
Pagi ini seperti biasa aku menunggu angkutan umum di depan gang kecil rumahku, aku tiba-tiba merasakan rasa sakit dikepala sehingga aku terduduk memegang kursi tunggu tersebut.
Samar-samar yang ku lihat tak seperti biasanya, hanya melihat seseorang yang sedang merintih kesakitan pada kakinya sesaat setelah kecelakaan motor.
Rasa sakit di kepalaku perlahan menghilang, dan aku kembali duduk di kursi halte sembari di hantui rasa khawatir dan bingung.
"Selamat pagi, mohon maaf mbak, mbak bisa ikut saya sebentar?" Pak darma turun dari mobil yang biasa ia bawa
"Ada apa ya pak?" Aku berusaha fokus
"Tuan muda zayn demam tinggi dan memanggil nama mbak jeonna" Pak darma berbicara dengan terburu-buru
"Oh iya iya pak ayo pergi" Aku mendekati pintu mobil untuk segera pergi
Aku menghubungi nanda bahawa aku tidak akan masuk kelas hari ini, dan meminta tolong nanda membuatkan surat untukku.
Sesampainya di rumah zayn...
Suster yang biasa mengurus zayn menghampiriku dengan terburu-buru, ia juga berusaha menjelaskan dengan terbata-bata karena sangat panik zayn tidak ingin didatangi oleh dokter ataupun dibawa kerumah sakit.
"Tolong ya mbak jeonna jagain zayn dikamar, mohon maaf sekali lagi harus merepotkan" Suster
"Iya gak apa-apa sus, saya ke kamar zayn ya" Aku berlari untuk menuju kamar zayn dengan langkah gemetar
Saat aku membuka pintu kamarnya aku melihat zayn dengan keringat dingin, wajah pucat dan mengigau memanggil namaku.
"Jeonna..jeonnaa..jeonna" Zayn dengan suara pelan
"Aku disini zayn" Aku duduk berlutut disebelah kasur zayn sembari memegang tangannya, ia pun memegang erat tanganku seakan tak ingin dilepasnya
13.00 WIB
RUANG KELAS
"Bos jeonna kemana nan?" Tanya cello
"Gak tau tadi dia panik banget cuma bilang izin gak masuk kelas aja" Ucap nanda
Cello melihat tempat duduk zayn juga kosong langsung tersenyum sinis dan menganggukkan kepalanya.
"Kenapa emang cel?" Tanya nanda
"Kalo si zayn kenapa ga masuk?" Ucap cello
"Katanya sih kambuh lagi" Ucap nanda sambil menulis pr
"Gua ke minimarket dulu yak, ada yang mau dititip gak?" Ucap cello beranjak pergi
"Gak lah kenyang gua, lagian di kantin ibu gua juga banyak makanan" Ucap nanda
__ADS_1
Cello pergi terburu-buru ke parkiran tapi karena masih dalam jam pelajaran tidak diperbolehkan kendaraan keluar dari ruang lingkup sekolah, cello menyelinap dan membayar satpam sekolah agar bisa segera keluar, terjadi beberapa penolakan satpam terhadap cello namun akhirnya dapat keluar karena ia spontan meneteskan air matanya.
"Jemput gua didepan sekolah, sekarang" Cello menelepon supirnya yang culun bernama lafah dirumah
Tak lama supirnya datang membawa motor
"Lah mobil kemana?" Tanya zayn heran
"Mobil mogok bos dirumah" Ucap lafah
"Kalo gitu lu tunggu sini, pulang pake ojek online aja, gua ada urusan" Ucap cello terburu-buru
Cello mendatangi rumah zayn untuk melihat apakah firasatnya benar jika jeonna memamg sedang bersama zayn.
Sementara itu zayn sudah terbangun dari tidurnya
"Jeonna kamu disini?" Ucap zayn pelan
"Iya tadi pak darma yang jemput suruh kesini" Ucapku tersenyum
"Eh maaf aku gak sengaja pegang tangan kamu" Zayn melepas genggamannya
"Kamu makan dulu ya" Aku mengambil sepiring makanan di meja yang tepat berada disebelah kasur zayn
"Iya" Zayn tersenyum dan mencoba setengah duduk dengan menyandarkan tubuhnya
Hpku berdering, tampak nama cello pada layarnya
"Bos lagi dimana?" Tanya cello
"Aku lagi pergi nemenin ibu ke rumah nenek lagi ada acara keluarga" Ucapku dengan rasa gugup karena berbohong
Cello tak biasanya mematikan telpon dengan tiba-tiba, awalnya aku mengira ada guru ynag datang untuk melanjutkan pelajaran karena belum jam pulang sekolah.
Setelah menyuapi zayn dan menunggunya tertidur kembali, aku pun memutuskan untuk pulang walaupun diluar sedang turun hujan.
"Pulang dulu ya pak" Ucapku saat sampai di pos satpam dengan menggunakan payung
"Tadi ada yang nanyain neng" Ucap pak atang
"Siapa pak?" Tanyaku mendekati pak atang
"Dia gak sebutin nama sih neng, cuma rambutnya warna abu-abu putih gitu" Jelas pak atang
Terang saja aku pikiranku langsung tertuju pada cello, apalagi aku tadi berbohong padanya.
"Tuan muda menyuruh saya mengantar pulang" Ucap pak darma dari arah bagasi rumah
"Gak usah pak saya jalan aja, soalnya mau ada urusan lagi" Ucapku menggaruk kepala
__ADS_1
"Eh nanti saya kena marah, saya antar aja ya" Pak darma menghidupkan mesin mobil dan mendekat ke arahku
Aku naik ke mobil zayn, dan keluar dari gerbang rumah tersebut.
Tetapi hal yag mengejutkanku melihat cello sedang menggunakan payung menungguku di sebelah rumah zayn dengan menggunakan payung duduk diatas motornya.
"Berhenti pak" Aku menyuruh pak darma, lalu membuka kaca mobil
"Cello kamu kenapa hujan-hujanan? bawa jaket gak?" Lanjutku pada cello
"Katanya bos kerumah nenek?" Cello menahan amarah dan menggenggam kuat gagang payung tersebut
Aku tak bisa menjawab, cello menutup payungnya dan segera pergi meninggalkanku tanpa sepatah katapun karena kecewa aku tak bisa menjawab pertanyaannya.
Aku segera turun dari mobil dan mengejarnya dengan berlari di dalam hujan, tapi aku tersandung batu sehingga aku terjatuh.
Cello yang melihatku terjatuh dari spionnya berbalik arah untuk menolongku namun entah karena kurang keseimbangan atau apa pun itu membuat ia terjatuh.
"Ayo aku bantu kamu berdiri" Ucapku
"Gua gak apa-apa kok bos, nih liat, gua kan kuat bos" Ucap cello percaya diri
"Kita pulang pakai mobil zayn aja ya, nanti kamu kehujanan" Ucapku
"Iya bos, nanti motornya biar orang rumah yang ambil" Cello meminggirkan motornya
Aku berjalan didepan cello, cello ternyata berbohong ia merasakan sakit pada pergelangan kakinya, berjalan dengan tertatih namun tak sama sekali di perlihatkannya padaku.
Keesokannya...
09.30 WIB
Ruang kelas
"Nan, kemaren visionerku muncul lagi tapi samar-samar ngeliat seseorang ngerasa kesakitan dikakinya, dan aku gak tau itu siapa" Ucapku bingung
"Udah ga usah terlalu dipikirin, lagian gak ada juga kan?" Nanda menenangkan ku
"Vision vision kek nama parabola lu" Ucap santi yang duduk disebelahku
"Diem gak lu! Gua tonjok juga nih" Ucap nanda mengepalkan tangan ke arah santi
"Udah udah nan" Aku menenangkan nanda
Cello yang awalnya berjalan tertatih di luar kelas, saat masuk kedalam kelas mencoba untuk menahan rasa sakit di kakinya karena melihatku tersenyum ke arahnya.
"Selamat pagi bos" Ucap cello berjalan memegang kakinya
"Kaki kamu kenapa kok dipegangin?" Tanyaku
__ADS_1
"Oh ini, engga bos gatel aja kakinya" Cello menggaruk kakinya dan tetap berusaha berjalan dengan tegap ke tempat duduknya
Padahal 2 minggu lagi cello ada pertandingan lari, tapi dengan kondisi kakinya yang seperti ini bagaimana bisa berlari, jalan pun sulit