
2 minggu kemudian...
"Lu pake jaket siapa?" Tanya nanda
"Ini aku juga gak tau punya siapa, soalnya pas pertama aku masuk ke sma ini aku ketiduran pas mau pulang, eh ada yang makein aku ini" Ucapku
"Jangan-jangan pengagum rahasia hahaha" Nanda mencoba menggodaku
"Becanda mulu ih nan, aku pulang duluan ya**" Aku mendorong sepeda ke arah gerbang sekolah
"Iya hati hati, gua nungguin kevin jemput nih" Ucap nanda
Aku melihat dari kejauhan ada perempuan setengah baya yang memanggilku dengan wajah yang tak pernah ku ingat sebelumnya, ia turun dari mobil yang sangat mewah lalu melangkahkan kaki ke arah ku.
"Kamu yang namanya jeonna?" Ucap bu nadia yang ternyata adalah ibu dari zayn dengan penampilan yang masih terlihat sangat m
"Iya tante, ada apa ya, maaf tante kok tau nama saya?" Ucapku bingung sambil melihat sekeliling
"Saya mamahnya zayn" Ucap bu nadia
"Halo bos" Cello datang dan langsung merangkul tubuhku
"Ih kamu ngagetin aja" Ucapku sedikit ketus sembari meninju bagian perut cello
"Siapa wanita tua ini bos?" Bisik cello
"Sssttt... Jangan bilang gitu, ini mamahnya zayn" Bisikku menyikut perut cello
"Bisa ikut saya dulu gak untuk minum kopi bersama?" Ucap bu nadia melengos pergi dengan cepat ke arah mobilnya
"I...iya tante bisa kok bisa" Ucapku perlahan
"Cel tolong bawain sepedaku pulang ya" Aku mengedipkan mata pada cello sembari meninggalkannya dan pergi menaiki mobil bu nadia yang sangat mengkilap itu
Cello menggaruk kepalanya sambil memegang sepedaku, ia merasa bingung sekaligus khawatir karena aku pergi bukan dengan orang sembarangan.
Cello segera melipat dan menaikkan sepedaku ke dalam bagasi mobilnya untuk segera menyusulku dan bu nadia.
Sesaat sebelum turun cello mengenakan jaket hitam, masker hitam dan topi hitam untuk menutupi wajahnya agak tak terlihat olehku dan bu nadia
__ADS_1
"Kamu melet anak saya?" Ucap bu nadia pelan dan ketus
"Kenapa tante ngomong gitu, saya sama zayn kan cuma berteman" Ucapku sambil menunduk
"Itu yang kamu pake kan jaket anak saya, kamu udah diapain anak saya, saya bayar sesuai dengan nilai yang kamu" Tegas bu nadia
"Saya gak gitu bu, saya ga perlu uang ibu" Ucapku mencoba meyakinkan
Cello yang masih menatap ke arah tempatku duduk masih berusaha menahan amarahnya, namun semuanya berubah saat kata-kata yang dikeluarkan oleh bu nadia begitu menancap di hati siapa pun yang mendengarnya.
"Kamu sudah tidur sama anak saya? Kalau perlu saya bayar keperawanan kamu, tapi jangan ganggu anak saya lagi, dia sudah dijodohkan dengan anak teman bisnis saya" Ketus bu nadia
Aku menunduk dan mengepalkan tangan menahan semua rasa sakit hati, sedangkan cello yang merasa sudah tidak bisa menahan amarahnya menendang meja dan membanting semua yang ada di hadapannya lalu dengan langkah cepat mendatangi bu nadia.
Bu nadia sangat kaget dengan apa yang dilakukan oleh cello dengan keadaan gelas dan vas bunga yang sudah terpecah belah di lantai.
"Mohon maaf ya bu sebelumnya, saya tau anda orang yang sangat kaya, tapi anda bisa jaga bicara anda gak?" Ucap cello menunjuk wajah bu nadia sembari membuka masker dan topinya
"Cello?" Ucapku dengan wajah kaget
"Kamu juga udah tidur sama cewek ini?" Tanya bu nadia dengan senyum sinis
Aku merasa sangat sakit hati pada bu nadia dan memberanikan diri menuangkan orange juice yang ada di hadapanku ke atas kepala bu nadia.
Diperjalanan menuju pulang...
"Pak liu masih marah gak sama aku?" Tanyaku menunduk
"Ayah gak pernah marah lama kok sama orang, oh iya gua sore ini ada kunjungan kerumah sakit bos, mau check up liat kondisi kaki, temenin yuk?" Ucap cello sembari menyetir dengan fokus
"Ya udah aku ikut kamu kerumah sakit aja ya" Ucapku tersenyum
Aku duduk menunggu cello lama sekali memeriksakan kakinya di dalam ruang dokter spesialis tak terasa sudah malam hari, Pak liu yang keluar dari ruang dokter terlebih dahulu mendatangiku dengan tersenyum dan duduk disampingku.
"Saya minta maaf atas semua perkataan saya waktu itu, saya sekarang sadar tidak semua harus dipaksakan, saya bahkan tidak pernah bertanya apakah cello suka cabang olahraga lari ini" Ucap pak liu menahan air mata
"Iya pak tidak apa-apa kemarin sepertinya hanya salah paham, saya mengerti bapak khawatir dengan prestasi cello sebagai atlit lari" Ucapku menunduk
Tak lama berselang cello keluar dari ruang dokter dengan kepala menunduk dan raut wajah sedih.
__ADS_1
"Kakinya gak apa-apa kan?" Ucapku yang sontak berdiri dan memegang bahu cello
"Gak apa-apa kok hanya perlu istirahat dan terapi, ini juga masih ada pemeriksaan lagi kata dokternya" Ucap cello tersenyum dan mengusal rambutku
"Sudah malam, gak sebaiknya jeonna pulang?" Ucap pak liu
"Diluar juga sedang turun hujan lebih baik pulang dengan taksi online" Lanjut pak liu meninggalkan kami berdua
"Bener bos pulang pake taksi online aja ya soalnya kata dokter masih ada yang perlu diperiksa jadi belum bisa pulang, nanti kabarin ya kalo udah sampai dirumah" Ucap cello
"Ya udah aku pulang, kamu baik baik ya, nurut kata dokternya" Ucapku tersenyum dan melangkahkan kaki meninggalkan posisi semula
Aku menunggu angkutan umum dihalte depan rumah sakit.
Ada motor vespa yang mendekat ke arahku, aku tahu betul itu adalah motor zayn, aku berusaha menutupi wajahku dengan tas agar tak terlihat olehnya.
"Kamu ngapain?" Ucap zayn perlahan sembari melihat wajahku yang tertutup tas
"Kamu siapa? Salah orang salah orang!!" Ucapku berlari menjauhi zayn
"Jeonna, tunggu dulu, kamu aku anterin aja ya, hujan nih" Teriak zayn berusaha mengejarku
Aku berhenti berlari dengan tiba-tiba hampir saya menabrak pot bunga dihadapanku, aku berhenti karena teringat zayn saat itu sekarat karena lomba lari yang diadakan disekolah.
"Ayo pulang" Zayn mencoba menggendongku
"Eh turunin aku, aku gak mau, turunin" Teriakku
Zayn menutup mulutku dengan bibirnya, mataku terbelalak karena aku merasa itu adalah ciuman pertamaku dan aku juga melihat tatapan mata zayn dengan sangat jelas hanya kurang lebih 3cm.
Setelah 10 detik aku baru tersadar dan meminta untuk menurunkan tubuhku dari gendongannya.
"Kamu jangan cari kesempatan dalam kesempitan ya zayn!! Nanti mamah kamu bilang aku cewek murahan lagi !!" Ucapku ketus dan memberhentikan ojek pengkolan yang lewat
"Maksudnya apa jeonna?" Ucap zayn bingung
Hpku berdering tampak nama cello di layar ponsel.
"Halo bos udah sampai mana?" Cello
__ADS_1
"Baru dapat ojek nih" Ucapku sinis sembari melihat ke arah zayn dan meninggalkannya sendirian
Zayn lagi-lagi menahan amarahnya, ia kembali mengepalkan tangannya dan meninju tembok yang ada didekatnya sampai tangannya berdarah.