
"A..apa?" pekik Eli yang kini tengah terkejut setelah mendengar kalimat Mr Rieve.
"Oh ya,berapa orang yang tinggal di tempat itu?" tanya nya lagi mengenai berapa jumlah penghuni panti nya.
"D..du..dua puluh lima orang Mr" jawab nya dengan tergagap saking terkejut nya.
"Baiklah akan aku pastikan mulai sekarang mereka tidak
akan kelaparan lagi,si nerikan aku alamatnya" ujar Mr Rieve mantap membuat Eli terharu ingin menangis.
"Thank you Mr" ujar Eli berterimakasih dengan suara sayu nya dan kini bahkan mata nya sudah berkaca-kaca.
Eli tak lagi bisa menahan getaran dalam suara nya karena dia kini malah hampir menangis kuras..oh tuhan tidak bahkan dia sudah
menangis.
"Ya sudah selesaikan dulu makan malam mu setelah itu istirahat lah"
pesan nya kemudian mengakhiri panggilan nya dan kini Eli malah
menangis tersedu-sedu di meja makan.
Tampak bberapa orang kini tengah memperhatikan Eli dan kini dia rasa dia sedang menjadi pusat perhatian mereka, tapi mereka juga tengah berusaha untuk tidak mendekat dan malah memberikan ruang untuk nya agar dia bisa menangis dengan leluasa tanpa gangguan.
Saat ini Eli berusaha untuk memberanikan diri menemui Mr Rieve setelah dia menyelesaikan tugas nya meski dia
meminta Eli untuk mengirim via email saja,tapi Eli sungguh sangat ingin menemui nya secara langsung.
Selain untuk menunjuk kan hasil kerja nya Eli juga ingin berterima kasih padanya karena Mr Rieve sudah mengirim makanan ke panti
asuhan..dia bahkan menerima kabar itu dari Lany yang tinggal di panti asuhan juga karena memang dia
adalah puteri pengasuh di panti itu.
Kami berdua sama tidak beruntung nya saat lahir,tapi
lain dengan Lany yang memang jauh lebih beruntung karena pengasuh
panti itu mengadopsi nya menjadi anak angkat..sementara dia,dia bahkan tetap tidak memiliki orang tua hingga aku sedewasa ini.
Sudah cukup,dia tak ingin membahas tentang diri nya yang sangat malang sejak kecil..kini Eli sedang berjalan dengan perasaan gugup dan berdebar menuju ke sebuah ruangan besar yang ditunjukan oleh salah seorang pelayan tadi..ruangan itu di yakini nya adalah ruangan Mr Rieve.
__ADS_1
Sejak awal memang mereka mengatakan bahwa itu adalah ruangan Mr Rieve,dan Eli datang dengan sebuah flashdisk yang berisi hasil dari pekerjaan nya selama beberapa jam ini.
Eli sudah berada tepat di depan pintu ruangan itu,dia kini memberanikan diri untuk mengetuk pintu dan menunggu
jawaban dari si pemilik ruangan.. tapi setelah beberapa menit berlalu,tak kakjung dijawab ini
membuat nya semakin bimbang dan berpikir apakah Eli akan
mengetuk nya sekali lagi atau pergi saja dari tempat itu..karena mungkin saja dia sudah tidur sekarang.
Baiklah seperti nya dia akan kirimkan via email saja dan
dia juga akan sampaikan langsung ucapan terimakasih nya besok pagi,tapi saat Eli sudah berbalik.. dia melihat seseorang sudah berdiri di
belakang nya dengan mengenakan piyama tidur tidur dan kehadiran orang itu malah hampir membuat nya terjatuh ke belakang karena terkejut.
Eli pun kini tengah memegangi dada nya berusaha untuk menetralkan rasa terkejut nya.
"Sedang apa di situ?" tanya nya singkat dengan mata menatap ke arah Eli yang kini sudah penuh malu.
Mr Rieve kini tampak baru saja selesai mandi karena Eli melihat rambut nya yang memang masih basah.. Eli tampak menelan ludah.
menyerahkan tugas ku Mr" ujar Eli sambil mengulurkan flashdisk tanpa berani menatap nya.
"Bukankah aku meminta mu untuk mengirimkan nya melalui email saja, tidak perlu menyerahkan
langsung padaku seperti ini" kata Mr Rieve menatap ke arah Eli dengan tatapan penuh tanya.
"A..aku..emm aku sebenar nya ingin mengucapkan terimakasih pada Mr,
karena Mr sudah berkenan untuk mengirim makanan ke panti" ujar Eli berterimakasih kepada Mr Rieve atas kebaikan hati nya.
"Hanya itu?" tanya nya dan membuat Eli mendongak karena pertanyaan Mr Rieve tidak dia pahami.
'Apa maksudnya dengan hanya itu' batin nya bertanya-tanya.
"Ya, maksud nya Mr?" tanya Eli yang memang masih pollos tak tau apapun kini menatap Mr Rieve dengan tatapan mata bulat nya.
Mr Rieve tampak sedang berjalan ke arah Eli,jarak mereka begitu dekat
hingga Eli berniat untuk menyeret langkah nya untuk sedikit mundur, tapi Mr Rieve bahkan tidak membari nya ruang.
__ADS_1
Posisi Eli saat ini tengah terhimpit di antara dirinya dan pintu
ruang kerja Mr Rieve sekarang.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya nya masih tepat berada di depan Eli.
Dan entah tuli atau bagaimana hingga Eli masih saja tetap menatap wajah tampan nya,entah mengapa
otak nya juga seperti mendadak lumpuh dan membeku dibuat nya..mungkin jantung nya juga sudah berhenti berdetak sekarang ini.
"Kau tau Eli,saat ini kau sedang mengundang masalah" ujarnya dengan suara yang berbeda dan
Eli malah hanya berkedip lalu berkata.
"Apa itu Mr?" tanya nya begitu polos.
"Apa kau tahu Eli,saat ini kita sedang ada di rumah berukuran yang luas nya bahkan lebih dari seribu meter persegi..hanya ada
kita berdua di ruangan ini dan juga sudah larut malam di tambah dengan kau yang kini berdiri di hadapan ku sekarang" ujar nya dengan suara yang semakin berat khas pria menahan sesuatu.
"Maaf Mr, sungguh aku tidak bermaksud untuk mengganggu
anda" kata Eli dengan cepat menyanggah nya.
Secepat detak jantung nya saat ini..Eli bahkan sudah bersiap untuk lari secepat yang dia bisa,atau jika mungkin Eli sangat ingin menguap begitu saja hingga tidak
menimbulkan jejak apapun..tapi sayang nya Eli itu masih manusia biasa bukan manusia super, jadi itu hal yang sangat mustahil untuk dia lakukan.
"I want to kiss you Eli" ujar nya dan malah membuat mata Eli membulat sempurna.
Entah itu semacam ijin atau keinginan atau apa lah itu,tapi tanpa Eli menjawab iya Mr Rieve bahkan sudah meraih wajah nya dan meluumat bibir nya dengan bibir Mr Rieve yang sudah saling berpagut.
Eli pun merasa jika saat ini mendadak kepala nya seakan menjadi ringan,seolah tidak ada
otak didalam nya yang bisa membantu nya untuk berpikir jernih.
Eli bahkan sudah merasa bahwa saat ini Eli sedang melayang,sangat ringan, dan dia sudah tak bisa lagi berpikir apapun selain merasakan sensasi aneh di sekujur tubuh nya seolah seluruh raga nya juga ingin ikut terlibat dalam ciuman perdana nya itu.
Meski dia juga mencoba dengan bersusah payah untuk
menolak nya tapi pada akhirnya Eli pun menyentuh lengan kokoh sang dosen..sementara Mr Rieve masih terus mendesak Eli dengan ciuman memabukkan nya hingga Eli kini sudah tak bisa lagi lari kemanapun, selain menikmati nya.
__ADS_1