
Aku bahagia sekali jika mengingat saat-saat aku bersama dengan zayn kemarin, kami kembali dekat namun ada saja penghalang disaat sudah dekat seperti ini.
Pagi ini dimulai dengan suara motor vespa kesayangan zayn yang masih ku ingat dari dahulu sampai saat ini, ia menjemputku ke rumah untuk pergi bersama ke sekolah.
Ditengah perjalanan ada mobil yang menyalip dan memberhentikan kami berdua, ternyata itu adalah ibu nadia selaku orang tua zayn, bersama dengan rose.
Rose melemparkan aku dengan beberapa lembaran uang dari arah kaca mobilnya, yang membuatku seperti tidak mempunyai harga diri, bukannya menolongku ataupun menenangkanku zayn hanya diam memandangi ibunya.
"Mamah?" Bisik zayn yang merasa gugup karena sedang memboncengku di motornya.
Aku yang ketakutan segera turun dari motornya, melangkahkan kaki sembari menunduk.
Bu nadia tampak marah sekali, begitupun dengan rose, wajahnya memerah menahan amarah.
Mereka menyuruh bodyguard untuk segera menarik zayn masuk ke dalam mobil tersebut dan meninggalkan motornya di tepi jalan, zayn bahkan tak memanggilku ataupun berbuat sesuatu agar aku tak berjalan sendirian.
Mengarungi jalan yang panjang disambut dengan hujan rintik-rintik, tiba-tiba ada mobil yang mendekatiku, aku tahu betul itu mobil orang yang benar-benar kau kenal.
"Ayo bos naik" Teriak cello dari arah kaca mobilnya yang terbuka.
"Aduh kepalaku sakit sekali, visionernya muncul lagi sangat banyak, sakit sekali" Ucapku sembari memegang kepala yang dipenuhi dengan visioner yang saling bertumpuk satu sama lain terasa benar-benar menyiksa tiba-tiba aku pingsan tepat saat akan memasuki mobil.
__ADS_1
Cello turun dari mobilnya dan mengangkatku masuk ke dalam mobilnya, ia begitu khawatir padaku, lalu dengan mobilnya membawaku ke klinik terdekat.
Aku kira setelah di cium oleh orang yang ku cintai dan juga mencintaiku visioner ini akan hilang, namun tetap saja masih ada hingga saat ini.
"Dia hanya kelelahan" Ucap dokter
"Baik dok terimakasih ya" Ucap cello yang benar benar panik, tangannya sangat gemetar, ia juga sempat meneteskan air matanya saat menungguku.
Ia tak pernah melepas genggaman tangannya padaku, ia melihatku dengan senyum manis di wajahnya.
"Lalu jika bukan zayn? Siapa sebenarnya cinta sejatiku?" Aku berbisik dalam hati
"Jeonnaaaa.. Lu gak apa apa?" Teriak ibu yang baru datang karena dihubungi oleh zayn.
Ibu membawaku kembali kerumah ditemani oleh Cello, Nanda, dan Kevin.
Sesampainya dirumah mereka semua menginterogasiku dengan sangat detail, dan aku menjawab semua dengan sejujurnya.
Tampak kemarahan pada wajah ibu atas perlakuan Bu Nadia dan Rose, Cello lebih marah pada zayn yang tak punya pendirian dalam melindungiku dari Bu Nadia yang angkuh.
"Bos gua pulang ya" Cello sontak berdiri dan meninggalkan rumah kecilku.
__ADS_1
Cello tak semata-mata pulang, ia menghubungi dan menunggu zayn tepat dilapangan dekat taman tempatku biasanya lari pagi.
Setelah Zayn datang dengan mobilnya yang dikendarai pak darma, ia menemui cello secara gentle di sebuah kursi besi tepat di tengah taman, namun tanpa satu katapun Cello langsung menyerang zayn yang notabene lemah.
Ia menghajar zayn dengan membabi buta, pak darma yang mendengar ada cekcok langsung berlari menghampiri atasannya itu, dan pak darma segera memisahkannya.
Zayn sangat lemah, ia langsung tak sadarkan diri saat pukulan pertama mengenai wajahnya yang mulus.
Tak lama berselang ambulance datang dan mengangkat tubuh zayn yang sudah sangat lemah dan detak jantung yang melemah pula.
Cello pun dilaporkan ke polisi oleh keluarga zayn atas tuduhan penyerangan di muka umum.
Pak Liu mendatangi kantor polisi dengan wajah marah karena sebagai atlit sangat berbahaya jika sudah berurusan dengan hukum, ia bisa saja di skors (tidak dapat mengikuti peetandingan untuk waktu yang tak dapat diapstikan) dari pertandingan.
Aku yang dihubungi oleh Pak Liu langsung bergegas datang ke kantor polisi untuk memastikan dan memberikan jaminan bahwa cello tidak bersalah.
Sebenarnya Zayn juga ada perlawanan pada saat berkelahi dengan cello, karena ada bekas cakaran di wajah sebelah kiri Cello yang membuat pipinya berdarah.
"Pipi kamu berdarah" Aku memegang pipinya dengan pelan, tampak darah yang sudah mengering dipipinya itu.
"Gak usah dipikirin bos, ini udah biasa kok" Ucap cello tersenyum dari balik jeruji besi dan memegang tanganku yang berada dipipinya melewati celah jeruji tersebut.
__ADS_1
Cello dihukum 3 hari masa tahanan, karena berbagai jaminan yang Pak Liu dan aku berikan membuat Cello dapat kembali bebas.
Aku merasa sangat bersalah pada cello yang tidak tahu apa-apa tentang masalahku saat itu, memberanikan diri untuk melabrak zayn.