MY VISION

MY VISION
SEMUA SALAHKU (DIPERMALUKAN)


__ADS_3

3 Hari kemudian setelah kejadian cello terjatuh dari kendaraannya, tepatnya di lapangan XXX tempat cello biasa melakukan latihan.


"Kenapa jalan lu pincang?" Tanya pak liu ayah cello


"Jatoh pas mau jemput pacar" Ucap cello


"Si cewek itu lagi? Jeonna itu ?" Tanya ayah dengan nada sedikit tinggi


Cello mengangguk dengan tatapan kosong


"Bener-bener lu ya cel ! Gua udah bilang gak ada pacar pacaran, cewek cuma buat konsentrasi lu ke latian jadi gak ada, lu sekarang push up 50 kali" Ucap pak liu


"Tapi yah" Cegah cello


"Gua bilang push up" Tegas pak liu


Dengan menahan rasa sakit pada pergelangan kakinya, cello tetap melakukan hal yang ayahnya perintahkan.


Tetapi teriakan pak liu semakin keras, cello tak tahan dan segera pergi dari lapangan tersebut.


"Cello" Teriak pak liu


Cello sama sekali tak mendengar panggilan itu ia hanya berjalan ke depan dengan langkah cepat.


Cello pergi mendatangiku kerumah sembari meneteskan beberapa air matanya, hal yang tak pernah ku duga sebelumnya.


"Kamu darimana cel?" Tanya


"Habis latihan bos" Ucapnya tersenyum


"Tadi nangis sekarang senyum, aneh banget" Bisikku


"Kaki kamu udah gak apa-apa kan?" Tanyaku sembari memegang pergelangan kaki cello


"Udah gak apa apa kok bos cuma keserimpet dikit mana mungkin bisa sebegitu parah kayak yang bos pikirin" Cello tersenyum sembari mengusal-usal rambutku


"Aku traktir makan friedchicken di kaefci yuk" Ucapku


"Engga bos, gua temenin aja, soalnya kan atlit gak boleh makan sembarangan" Cello tersenyum

__ADS_1


Kami berdua pergi ke kaefci terdekat dari rumahku menggunakan taksi online, aku melihat seperti memang ada yang salah pada kaki cello tidak mungkin itu baik baik saja, ia berjalan dengan pincang.


Keesokannya di ruang kelas...


Zayn kembali datang ke sekolah, entah apa sebabnya karena sebelumnya ia mengatakan akan homeschooling.


"Jeonna ada yang ingin berbicara" Bu sofia datang dengan seorang pria setengah baya, yang aku tahu betul itu adalah pak liu


"Iya saya jeonna" Aku sontak berdiri dari tempat dudukku


Semua mata mengarah ke arahku termasuk zayn yang menatapku penuh rasa bingung


"Ayah" Bisik cello yang masih duduk di kursinya


"Maaf sebelumnya saya datang kemari ingin memperingatkan kamu untuk tidak membawa pengaruh buruk pada anak saya, dia jadi malas latihan, dan kamu lihat kaki anak saya jadi cidera karena kamu" Tegas pak liu


Aku menunduk dan mengangguk, didalam hatiku berkecamuk rasa khawatir dan takut


"Mohon maaf pak, jeonna tidak pernah menyebarkan pengaruh buruk, dia anak perempuan yang sangat baik dan sopan" Zayn berdiri dari tempat duduknya sembari menatap tajam ke arah pak liu


"Aku minta maaf saja ya pada pak liu" Aku membalikkan badan ke arah belakang dan berbisik ke cello


Cello menggelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca


Semua siswa di kelas meneriakiku dengan penuh kemarahan dan pandangan tajam.


"AYAH !!!" Teriak cello


"Selama ini aku sudah menuruti semua keinginan ayah, sekarang kenapa ayah mempermalukan cello dan gadis yang cello cintai" Lanjutnya


"Sudah cello sudah sudah, ayo pak kita ke ruang guru saja untuk menenangkan pikiran bapak, jangan bertengkar disini" Ucap bu sofia bingung


Cello terduduk dengan mata yang masih berkaca-kaca, aku berlari keluar kelas dan zayn berusaha mengejar dan menahanku untuk tidak melakukan hal ceroboh.


"Sudah kamu jangan sedih lagi" Zayn menghapus air mataku dan memelukku erat


"Kamu mau ini?" Zayn memberi sekotak susu stroberi


Cello yang juga mengejarku dengan kaki pincang saat itu sontak terdiam melihat zayn yang memeluk dan menenangkanku.

__ADS_1


"Sudah cel, ayo ke kelas aja" Nanda dengan nafas terengah-engah mengejar cello


Cello hanya memandang ke arahku dan zayn meskipun sudah diajak bicara oleh nanda, tampak raut kesedihan dan kekecewaan dari wajah cello dengan tangan terkepal amat kuat.


"Gua udah nyoba bikin dia jatuh cinta sama gua" Cello berbisik dengan tatapan kosong


"Udah ayo ke kelas, jangan disini kaki lu kan masih sakit" Nanda yang bingung harus menjawab apa terus mendesak cello ke ruang kelas, tak berapa lama cello mengikuti nanda dengan langkah kaki yang sulit untuk dibawa berjalan.


Cello duduk dengan tatapan kosong, sama sekali tak ada percakapan yang terjadi, ia mengeluarkan hpnya dan melihat galeri yang penuh dengan fotoku yang diambil secara diam-diam.


Nanda bingung harus melakukan apa dan akhirnya menyuruh kajeno untuk membujuk cello agar melupakan kejadian tadi.


"Lu tenangin diri lu dulu ya, nih minum dulu, lu juga gak boleh ngelawan sama bokap lu" Kajeno membuka tutup botol minum


"Bener kata bokap lu, jangan deket cewek aneh itu lagi, gak cantik cantik amat dibelain banget" Ucap randi teman yang duduk di belakang cello


"Lu nyari mati sama gua? Ayo sini gua ajarin cara ngomong yang bener" Ucap cello yang sudah siap untuk menonjok wajah randi


"Udah udah cel udah, lu juga ran apaan sih ikut campur aja" Ucap kajeno


Randi hanya menunduk ketakutan tak berani berkomentar lagi, Bu sofia menjemput cello untuk menemui ayahnya di ruang guru, cello membawa serta tasnya.


Tak berapa lama di ruang guru cello dipulangkan untuk menenangkan diri, aku yang saat itu melewati ruang guru bertatapan wajah dengan cello, ia membuang pandangannya tak ingin memandangku.


Zayn menarik tanganku dengan erat menuju kelas meninggalkan cello dan ayahnya.


"Selagi ada aku kamu gak bakalan ada yang ganggu, aku bakal suruh dua bodyguardku jagain kamu" Zayn sembari berjalan


"Enggak usah zayn aku gak mau" Ucapku sambil menahan tangis


"Kamu dengerin aja kata aku, ntar pulang aku yang anterin" Ucap zayn


Aku memandang zayn dari arah belakang, ia begitu tampan bahkan dari arah belakang seperti ini sangat sempurna menjadi pria idaman, sayang sekali ia sudah dijodohkan dengan rose.


Sesampainya diruang kelas...


Cello kembali menghampiriku untuk sekedar mengatakan


"Gua pulang duluan ya bos, pasti semuanya bakalan beres bos, maaf ya bos untuk semua yang terjadi hari ini jangan sedih lagi , semuanya gak ada hubungannya sama bos kok, jangan terlalu dipikirin ya" Ucap cello dengan nada pelan dan melambaikan tangannya di pintu kelas, ia meninggalkan kelas dengan kaki pincang menahan sakit, aku hanya memandanginya dari kejauhan melewati jendela kelas.

__ADS_1


Kejadian yang sangat menguras seluruh kemampuan otakku, aku benar-benar syok.


Zayn dan nanda menenangkan ku dengan seluruh kemampuannya bahkan mereka sampai mengajakku untuk makan malam bersama agar tidak terlalu memikirkan hal ini lagi.


__ADS_2