
"Ya Ve" meski pun ponsel Eli sudah sangat kuno,tapi setidak nya masih bisa dia gunakan.
"Eli apa kau sudah mendengar kabar tentang paman Bill?" tanya Vea terdengar dengan suara panik saat bicara.
"No Ve,why?" jawab Eli cepat karena dia sudah penasaran.
"Dia baru saja dilarikan kerumah sakit Eli karena mendadak terkena serangan jantung" jawab Vea memberitahu inti dari permasalahan nya.
"What,tapi bukan nya dia sangat sehat?" jawab Eli masih tidak percaya.
"Iya dan sekarang putera nya yqng bernama Boris datang ke kedai dan mengatakan bahwa cafe itu sudah di jual,dan pemilik baru nya akan menggunakan bangunan nya untuk keperluan nya sendiri.jadi hari ini Cafe sudah resmi di tutup Eli" jawab Vea dengan suara sedih nya.
"Whattt,are you serious?" pekik Eli dengan suara tertahan,dan tepat saat itu juga Mr Rieve tampak tengah melintas dan kini Eli mulai berpikir bahwa apa yang Mr Rieve katakan pada nya mengenai kemungkinan apa yang bisa dilakukan oleh mantan isteri gilanya itu benar-benar telah terjadi.
"Hey Ve,please don't cry kita akan
menemukan solusi lain nya" bujuk Eli mencoba menenangkan Vea meskipun diri nya juga tidak bisa tenang.
"Kalau aku tidak bekerja di sana aku tidak bisa membayar sewa
apartment ku Eli,dan jika aku tidak lagi bekerja,aku juga tidak akan bisa memberikan uang untuk biaya
sekolah adikku" ujar Vea yang kini sudah menangis karena merasa diri nya benar-benar buntu.
__ADS_1
"Ya aku mengerti hal itu Ve,kita akan menemukan jalan nya jangan menyerah" kata Eli mencoba memberikan kekuatan pada sahabat nya,dan saat itu Eli melihat Mr Rieve dan Eli pun memberanikan diri untuk
menghentikan langkah nya, setelah itu kemudian Mr Rieve pun berbalik dan menatap ke arah Eli.
"Baiklah,nanti akan ku hubungi lagi" kata Eli memutuskan sambungan telepon nya dan Eli pun berlari ke arah Mr Rieve dan langsung bertanya pokok masalah nya.
"Tolong katakan bahwa ini adalah ulah mantan isteri anda kan?" tanya Eli menghentikan langkah nya di depan Mr Rieve.
"Bukan kah sudah kukatakan sebelum nya Eli,dia bisa melakukan
banyak hal" jawab Mr Rieve menatap Eli dengan tenang.
Eli pun tampak menghela nafas nya dalam-dalam dan berkata.
"Baiklah aku akan menemui nya" ujar Eli hendak melangkah dan mr Rieve menarik lengan Eli dan berkata.
"Lepaskan Mr,dia tidak bisa seenak nya menyakiti orang-orang disekitar ku hanya karena diriku" jawab Eli berusaha melepaskan cekalan Mr Rieve di lengan nya.
"Kau gila,kau tak tau dia bisa saja menodongkan pistol di kepala mu dan menghabisi mu tanpa ada nya
orang yang tahu,apa kau mau itu terjadi?" tanya Mr Rieve dan kini mata Eli tampak membulat setelah
mendengar nya.
__ADS_1
"A..apa d..dia__" ujar Eli terbata sambil memegangi dada nya yang
tiba-tiba saja merasakan sesak nafas dan membuta nafas nya menjadi lebih berat.
"Ikut aku" ajak Mr Rieve lalu membawa Eli untuk turun ke lantai satu kemudian masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan area kampus.
"Kita perlu bicara,tapi tidak di area kampus" ujar Mr Rieve lagi.
"Tapi bagaimana dengan para mahasiswa lain nya Mr?" tanya Eli masih dengan wajah syok nya.
"Ada asisten dosen yang bisa
menghendel nya" jawab Mr Rieve cepat.
Ya memang Mr Rieve memiliki asisten karena dia tidak selalu bisa mengajar karena dia juga memiliki kesibukan di perusahaan dan maka dari itu dia membutuhkan asisten yang kompeten dan cekatan.
"Listen Eli,mulai hari ini kau harus tetap berada di rumah ku dan jangan coba-coba untul pergi kemanapun demi keamanan mu" ujar Mr Rieve memberikan pengertian sekaligus peringatan pada Eli.
Mr Rieve pun memutar mobil nya keluar dari area kampus dan mulai menyusuri jalanan yang tak tampak begitu padat menuju ke arah rumah nya.
"Aku memang mungkin bisa saja aman didalam rumah mu,tapi
bagaimana jika dia menyakiti orang-orang yang kukenal?" tanya Eli dengan wajah nya yang terlihat begitu gusar.
__ADS_1
"Lagipula bukan kah dia juga bebas masuk kedalam rumah mu bukan?" lanjut nya dan membuat Mr Rieve menoleh ke arah Eli sekilas.
"Apa kau pernah melihat nya?" tanya Mr Rieve dengan wajah serius sambil masih fokus menyetir.