NADI

NADI
Terkadang, Hal yang mustahil lah yang paling benar.


__ADS_3



Sebelumnya,


Setelah Nasya memberitahu Dicky bahwa Nabila mengirimkan pesan singkat padanya. Dicky segera bergegas ke lantai atas menuju kamar, tempat dimana ponselnya berada. Namun, ketika sampai di dalam kamar, Dicky mem-bola-kan mata, melihat ponselnya sudah basah kuyup tak berdaya di atas nakas.



"Ponsel gue kenapa?," Ucapnya segera meraih ponsel itu dan mengotak-atiknya.



Dicky mencoba menghidupkan ponsel tersebut namun sayang, ponsel itu sudah tak dapat hidup karena basah "Aish! Sial!," kesal Dicky.



Lalu, Ia terpikir pada sang istri. Siapa lagi dirumah itu yang akan melakukan hal seperti itu. Apalagi melihat tingkah Nasya yang terkadang memang suka jahil.



"Ini pasti ulah Nasya." Ucap Dicky sembari menggenggam erat ponselnya. Dicky segera turun kembali, menemui sang istri.



"Oi Nasya!!!," Teriaknya dari awal anak tangga sampai selesai menuruni anak tangga itu.



Dilihatnya Nasya berada di ruang tengah dengan sebuah majalah di tangan. "Oi!" ucap Dicky kuat sembari menghampiri istrinya itu.



Mendengar Dicky yang terus-menerus berteriak, Nasya sedikit kesal, "Apaan sih lo, teriak-teriak udah kayak dihutan aja!," Ucap Nasya ketus.



Dicky menatap Nasya dengan sangat kesal, "Ini ponsel gue kenapa bisa basah kayak gini?.".



Mendengar pertanyaan itu, Nasya melirik kearah ponsel yang ada di tangan Dicky. "Oh, tadi habis baca pesan dari pacar lo itu, gue ga sengaja nyemplunginnya ke bak mandi," jawabnya santai dengan wajah yang tak berdosa.



Dicky mem-bola-kan matanya mendengar jawaban itu, "Ga sengaja nyemplungin?," tanya Dicky mengulang perkataan sang istri.



Nasya mengangguk santai sembari menatap majalah.



"Lo bilang ga sengaja nyemplungin?," Dicky mengulangi pertanyaannya.



Hal itu membuat Nasya menoleh lagi padanya. "Iya, Kenapa?," perempuan ini balik bertanya masih dengan wajah tak berdosa.



"Eh, dodol! Dimana-mana kalo nyemplungin itu namanya sengaja! Kalo ke cemplung baru ga sengaja!," gerutu Dicky.



"Lah, emang gue ga sengaja nyemplunginnya ke dalam bak mandi kok," Nasya menatap Dicky yang penuh tanda tanya di wajahnya.



Nasya menghela napas terlebih dulu dan, "Tadi, sehabis gue baca pesan dari pacar lo itu. Otak gue yang cerdas ini ga sengaja ngeluarin ide cerdiknya. Terus, tu ponsel gue bawa ke dalam kamar mandi. Gue penasaran, kalo ponsel di cemplungin ke dalam air masih bisa hidup apa enggak. Makanya gue cemplungin tu ponsel ke dalam bak dan gue baru dapet jawabannya, ternyata ponselnya mati pas udah di cemplungin. Habis itu, yaudah. Gue tarok lagi ponsel lo di atas nakas," jelas Nasya dengan sangat detail dan kembali membaca majalahnya.



Setelah mendengar penjelasan panjang dari sang istri itu, Dicky kembali membolakan matanya. "Eh, dodol! Yang bener aja dong lo, masa ponsel gue jadi bahan percobaan?" omel Dicky membuat Nasya kembali menatapnya.



"Lagian nih ya, mau ponsel apapun kalo udah kecebur di dalem air, ya pasti mati lah," sambungnya.



"Ya kan gue gatau," balas Nasya dengan wajah polos.



Kesal, "Aish! Lo tu ya!," geram Dicky.



Masih dengan wajah polos, Nasya tak merespon balik dan kembali fokus dengan majalah.



Dicky kesal melihat tingkahnya. Ia lalu menghempaskan tubuhnya disofa yang ada disebelah Nasya, meratapi ponselnya yang kini mati total akibat ulah sang istri.



Nasya sedikit melirik sekilas Dicky yang menghempaskan tubuhnya di sofa lalu, "Udah! Kan bisa beli lagi," jawabnya santai kembali fokus dengan majalah.



Dicky yang tengah meratapi ponselnya, melirik sang istri "Beli lagi, Beli lagi. Enak banget lo ngomong!," kesalnya.



Masih dengan posisi nya "Kalo gamau beli, Yaudah!," balas Nasya tak perduli.



"Ish! Lo tu ya," geram Dicky kesal melihat sikap menyebalkan dari sang istri. Sementara Nasya masih tetap fokus dengan majalah itu. Tiba-tiba ...



Ting Tong!


Suara bel di rumah terdengar jelas di telinga keduanya. Nasya menatap Dicky sekilas dengan penuh tanya begitupun Dicky. Pemuda itu lalu beranjak dari tempatnya dan menuju pintu utama.



Nasya masih ditempatnya, "Siapa?," pikirnya.



"Apa itu mama?," ucap Nasya yang berpikir bahwa itu adalah sang mama karena seperti yang dikatakan oleh mama mertuanya, mamanya akan berkunjung ke rumah setelah urusannya selesai.



CEKLEKS



Mata Dicky membola saat melihat sosok perempuan yang berdiri didepan pintu rumahnya dengan senyuman luar biasa.



"Sayang?," kagetnya.



Ya, dia adalah Nabila, sang kekasih hati. Nabila sedikit memanyunkan bibir melihat dan mendengar Dicky yang kaget seperti itu. "Ih.. Kamu kok kaget gitu sih ngeliat aku? Emangnya aku ini hantu apa," dengusnya kesal.

__ADS_1



Dicky tak menghiraukan ucapan Nabila, "Ka.. Kamu ngapain kesini?," Entah kenapa, Dicky bisa sekaget dan merasa kikuk seperti itu saat Nabila datang ke rumahnya. Tidak seperti sebelumnya, saat ia menyambut hangat dan merangkul mesra kedatangan Nabila.



"Ya, aku kesini mau ketemu kamu, sayang! Kita kan udah seminggu ini ga ketemu," jelas Nabila.



Ia menatap Dicky lekat "Aku kangen sama kamu!," sambung Nabila bergelayut di lengan Dicky.



Tak seperti biasanya, setelah mendengar Nabila bicara seperti itu Dicky tak memberi respon apapun seperti mengelus kepala perempuan itu atau memeluknya.



Masih memegang lengan Dicky, Nabila menatap kekasihnya itu "Kamu ga kangen sama aku?," tanya Nabila yang membuat Dicky menatap padanya.



"A..Aku... juga kangen sama kamu," jawabnya sedikit ragu.



Nabila mengkerut melihat sikap Dicky saat itu. Dicky memasang senyum manisnya pada Nabila. "Kamu..."



"Dicky! Siapa yang dateng?," Tanya Nasya yang ternyata menyusul Dicky ke pintu utama.



Hal itu membuat Dicky dan Nabila menoleh dengan posisi Nabila yang masih bergelayut di lengan Dicky.



Mengetahui itu, Nasya memasang wajah datarnya. Ia tak terkejut lagi melihat adegan seperti itu. "Oh, ternyata pacar lo," Ucap Nasya datar.



Melihat itu, Dicky segera melepaskan tangan Nabila dari lengannya. Nabila menatap Dicky cepat akan hal itu.



"Sorry ganggu! Gue gatau," Sambung Nasya lagi masih dengan nada


datar.



Perempuan ini memutuskan untuk kembali ke dalam, tak ingin mengganggu temu kangen pasangan kekasih itu.



"Nasya." tahan Dicky saat Nasya membalikkan badannya.



Nasya membuang napas kasar dan menoleh cepat pada Dicky, "Kalo mau minum bikin sendiri! Gue bukan pembantu!," jawabnya ketus lalu segera masuk ke dalam, meninggalkan Dicky dan Nabila.



Nabila memperhatikan hal itu, menurutnya Dicky sudah mulai ada rasa pada Nasya.



Nabila tak terima melihat itu. Dicky berniat untuk menyusul Nasya yang masuk ke dalam namun Nabila menahan tangannya "Sayang, kamu ngapain sih ikut-ikutan masuk?," tanyanya membuat Dicky menoleh, "Kamu mau ninggalin aku disini sendirian?," sambungnya membuat Dicky terdiam disana.




Ia mempersilahkan Nabila masuk layaknya seorang tamu biasa bukan seperti tamu spesial. Dengan terpaksa, Nabila masuk ke dalam mengikuti langkah kaki Dicky yang sudah lebih dulu masuk.



\*\*\*



Bisma baru saja tiba di depan rumah Putri. Ia mengetuk pintu rumah Putri namun tak ada jawaban. Ia melirik ke sekitaran rumah. Rumah itu memang tampak sepi. "Aih!," kesalnya.



Bisma lalu merogoh saku celananya, berniat menelepon Putri namun tiba-tiba ia menerima panggilan telepon dari Andre. Ia mulai panik saat melihat nama Andre tertera dilayar ponselnya "Sial! Andre pake nelpon lagi," ucapnya.



Bisma menggenggam erat ponselnya yang terus-menerus berbunyi itu. Ia tidak ingin menjawab panggilan itu karena ia tau bahwa Andre akan menghabisi dirinya jika Andre sampai tau bahwa dirinya belum bertemu dengan Putri.



Bisma kembali melirik rumah Putri yang sepi itu. Nampaknya ia tak akan menemukan Putri disana. Bisma kembali masuk ke dalam mobilnya. Ponselnya masih terus berbunyi. Bisma melirik kesal "Ni orang ga bisa berhenti apa nelpon gue!," ucapnya.



Disisi lain,


Karena panggilan teleponnya tak kunjung di jawab oleh Bisma, Andre memutuskan panggilan teleponnya "Sialan! Ga dijawab, lagi!," kesalnya menatap ponselnya.



Andre lalu menatap lurus ke depan sembari menggenggam erat ponselnya "Lo liat aja! Kalo dalam 24 jam ini lo ga bisa bawa tu cewe kesini. Abis lo ditangan gue!," ucap Andre dengan tatapan membunuhnya.



»



Drt... Drt...


Putri yang tengah duduk di kursi tunggu, depan ruang rawat inap papanya sedangkan mamanya berada didalam ruangan itu menemani pria baya yang terbaring diatas ranjang.



Putri meraih ponselnya yang berbunyi dari tas kecil berwarna biru muda miliknya. Tertera nama Bisma disana. Tentu saja, melihat itu adalah panggilan dari kekasihnya, Putri bergegas menjawab panggilan telepon itu.



"Hallo, sayang! Kamu dimana?," ucap Bisma setelah merasa panggilan teleponnya dijawab oleh Putri.



Belum sempat Putri menjawab pertanyaan dari Bisma, Reza merampas paksa ponselnya dan memutuskan sambungan telepon. Putri menoleh cepat kepada Reza yang menatapnya.



Hal itu membuatnya kesal "Lo tu apaan sih, ja!," ucap Putri bangkit dari duduknya, menyamai posisi Reza yang berdiri dihadapannya.



"Siapa yang telepon? Bisma?," tanya Reza tak menghiraukan ucapan Putri sebelumnya.



Putri berdecak kesal, ia lalu melirik ponselnya yang kini berada di tangan Reza. "Balikin ponsel gue!," ucap Putri meraih ponselnya namun Reza menjauhkan tangannya agar Putri tak dapat mengambil ponsel itu dan "Bisma bilang apa?," tanya Reza lagi yang kini membuat Putri kembali menatapnya.


__ADS_1


"Dia nanya, gue ada dimana," jawab Putri.



Reza sedikit mendeha mendengar itu, ia tak menyangka saat mendengar Bisma menghubungi dan menanyakan keberadaan Putri karena setaunya, selama ini Putri lah yang selalu menghubungi Bisma dan menanyakan keberadaannya.



"Tumben banget tu cowo nelpon elo," ucap Reza.



"Kenapa? Apa salahnya dia nelpon pacarnya sendiri," balas Putri kesal.



Mendengar perkataan Putri, Reza sejenak diam menatap sahabatnya itu. "Udah sini! Balikin ponsel gue!," ucap Putri kembali berusaha merebut ponselnya dari tangan Reza.



Tetap saja, Reza tak memberikan ponsel itu "Buat apa? Lo mau nelpon Bisma? Ketemu sama dia?," tanya Reza membuat Putri lagi-lagi menatapnya.



"Emangnya kenapa? Dia itu pacar gue! Ya, terserah gue mau ketemu sama dia atau enggak!," jawab Putri yang semakin kesal pada Reza.



"Put, asal lo tau, Bisma tu ga baik buat lo! Dia itu mau ngejual lo," balas Reza yang kali ini membuat Putri terdiam menatapnya.



"Buka mata lo lebar-lebar! Lo tu ga dianggap sebagai pacar tapi lo tu dianggap barang sama dia!!!," sambung Reza.



Namun, hal itu tak membuat Putri percaya begitu saja. "Ja, lo tu ngomong apa sih? Bisma ga mungkin kayak gitu!," ucap Putri.



"Put, lo harus percaya sama gue! Bisma itu bukan cowo baik-baik! Dia itu cuma manfaatin lo doang!," jelas Reza lagi.



Tetap saja Putri tak percaya dengan kata-kata itu. "Ga mungkin! Gue ga percaya!.".



Mendengar jawaban Putri yang masih tak percaya, Reza menghela napas panjangnya dan mengalihkan pandangannya. Ia tak tau harus bagaimana menjelaskan kebenarannya pada sahabatnya itu.



Dan "Lo bilang, lo pergi sama Bisma semalem?," Reza kembali menatap Putri dihadapannya.



Putri mengangguk "Iya, gue pergi sama Bisma ke acara pertunangan temennya," jawabnya.



"Terus, apa lo inget yang terjadi setelah itu?," tanya Reza membuatnya terdiam.



Putri mengalihkan wajahnya dari tatapan Reza, mencoba mengingat apa yang terjadi setelah itu. Namun sedetik kemudian, Putri kembali menatap Reza, Ia menggelengkan kepalanya "Gue gatau! Gue ga inget!," jawab Putri masih sama seperti sebelumnya.



Reza kembali menghela napasnya dan "Gue emang gatau yang terjadi di acara itu tapi yang jelas semalem, waktu gue pulang dari kantor, gue ga sengaja ngeliat lo yang dalam keadaan pingsan dibawa masuk ke dalam mobil oleh Bisma. Di mobil itu udah ada satu cowo yang nunggu. Gue gatau siapa cowo itu Tapi gue inget wajahnya. Bisma ninggalin lo sama cowo itu dan setelah itu lo dibawa pergi ke apartemennya!," jelas Reza dengan panjang lebar.



"Apa?," Setelah mendengar penjelasan Reza, Putri terduduk di bangku tunggu itu.



Pandangannya beralih dari Reza. Ia tak percaya kalau Bisma melakukan hal itu. "Dan sekarang, lo masih mau ketemu sama Bisma? Lo mau dijebak lagi sama dia?," sambung Reza masih menatap sahabatnya itu.



Sejenak, tak ada respon dari gadis itu, ia masih mencerna setiap kata dari Reza tadi. Lalu Putri kembali menatap Reza disana. Berharap sahabatnya itu percaya namun "Ga! Bisma ga mungkin ngelakuin itu!," ucap Putri yang masih bersikeras dengan apa yang dia yakini.



"Put, Lo harus dengerin gue!," Putri kembali bangkit, menyamai posisi Reza.



"Udahlah, ja. Gue yakin! Bisma ga mungkin tega ngelakuin itu sama gue," balas Putri.



Ia lalu melirik ponselnya yang masih berada ditangan Reza dan merebut kembali ponselnya.



Putri lalu bergegas pergi meninggalkan Reza. "Put! Putri!," panggil Reza namun tak dihiraukan oleh Putri.



Reza nampak kesal karena Putri tetap tak mau percaya dengan apa yang dikatakan olehnya. Ia tak tau lagi harus bagaimana menjelaskan kepada Putri yang tetap kekeh tak mau percaya.



»



"Bentar ya, aku ambilin minum dulu," ucap Dicky hendak bangkit dari duduknya.



Nabila menahannya "Gausah! Aku gamau nanti minumannya di kasih apa-apa lagi sama Nasya," ucap Nabila membuat Dicky kembali duduk dan menatapnya.



"Kita ke caffe biasa aja yuk!," ajak Nabila dengan manja di lengan Dicky.



"Kan udah lama kita ga ngobrol berdua, ketawa bareng, dan jalan bareng," sambung Nabila.



Dicky nampak terkesiap dengan ajakan itu, ia menoleh cepat pada Nabila, "Ngapain keluar? Kalo bisa ngobrol disini," balasnya yang seakan tak ingin pergi.



Nabila melepaskan lengan Dicky, menatap sebal padanya, "Kamu kok gitu sih. Aku gamau kita ngobrolnya disini," ucap Nabila dengan nada manjanya.



"Kamu tu gimana sih? Kalo kamu gamau, ya ngapain kamu dateng kesini?," kesal Dicky padanya.



Nabila terbelalak mendengar dan melihat sikap Dicky padanya, "Kamu kenapa sih? Keliatannya kamu ga suka aku dateng kesini? Kamu udah ga cinta lagi sama aku?," balas Nabila yang tak terima dengan sikap Dicky yang seperti itu.



Mendengar pertanyaan itu, Dicky terdiam. Ia tak tau harus bagaimana. Cinta? Entahlah, bagaimana perasaannya saat ini. Ia tak ingin kehilangan Nabila namun ia juga tak ingin pergi meninggalkan Nasya dirumah sendirian, yang baru saja sembuh.

__ADS_1


__ADS_2