
"Kamu ngapain ngajak aku kesini?," tanya Putri pada Bisma yang baru saja turun dari dalam mobil dan menghampiri dirinya.
Putri menatap bingung pada Bisma karena pemuda itu membawanya ke sebuah acara yang ada di salah satu tempat makan.
Bisma tersenyum tipis, "Kita disini buat ngehadiri acara pertunangan temen kerja aku," jelas Bisma.
"Terus kejutannya?.".
Bisma kembali mengukirkan senyum di wajah, "Itu, aku simpen dulu. Sekarang kita masuk yuk!," ucap Bisma memegang tangan Putri dan masuk ke dalam tempat makan itu.
Ketika berjalan masuk ke dalam, datang dua orang pemuda yang lebih tepatnya adalah teman-teman Bisma. Keduanya menghampiri Bisma, "Oi, Bis, siapa tuh? Gebetan baru lagi?," ujar salah satu dari dua orang temannya itu.
Putri menoleh cepat ke arah Bisma setelah mendengar perkataan itu. Tentu itu membuat Bisma sedikit panik dan, "Apaan sih lo! Jangan sembarangan ngomong dong!," kesal Bisma.
"Eh, kita ga sembarangan ngomong. Kita tu ngomong berdasarkan fakta!," balas pemuda yang satunya lagi.
"Rese ya, lo berdua!," ucap Bisma menatapi keduanya.
"Udah sana, lo berdua pergi!," sambung Bisma kesal.
Kedua temannya itu terkekeh melihat ekspresi wajah Bisma lalu melirik Putri sekilas, sebelum akhirnya mereka pergi.
"Kamu punya pacar lagi? Selain aku?," Pertanyaan yang langsung diberikan oleh Putri kepada Bisma.
"Sayang, aku ga....".
"Berapa banyak?," cela Putri memotong ucapan Bisma.
"Sayang, aku....".
"Jadi itu penyebab kamu ga pernah bales chat sama angkat telepon aku?," cela Putri lagi yang sudah keburu badmood. Wajahnya yang tadi berseri kini menatap serius pada Bisma.
"Sayang," ucap Bisma meraih kedua tangan Putri.
"Yang mereka bilang itu ga bener! Aku cuma punya kamu! Aku milik kamu!," ucap Bisma mencoba menjelaskan.
Putri diam, tak menjawab. Hatinya ragu untuk percaya kata-kata itu.
"Percaya sama aku, sayang," sambung Bisma memohon, memandang lekat mata Putri.
Sejenak tak ada jawaban dari Putri lalu sedetik kemudian, ia membuang napas dan mengangguk pelan "Aku percaya sama kamu," jawabnya.
Mendengar itu, Bisma tersenyum senang dan memeluk Putri. Setelah itu, keduanya pun masuk dan bergabung dalam acara tersebut.
»
Nasya mengerjapkan mata beberapa kali, pandangan yang kabur itu mulai terlihat jelas. Disana, sudah ada mertua yang menunggunya sadarkan diri.
"Sayang," ucap wanita baya itu dengan penuh khawatir.
Nasya sedikit mengkerutkan dahi melihat langit-langit diruangan itu "Aku dimana, ma?.".
"Kamu di rumah sakit, nak," jawab sang mertua lembut.
Mendengar itu, Nasya beranjak dari tempat tidur,
"Sayang, jangan bangun dulu!," ucap sang mertua menahan Nasya bangkit dari tempat tidur rumah sakit itu.
Nasya menatap wanita itu, "Aku mau pulang, ma!," Ucapnya dan masih bersikukuh untuk bangkit.
"Iya, kamu akan pulang. Kita tunggu Dicky dulu! Dia lagi bayar administrasi," jelas mertuanya itu.
Sejenak Nasya diam mendengar jawaban itu dengan posisi yang duduk di tepi brankar.
Sang mertua mengelus lembut rambutnya dan menatap lekat wajah Nasya. "Kamu harus jaga kesehatan! Jangan bikin mama khawatir lagi," lirih wanita itu membuat Nasya menoleh,
__ADS_1
"Maafin aku, ma," Ucap Nasya.
Wanita itu tersenyum, "Kamu gaperlu minta maaf. Mama hanya takut terjadi apa-apa sama kamu. Jadi jangan pernah bikin mama khawatir lagi ya," jelas dan pinta mertua Nasya.
Perempuan ini mengangguk dengan tersenyum, "Iya, ma.".
Wanita itu lalu memeluk Nasya hangat. Dia benar-benar sayang pada menantunya itu seperti anaknya sendiri.
Tak lama setelah itu, Dicky datang menghampiri mereka. Wanita itu menyadari kehadiran Dicky, segera menoleh, "Udah?," tanyanya.
Dicky mengangguk "Udah, ma" jawabnya.
"Yaudah, kamu bantu Nasya jalan ke mobil ya! Mama mau ke toilet dulu," ujar wanita itu lalu menginggalkan Nasya dan Dicky disana.
Setelah sepeninggalan wanita baya itu, Dicky melirik istrinya yang berusaha turun sendiri dari tempat tidur itu. Meskipun, Dicky berkata pada mamanya bahwa dia masih mencintai Nabila namun dia masih ada rasa khawatir dan perduli pada Nasya.
Dicky mendekati Nasya dan, "Gue bisa sendiri!," Ucap Nasya.
"Dasar batu! Udah sini gue bantu," balas Dicky tetap membantu Nasya untuk turun dan berjalan menuju ke mobil.
Dicky meletakkan tangan kiri sang istri di bahunya namun Nasya melepaskan tangannya, "Apasih! Gue bisa sendiri!.".
Mendengar Nasya yang masih tetap bersikukuh itu, Dicky meliriknya, "Udah diem! Ntar gue cium juga lo!," ucapnya.
Nasya memukul pipi Dicky setelah mendengar itu, "Jangan macem-macem lo sama gue!," tegasnya.
"Udah diem napa! Mau gue cium beneran?.".
Nasya kesal mendengar itu dan memilih untuk diam serta membiarkan Dicky membantunya berjalan menuju ke mobil.
»
Bisma dan Putri masih berada di acara pertunangan temen kerja Bisma. Bisma sedang mengambilkan minum untuk kekasihnya itu, meninggalkan Putri bersama dengan Andre, temannya.
Pemuda bernama Andre itu melirik Putri yang acuh padanya. Putri tau bahwa pemuda disebelahnya itu terus menatap dirinya. Ia mulai merasa gelisah berada disana, sendiri.
Sapa genit pemuda itu.
Putri meliriknya sekilas dengan sikap acuhnya. Ia tak membalas sapaan dari pemuda itu.
"Lo pacarnya Bisma yak?," ucap Andre kembali membuka pembicaraan.
Putri masih dengan sikap yang sama "Kok lo mau sih sama dia? Lo itu cantik tau! Ga cocok sama dia.".
Lagi, tak ada balasan dari Putri. Ia melirik jijik melihat pemuda itu. Andre lalu perlahan mendekati Putri disana dan membuat Putri melangkah mundur, "Lo itu cocoknya sama gue!," sambungnya dengan mencoba mengelus lembut wajah Putri.
"Apaan sih!," ucap Putri menepis kasar tangan pemuda itu.
Andre tertawa kecil dengan sikap Putri padanya. Putri terus melangkah, menjauh dari Andre namun pemuda itu terus saja mengikuti langkahnya. Hingga akhirnya Bisma datang dengan membawa minuman. Ia melihat Andre tengah menggoda kekasihnya,
"Eh, lo ngapain sih, ndre!," ujar Bisma membuat Andre menoleh dan mendekati Putri.
Andre masih dengan senyumnya, "Bis, pacar lo cantik juga!," lalu kembali melirik Putri yang kini berdiri di belakang Bisma.
"Boleh lah buat gue!," sambungnya. Bisma melirik Putri yang sudah tidak nyaman itu, sekilas lalu kembali menatap temannya.
"Apaan sih lo! Udah sana lo pergi!," usir Bisma pada Andre.
Andre mendekat pada Bisma dan berbisik "Jangan lupa sama janji lo!," ucapnya.
"Iya, gue ga lupa! Ntar gue kabarin kalo udah beres!," jawab Bisma.
Andre lalu kembali menatap Putri disana kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
"Dia siapa, Bis?," tanya Putri menatap kesal kepergian pemuda itu.
"Ah, dia temen kerja aku," jawab Bisma.
__ADS_1
Putri lalu menatap Bisma "Pulang yuk, Bis! Udah jam berapa nih, nanti kemaleman," ucap Putri.
"Iya, nanti," jawab Bisma.
"Nanti kapan?," Putri kembali bertanya.
"Ya, sebentar lagi, sayang. Ga enak sama temen aku," jawab Bisma yang kali ini membuat Putri tak menjawab.
"Yaudah, nih! Kamu minum dulu," sambung Bisma memberikan sebuah minuman pada Putri.
Putri menerima minuman itu. Kebetulan sekali, ia juga tengah merasa haus. Bisma melirik Putri yang meneguk minuman itu lalu tersenyum tipis. Tak lama setelah itu, Putri mulai merasakan berat pada matanya. Ia mencoba untuk menahan matanya agar tetap terbuka namun percuma. Bisma segera menangkap Putri yang sudah tak sadarkan diri. Ia tersenyum miring saat tau, Putri tak sadarkan diri lagi.
»
PRANG!
Sebuah gelas bening baru saja jatuh dan pecah, berserakan di lantai. Wanita baya itu lalu merasa khawatir, seolah akan terjadi sesuatu.
"Ada apa, ma?," ucap suara berat dari pria yang bergegas menyusul istrinya di dapur.
Wanita itu menatap suaminya, "Gatau, pa. Tiba-tiba mama jadi ga enak perasaan," jelasnya.
Suaminya masih disana, menatap istrinya yang khawatir "Apa terjadi sesuatu sama Nasya, pa?," ucapnya lagi yang ternyata mereka berdua adalah mama dan papa Nasya. Tanpa pikir panjang, wanita itu segera menghubungi nomor rumah Nasya.
//
Nasya, Dicky dan Mama Dicky yang barusaja tiba dirumah mendengar telepon rumah berbunyi. "Biar mama yang angkat. Kamu bawa istri kamu ke kamar!," ujar wanita baya itu.
"Iya, ma," jawab Dicky dan mengantar Nasya kembali ke kamar.
"Halo," ucap wanita yang menjawab panggilan telepon itu.
Mama Nasya mengkerut, mendengar suara dari besannya yang menjawab telepon. "Loh, Risa?.".
Wanita bernama Risa itu terkejut saat tau itu adalah panggilan telepon dari sahabatnya. "Dira, ada apa?.".
"Ah, aku mau bicara sama Nasya. Dia ada kan? Dia baik-baik aja kan?," ucap Dira dengan pertanyaan beruntun.
Sejujurnya, Risa nampak ragu untuk memberitahukan tentang keadaan Nasya namun bagaimanapun Dira juga berhak tau "Maaf, Ra. Nasya lagi istirahat. Dia baru aja pulang dari rumah sakit," jawab Risa.
Mama Nasya tersentak mendengar kabar itu "Nasya sakit? Sakit apa?.".
"Cuma kecapean aja. Kamu ga perlu khawatir. Aku bakalan jagain Nasya kok," jelas Mama Dicky menenangkan Dira di seberang sana.
"Tapi bener, dia gapapa?," tanya Dira lagi, memastikan.
"Iya, dia gapapa." jawab Risa dengan yakin.
"Syukurlah, aku titip Nasya ya, Sa.".
"Iya.".
Tak lama setelah itu, telepon pun terputus. "Nasya kenapa, ma?," panik sang suami.
Wanita itu menatap suaminya disana "Nasya baru pulang dari rumah sakit. Risa bilang, dia ga kenapa-napa. Cuma kecapean aja," jelasnya.
Pria itu menghela napas leganya setelah mendengar kabar bahwa anak kesayangan nya tidak apa-apa namun tidak pada sang istri. Hatinya masih merasa tidak tenang dan khawatir. Bahkan setelah mendengar kabar bahwa Nasya tidak apa-apa, beliau masih mencemaskan sesuatu yang entah apa itu.
»
Pukul 22:15
Reza sedang dalam perjalanan pulang dari kantor. Seharusnya, dia sudah pulang pukul 16:30 tadi sore namun karena ada banyak pekerjaan membuatnya pulang malam hari itu.
Jalanan dalam kondisi ramai lancar saat itu dan mobil Reza melaju dengan kecepat sedang. "Akhirnya pulang juga," gumamnya yang menyetir mobil sembari membayangkan tempat tidur dan rebahan diatasnya. Seluruh tubuh terasa kaku karena terus-menerus duduk di kantor dan menatap layar laptop.
Tiba-tiba ia memicingkan mata ke seberang jalan. Terlihat seorang perempuan tengah dibawa masuk ke dalam mobil. Perempuan itu tak sadarkan diri.
Merasa tak asing, Reza menghentikan mobil di tepi jalan dan memperhatikan kejadian diseberang sana. Ia terkesiap saat tau, perempuan itu adalah rekan kerja sekaligus sahabatnya. "Putri?," ucapnya dengan refleks.
Setelah membawa masuk Putri ke dalam mobil, pemuda yang membawa Putri tadi itu lalu memberikan sesuatu pada temannya disana. "Itu kan Bisma?," ujar Reza.
__ADS_1
Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pemuda yang menerima sesuatu dari Bisma itu lalu masuk ke dalam mobil dan segera melesat pergi dari tempat itu. Sementara Bisma kembali masuk ke dalam tempat itu. Khawatir pada sahabatnya, Reza memutuskan untuk mengikuti mobil itu. Ia ingin tau, sahabatnya itu akan dibawa kemana oleh pemuda yang tak ia kenal.