
Eli memilih segera pergi dari rumah itu begitu hari sudah menjelang
siang,tentu saja dengan laptop,
pakaian,dan ponsel baru yang dia pinjamkan untuk Eli.. Eli lebih memilih untuk kembali ke asrama saja karena sore harinya Eli harus ke kedai kopi paman Billy untuk kembali bekerja.
Entah apa yang terjadi
pada Eli di sepanjang empat jam shift' nya itu karena Eli terus saja
membuat banyak kekacauan di kedai dan itu cukup menyusahkan semua pihak.
"Eli,istirahat lah mungkin kau lelah" ujar paman Billy dengan tatapan yang sulit Eli gambarkan.
Antara iba atau mungkin juga kesal pada Eli karena beberapa pesanan yang salah dia buat dan juga banyak pelanggan yang memberikan complain padanya secara langsung.
"Maafkan aku yang telah banyak membuat kekacauan hari ini paman" Eli tertunduk penuh sesal dan meminta maaf.
Pria tua itu pun mulai mencoba tersenyum meski dengan sisa tenaga yang dia miliki setelah hari yang panjang dan juga melelahkan yang dia lewati.
"Tidak masalah Eli,aku memahami mu seperti nya kau memang sedang banyak pikiran" ujar nya masih begitu bijak dan mencoba untuk memaklumi Eli meski Eli telah banyak melakukan kesalahan hari ini.
"Kau bekerja paruh waktu di tempat ini, kau juga harus memikirkan kuliah mu dan juga banyak lagi tugasmu yang lainnya nak, paman bisa memaklumi beberapa kesalahan kecil yang kau buat
hari ini..tidak setiap hari juga kan kau begini jadi jangan di pikirkan" tuturnya dengan bijaksana dan hal itu malah membuat nya merasa semakin tidak enak hati pada paman Billy.. Eli pun menggeleng dengan penuh sesal.
"Tidak paman,aku
sungguh menyesal karena sudah ceroboh.. maafkan aku" sesal nya masih di rundung perasaan bersalah.
"Sudah Eli, pulang dan istirahat lah." kata paman Bill laly
__ADS_1
memberikan senyuman terakhir sebelum Eli meninggalkan cafe itu untuk menenangkan diri.
"Sekali lagi maafkan aku paman" balas Eli membungkuk sekilas lalu pamit.
"Iya paman maafkan, sekarang planglah dan bekerja dengan baik besok oke" ujar paman Billy lalu Eli pun mulai menyelesaikan setengah dari shift nya dan pulang.
Sungguh ciuman yang Mr Rieve berikan benar-benar membuat nya sulit untuk berkonsentrasi baik
dimana pun dan kapanpun bayangan ciuman itu masih terngiang-ngiang begitu nyata dan membuat pikiran Eli menjadi berantakan hingga mengacaukan semua kegiatan nya.
Saat Eli tengah membawa nampan yang berisi dua cangkir kopi untuk pelanggan namun dengan tiba-tiba bayangan itu kembali muncul dan membuat kaki nya sontak tersandung dan seluruh kopi yang dia bawa tumpah ruah di lantai.
Juga saat Eli sedang mengisi cangkir kopi dari mesin coffee
maker di pantry,entah mengapa bayangan itu kembali muncul dan membuat nya tidak fokus hingga seluruh isinya tumpah ruah dan alhasil mengenai kaki dan tangan nya dan semua menjadi berantakan,hingga Eli harus mengalami luka di tangan nya.
Seminggu berlalu begitu saja dan kini Eli menjadi semakin ragu untuk datang ke rumah Mr Rieve untuk
memberi nya kabar atau hanya untuk sekedar menanyakan
kabar nya mungkin selama seminggu ini.
Lagipula kemarin buku tebal yang sudah Eli buat ringkasan nya juga tidak akan memberikan manfaat apapun padanya,karena saat ini Eli benar-benar yakin jika itu hanya pada sebuah cara agar dia bisa memberikan Eli pekerjaan lalu dia juga bisa memberi Eli uang tanpa harus menjual diri nya pada Mr Rieve.
Pria itu terlalu baik jika untuk menjadi kenyataan,dia bahkan merasa diri nya seperti berada di negeri dongeng saat Eli mengingat tentangnya..semua seperti tidak nyata..bahkan setelah Eli mengobrol dengan Vea secara serius,mata dan pikiran Eli seperti baru terbuka dan menyadari sesuatu yang tak dia sadari sebelum nya.
"Mungkin dia menginginkan sesuatu dari mu Eli" itulah komentar Vea begitu Eli menceritakan semua yang Eli alami di tempat Mr Rieve,tentu saja tidak semua dia ceritakan secara mendetail,termasuk saat Eli masuk ke kamarnya dan kejadian memalukan itu.
Eli hanya menceritakan secara garis besar nya pada Vea,betapa baiknya dosen kami itu.
"Tapi apa,aku bahkan tak memiliki apapun yang mungkin dia inginkan dariku Ve" ujar Eli putus asa dan sejenak terdiam lalu berkata.
__ADS_1
"Hey dia memberikan mu
laptop,dan dia juga memberikan mu ponsel juga memintamu untuk membuat ringkasan buku setebal itu dan memberikan mu upah yang tidak masuk akal menurutku,bukan kah dia sangat dermawan Eli.. dia ingin memberimu banyak hal yang tidak kau miliki selama ini, jadi mungkin dia hanya sedang mencari alasan untuk bisa memberikan mu barang-barang dan uang itu tanpa harus menunjukkan kalau dia sedang mengasihani mu,maaf ya Eli mungkin juga dimata nya kau adalah mahasiswa yang paling memprihatinkan" ujar Vea dengan mata yang tiba-tiba membulat sempurna.
Dan benar apa yang dikatakan oleh Vea memang mutlak benar.. Mr Rieve memang hanya kasihan pada Eli dan dia memberi Eli semua itu karena memang Mr Rieve adalah orang yang benar-benar dermawan dan Eli seakan tidak bisa menerima semua ini.
Eli kini berpikir bahwa dia tidak benar-benar berguna bagi Mr Rieve
dan dia juga sedang bekerja untuknya dengan
keahlian yang Eli miliki..mungkin email yang Eli kirim soal
ringkasan buku yang dia kerjakan itu bahkan tak pernah di bacanya sama sekali.
"Kau benar Ve,mungkin dia memang hanya sedang iba padaku" balas Eli dengan sendu menyetujui pendapat Vea tentang hal ini dan Vea pun mengangguk setuju.
"Eli,jika memang dia
menginginkan suatu hubungan semacam friend with benefit,dia bisa mencari yang lebih berkelas dari mahasiswa menyedihkan seperti kita..jangan serahkan hati mu seutuh nya karena nanti kau akan susah sendiri" ujar Vea kembali mengingatkan Eli dan Eli
mengangguk setuju.
Dan pada akhir nya pembicaraan
mereka berujung pada sebuah kesepakatan bahwa Mr Rieve memang hanya menaruh rasa belas
kasihan pada mahasiswa malang seperti nya tidak lebih karena sangat mustahil untuk nya memiliki tempat spesial di hati dosen tampan itu.
Dan memang tidak ada hal lebih dari itu,tapi entah kenapa setiap kali Eli mengingat tatapan nya itu Eli seakan merasa bahwa Mr Rieve
menginginkan diri nya sebagaimana layaknya bahwa Eli adalah seorang wanita dewasa di hadapan nya.
__ADS_1
Tapi apa itu mungkin,atau semua hanya sebatas fantasi liar nya saja.