
#23 Takdir Mempertemukan kita
Angel mendongakkan kepalanya dan melihat jelas wajah Dylan, "Ka-parat" Ucapnya tanpa sadar.
"Angel... Kita bertemu lagi" Dylan malah sengaja tersenyum, ia duduk berjongkok dan menatap lekat Angel.
"Pernahkah kau merindukanku? " Tanya dylan, dan tentu sadar angek berdecak kesal "Merindumu? Apa aku merindu perilaku semena menamu itu? ".
Raffael yang ternyata berada di belakang Dylan hanya menonton pertunjukan 2 orang dewasa di dengan mereka.
"Gina.., Ayo kita pergi ke kamar" Ajak Raffael, "Baiklah.. Ma, aku pergi ke kamar dulu yaa.. Bye bye" Gina segera menarik lengan Raffael dan pergi ke kamar mereka.
🐦•••••
"Apakah kami merasa ada yang aneh dengan mama dan Om Dylan? " Tanya Raffael ketika mereka berada di kamar mereka.
"Aku merasakan hal sama, mereka seperti seorang kekasih yang sudah kama terpisah" Jawab Gina.
"Apakah mereka adalah ayah kita? " Raffael tampak serius, ia merasa perasaan akrap terhadap Dylan dan reaksi ibunya saat bertemu dengan pria itu.
"Ayah? Aku tak pernah mengenal sosok itu" Gina memalingkan wajah nya dari Raffael, Ia sangat berharap Dylan bukanlah ayah kandungnya, bagaimana bisa ayahnya menjelma menjadi sosok yang ia sukai sekaligus ia benci.
" Aku tau.. Kau membenci ayah kita"
"Jangan panggil ayah kita... Aku tak mau memiliki seorang ayah Pengecut!" Bantah Gina.
"Gina! Dengar kakak...pernahkan kamu memikirkan perasaan mama? " Tanya Raffael
"Cukup kak! Aku tau jelas perasaan mama, dan hal itu aku rasakan ketika Mama melihat om Dylan". Gina tampak kesal dengan nada bicaranya yg kukai meninggi, entau kenapa tiba tiba ia menargetkan dylan sebagai tersangka, padahal tadi ia membuang jauh jauh pikiran tersebut.
Ia kembali menatap kakak laki lakinya "Kakak harusnya tau itu, mama... Banyak berkorban untuk kita, tapi kau malah memikirkan ayah? Kau durhaka"
"Gina bukan begitu, Bila memang Om Dylan orang yang menyakiti mama... Pernahkah kau berfikir untuk menyakitinya balik? "
"Pernahkah kakak tau.. Jika sebenaranya mama menyukai pria itu?" tanya Gina kembali.
"Lalu kenapa? " Raffaek menjawab pertanyaan Gina dengan pertanyaan, gadis kecil itu menjawab "Sama saja dengan menyakiti perasaan mama".
Raffael menghela nafasnya pelan, adiknya ini memang pandai bicara.. Ia selalu kalah bila berbicara dengan Gina, seperti berbicara dengan seorang Wartawan.
__ADS_1
----
"Ka--kamu?! " Terkejut Angel sambil melangkah mundur menjauhi Dylan, sebenarnya hatinya sedang menghafalkan kalimat "Bagaimana ini.. Bagaimana ini"
"Angel... Sudah lama ya, bagaimana kabarmu?" Dylan terus menghampiri Angel hingga Wanita itu mementok tembok.
"Menjauh dariku! " Seru angel, "Angel.. Kau belum Menjawab pertanyaanku " Ucap dylan sembari membelai wajah Angel.
" Kenapa...? Lagi lagi, takdir mempertemukan kita lagi? " Batin angel, ingin ia menangis namun ia tak akan melakukannya di depan dylan.
"Haha... " Angel malah tertawa, lalu ia menatap dylan "Menjawab pertanyaan mu? Seharusnya kau tau bagaimana kabarku".
Dylan tak mengerti apa yang di katakan angel, seolah tau apa yang dylan tanyakan angel berkata " Kabarku sangat baik setelah meninggalkanmu."
Dylan menatap angel dengan lemas, sungguh hanya terasa sakit mendengar kalimat yang keluar dari mulut angel "Kau benci padaku? ".
"Tak perlu kau tanyakan lagi, seharusnya kau juga tau akan hal itu" Jawab angel sinis, bagaimana bisa pria ini tidak tau sebrtaoa bencinua dia pada dylan.
Dylan yang merasakan perubahan angel hanya pasrah, lagi pula ia tau yang membuat angel seperti sekarang ini adalah dirinya.
"Beri aku kesempatan 1 Kali untuk memperbaiki hubungan Ngel, bukankah mereka anakku? "
"Mereka tak membutuhkan ayah sepertimu! " Seru angel membalas bentakan, "Yang benar saja" Lanjutnya lirih.
" Angel.. Apa kau tak pernah memikirkanku? " Reflek Angel menatap Dylan, rahangnya mengeras mendengar kalimat yang diucapkan Dylan.
Ait matanya sudah sampai di pelupuk mata,ia mencoba untuk tidak menangis do hadapan Dylan, Bagamana harga dirinya terjatuh lagi di hadapan pria itu..., " Memikirkan mu? Untuk apa memikirkan orang yang tak pernah memikirkanku! "
Dylan meraih tangan Angel, "Angel... Aku minta maaf".
Angel menepis tangan Dylan "Tidak perlu maafmu! ".
Cup!
Dylan tiba tiba mencium Angel, membuat angel terpaku dan tak bisa berbuat apa apa, seperti sudah pasrah dengan apa yang akan dylan lakukan selanjutnya.
Dylan menyatukan jemari jemari tangannya dengan Angel, Tangan satunya menarik tengkui angel.
"Perasaan ini... " Pria itu merasa jantung nya berdetak kencang, jauh lebih kencang dari ketika ia bertemu dengan Angel.
__ADS_1
"Masih sama seperti dulu... ", Wajah dylan tampak ada semburat merah meski tak terlihat jelas.
Angel yang masih diam membatu segera sadar ia mendorong dylan "Menjauh dariku! Kaparat".
"Ish... " Desis dylan, bibir bagian bawahnya mengeluarkan sedikit darah yang ternyata gigitan Angel sebelum mendorongnya.
"Kau Bajingan dylan! " Teriak Angel, "keluar dari rumahku! " lanjut nya sembari menunjukan sebuah pintu menuju ruang tengah.
"Angel... " Ucap dylan lembut.
"Keluar lewat situ! Belok kanan lurus! " Potong Angel.
"Mama.. Kenapa kau marah marah, apa kau menangis?" Angel menoleh dan melihat Raffael, dan jujur seribu jujur ia melupakan tentang anak anaknya sakirng emosinya, sedih marah senang tercampur jadi satu .
"Fael... Kenapa kamu belum tidur? " Angek segera berjongkok dna memegang kedua bahu Raffael.
"Aku mendengar brisik brisik disini...jadi, kalian bertengkar? " Tanya Raffael.
"Enggak kok sayang, tadi cuma mama liat kecoa.. Mama takut jadi mana teriak teriak, ganggu kamu tidur ya? "
Sebelum Menggeleng anak laki laki itu menatap Dylan.
"Jadi... Dimana gina? " Tanya Angel, "Dia suda tidur" Jawab Raffael .
"Baiklah... Aku pulang dulu " Ucap Dylan di sela pembicaraan mereka.
"Om... Ini sudah malam, tidak tinggal? " Tanya Raffael, pria itu menatap Angel yang tampak kesal.
"Tidak... Lagipula, disini hanya ada 2 kamar " Jawab Dylan kemudian.
"Om secara tidak langsung mengatakan kami miskin"
Dylan terpaku... Tak ia sangka, ia salah bicara sekaligus kagum betapa cerdiknya Rafael ini sama sepertinya dulu meski dulu ia tak seirit Rafael saat bicara, "Jadi.. Om harus gimana?"
"Tidur di kamarku, kasurku lumayan panjang.. kebetulan gina tidur di kasut lantai "
Angel merengut kesal ketika melihat dylan di geret oleh Raffael... "Apa yang kamu pikirkan...sayangku? " Batinnya yg sebenarnya sangat ingin ia katakan untuk Raffael.
Angel kembali ke kamar nya untuk tidur, sangat lelah dan juga menyiapkan batre untuk hati esok tentunya..
__ADS_1