
#Muridku_Kekasihku
πππ
Kehadiran Pak Alfin sempat menghebohkan warga sekolah. Hanya dia satu-satunya guru muda berparas tampan yang belum menikah. Terkadang aku cemburu, saat mengetahui beberapa murid perempuan terang-terangan menyukainya.
Masih duduk di tempat semula, aku menahan senyum kala mendengar ucapan menggelitik itu. Tiga jam lagi Mas Alfin yang kusayang akan memposisikan dirinya sebagai kekasih.
"Jaga sikapmu," ucapnya singkat sambil menoleh sekilas.
"Jaga perasaanku juga," balasku sambil menahan tawa.
Seketika, Pak Alfin menatap lekat. Manik hitamnya kembali membuat hatiku berdebar. Entah apa yang ada di benaknya kala mendengar ucapanku yang selalu ingin menggodanya.
"Jangan mengajak bicara jika tidak terkait kepentingan sekolah," tegasnya sambil beranjak berdiri.
Wajah Pak Alfin tampak serius seperti saat mengajar di kelas. Tak kutemukan ekspresi beberapa menit lalu saat dia sesekali menahan tawa. Dari matanya tersirat tatapan yang membuatku harus bisa menyesuaikan diri.
"Oke, Pak," jawabku menyetujui.
Dia menganggukkan kepala. Kemudian mengajakku kembali masuk dan berjalan menuju ruang tunggu. Langkah kakiku terhenti saat melihat Pak Suryo dan Bu Ismawati terlibat pembicaraan serius dengan kedua orang tua Deliana. Detik demi detik membawaku dalam suasana pikiran yang kacau. Memikirkan Kondisi Deliana serta nasibku saat harus berhadapan dengan mereka.
"Tifani, sini, Nak," panggil Bu Ismawati dengan suara melembut.
Pak Alfin menoleh sebentar, memberiku sedikit senyuman seolah ingin menguatkan. Aku mengatur napas berharap tidak tertimpa masalah besar. Duduk bersebelahan dengan Bu Ismawati, wanita muda berbusana modis yang merupakan ibunya Deliana tampak menatapku dengan sinis. Beda dengan lelaki di sebelahnya yang berwajah lebih ramah.
Aku memilih menunduk diam. Bingung harus berbicara apa. Aku tidak pernah menyangka akan di hadapkan dengan suasana menegangkan seperti ini. Meski Pak Alfin duduk tak jauh dariku, tidak mungkin aku meminta perlindungan dia sebagai kekasih.
"Fani, Ibu mau tanya. Kamu ada masalah dengan Deliana?" tegur Ibunya Deliana dengan menaikkan nada suara.
βAku menggeleng sembari berkata tidak. Entah kenapa semua orang mengira aku sengaja melempar bola karena memiliki masalah pribadi dengan gadis itu. Pernah setahun lalu, aku dan Deliana menjadi kandidat calon ketua OSIS perwakilan kelas XI Bahasa A. Meski pernah menjadi rival dan aku dinyatakan tidak bisa masuk seleksi berikutnya, tidak pernah ada maksud untuk menyakiti Deliana seperti yang dituduhkan banyak orang.
"Jangan cuma gelang-geleng. Jawab jujur Fani. Deliana sering cerita sama ibu, kamu nggak suka dia di kelas 'kan?" gertak Ibunya Deliana setengah marah.
Mataku membulat seketika. Pak Alfin tampak terkejut mendengar ucapan itu. Konflik yang pernah terjadi di antara aku dan Deliana hanya murni saingan biasa. Setelah dinyatakan kalah pun, aku tetap memberikan semangat meski hubungan pertemanan kami tidak pernah seakrab dulu.
"Saya tidak sengaja, Bu. Tadi pagi mungkin karena kurang fokus. Saya benar-benar mohon maaf," lirihku berkata dengan mata berkaca-kaca.
"Kalau permintaan maafmu bisa membuat anak Ibu langsung sembuh, saya maafkan," balasnya ketus.
"Mah," sergah suaminya dengan tatapan tidak enak hati.
__ADS_1
Aku menatap satu persatu guru yang menemani. Mereka kompak diam. Begitu juga dengan Pak Alfin. Bahunya tampak nyaman untuk bersandar. Hanya saja, kali ini dia belum berkata sepatah kata pun untuk membelaku sebagai murid.
"Bagaimana kondisinya, Bu?" Akhirnya dia bersuara.
"Alhamdulillah sudah sadar, Pak. Cuma kepalanya masih pusing. Untung saja sakitnya tidak sampai parah. Kalau sampai anak saya kenapa-napa, kami akan bawa masalah ini ke jalur hukum," sentaknya dengan menatap tajam ke arahku.
"Mah, sabar, Mah," suaminya bertindak menenangkan.
"Pah, masalah seperti ini tidak bisa dianggap enteng. Papah tau sendiri kan, Deliana bisa sampai pingsan terus pusing-pusing seperti itu. Kasihan, Pah," cerita Ibunya dengan raut wajah yang tampak begitu cemas.
"Saya sebagai guru olahraga meminta maaf kepada Bapak, Ibu terkait adanya masalah ini. Tadi saya menemui dokter, untung saja tidak terjadi masalah serius di kepalanya. Mungkin Deliana kaget dan langsung pingsan. Saya harap kondisinya bisa segera pulih," tutur Pak Suryo yang membuat perasaanku berangsur membaik.
Ibunya Deliana hanya mengangguk. Aku tetap terdiam menahan gemuruh di dada.
"Saya mohon kepada pihak sekolah untuk memberikan sanksi khusus untuk murid nakal seperti ini," pinta Ibunya Deliana masih tidak terima.
Murid nakal? Aku pun tidak terima dinilai sebagai murid nakal oleh beliau. Penilaian tidak pantas seperti itu jelas menurunkan sisi baikku di hadapan Pak Alfin yang menjalin hubungan denganku baru sebulan ini.
"Nanti kami bicarakan dengan kepala sekolah, Bu," tutur Pak Suryo dengan menghela napas berat.
"Saya boleh jenguk Deliana?" Aku memberanikan diri bertanya.
"Silahkan." Ayah Deliana mempersilahkan.
Isyarat mata, Pak Suryo meminta Pak Alfin turut menemaniku menjenguk Deliana sembari memberitahu nomor kamar di ruang Anggrek. Pak Alfin berjalan lebih dulu, sementara aku mengekor di belakangnya. Sampai di depan ruangan yang dimaksud, Pak Alfin membuka pintu dengan pelan sembari mengucap salam. Suster yang ada di dalam segera membereskan bekas makan gadis itu sambil mengulum senyum dan beranjak keluar.
"Pak Alfin," sapa Deliana dengan salah tingkah.
"Gimana kondisinya? Sudah sembuh kan?" tanya Pak Alfin yang kini sudah berdiri di tepi ranjang pasien. Sedari tadi, aku belum menampakkan diri di hadapan gadis itu.
"Masih sedikit pusing, Pak" jawabnya.
"Hey sini, jangan ngumpet di situ," ucap Pak Alfin memanggil.
Berjalan pelan, rasa bersalah semakin menghampiri. Kulihat Deliana tampak terkejut melihat kedatanganku. Seketika, dia menghadap ke samping saat aku mendekat.
"Del, aku minta maaf ya sampai membuatmu pingsan dan dirawat di sini. Aku benar-benar nggak sengaja," ucapku mencoba menjelaskan.
Deliana tetap diam tanpa menoleh sedikit pun. Aku tidak menyangka sikapnya akan seperti ini. Menoleh ke arah Pak Alfin, lelaki ini tampak canggung.
"Deliana, tadi Tifani sudah menjelaskan kepada kami semua, dia tidak sengaja melakukan itu. Jangan marah, ya," ujar Pak Alfin dengan bijak.
__ADS_1
Perlahan, Deliana kembali menoleh ke arah kami. Wajahnya tampak tidak suka dengan kehadiranku menjenguknya.
"Dari awal dia memang tidak suka dengan saya, Pak. Dia iri karena saya yang terpilih menjadi calon Ketua OSIS perwakilan kelas, sementara dia tidak terpilih. Bilang saja kamu puas melihatku di sini. Iya, 'kan?" tuduh Deliana dengan nada marah.
Aku menggeleng sembari menatap Pak Alfin dengan mata berkaca-kaca. Sejak Deliana menjadi murid nomor satu di sekolah, kami tidak saling akrab bukan karena aku iri dengan segudang prestasi dan jabatannya. Aku menarik diri dari pergaulan karena ingin fokus menulis. Aku menjadi sedikit pendiam karena sering dikejar deadline yang membutuhkan sunyi untuk merangkai kata-kata.
Sesaat setelah itu, Deliana kembali memalingkan wajah. Aku menghela napas panjang. Kesalahpahaman ini ternyata bisa sampai di telinga para guru.
"Bukan begitu, Del. Jangan salah paham. Aku tidak pernah iri melihatmu menjadi ketua OSIS di sekolah. Aku justru senang kelas kita menjadi kelas terpandang karena memiliki ketua OSIS yang cerdas seperti kamu," ujarku.
"Omong kosong," sahutnya ketus.
Pak Alfin memintaku mundur beberapa langkah. Sesaat setelah itu, dia beranjak pamit tanpa membahas sesuatu tentang kami.
πππ
Ketiga guru masih terlibat obrolan di ruang tunggu bersama orang tua Deliana. Sementara aku memilih duduk sambil menunggu di tempat lain. Gemuruh batin yang menyesakkan kini semakin membuat hatiku galau. Memikirkan konflik yang bersemi kembali dengan Deliana, memikirkan sanksi dari pihak sekolah, lalu nasibku di hadapan teman-teman satu sekolah. Sedari pagi, semua orang hanya melihatku sebagai sosok yang bersalah, sebagai sosok yang bermasalah tanpa mengetahui permasalahan sesungguhnya.
"Pak Alfin, antar Tifani kembali ke sekolah, ya. Biar saya yang mboncengin istri saya, kasihan panas-panas," ujar Pak Suryo dengan senyum yang lebar.
"Oh, iya, Pak," jawab Pak Alfin dengan tersenyum.
Bu Ismawati dan Pak Suryo bergegas keluar rumah sakit lebih dulu. Sementara Pak Alfin sibuk dengan benda pipih dalam genggaman tangan. Sejenak kemudian, kami berjalan menuju area parkiran mobil tanpa bicara apapun. Dari belakang, aku melihat Pak Alfin sebagai sosok guru yang penuh wibawa. Cara dia berjalan, cara dia menatap, dan cara dia berbicara selalu membuat hatiku bergetar.
Sampai di mobil, dia melepas kaca mata. Menatapku dengan menahan senyum.
"Kenapa, Pak?" tanyaku memulai obrolan.
"Kamu itu memang murid nakal," ucapnya sambil menghidupkan mesin.
Aku terhenyak. Kesal mendengar cibiran yang keluar dari bibirnya. Memalingkan wajah darinya, aku memilih diam seraya mengedarkan pandang ke arah kendaraan lain dari balik jendela kaca.
"Sudah berani mencuri hati gurunya sendiri," imbuhnya lagi.
Aku menoleh seketika. Lelaki di sebelah tampak tersenyum hingga membuatku menjadi salah tingkah.
Bersambung.
πππ
Jangan lupa Like - Komennya ya... Kritik saran atau berbagi pengalaman juga boleh.....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca...