
Nanda menjemputku pagi ini , kami akan pergi mencari kumbang di bukit pedesaan sekitar 25 km dari rumahku.
"Kita ke rumah zayn aja biar pake mobil dia, ga capek ni gua bawa motor" Nanda
"Ih enggak ah, ga enak ngerepotin mulu" Aku
"Dih.. Apanya yang ngerepotin? Lagian kan kita juga satu kelompok, udah ini mau gua telpon" Nanda
"Kok itu kayak mobilnya cello ya?" Aku
"Lah begini kan enak, buru naik mobil kita" Nanda
"Bos jeonna.. Nanda..." Panggil cello membuka kaca mobilnya
"Kita pergi pakai mobil lu ya cel?" Nanda
"Iya buruan naik, bos duduk disebelah gua aja ya" Cello
Hp nanda berdering, tampak nama kevin dilayar ponselnya.
"Kenapa vin? Gua dirumah jeonna mau ke desa sebelah nyari kumbang, iya udah kesini aja kita tungguin" Ucap nanda
tak berselang lama kevin sampai di rumahku memakai jaket tebal dan syal.
"Buset mau kemana lu vin?" Nanda
"Katanya nyari kumbang ke desa sebelah? Kan disono dingin" Kevin
"Ah serah lu dah ah pusing banget gua mikirnya" Nanda
"Ya udah yuk buruan jemput zayn, nanti kesiangan kita" Aku
Aku, Nanda, Cello, dan Kevin menuju rumah Zayn diiringi lagu Twice "**" di mobil cello.
"Lu penyuka lagu cute cute begini yak cel?" Nanda
"Badan boleh tatooan hati mah fanboy sejati" Kevin
Aku hanya tertawa mendengar celetukan kevin, kami sampai di depan rumah besar zayn.
"Biar aku aja yang turun" Aku
"Bos biar gua temenin ya" Cello
Aku mengangguk pelan.
"Selamat pagi pak, saya jeonna temannya zayn mau ngajak kerja kelompok" Aku nerbicara didepan pengaman wajah didepan rumah zayn.
Kreeekkk.....
Pagar pun terbuka
"Silahkan masuk non" Ucap pak atang
"Makasih pak" cello
Pak atang mengantarkan aku dan cello ke ruang tamu untuk menunggu zayn.
"Duduk dulu ya non" Pak atang
"Wah ruang tamunya persis ya kaya sinetron tv" bisikku
Cello tersenyum mendengarkan bisikanku
Zayn yang sudah rapih keluar dari lift rumahnya, datang menemui kami.
"Berdua aja?" Ucap zayn
"Ng... Kevin sama nanda nunggu di mobil" Aku
"Yuk pergi" Zayn menarik tanganku
"Eiitss siapa bilang boleh pegang pegang?" Cello juga menarik tanganku
Wajah zayn berubah menjadi memerah menahan amarah, zayn juga melepaskan tanganku yang semula dipegangnya.
Cello meninggalkan zayn sembari menggenggam tanganku menuju mobil.
"Ayo masuk" Cello menyuruh zayn
"Kamu duduk di belakang aja" Ucap zayn padaku sembari membuka pintu mobil
aku sontak melihat cello namun bergegas pindah kekursi bagian belakang bersama kevin dan nanda.
Sesampainya di desa yang dimaksud kami memulai perjalanan dengan berjalan kaki menuju bukit.
__ADS_1
"Tas lu biar gua yang bawa aja bos, lagian gua juga ga bawa apa apa nih" Ucap cello padaku
"Pepet teros" Celetuk kevin
"Sssst.... Udah jangan berisik" Aku
"Lu bawain nih tas gua vin" Nanda melemparkan tasnya
"Kok gua sih nan" Kevin
"Iya terus siapa lagi" Nanda
Zayn melongos pergi berjalan duluan di depan kami semua, kami pun bergegas mengikutinya.
Setelah jalan menanjak tampaknya zayn sedikit terengah-engah.
"Kamu kenapa zayn?" Ucapku
Cello yang melihatku panik berusaha menggotong zayn ke saung di tengah bukit.
Aku yang tambah panik berusaha menelpon pak darma namun sinyal tak begitu baik sehingga membuatku harus meninggikna posisi hp.
sesampainya di saung bukit cello pun merogoh tas zayn mencari obat yang dapat menenangkan zayn.
"Kayanya ini obat zayn, soalnya cuma ini yang ada ditas" Cello
Zayn masih berusaha menarik nafasnya, wajahnya pucat sekali
"Ini minum dulu zayn" Ucapku membuka tutup botol minum
Zayn tampak sangat sesak, dia berusaha untuk minum walaupun sedikit demi sedikit.
Aku memberikan obat juga padanya agar merasa lebih baik.
5 menit setelah menelan obat tersebut zayn merasa lebih baik walaupun masih sangat pucat.
"Biar gua aja jagain si zayn" Ucap cello
"Lu yakin bisa cel?" Kevin
"Udah lu pada tenang aja" Cello
"Oke kalau gitu kita cari kumbangnya dulu ya biar bisa cepet pulang" Aku
Aku, nanda, dan kevin pun memisahkan diri untuk mencari kumbang yang dimaksud.
Zayn menatap tajam wajah cello,
Tak ada satu katapun yang keluar dari mulut zayn, hanya menatap penuh amarah.
"Emang lu pikir lu siapa? tau perasaan semua orang?" Zayn mengepalkan tangannya
Cello membuat senyum sinis.
"Yang perlu lu camkan cuma kalo lu nyakitin jeonna lu berurusan sama gua" Cello dengan senyum sinis
Zayn pergi meninggalkan cello dan mencariku di sekitar bukit.
"Zaaayyynnn..." teriakku melambaikan tangan sembari menunjukkan kumbang yang ku dapatkan,
Zayn yang melihatku berlari dan memelukku erat, jantungku lagi-lagi terasa mau copot.
"Eh...." Aku kebingungan
"Jangan pernah tinggalin aku ya" Zayn
"Kenapa ngomong gitu?" Aku
Cello memandangku yang di peluk erat zayn dari kejauhan memutar kembali tubuhnya dan meninggalkan kami berdua.
Sedangkan Nanda dan kevin...
"Vin gua bawain semur jengkol nih buat lu liat dah" membuka tempat makanan yang dibawanya
"Jadi laper gua, sini gua makan" Kevin
"Gua suapin aja vin" Nanda
Kevin tersenyum dan mengangguk.
Nanda merasa sangat bahagia bisa dekat dengan kevin.
Hpku berdering...
"Halo cel?" Aku
__ADS_1
"Udah siang nih makan siang yuk" Cello
"Oh iya iya kami ke saung ya" Aku
Aku dan zayn berjalan menuju saung, di tengah perjalanan kami berjumpa dengan Nanda dan kevin.
setelah makan siang bersama di saung kami memutuskan untuk pulang.
saat sedang menuruni bukit aku merasa keram pada kakiku mungkin karena efek samping keseleo saat itu.
"Biar aku gendong" Zayn
"Lu kan masih lemes, udah biar gua jeonna kan bos gua" Cello
"Bener zayn , biar cello aja" Kevin
Nanda dan aku mengangguk.
Zayn kembali menatap tajam dan mengepalkan tangannya, ia merogoh tasnya.
"Buat kamu" zayn memberiku susu stroberi
"Makasih zayn" ucapku
"iya sama-sama" zayn tersenyum
Pemandangan bukit itu sangat indah, cello memperlakukanku layaknya anak-anak,
ia berlari dan menyuruhku mengembangkan kedua tanganku. Aku merasa seperti terbang di udara.
"Merasa kaya pesawat kertas gak?" Ucap Cello
"Iya, ini seru banget cel hahaha" aku tertawa lepas merasakan angin lembut melewati wajahku
"Seneng liat bos ketawa" Cello
Aku tak terlalu mendengarkan yang dikatakan cello hanya asik memandangi pemandangan dan merasakan udara yang segar.
Sedangkan nanda dan kevin tampak semakin lengket karena menggunakan headset bersama sembari mendengarkan lagu romantis.
Zayn berjalan lambat dan tertinggal jauh dari kami, ia mendapatkan telpon dari rose yang ingin menjemputnya.
"Shareloct zayn, aku kesana ya jemput kamu" Rose
"Iya" Singkat zayn
Kami semua pun sampai di mobil dan melihat sudah ada rose menunggu.
"Mana zayn?" Rose
"Dia masih dibelakang kayaknya bentar lagi juga sampe" Nanda
"Nah tu orangnya" Kevin menunjuk ke arah zayn
Cello menaikkanku ke kursi depan mobil kemudian menutup pintunya.
"Lu ingat kata-kata gua tadi" Bisik cello pada zayn
Rose merasa ada yang tidak beres menegur dan mendorong cello.
"Ayo pergi zayn" Rose
Zayn dan rose pergi meninggalkan kami.
"Yuk masuk mobil, mendung nih kayanya mau hujan" Nanda
Kumbang yang didapat hari ini pun tidak sesuai dengan apa yang diharapkan,
Kami pulang kerumah menerjang hujan.
Rose mengajak zayn ke apartemennya, sesampainya mereka di bassement apartemem untuk memarkirkan mobil terjadi lagi perdebatan.
"Gua turun duluan ya" Zayn membuka pintu mobil dan berjalan dengan cepat
"Kamu kenapa selalu menghindar? Kamu cuma salah paham waktu itu, aku gak ada hubungan apa-apa sama dia" Rose mengejar zayn sembari memegang tangannya
Zayn membalikkan kembali memorinya saat mengetahui rose bersama pria lain di apartmentnya.
"Gak ada apa apa ya? Cuuiiih..." Zayn meludahi mobil rose
"Gua lihat dengan mata kepala gua sendiri ya lu ciuman sama cowok itu" Lanjutnya
"Zayn!!!" Rose menangis dan memeluk zayn
"Gua selama ini mau deket-deket sama lu cuma karena nyokap bokap gua selalu nyuruh gua ngehubungin lu, gua mau bilang ke orangtua gua buat ngebatalin semua perjodohan memuakkan ini" Zayn
__ADS_1
Zayn yang tidak tega melihat rose menangis berusaha untuk menenangkannya.
"Orang tua kamu gak bakal mau membatalkan perjodohan kita, orang tua kamu punya perusahaan yang sangat bergantung sama orangtuaku sebagai pemberi investasi terbesar" Ucap rose tersedu-sedu.