
Dylan sedang memilih barang barang di mall, untuk soal membeli barang ia sering membelinya sendiri, kenapa? Karna sekalian jalan jalan menikmati indahnya kota Sidney.
Ia suntuk di rumah dusuk manis menikmati coklat hangat da tentu meski ia cuti ia harus memantau perusahaan.
Menikmati dunia luar tanoa memikirkan lainnya lebih enak ya kan.. Meski status jomblo masih berpegangan erat di KTP.
Ia tak peduli dengan keadaan sekitar bahkan para gadis yg meneriki nya mirip dengan bias mereka.
Bila Dylan sadar mungkin ia tak akan terima mendengar ia di samakan dan bahkan ia menganggap dirinya lebih tampan dari para Idola Negara asal kelahirannya itu.
Berasa selesai memilih barang barang Dylan berjalan santai menuju kasir, karna tak melihat sekeliling ia menabrak seorang gadis yg tengah memilih barang barang.
Namun barang barangnya yg malah berjatuhan, karma mungkin.
"Ah! Maaf! Aku.. Tidak sengaja, akan ku bantu " Ucap gadis itu membungkuk sebelum ia kembali tegak dan berjongkok mengambil barang barang Dylan.
Dylan terkejut, ada ya seorang gadis yg di tabrak justru merasa bersalah dan meminta maaf dan bahkan mengambilkan barang barang nya, seharusnya ia yg meminta maaf dan merasa bersalah.
Dylan memperhatikan gadis di bawah yg tampak sedang memasukan barang ke dalam Kantong plastik dengan panik.
Terlihat bekas di raut wajahnya, alis yg bertautan dan gerakannya yg gelagapan ia tampak sangat gugup "Manis" Tak terasa Dylan menarik simpul di bibirnya.
"Tuan tuan.. " Dylan tak sadar bahwa gadis itu sudah selesai memungutnya.
"Tuan" ,lamunan dylan buyar dan matanya bertemu manik Coklat bening milik si gadis.
Deg!
darahnya berdesir cepat dan jantungnya berdegup kencang, "Perasaan apa ini" Batinnya.
"Tuan apa kamu baik baik saja" Lagi lagi si gadis membuyarkan lamunannya.
"Ah aku baik" Dylan segera memalingkan wajahnya , entah kenapa ia merasa tak mampu menatap gadis di depannya. Gadis itu terlihat heran "Ini barangmu tuan".
Setelah memberiian kresek berisi barang barang dylan, gadis itu kembali membungkuk "Aku benar-benar meminta maaf".
Lagi lagi dylan tersenyum, "Gadis ini lucu, aku jadi ingin menidurinya" Batinnya.
"Ini bukan salahmu, ikut aku " Dylan meraih tangan Si gadis, dan apa yg pertama kali yg ia rasakan... Sebuah lengan kenyal dan kulit yg super duper halus membuatnya berhasrat.
Shit! Kenapa kulitnya begitu halus? Umpatnya.
Si gadis mengekori Dylan dari belakang hingga sampai di kasir, setelah menbaayar dykan menyodorkan kresek tadi
"Tuan, apa ini" Dylan baru sadar Gadis itu memiliki suara yg sangat ubdah bagaikan lonceng.
"Untuk kau" Ujar dylan , "Loh kok? Ini kan barang barang tuan.. Lalu bagaimana dengan tuan? " Lagi lagi tingkah lucu gadis itu membuat Dylan terkesima.
__ADS_1
Baru pertama kali bertemu gadis yg begitu lucu membuat orang gemas.
"Aku bisa membelinya kembali " Ia menyubit pipi kenyal Si gadis merasa tak tahan untuk melakukan nya.
"Ah" Gadis itu meringis, Dylan berbalik hendak pergi namun bajunya di tarik membuatnya mengurungkan niatnya dan menoleh ke belakang.
"Makasih ya! " Dylan melihat jelas wajah cantik gadis itu, ia tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya yg kecilnya sekecik biji mentimun dan matanya yg menyipit membuat siapapun akan meleleh
Dan ternyata Dylan salah satu orang yg dapat meleleh di buatnya, "Te-tentu "
Jantungnya berdegup kencang, ia merasa dada di bagian kirinya terasa menyengat dan membuat tubuhnya seperti di saluri listrik.
Ia melanjutkan untuk keluar
Gadis tadi masih di tempat, "Angel ", Panggilan Rio membuatnya mengalihkan pandangannya.
Ya gadis itu, Angelica Cyzarine... Mungkin orang yg dapat merubah kesan buruk Dylan terhadap wanita.
"Kamu membeli barang segitu banyak, kamu memegang uang" Tanya rio, Angel menggeleng menjawab bahwa ia tak membawa uang.
Rio tersenyum, "Aku akan membayarkannya untukmu" Ucap Rio.
"Tidak! " angel melarangnya, rio heran "Tidak? Maksudmu tidak perlu di bayar?", angel mengangguk.
"Angel, berbelanja di mall sama seperi di mini market, harus membayar" Jelas Rio, angel menggeleng.
"Apa kau sudah memilih oleh oleh untuk aunty? " Tanya Rio, angel mengangguk lalu pergi ke tempat di mana tadi ia sedang memilih.
Mansion Williams
Di ruang belajar, Dylan sedang melamun mengingat wajah gadis tadi tak lain Angel.
Sesekali ia tersenyum membuat siapapun yg melihatnya mengira ia orang gila.
Wajar lah, beda saat orang yg sedang pegang Ponsel lalu tertawa atau tersenyum tiha tiba orang akan mengira sedang chattingan dengan pacar, lah ini... Beda ceritanya.
Ia merogoh ponsel dan memanggil Gavin.
"Apa lagi lan, aku lagi sibuk! " Jawab orang di ujung sana setelah mengangkat panggilan dylan.
"Kupotong gajimu! " Ancam dylan
"Eh! Baik baik, tolong jangan potong gajiku.. Apa yg bisa ku bantu? " Tanya gavin.
"Kuingin kamu menemukan seseorang untukku " ucap Dylan.
__ADS_1
"Siapa namanya? " Tanya gavin kembali yg membuat Dylan merasa dirinya sangat bodoh seketika, IA LUPA MENANYAKAN NAMANYA!!
"emhh.. Itu.. Itu" Dylan mengedarkan matanya sambil menggaruk tengkuknya yg sebenarnya tak gatal, seperti orang yg sedang berbicara dengannya ada di depannya.
"Jangan bilang kau tidak tau!!" Seru Gavin membuat Dylan menjauhkan Ponselnya reflek.
Dylan tau menjawab, terdengar desahan Gavin "Kau punya fotonya? "
"Tidak! " Jawab dylan, "Kau Gila Evano Dylan Williams!!! " Teriak Gavin.
"Siapa Evano Dylan Williams?! " dylan ikut berteriak, beginilah mereka bila sedang berdebat.
" Kau! " Gavin emosi, "Gue DYLAN EVANO WILLIAMS, Apa kau bahkan tak hafal nama majikanmu sendiri? "
"Kau jahat" Gavin merajuk,
Tut tut tut...
Dylan mendesah, "Sialan! " Kesalnya sambil membanting vas bunga yg berharga jutaan.
Ia tak marah karena berdebat dengan Gavin, tapi karena ia tak bisa mencari identitas gadisnya.
Drtt...drtt
"Apa! " Bentak Dylan.
"Apa kau marah denganku?! Ku kira hanya becanda barusan " Jawab orang di seberang sana.
Dylan mendesah " Aku hanya kesal tak bisa mencari gadis itu" Jelas Dylan yg membuat Gavin bungkam di ujung sana.
"Apa dia ternyata seorang wanita?! " Terkejut gavin, Dylan membalas dehaman "Hmm.. "
Ia bingung, bukankah boss nya ini tak pernah pilih pilih gadis, "apa kau mulai serius dengan wanita boos? "
Tanpa Gavin ketahui Boss nya sudah merah padan "Diam kau! "
"Baik, boss apa kau tau.. Si peternak sapi ada di kota" Jelas Gavin.
"Lalu? "
"Dia menelfonku dan bilang untuk Reuni bersama" Ujar gavin
"Kapan? "
"Nanti malam " jawab gavin antusias.
"Eeh.. Baiklah aku akan datang" Dylan mematikan Panggilan, bila di pikir pikir sudah lama ia tak bertemu teman temannya.
__ADS_1