NADI

NADI
Tidak Sadar Diri


__ADS_3

Setelah me-nonaktifkan ponsel beberapa jam yang lalu, Nasya memutuskan untuk meng-aktifkan kembali ponsel tersebut. Barangkali ada panggilan yang penting kecuali panggilan dari Dicky.


Ada banyak laporan panggilan tak terjawab setelah ponsel itu aktif. Semua panggilan itu berasal dari nomor yang sama, Dicky. Bukan hanya panggilan telepon saja, ada beberapa pesan yang dikirim oleh Dicky padanya.


{Oi, lo minggat kemana?}


{Kasih tau gue sekarang!}


Begitulah kiranya pesan yang dikirimkan oleh Dicky.


Nasya yang masih kesal sama sekali menghiraukan semua pesan itu.


Melihat ekspresi wajah Nasya yang seperti itu, "Suami lo?," Tanya Reza yang masih bersamanya.


Nasya hanya melirik, tak menjawab.


"Kenapa ga dibales aja? Atau lo hubungi balik! Pasti dia lagi nyariin elo," Ujar Reza.


Nasya mengaduk minuman di depan nya dengan wajah cemberut, "Bodo!.".


"Ntar dosa sama suami lo sendiri!," Balas Reza.


Mendengar itu, Nasya malah makin kesal. "Aih, lo gausah bahas-bahas dia mulu! Gue kesini kan mau tenangin pikiran," Dumelnya pada Reza.


Sembari tersenyum tipis, Reza menggelengkan kepala melihat tingkah Nasya tersebut.


//


Masih ditempat yang sama, Nabila bersama dengan seorang pria baru saja tiba di sana. Tempat dimana Nasya dan Reza berada.


Keduanya mengambil tempat duduk yang tak jauh dari Nasya. Namun, ia tak menyadari keberadaan istri sah Dicky disana.


"Bil, lo mau pesen apa?," Tanya pria yang duduk berhadapan dengan Nabila.


"Samaain aja sama lo," Jawab Nabila sembari merogoh tas berukuran kecil miliknya, mencari ponsel.


Pria itu pergi untuk memesan makanan.


Merasa sudah cukup lama ia me-nonaktifkan ponsel, Nabila memutuskan untuk meng-aktifkan ponsel itu sama seperti Nasya sebelumnya. Namun bukan karena khawatir akan ada pesan atau panggilan yang penting melainkan ia penasaran, apakah Dicky masih mencarinya atau tidak.


Terlihat ada 10 laporan panggilan tak terjawab dan 5 pesan masuk di ponsel itu.


Nabila tersenyum simpul melihat itu. Ia membuka satu per satu pesan dari nomor yang sama tersebut.


"Apa aku telepon balik aja ya?" batin Nabila memandang ponsel itu.


»


Drt... Drt...


Ponsel Nasya kembali bergetar pertanda sebuah pesan masuk.


Kesal karena menurutnya itu adalah pesan dari Dicky, Nasya meraih kasar ponsel yang ada diatas meja itu namun ia terkejut ketika melihat bahwa itu bukanlah pesan dari Dicky melainkan dari sepupunya, Nadila.


{Kak, Kak Dicky kemana? Hari ini ada rapat dikantor dan client udah nunggu daritadi.}


Setelah membaca pesan dari Nadila, nampaknya Nasya tau dimana keberadaan Dicky.


"Ada apa?," Tanya Reza disana.


Nasya menatap Reza dan segera meletakkan ponsel itu kembali diatas meja. "Bukan apa-apa," Jawabnya.


Reza hanya mengangguk mendengar itu.


Nasya meminum minumannya sembari menatap keluar jendela ditempat makan itu, "Tu orang pasti lagi ketemu sama Nabila," Batinnya merasa kesal namun juga merasa senang. Kenapa? Karena pesan singkat yang ia kirim pada Nabila kemarin malam.


Nasya tersenyum licik mengingat hal itu, "Ketemu juga pasti tu cewe kesel sama dia," Sambung batinnya menduga-duga yang sedang terjadi pada Dicky.


***


"Ada apa, pa?," Tanya wanita parubaya itu pada sang suami yang pulang dengan wajah sedikit murung.


Mereka adalah orangtua Nasya,


"Polisi yang menangani kasus Nindia, tadi menelepon papa," Jawab sang suami.


Mendengar itu, "Nindia? Mereka bilang apa, pa?," Wanita baya itu nampak bersemangat, berharap ada kabar baik yang akan dia dengar hari ini.


Berbeda dengan Pria baya disana, ia menatap sendu sang istri yang duduk di sofa depan televisi.


"Papa kok diem? Polisi itu bilang apa, pa?," Tanya ibu Nasya yang sudah tak sabar untuk mendengar kabar itu.


Perlahan, Pria itu menggelengkan kepala.

__ADS_1


Melihat itu, raut wajah dari Mama Nasya itu berubah seketika,


"Tidak ada sedikitpun perkembangan dari kasus itu dan karena kasus Nindia sudah lama sekali, mereka memutuskan untuk segera menutup kasus itu," Jelas Papa Nasya.


Kecewa, itu sudah pasti dirasakan oleh sang istri. Bagaimana bisa mereka menutup kasus Nindia begitu saja.


"Tidak ada titik terang sedikitpun dari kasus itu," Sambung sang suami.


Tidak ada? Bagaimana bisa? Polisi macam apa yang tidak bisa memecahkan kasus penculikan seperti itu.


"Ga mungkin. Mereka ga seharusnya menutup kasus itu!," Ujar Mama Nasya.


"Tapi kasus itu terjadi 19 tahun yang lalu, ma. Itu sudah sangat lama!.".


"Lalu kenapa? Bukankah sejak saat itu kita memang sudah melaporkan penculikan itu. Harusnya sejak dulu mereka sudah melakukan investigasi terhadap penculikan itu," Ucap panjang sang istri yang tidak bisa menerima hal itu.


Wanita itu bangkit dari tempatnya "Mama harus ke kantor polisi sekarang!," Ucapnya namun ditahan oleh sang suami.


"Ma, untuk apa kesana?".


"Untuk apa? Ya untuk melanjutkan kasus itu. Mereka ga bisa menutup kasus itu!," Jelas wanita baya tersebut.


"Tapi ma, kasus itu sudah sangat lama! Lagipula jangka waktunya memang sudah seharusnya ditutup!," Jelas Papa Nasya lagi yang masih mencoba menahan istrinya.


Wanita parubaya itu mulai menitikkan air mata, "Lalu bagaimana dengan Nindia, pa?.".


Melihat itu, Pria baya disana mencoba menenangkan istrinya itu dengan memeluknya, "Jika memang Nindia masih hidup, kita doakan saja semoga dia baik-baik saja dan cepat dipertemukan dengan kita lagi," Ujar Papa Nasya.


Wanita baya itu diam, tak menjawab. Ia menangis dalam pelukan suaminya mengingat anak keduanya yang hilang.


***


"Lo yakin gamau gue anter ke kantor suami lo?," Tanya Reza pada Nasya yang kini sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang kerumah Nasya.


"Gausah! Gue mau pulang aja," Jawab Nasya menatap jalan didepan tak menoleh pada Reza.


"Yaudah," Ucap Reza lalu segera menuju kerumah Nasya.


//


Disisi lain,


Drt... Drt...


Senyum tersungging di bibirnya saat mengetahui pesan itu dikirim oleh Nabila. Akhirnya, kekasihnya itu memberi kabar padanya setelah yang terjadi beberapa jam lalu.


Dicky menepikan kendaraan, ia segera membuka pesan tersebut. Berharap bahwa Nabila akan memberitahukan keberadaannya saat ini. Namun betapa terkejutnya Dicky, saat melihat apa yang telah dikirimkan Nabila kepadanya.


Bola matanya terbelalak melihat itu. Pesan itu bukanlah sebuah pesan teks melainkan sebuah poto.


"Ini Nasya," Ucapnya tak percaya melihat poto tersebut.


//


Nabila tersenyum licik, setelah mengirimkan poto itu kepada Dicky. Ia sangat berharap dengan ia melakukan itu, Dicky akan membenci dan menceraikan Nasya.


"Ga nyangka. Ternyata dibelakang Dicky, dia selingkuh," Ucapnya memandang poto yang telah dikirimnya pada Dicky.


Poto itu adalah poto Nasya bersama Reza saat hendak pergi meninggalkan tempat makan. Tentunya, itu tanpa sepengetahuan dari Nasya dan Reza.


"Liat tu kelakuan istri kamu!," Ucapnya lagi dengan mengingat pesan singkat yang selalu membuatnya menjadi kesal seketika.


»


Dicky berdecak kesal didalam mobil, "Sialan! Jadi itu orangnya!.".


Tanpa pikir panjang, Dicky segera memutar mobil dan kembali menuju rumah.


Entah kenapa namun ia merasa bahwa Nasya akan pulang kerumah bersama pria yang ada di poto itu.


S


K


I


P


Sebuah mobil tiba diperkarangan rumah. Seperti yang telah diduga oleh Dicky sebelumnya, Nasya keluar dari dalam mobil itu, begitupula dengan pria yang dilihat Dicky dalam poto sebelumnya.


"Kayaknya suami lo udah pulang tu," Ujar Reza yang melihat mobil sudah terparkir lebih dulu di halaman rumah.


Nasya melirik mobil itu lalu menoleh kearah rumah, berpikir bahwa Dicky tak sendirian didalam rumah.

__ADS_1


"Kalo gitu, gue pamit ya," Ucap Reza yang menghentikan lamunan Nasya.


Nasya menoleh cepat, "Masuk dulu, ja," Tawarnya.


Reza tersenyum sembari melirik kearah rumah Nasya, "Gausah, gue ga enak sama suami lo. Lagian kerjaan gue dikantor belum selesai.".


Nasya sedikit kecewa mendengar itu, setidaknya dengan ia mengajak Reza masuk kedalam, ia tidak akan merasa sendirian.


"Gue pamit ya," Ucap Reza lagi.


Nasya mengangguk dan Reza segera masuk kedalam mobil namun,


"Oh, jadi ini suami baru lo?," Ucap Dicky secara tiba-tiba membuat Nasya dan Reza menoleh.


Perlahan, Dicky mendekat pada mereka berdua. Ia melirik Reza sekilas lalu menatap Nasya disana.


"Darimana lo?.".


Nasya men-de-ha mendengar pertanyaan konyol itu, "Apa pentingnya buat lo?," dengan menatap tajam Dicky.


"Gue tanya, lo dari mana?," Dicky mengulangi pertanyaannya.


Kesal "Mau darimana gue, itu gaada urusannya sama lo," Jawab Nasya.


Mendengar itu, Dicky tersenyum tipis dan sedikit menjauh dari Nasya. Bukan menjauh pergi meninggalkan mereka berdua melainkan ia beralih pada Reza yang masih ada disana.


Reza yang tidak tau apa-apa, merasa bingung saat Dicky menghampirinya dengan penuh amarah seperti itu.


"Eh, lo habis ngapain sama istri gue?," Ujarnya dengan menarik kerah baju Reza.


Tak terima, "Apa-apaan sih lo!," Balas Reza melepaskan cengkeraman Dicky itu.


Nasya yang melihat itupun tak tinggal diam dan segera menahan Dicky agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Lo ngapain sama istri gue? Ada hubungan apa lo sama dia?," Ucap Dicky kasar dan mencoba untuk mencengkeram kembali kerah baju pria itu.


"Dicky udah!," Tahan Nasya.


Kesal namun Reza masih menahan amarahnya, "Gue gaada hubungan apa-apa sama Nasya.".


"Terus ngapain lo jalan sama dia?," Tanya Dicky masih dengan nada yang sama.


Kesal karena Dicky bertindak kasar pada Reza, "Lo apa-apaan sih, dic! Lo ga berhak bersikap kasar sama Reza!," Ucap Nasya.


Mendengar itu, Dicky men-de-ha "Kenapa ga berhak?," Ucapnya menatap Nasya tajam.


"Gue gatau apa masalah lo berdua, gue gamau ikut campur! Yang jelas gue sama Nasya gaada hubungan apapun. Gue sama dia cuma makan siang bareng doang!," Jelas Reza panjang lebar.


Tak mau memperkeruh masalah, Reza memilih pamit pergi dari sana namun dengan cepat Dicky menyusul langkah kaki Reza dan,


BUG!


satu tonjokkan mendarat mulus diwajah Reza hingga membuat pria itu tersungkur.


"Reza," pekik Nasya yang segera menyamai posisi Reza.


Terlihat, wajah Reza membiru di bagian pipi serta ujung bibir yang mengeluarkan darah.


Reza mengelus darah di bibirnya, ia menatap Dicky yang berdiri di depannya dengan tajam.


Melihat apa yang telah dilakukan Dicky pada Reza, tentu Nasya marah dan berdiri menyamai posisi Dicky, "Mau lo tu apa sih? Marah ga jelas! Lo ga seharusnya ngelakuin ini sama Reza! Reza tu gatau apa-apa! Dia tu ga salah!," Ucap Nasya pada Dicky dengan nada tinggi.


Dicky men-de-ha, "Apanya yang ga salah? Udah jelas dia salah, jalan sama istri orang!.".


"Itu bukan karena dia yang ngajak! Gue yang dateng ke kantornya dan ngajak dia makan siang bareng!," Jawab Nasya cepat masih dengan nada yang sama.


Sejenak Dicky terdiam setelah mendengar penjelasan itu.


Reza bangkit, berdiri menyamai posisi Nasya dan Dicky.


Nasya kembali mendekati Reza, "Lo ga apa-apa kan, ja?," Tanyanya khawatir.


Dengan menggeleng "Gue gapapa" Jawabnya.


Nasya merasa bersalah pada Reza atas apa yang baru saja terjadi, "Maaf ya ja, ini semua gara-gara gue.".


Reza tersenyum tipis, "Udahlah, gue juga gapapa," Jawabnya.


Meskipun begitu, tetap saja Nasya merasa bersalah pada sahabatnya itu.


"Lebih baik, gue pergi sekarang," Ucapnya pada Nasya.


Perempuan ini mengangguk pelan sembari khawatir.

__ADS_1


Reza menatap tajam Dicky sekilas lalu segera masuk ke dalam mobil, pergi meninggalkan kediaman Nasya dan Dicky.


__ADS_2