
Mengayuh sepeda menuju sekolah memang cukup melelahkan pagi ini, karena aku sedang menstruasi untungnya menggunakan seragam olahraga hari ini.
Diparkiran aku bertemu dengan cello yang sedang memarkirkan mobilnya sembari membawa satu plastik penuh cemilan untukku.
"Selamat pagi bos" Ucap cello
"Bawa apaan tu? Banyak banget" Tanyaku
"Ini buat bos hehe, tadi ke minimarket katanya gak ada kembalian, jadi beli ini deh" Ucap cello tersenyum
"Mana mungkin minimarket gak punya kembalian cello" Aku menjitak kepala cello
"Kok bos pucat banget hari ini, kenapa? sakit ya?" Tanya cello
"Lagi mens" Ucapku ketus dan berjalan menuju ruang kelas
"Mens? men \= pria , men+s \= pria-pria, apa sih maksudnya gak ngerti deh" Cello kebingungan
Program bersih-bersih sekolah sebulan sekali dimulai dari hari ini, semua siswa membersihkan dari ruang kelas masing-masing sampai dengan ke tengah lapangan.
Aku terus saja memandang ke arah zayn yang didekati gadis-gadis sembari membersihkan papan tulis, cello yang melihatku hanya memandangi zayn langsung mengajakku makan cemilan agar tidak terlalu memikirkan zayn.
"Jeonna bisa tolong ibu ambilin sapu sama kemoceng di gudang bawah?" Ucap bu sofia
"Gua temenin ya bos" Ucap cello tersenyum dan memakan cemilan
Aku dan cello menuju ruangan yang dimaksud oleh bu sofia, ruangan yang sangat dipenuhi debu karena jarangnya dibersihkan.
Zayn mengikuti aku dan cello dari belakang, ia menuruni tangga dengan sangat perlahan agar tak diketahui olehku.
Akhirnya gudang yang dimaksud pun kami temukan dengan pintu besar dan berdebu, cello membuka kuncinya yang sudah berkarat.
"Aku cari kemocengnya ya didalam" Ucapku
"Iya bos ini sapunya juga udah ada, gua tunggu sini ya bos" Ucap cello
Hp cello berdering tampak nama kajeno pada layarnya
"Lu dimana, buruan sapunya mau dipake, bokap lu juga dateng katanya ada jadwal latian" Ucap kajeno
"Bos, gua keatas duluan ya, gapapa kan sendirian?" Terian cello sembari mematikan telepon
__ADS_1
Aku sama sekali tak mendengar yang dikatakan oleh cello dan masih saja sibuk mencari kemoceng yang dimaksud bu sofia.
Saat akan kembali ke kelas, cello sempat bertatap muka dengan zayn namun ia tidak merasa ada yang aneh dan terus melanjutkan jalannya.
"Jeonna?" Panggil zayn yang sudah didalam gudang
"Jeonna? Kamu disini?" Teriak zayn
Tak lama setelah zayn semakin masuk ke dalam gudang tersebut terdengar bunyi
BRAAAK...
Pintu gudang tertutup dengan keras, dan saat zayn ingin mendorong pintu tersebut tidak bisa dibuka.
"Bunyi apa itu?" Jeonna mendatangi arah zayn berdiri
"Pintunya gak bisa dibuka, ketutup sendiri" Ucap zayn bingung
"Cello mana? Kenapa kamu yang disini?" Aku bingung melihat sekeliling
"Ee... Tadi cello balik ke kelas, ee.... aku kesini mau cari ember" Ucap zayn menggaruk kepala
Zayn mencoba tenang dengan duduk di kursi kayu yang sudah usang, namun aku tidak bisa tenang, ditambah lagi hpku tertinggal di laci kelas.
"Aku juga gak bawa hp" Zayn memegang saku celananya dan menutupi bahwa ia sebenarnya membawa hp
"Duh gimana ni" Ucapku panik
"Toloooong... toloooong" Teriakku
"Ga mungkin ada yang denger, udah kamu duduk aja tunggu sampe ada yang nyadar kita ilang" Ucap zayn menenangkan
"Huh gimana sih cello main tinggal-tinggalin aja" Ucapku duduk sambil menyandarkan diri ke pintu
Sementara itu...
"Gua cuma pengen liat lu seneng jeonna, gua tau lu sayang sama zayn, kebetulan zayn juga kegudang" Bisik cello dari depan gudang sambil menyandarkan diri pada pintu tersebut
Aku yang setengah tertidur dengan posisi duduk dengan kepala di lututku yang tertekuk, zayn pun bnagkit dari kursinya dan mendatangiku.
"Aku suka sama kamu, tapi orangtuaku mungkin tidak menyukaimu" Ucap zayn berbisik di telingaku
__ADS_1
Aku masih saja pura-pura tertidur agar dapat mendengarkan semua kata-kata yang dikeluarkan oleh mulut zayn, ia memegang halus kepalaku sambil tersenyum.
"Rasanya nyaman sekali" Bisikku dalam hati
Tiba-tiba...
"Bos!! Bos gak kenapa-napa kan didalam, ini cello bos" Teriak cello sembari menggedor pintu
Aku yang kaget langsung melompat ke arah zayn, dan tak sengaja memeluk tubuhnya.
"Maaf zayn, aku kaget gak sengaja" Ucapku masih memeluk tubuh zayn
"Kamu mau ambil kesempatan ya dalam kesempitan?" Zayn tersenyum sinis
"Lah lagian ngapain kamu didepan aku, tadi kan kamu duduk disana" Teriakku dengan wajah memerah
KREEEKK...
Pintu tua itu pun akhirnya terbuka.
Cello langsung menarik tanganku untuk keluar dari gudang, ternyata cello mendengar apa yang diucapkan oleh zayn dan membuat cello menjadi cemburu.
"Eh tunggu" Zayn membuka jaket yang dikenakannya dan menutupi celana olahragaku yang berlumuran darah
"Biar gua aja" Ucap cello mengikatkan jaket itu dipinggangku
"Lah dia yang ngunciin zayn sama jeonna, dia yang cemburu sendiri" Ucap author
"Bos duluan aja ya" Ucap cello sembari menahan tangan zayn
"Iya mau bersih bersih juga ni di toilet, duluan ya" Aku berlari menaiki anak tangga
Zayn dan cello saling menatap tajam.
"Gua denger semua omong kosong yang lu bilang didalam" Tegas cello
"Terus?" Sambung zayn
"Kalo lu emang cinta sama jeonna ! Lu perjuangin bukan kek gini, ngerti lu?" Teriak cello didepan wajah zayn
Zayn yang mendengar perkataan cello sontak tertegun, ia memilih untuk kalah dari keadaan, bukannya memperjuangkan apa yang ia inginkan, dengan langkah lambat zayn kembali masuk ke dalam kelas.
__ADS_1
Zayn tahu betul untuk penyakit yang ia derita tak seharusnya untuk berani mencintai seorang wanita yang sudah pasti tidak dapat ia miliki untuk jangka waktu yang lama.