
"Tapi maaf Mr,kenapa anda terdengar sangat marah?" tanya Eli kemudian.
Ya karena Eli tentu harus tahu mengenai alasan mengapa dia sangat marah pada Eli sekarang ini.
"Asal kau tai saja nona Elianor,priq brengsek itu hampir mencium mu saat aku datang ke club' sialan itu" ujar nya dengan nada suara yang sangat ketus bahkan tanpa menatap Eli.
"Benarkah?" ujar Eli yang bahkan sama sekali tidak mengingat nya.
"Kau masih bisa bertanya hah?" geram Mr Rieve yang kini sudah berbalik ke arah Eli dan kini Mr Rieve mencengkeram lengan Eli dengan keras.
Tubuh Eli bisa merasakan luapan
amarah yang amat besar dibalik kerasnya cengkeraman tangan dosen tampan nya itu,dan Eli juga bisa melihat bahwa kini lengan nya sudah tampak memerah karena cengkraman tangan Mr Rieve.
"Mr,sakit" kata Eli dengan suara lirih sambil menatap ke arah nya dan Mr Rieve pun melepaskan cengkeraman nya dengan menghempaskan
lengan Eli sedikit kasar.
"Listen Elianor,jangan pernah berpikir untuk mengulangi nya lagi atau kau akan merasakan akibatnya" kata Mr Rieve setelah dia duduk di sisi ranjang dan begitu tidak sabar nya lalu meraih wajah Eli dan
kemudian membuat Eli menatapnya.
Suara tegas Mr Rieve sungguh terdengar menyeramkan di telinga Eli dan entah mengapa mata nya kini menjadi berair,wajah nya kian memanas dan Eli merasa bahwa saat ini Eli sudah menangis.
"Aku tidak tahu mengapa kau semarah ini Mr,apa yang membuat mu sangat marah padaku?" ujar Eli dengan suara lirih sementara air mata nya kian berjatuhan.
"Apa kau tidak memikirkan hal buruk apa yang bisa terjadi Eli,bayangkan bagaimana jika tangan kotor pria itu
menyentuh tubuh mu ini dan apa jadinya jika sedikit saja aku terlambat hah?" tegas Mr Rieve masih dengan suara menahan amarah dan kekesalan menatap tajam Eli yang kian menunduk takut.
"Maaf" ujar Eli dan kini Eli pun menutup wajah nya karena dia merasa sangat buruk sudah berada dibawah kemarahan nya yang begitu besar yang memang karena kecerobohan nya sendiri.
"Apa anda akan melaporkan ku pada ibu asrama Mr?" tanya Eli dengan sedikit was-was.
__ADS_1
"Dengar Eli aku akan menemuinya langsung dan mengatakan bahwa mulai detik ini kau tidak akan tinggal
di asrama lagi dan akan ku pastikan bahwa kau dalam pengawasan ku" ujar Mr Rieve dengan nada suara yang begitu dingin dan membuat Eli semakin takut.
"Mr,kumohin jangan lakukan itu,asrama itu adalah satu-satunya tempat yang bisa kutinggali saat ini..kumohon Mr jika anda ingin
membuatku dikeluarkan dari asrama lalu aku harus tinggal dimana.. Mr kumohon hiks" pinta Eli dengan kekalutan tak karuhan,dia benar-benar menyesal sekarang.
"Mr,aku mohon hiks..aku berjanji tidak akan mengulangi nya lagi tapi jangan biarkan aku kehilangan
beasiswaku..maafkan aku Mr kumohon hiks" tak tau lagi harus apa kini Eli dengan berani nya menjatuhkan diri dari ranjang dan berlutut di depan Mr Rieve memohon belas kasihan hingga Mr Rieve mau memaafkan nya dan kemarahan nya bisa mereda.
Di luar ekspektasi nya..bukannya mereda, Mr Rieve justru bangkit berdiri dan meninggalkan Eli
begitu saja yang masih berlutut dengan wajah penuh air mata.. Eli menangis dikamar besar itu sendirian dan dia juga sudah bisa mengingat semuanya sekarang.
Dia mengingat semua yang terjadi kemarin malam ini adalah kamar
pribadinya dan saat ini Eli juga masih mengenakan pakaian yang dia pakai semalam,semuanya masih
***
Eli menduga-duga apakah Mr Rieve benar-benar datang dan menyelamatkan gadis bodoh seperti nya dari niat busuk bajjingan seperti Ramon..Oh sial..bodoh kau Eli pantas saja Mr Rieve sangat marah, dia adalah dosen mu dengan dia melihat kelakuan mahasiswi nya yang mabuk bersama pria tentu membuat nya geram.
Mungkin juga Mr Rieve berpikir bahwa nanti kelakuan Eli dan teman-teman nya bisa
merusak citra kampus kami..ya itu alasan paling logis yang bisa Eli pikirkan saat ini.
Sarapan Eli diantar kekamar Mr Rievei dan tampak pelayan juga bahkan membawakan pakaian
ganti untuk nya kekamar dimana dia berada lalu meminta Eli untuk segera membersihkan diri.
"Aku akan pergi dari tempat ini,aku sudah baik-baik saja" ujar Eli pada pelayan yang mengantarkan makanan dan juga pakaian ganti untuk nya.
__ADS_1
"Maaf nona tapi tuan Rieve meminta ku untuk memastikan bahwa anda sudah memakan sarapan dan juga
mandi" balas si pelayan dengan ramah.
"Aku sudah baik-baik saja dan katakana padanya aku sangat berterima kasih,lebih baik aku pergi saja dari sini sekarang" balas Eli yang tak lagi tahan dengan keadaan yang semakin membuat nya tak karuan.
"Saya mohon nona..jangan membuat nya marah" ujar si pelayan itu dengan tatapan mata penuh harap.
"Dia marah?" tanya Eli penasaran.
"Ya kurasa begitu tepat nya sejak tuan Rieve membawa anda kemari
dalam keadaan mabuk" jelas si pelayan dan membuat Eli semakin merasa bersalah dan tak karuan.
"Astaga..apa yang sudah ku lakukan" gumam Eli dan dia tampak mengusap wajah nya dengan penuh rasa penyesalan.
"Tuan Rieve juga mendatangkan dokter pribadinya untuk memeriksa keadaan anda nona,dan bahkan tuan Rieve sama sekali tidak tidur semalaman hanya untuk memastikan bauwa anda baik-baik saja" lanjut si pelayan semakin membuat dada Eli sesak.
"Sungguh,astaga ya tuhan" ujar Eli terkejut bahkan dia hampir pingsan setelah mendengar penuturan pelayan itu.
"Ya nona saya rasa kepala asrama kampus anda juga baru saja keluar dari ruang kerja tuan sekitar dua
puluh menit yang lalu" imbuh mau semakin membuat Eli terpekik.
"Hahhh" Eli bahkan hampir berteriak
karena dia benar-benar tidak bisa menahan diri dari keterkejutan yang dia tau.
"Nona jangan berteriak,sudah lah sekarang cepatlah anda mandi,karena jika tuan Rieve
marah pasti semua yang ada di depannya akan terkena imbas nya, termasuk saya nona" ujar si pelayan menyarankan Eli untuk tidak mencari masalah lain karena akan berdampak pada semua penghuni rumah.
"Baiklah aku akan mandi dan bicara padanya..maafkan aku karena ini semua memang salahku,tidak seharus nya semua orang ikut menanggung akibatnya" gumam Eli lalu beranjak menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
__ADS_1
Pelayan itu keluar dari kamar besar Mr Rieve dan Eli pun bergegas mandi lalu mengganti pakaian nya dengan yang pelayan tadi bawakan..dengan keberanian yang tersisa dan juga persiapan mental untuk menerima kemungkinan terburuk nya, Eli berjalan menuju
ruang kerjanya karena dia tidak bisa membiarkan masalah ini terus berlarut.