NADI

NADI
Sakit tapi tidak berdarah.


__ADS_3



"Lagian, gue ngerasa ga pernah nikah sama lo.".



Penuturan itu masih tergiang jelas di kepala Dicky yang kini duduk, termenung didepan kamar inap istrinya, Nasya. Sungguh! Ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Bagaimana bisa Nasya tak mengenal dirinya?.



Dicky mengusap wajah dengan kedua telapak tangan sembari menghela napas beratnya. Apakah ini pertanda, ia harus rela berpisah dengan Nasya ?.



"Bagaimana, ma? Apa kata dokter?," Dicky segera berdiri ketika wanita baya yang tidak lain adalah mama mertuanya berhenti tepat didepan kamar inap Nasya diiringi sang papa mertua.



Mama Nasya menatap Dicky sendu, mengingat perihal apa yang disampaikan oleh dokter kepadanya.



"Apa yang terjadi sama Nasya, ma?," Dicky langsung menyerbu mertuanya itu dengan pertanyaan yang memenuhi isi otaknya.



Wanita baya itu menatap Dicky sekilas, lalu mengalihkan wajah dari pandangan sendu menantunya tersebut. Perlahan, wanita baya itu duduk di kursi tunggu yang ada didepan kamar inap Nasya.



Sementara sang papa mertua menatap penuh sinis pada Dicky sembari memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana yang berwarna hitam itu lalu menatap sekilas, istrinya yang duduk disana.



"Nasya mengalami transient global amnesia," ucap wanita baya itu.



Dicky nampak terkesiap akan hal itu. "Dokter bilang, Nasya tidak akan bisa mengingat kejadian yang baru saja dialami olehnya karena kejadian itu hilang secara permanen dari ingatannya....".



Dengan sendu wanita itu melirik Dicky yang tak dapat berkata-kata lagi dan mengalihkan wajahnya dari pandangan mama Nasya. "...Begitupun dengan orang disekitarnya saat kejadian itu terjadi, Ingatan Nasya tentang mereka hilang total termasuk ingatannya tentang kamu," sambung wanita baya itu dengan sendu menatap sang menantu yang terkesiap akan hal itu.



Rasanya sekujur tubuh Dicky terasa lemas seketika. Dengan perlahan, ia melangkahkan kakinya kebelakang hingga bersandar pada dinding rumah sakit. Dicky sungguh tak percaya jika Nasya akan kehilangan ingatan tentang dirinya.



"Baguslah. Hal itu, akan lebih mudah untuk mengurus surat cerai kalian," ujar pria baya yang masih berdiri disana. Dicky menatap sang papa mertua, menatap lekat seakan meminta agar tak dipisahkan dengan Nasya.



Pria baya itu hanya tersenyum sinis lalu beranjak pergi meninggalkan istri dan menantunya disana.



Begitupun dengan wanita baya disana. Ia hanya diam saat suaminya berkata seperti itu. Mau bagaimana lagi? Keputusan papa Nasya sudah bulat dan tidak mudah membujuk pria baya itu untuk merubah keputusannya. Beberapa menit kemudian, mama Nasya pun pergi, meninggalkan Dicky sendiri disana. Beliau menyusul sang suami yang masuk kedalam kamar inap Nasya.



Dicky terduduk lemas dilantai. Bagaimana tidak, saat ia mulai merasa nyaman dan sayang serta takut kehilangan istrinya itu kini sang istri malah tidak mengingat bahkan Nasya mengatakan bahwa ia tidak pernah punya suami seperti dirinya. Ditambah lagi, surat cerai yang sebentar lagi akan dilayangkan kepada dirinya. Surat cerai? Ya, Sebuah surat yang menyatakan bahwa Nasya ingin berpisah dari Dicky.



Sungguh! Di lubuk hati Dicky yang paling dalam, ia tidak ingin berpisah dari Nasya. Ia tidak ingin menerima surat itu. Sekalipun ia harus mengorbankan nyawa nya, ia tetap tidak ingin berpisah dengan Nasya.



.


.


.



»



.

__ADS_1


.


.



"Papa, Mama," Nasya menyunggingkan senyuman saat melihat orang tua nya masuk ke dalam kamar inapnya.



Sang papa membalas senyuman itu dan mendekati brankar Nasya. Beliau mengusap pelan kepala anaknya tersebut. "Gimana keadaan kamu sekarang, sayang? Apa kepala kamu masih terasa pusing?," ujar sang papa dengan penuh perhatian.



Nasya tersenyum lebar menatap sang papa, "Enggak, pa. Aku udah sehat sekarang," jawab Nasya.



Pria baya itu tersenyum mendengar jawaban anaknya tersebut. Kini ia dapat menghela napas lega melihat keadaan putrinya yang sudah sadar dan sehat seperti semula meski perban masih melingkar di atas kepala Nasya.



"Ah, Bagaimana?...," tanya Nasya membuat sang papa sedikit mengernyitkan dahi, mencoba mengerti maksud dari pertanyaan anaknya.



"...Dokter sudah menyuruhku untuk pulang kan?," sambung Nasya memperjelas pertanyaannya.



Pria baya itu tersenyum berusaha menyembunyikan rasa sedih meski ia sudah bernapas lega akan keadaan putrinya. "Untuk sementara ini, kamu akan menginap disini.".



Nasya memanyunkan bibir saat mendengar itu. Rasanya ia ingin cepat pulang kerumah karena ia tidak suka dengan aroma yang ada di rumah sakit.



"Bersabarlah. Ini hanya untuk sementara saja," ujar pria baya tersebut yang tau betul kalau anaknya itu sangat tidak suka berada di rumah sakit.



Tak ada jawaban dari Nasya, ia hanya meremas-remas selimut tipis yang menutupi sebagian tubuhnya pertanda bahwa ia sebal dengan keputusan dokter.




Wanita baya itu menoleh cepat, sementara pria baya tersebut sedikit membuang muka. Ia tau, apa yang sedang dipikirkan istrinya itu.



"Mama, kenapa?," Nasya kembali bertanya dan wanita baya itu pun segera mendekati brankar nya sembari tersenyum. "Gapapa, sayang," jawabnya.



Nasya sedikit curiga namun, ia tak begitu ambil pusing akan hal itu dan membalas dengan sedikit anggukan kepala.



Wanita baya disana lalu melirik kearah sebuah mangkuk berisikan bubur di atas sebuah nakas. "Kamu belum makan?," Wanita baya itu segera menoleh kepada Nasya setelah ia melihat bubur tersebut yang sama sekali tak disentuh oleh anaknya.



Nasya melirik mangkuk bubur itu sembari memanyunkan bibir, "Enggak," jawabnya.



"Kenapa?," Sang mama bertanya sembari mengernyitkan dahi.



"Bubur itu ga enak," ketus Nasya beralih menatap selimut berwarna biru putih yang menutupi sebagian tubuhnya.



Wanita baya itu sedikit menghela napas, "Sayang, kalo kamu ga makan, gimana kamu mau dapet izin pulang dari dokter?," ujarnya membuat anak sulungnya itu terdiam dan kembali menatap mangkuk bubur tersebut.



Tersenyum, wanita baya itu lalu meraih mangkuk bubur yang ada diatas nakas dan bersiap untuk menyuapi anaknya. "Sekarang, kamu makan ya," ucap lembut wanita baya itu.



Dengan senang hati, Nasya menerima suapan dari mamanya tersebut. "Oh iya, Reza ga kesini, ma?," Nasya bertanya pada orang tuanya karena merasa heran, tidak biasanya sahabatnya itu tak menjenguk dirinya.

__ADS_1



Dan tentu saja, hal itu membuat orangtua Nasya diam dan saling memandang. "Reza ga bisa kesini, sayang," jawab wanita baya tersebut.



Sedikit mengernyit "Kenapa, ma?," ucap Nasya.



"Dia sedang berada di kamar inap lain. Temannya baru saja menjalani operasi," jelas sang mama sembari mengaduk-aduk bubur itu dan kembali, bersiap menyuapi anaknya lagi.



Nasya sedikit membola "Teman? Teman yang mana, ma?," Raut wajah Nasya menampakkan ke khawatiran akan kabar tersebut.



"Teman kantornya," jawab sang mama dengan menyodorkan sesendok bubur pada Nasya.



"Kamu makan banyak! Biar cepat pulang ke rumah," sahut sang papa mengalihkan topik pembicaraan.



Nasya mengangguk dengan senyuman kepada sang papa. Pria baya itu lalu duduk di sofa yang ada di kamar inap tersebut. Sementara wanita baya terus memberikan suapan pada anak sulungnya itu.



.


.


.



»



.


.


.



"Paman pulang ke indonesia? Tapi bukankah paman bilang kemarin tidak bisa meninggalkan pekerjaan karena ada proyek penting di New York?.".


Pemuda bermata sipit dengan memakai kacamata, nampak terkejut saat mendapati pamannya yang kini sudah berada di indonesia. Padahal, sebelumnya ia sudah mengajak pulang sang paman namun pria baya itu menolaknya dengan alasan bisnis penting disana, New York.



"Ada hal yang mesti di urus, disini," jawab pria baya yang mengenakan jas hitam dan melonggarkan dasi hitam-putih nya.



"Ah, ini pasti soal Dicky?," ujar pemuda itu mencoba menebak apa yang ada di pikiran pamannya tersebut.



Pria baya itu tak menjawab, ia hanya melirik pemuda yang seumuran dengan putranya. Lalu, sorot mata nya menyebar luas ke seluruh ruangan "Dimana tante mu?," tanyanya yang sama sekali tak melihat keberadaan sang istri di rumah.



"Tante sedang keluar," jawabnya.



"Sejak kapan?.".



"Sejam yang lalu.".



Pria baya itu menjawab dengan anggukan kepala sembari melepas jas hitam nya.



"Dicky? Dimana dia?," tanya pria baya itu yang seakan sudah tak sabar bertemu dengan putranya yang bernama Dicky itu.

__ADS_1



"Sejak kemarin, Rafa belum ketemu sama Dicky," jawab pemuda sipit berkacamata itu.


__ADS_2