseriusin? Ayolah Pak Say, bantuin aku," rayuku dengan suara semanis mungkin.
"Apa? Pak Say? Hahahaha..." Terdengar gelak tawa dari ujung sana.
"Sekali lagi, maaf. Bukan berarti nggak sayang. Ini tugas kamu. Kerjakan sebisanya. Nanti aku buatkan rumus plus contoh kelima soal yang bisa kamu tiru. Kurang baik apa, coba?" imbuhnya menjelaskan.
"Ya udah deh, Pak. Please jangan aku terus dong yang di panggil maju," pintaku.
Lagi-lagi Pak Alfin hanya tertawa menanggapinya.
"Kita lihat saja besok. Sudah ya." Dia memutuskan panggilan secara tiba-tiba.
Aku berdecak sebal. Rayuan kali ini memang tidak mempan. Ketika Pak Alfin terlalu profesional? Aku bisa apa... Hiks
Bersambung
Jangan lupa like komennya ya, Kak.
Kasih krisan jugaaa boleh....
__ADS_1